The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Notebook



Kenzo sendiri bingung apa yang sebenarnya terjadi dengan Riella. Dokter mengatakan, jika kondisi alat vitalnya sudah stabil. Tapi, kenyataanya sudah empat puluh hari istrinya itu tidak sadarkan diri. Bahkan, asi yang biasa diproduksi wanita pasca melahirkan pun sudah mulai berkurang.


Kenzo kembali memikirkan ucapan Riella malam itu. Malam tragis sebelum istrinya mengalami kecelakaan.


“Apa kamu benar-benar sudah lelah? Kamu tidak ingin bersamaku lagi?” gumamnya bertanya, sambil menatap tubuh lemah Riella dari jendela kaca. Dia merasa, jika Riella kini sudah lelah untuk berada di sampingnya. Apalagi sekarang tidak ada lagi yang bisa mengikat keduanya. Karena anak yang selalu mereka tunggu kehadirannya sudah tiada.


“Apa karena itu kamu tidak mau membuka matamu, La?” tanya Kenzo lagi. Dia lalu menoleh ke arah lorong, mencari sumber suara dari langkah kaki orang yang baru saja datang. Kenzo menampilkan senyuman tipisnya ke arah pria yang berjalan mendekat ke arahnya.


Keinginan seperti mereka jelas ada. Bergandengan tangan bersama sampai warna rambut mereka pun memutih dalam waktu yang bersamaan. Tapi, namanya keinginan. Kita tidak tahu–apakah Tuhan mengizikan terjadi atau tidak? Semua tergantung takdir yang sudah dituliskan untuk kita.


“Apa Ken bisa bicara sebentar, Pa?” tawar Kenzo, saat melihat Erik dan Ella sudah berada di sampingnya. Mereka turut menatap ke arah Riella yang masih terbaring di ruang ICU. Pria itu menoleh ke arah Kenzo, menatap wajah menantunya yang terlihat jelas. Jika, pria itu juga lelah.


“Kita ke kantin!” ajak Erik menyetujui permintaan Kenzo. Setelah Erik meminta izin pada istrinya mereka berdua berjalan berdampingan menuju kantin.


Saat ini memang hanya Erik dan Ella yang berada di Banjarmasin. Sedangkan Maura dan Naura sudah pulang ke Jakarta. Kalun sempat datang berkunjung ke Banjarmasin tepat setelah seminggu kejadian Riella kecelakaan. Emosinya tak terkendali ketika mendengar cerita tentang kelakuan Kenzo. Tapi, beruntung saat itu, Erik berada di tengah mereka, menengahi pertengkaran keduanya.


Kenzo mengambil duduk di depan Erik, lalu memesan kopi hitam untuk menemani mereka mengobrol. Kenzo masih diam, belum membuka suaranya. Dia sengaja menahan sampai pelayan datang membawa pesananya.


“Silakan, Pak!” kata pelayan yang sudah mengenali wajah mereka berdua. Bagaiman tidak? Mereka berdua sudah sebulan ini sering berkunjung ke kantin. Apalagi Kenzo, sehari bisa tiga kali hanya untuk memesan kopi. Terkadang Kenzo duduk di kursi paling pojok dekat jendela. Duduk diam menyendiri sambil menatap ke arah luar jendela, sekali-kali tangannya mengusap air matanya yang turun membasahi pipi. Dan pelayan itulah yang menjadi saksi kesedihan Kenzo hari-hari itu.


Kenzo menatap wajah Erik, tatapan lelah dia berikan pada mertuanya. “Ken bersalah atas kejadian ini.” Kenzo mulai membuka suara. Sedangkan pria di depannya masih diam, mencoba menunggu apa yang akan diucapkan menantunya.


“Sampai hari ini Riella belum sadar juga. Ken semakin khawatir dengan kondisi Riella. Padahal dokter bilang harusnya dia sudah bangun.” Kenzo mengamati cairan hitam pekat di depannya, satu telapak tangannya melingkar ke cangkir tersebut, mencoba mencari kehangatan dari cangkir keramik warna putih.


“Ken jadi teringat ucapan Riella malam itu. Malam sebelum dia pergi. Dia bilang, jika Riella sudah lelah hidup dengan Ken. Sekuat apapun Kenzo berusaha, hasilnya akan tetap sama. Kenyataannya bukan Kenzo yang Riella cintai.” Kenzo berusaha menahan bibirnya yang bergetar, dia sengaja menggigit bibir bawahnya. Lalu berusaha melanjutkan ucapannya yang terhenti. “Jadi, Kenzo melepaskan Riella. Membiarkan dia bebas terbang tinggi kemanapun yang dia inginkan.”


Kenzo mengambil cangkir kopinya, lalu menyesap cairan hitam non sianida tersebut. Segera meletakkan kembali saat pahit menyelimuti lidahnya. “Mungkin dengan Riella pulang ke Jakarta, dia akan segera sadar. Kenzo tahu Riella membenci Ken. Selama ini dia—


“Aku tahu maksudmu,” potong Erik menatap lekat ke arah Kenzo. “Kamu pasti juga lelah, merasa tidak dicintai oleh anakku.” Erik merasa serba salah di sini. Dia merasa tidak berhak memutuskan apapun tentang hubungan keduanya.


Erik tahu dan paham, cinta tidak bisa dipaksakan. Seperti hal nya dia dengan Nadia dulu, sekuat apapun almarhumah mamanya menyatukan mereka. Tetap saja ... cinta tahu sendiri, di mana akan berlabuh.


“Aku akan membawa pulang ke Jakarta nanti malam.”


Kenzo membuang nafas panjang melalui bibirnya saat Erik mengatakan perkataanya barusan. Ada rasa lega, tapi juga sesak di dada.


Sebagai orang tua Erik tidak ingin anaknya mengalami hal seperti ini. Tapi, jika dia tetap memaksakan keinginanya, itu juga tidak baik untuk kesahatan jantung Kenzo.


“Terima kasih sudah mengurusi Riella. Maafkan kesalahan yang sudah pernah dia lakukan padamu!”


Kenzo tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab ucapan Erik. Rasanya berat sekali untuk menggerakkan bibirnya saat ini. Yang dia rasakan suaranya tertahan di jakunnya.


“Setelah ini, aku akan mengurus surat kepindahan Riella ke


Jakarta. Temanilah dia sebelum kami membawanya pergi,” pesan Erik sebelum dia pergi meninggalkan kursi yang mereka tempati saat ini.


Kenzo mengangguk paham. Tapi, diamasih enggan untuk beranjak dari kursinya. Mencoba menenangkan gemuruh jantungnya yang tidak ingin tinggal diam. Dia mengusap wajahnya kasar. Lalu memanggil pelayan wanita yang berjaga di kantin.


“Apa Kakak bisa aku percaya?” tanya Kenzo, menatap wajah polos di depannya.


“Aku butuh bantuanmu. Aku akan membayarmu nanti. Tolong antarkan ke kamar istriku! Aku tunggu di sana!” perintah Kenzo lalu menyerahkan kertas itu pada pelayan kantin. Setelah pelayan itu menyetujui permintanya, Kenzo berjalan menuju ruangan Riella. Menemani Riella sebelum Erik benar-benar membawanya pergi.


Saat dia membuka pintu kamar, keadaan masih sama. Riella masih terbaring lemah dengan wajah memucat di tempatnya tadi. Tempat keramat yang sudah lebih dari empat puluh hari ini Riella singgahi.


Aku merindukan suaramu, La. Kenzo melangkah mendekat ke arah brankar Riella. Tanganya bergerak menyatukan jemarinya di sela-sela jemari Riella. Lalu duduk di tepi bed yang ditempati istrinya. Mencoba mengukur senyum terbaiknya.


“Aku mencintaimu, La.” Kenzo mengutarakan perasaanya diiringi matanya yang sudah penuh air mata. Membayangkan betapa dia mencintai Riella saat itu hingga detik ini. Mungkin sampai dia akan pergi dari dunia yang fana ini. Karena baginya Riella adalah dunianya. Wanita yang membuatnya semangat bertahan menjalani hari-harinya kala dia terbaring lemah.


Kenzo menatap wajah Riella, “Tapi, sekarang aku paham. Kalau selama ini kamu terpekasa berada di sampingku. Andai aku tidak menikahimu, mungkin jalan hidupmu tidak serumit ini.” Kenzo mengusap air matanya yang sudah turun membasahi pipi.


“Pergilah! Aku membebaskanmu. Aku ingin kamu bahagia, meraih cinta sejatimu. Mimpi-mimpimu yang belum pernah kamu dapatkan. Maaf, La. Maafkan aku selama menjadi suamimu, aku belum bisa membuatmu bahagia. Sekali lagi aku minta maaf,” ucap Kenzo lalu mendekat ke wajah Riella memberikan kecupan di dahi sang istri.


Semoga Allah mempertemukan kita lagi. Entah kapan. Tapi, saat itu tiba, aku


ingin melihatmu seperti dulu. Riella yang ceria yang penuh tawa. Semoga kamu menemukan cinta sejatimu, Sayang. Batinnya menatap lembut wajah Riella dari dekat.


Pandangan Kenzo turun ke arah bibir Riella yang pucat. Mungkin ini akan menjadi kecupan terakhirnya untuk Riella. Dia tidak akan melewatkan kesempatan ini, memberikan ciumannya untuk Riella.


Kenzo menurunkan bibirnya menyusuri hidung Riella. Hingga bibirnya tiba di depan lubang hidung Riella. Dia hanya bisa mengumpat dalam hati, saat mendengar suara pintu diketok. Kenzo lalu tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya menatap Riella. Segera dia beranjak dari bed Riella, untuk membuka pintu.


Pelayan yang tadi dia perintahkan, sudah datang dengan satu kantong plastik di tangan.


“Terima kasih.” Kenzo menerima kantong plastik tersebut lalu memberi tips pada pelayan kantin.


***


Malam harinya tepat pukul 8 malam Kenzo ikut mengantar Riella ke bandara. Dia memilih ikut ke dalam mobil ambulan yang membawa istrinya. Dia memuaskan matanya menatap wajah Riella.


Saat mobil membawa masuk brankar Riella ke dalam pesawat, Kenzo turut masuk ke dalamnya. Sebelum dia pergi dari kabin. Tangannya mengusap rambut Riella, sambil tersenyum palsu di tengah air matanya yang mengalir.


“Maafin Kenzo, Ma. Karena selama ini, Ken belum bisa jadi menantu dan suami yang baik untuk Riella,” ucapnya saat merasakan tangan Ella mengusap punggungnya.


“Sudahlah, tidak ada yang perlu disalahkan. Kita hanya perlu memperbaiki diri dari apa yang sudah terjadi. Semoga kamu dan Riella benar-benar menemukan orang yang tepat untuk mendampingi kalian berdua.”


Kenzo mengangguk. “Kenzo nitip ini untuk Riella.” Tangan Kenzo menyerahkan notebook ke tangan Ella. “aku memberinya hadiah ini. Ada foto Zea di sana. Semoga dengan melihat fotonya, bisa mengobati rasa kehilangan Riella nanti, saat dia membuka matanya,” pesan Kenzo, menyerahkan barang yang tadi dibelikan pelayan kantin.


Setelah itu, pramugari yang biasa berada di pesawat tersebut meminta Kenzo untuk turun. Karena pesawat sebentar lagi akan take off.


Langkah kaki Kenzo terasa berat saat menuruni satu persatu anak tangga. Dia menunduk, meyakinkan hatinya jika langkah yang dia ambil kali ini sudah tepat.


Pergilah! Sayang ... Pergilah. Terbanglah sesukamu! Aku hanya ingin melihatmu bahagia dari bawah sini. Terima kasih untuk waktu 2 tahun ini. Meski banyak luka. Tapi, setidaknya aku pernah tertawa lepas bersamamu. Aku mencintaimu Riella. Tapi, merelakan adalah cara terbaik untuk menunjukkan jika, aku benar-benar mencintaimu.


...----------------...


Terima kasih yang sudah mendukung cerita mereka sampai sejauh ini. Bentar lagi END jadi jangan lupa untuk beri hadiah dan like nya. 😍♥️