The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Riella Hamil



Setelah pemeriksaan selesai, mereka berdua berdiam diri di depan apotek tempat Riella periksa. Menunggu obat yang diresepkan oleh dokter Syifa. Riella merasa tidak nyaman, karena sejak Kenzo mengetahui dirinya hamil. Kenzo tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya diam seribu bahasa.


Riella segera berdiri untuk mengambil obat saat mendengar namanya disebut apoteker. Ia pun menerima vitamin yang sudah disiapkan untuk satu bulan ke depan. Dia lalu mengajak Kenzo pulang setelah menyelesaikan administrasinya.


Di dalam mobil keduanya hanya diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Riella yang tidak nyaman berusaha membuka obrolan.


“Bee ... kamu benar-benar tidak suka ya jika aku hamil? Kenapa kamu berubah?” selidik Riella, “semuanya sudah terjadi Bee ... dan aku hamil. Kita tidak bisa menolaknya!” lanjutnya menatap wajah Kenzo yang enggan menatapnya.


Kenzo hanya tersenyum kecut menatap ke arah jalan, “Aku masih butuh waktu.”


Ucapan Kenzo membuat Riella semakin bingung, respon Kenzo benar-benar di luar ekpetasinya. “Maksudmu Bee?”


“Nggak papa, sudah sampai rumah, turunlah aku mau langsung ke kantor!” perintah Kenzo saat mobil mereka sudah berhenti di depan bangunan rumahnya.


Riella hanya membuang nafas lelah, lalu turun dari mobil. Nindi yang berada di dalam rumahnya pun segera mendekat ke arah Riella, dia ingin bertanya kepastian tentang kehamilannya.


“Gimana hasilnya?” tanya Nindi yang melihat Riella menghempaskan tubuhnya di sofa.


Namun, Riella tampang murung menatap langit-langit rumahnya, yang langsung menembus genteng.


“Riella ....” Nindi mengulangi panggilannya. Membuat Riella tersentak saat mendengar suara Nindi yang sedikit keras.


“I-iya Ma. Kata dokter Riella positif hamil.” Riella menjelaskan sambil mengusap lembut perutnya yang masih rata, ia lalu meraih tasnya, mengambil gambar usg calon anaknya.


Nindi terlihat bahagia saat mendengar jawaban Riella. Ia akhirnya bisa menimang cucu kandung dari Kenzo. Namun, raut wajahnya langsung berubah saat mendapati Riella yang tampak tidak suka dengan kehamilannya.


“Ada apa?” tanya Nindi, yang ingin mengetahui apa yang disembunyikan menantunya.


“Kenzo sepertinya tidak menginginkan bayi ini, Ma. Dia tidak semangat saat mendengar Riella hamil.” Riella mengadu, menceritakan sikap Kenzo pada mama mertuanya karena yang Riella rasakan saat ini, Kenzo seperti menolak kehadiran anaknya.


“Mana mungkin seperti itu? Setiap lelaki pasti akan bahagia jika mendengar istrinya hamil. Kamu tenang saja, nanti Mama kasih pengertian ke dia. Dia sedih pasti karena diminta puasa sama dokter. Karena kamu sedang hamil muda, dan itu sangat beresiko jika kalian melakukan hubungan.” Nindi mengedipkan satu matanya menggoda Riella.


Sedangkan Riella hanya bisa tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya ragu. Ia hanya khawatir Kenzo benar-benar tidak mau menerima anaknya.


“Kamu mau makan apa? Kalau ngidam sesuatu bilang sama Mama, nanti biar mama bantu mencarikan untukmu.” Nindi melanjutkan ucapannya menawari Riella, siapa tau menantunya itu terserang virus ngidam.


“Lagi nggak pengen apa-apa sih, Ma. Cuma lidah Riella saja yang terasa pahit.” Riella menjelaskan apa yang ia rasakan saat ini.


Nindi yang mendengar keluhan Riella, menyarankan untuk mengambil permen jahe yang ada di lemari pendingin. Supaya membantu mengurangi rasa tidak nyaman di lidahnya.


“Aslan biar ikut sama Mama saja. Kamu fokus pada kehamilanmu,” kata Nindi.


Riella yang mendengar pun langsung menolak permintaan Nindi, “jangan Ma, biarkan Aslan dengan Riella. Riella masih bisa kok. Nanti kalau Riella kesusahan baru Mama bawa tidak apa-apa.”


Nindi yang paham menyetujui permintaan Riella. Ia yakin Riella sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Aslan, jadi berat untuk berpisah.


Melihat kepergian Nindi Riella bergegas meraih ponselnya untuk menelepon Ella, berniat memberikan kabar bahagia yang mungkin sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya.


“Siang, Ma.” Riella menyapa saat mendengar suara merdu di ujung telepon.


“Hai Sayang, tumben siang-siang telepon.” Ella yang tengah bersantai di samping Erik hanya bisa mengabaikan suaminya yang tengah bermanja-manja dengannya.


“Iya, Riella kangen Mama. Pengen manja-manja sama Mama.” Riella menjawab tanpa bisa melihat wajah sumringah wanita di seberang telepon.


“Sana manja sama suamimu, Mama cuma boleh memanjakan Papa.” Erik yang mendengar suara Riella menyahut ucapan anaknya.


“Pa ....” terdengar suara rengekan dari Riella, ia ingin mengadu pada Erik tentang apa yang ia alami saat ini, tapi sepertinya tidak pantas jika ia katakan sekarang.


“Kenapa? Ada masalah?” tanya Erik mulai bicara serius dengan anaknya, saat mendengar suara Riella yang terdengar serak.


“Pa ... Riella hamil,” ucap Riella sedikit ragu. Namun, berbeda dengan sepasang pasangan di ujung telepon yang bersorak senang. Saat mendengar berita kehamilannya.


“Alhamdulillah, nambah cucu lagi.” Terdengar ucapan syukur dari ujung telepon, membuat mata Riella tiba-tiba basah karena merasa terharu. Hampir satu tahun mereka menikah, pasti ini juga sudah dinantikan oleh kedua orang tuanya.


“Jangan terlalu capek, ya. Ingat kehamilan pertama lebih riskan keguguran, kamu jaga baik-baik calon cucuku,” pesan Erik penuh penegasan, “kamu mau makan apa? Biar papa antarkan buat kamu?” tanya Erik yang paham tentang masalah ngidam.


“Riella pengen ketemu Papa, terus Papa elus deh perut Riella.” canda Riella dengan senyuman tanpa suara.


“Baiklah setelah azan Dzuhur Papa akan terbang ke Banjarmasin, kamu tunggu ya!” jawab Erik yang menanggapi permintaan anaknya. Itu sangat mudah menurutnya, asal tidak memintanya cukur gundul pasti akan ia lakukan demi cucunya.


“Eeee nggak, Riella cuma becanda. Jangan datang ke sini. Atau aku akan pergi dengan Kenzo.” Riella segera menolak permintaan Erik yang akan segera meluncur ke Banjarmasin. Ia tahu papanya itu berbicara serius. Yah, mentang-mentang punya pesawat jadi dia bisa dengan mudah terbang ke Banjarmasin.


“Iya baiklah, Papa akan ke rumah kakakmu saja, sudah lama Papa nggak lihat cucu Papa, pasti Leya sudah bisa mengoceh,” kata Erik setelah mendengar penolakan Riella.


“Ya, nanti telepon Riella ya ... saat di tempat Kak Kalun. Riella pengin lihat Leya. Dari story nya terlihat sekali jika mereka tengah bahagia.” Riella menceritakan kebahagiaan kakaknya yang ditulis lewat story sosial media Aluna. Ia turut bahagia juga dengan hadirnya Leya yang memberi warna sendiri untuk keluarga kakaknya.


“Ya. Ingat pesan Papa ya. Kalau bisa Kenzo suruh puasa dulu, tapi kalau sudah pengin banget minta pelan-pelan saja.” Wajah Riella merona ketika mendengar nasehat Erik. Ia malu mendengar Erik berbicara seperti itu. Riella hanya diam tidak menyahut ucapan papanya, supaya Erik segera menutup panggilannya, karena merasa sungkan jika membahas itu dengan papanya.


“Ya sudah istirahat sana, jangan terlalu capek!” pesan Erik lalu menutup sambungan telepon dari Riella. Riella lalu mengetikan pesan pada Kenzo. Menanyakan akan makan siang di rumah atau di luar. Jika pulang ke rumah, ia akan memasak lebih dulu untuknya. Tapi yang terjadi, setelah lima menit menunggu tidak ada pesan masuk ke nomornya.


Riella memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, meletakkan Aslan ke box bayi. Ia terus mengamati wajah tampan Aslan. Mengusapnya pelan karena takut mengganggu tidur Aslan.


“Papi kenapa ya Aslan, sepertinya tidak suka jika Aslan mau punya adek? Mami merasa tidak nyaman.” Riella mencoba mengajak Aslan berbicara. Meluapkan rasa tidak nyamannya pada Aslan. Ia lalu mengambil Aslan yang masih tidur memindahkannya di atas ranjang, memeluknya erat sambil menghirup aroma Aslan sebagai penghantar tidurnya.


#Note :


Reader yang punya aplikasi kuning berlogo N tengokin karya Ella ya, ketik saja My Second Husband (free) oke terima kasih, jangan lupa like, komentar dan vote😉