
Kenzo membeku ketika mendengar pertanyaan Riella. Dia kesusahan menelan air liurnya, telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin, dia belum siap untuk mengatakan semuanya pada Riella, karena dia tidak ingin Riella menyalahkannya. Kenzo menunduk menghindari mata Riella yang menatap tajam ke arahnya.
“Ken.” Riella sedikit membentak karena tidak melihat respon Kenzo, “kamu mendengar pertanyaanku, Kan?” lanjut Riella masih dengan suara yang sedikit keras.
Suasana semakin hening, hanya terdengar suara jam tua yang menempel di dinding, memutarkan nada deringnya satu kali putaran.
“Kamu nggak datang Ken, aku sudah berada di sana saat itu! Menunggumu, berharap kita bisa melakukan apa yang sudah kamu katakan di telepon yang sebelumnya sudah kita rencanakan. Tapi ternyata kamu tidak datang, kamu tidak mengabari kami. Kita semua kebingungan mencari keberadaan keluargamu.”
“Maaf.” Kenzo belum mampu membalas tatapan Riella, dia masih berusaha menguasai rasa khawatirnya.
“Aku tidak butuh kata itu, Ken! Aku hanya butuh penjelasan.” Riella menyandarkan kasar tubuhnya ke kursi sofa. Menatap langit-langit ruangan, yang terbebas dari penghalang plafon.
Riella kembali bersuara mengungkapkan apa yang saat itu rasakan. “Setelah itu, setiap hari aku menanti kabar darimu. Berharap ada pesan atau telepon masuk darimu, di jam-jam tertentu seperti sebelumnya kamu menghubungiku. Kamu tahu hingga usia berapa aku melakukan itu?” Seperkian detik Riella menghentikan ucapannya, menelan ludah yang terasa sulit masuk ke dalam kerongkongannya, lalu kembali menatap Kenzo. “Hingga usiaku 19 tahun Ken.” Riella lalu tertawa kecil dengan nada yang terdengar kesal. “Tapi yang terjadi, aku kecewa denganmu. Aku sungguh membenci atas perlakuanmu itu. Hingga saat itu, aku mengenal kak Emil, aku mulai mencintainya, dia yang selalu ada menghiburku saat dia datang ke rumah, meski ia tidak tahu luka apa yang kamu berikan. Aku mulai menyukainya dan perlahan melupakanmu. Tapi kamu tahu? kak Kalun tidak pernah menyukainya. Aku berjuang untuk meluluhkan hatinya dan setelah itu kamu kembali datang, tapi sayangnya rasa itu bukan untukmu lagi, dan maaf jika rasa itu sudah pergi dan berubah jadi ben-”
“La. Maaf.” Kenzo berucap lirih menatap Riella, memotong ucapan Riella.
Mendengar itu Riella kembali membuang nafasnya kasar. “Apa kamu masih ingin mengulangi kata itu, aku hanya butuh penjelasan bukan kata maaf yang keluar dari mulut manismu,” kata Riella lalu berdiri dari tempat duduknya, meninggalkan Kenzo yang hanya terdiam sambil mendengarkan ucapannya.
Namun, dengan cepat, Kenzo mengejar Riella, mendekap tubuh Riella dari belakang. “Ya aku yang bodoh. Tidak berkata jujur padamu saat itu, andai aku punya kesempatan untuk mengatakan pasti akan aku lakukan. Izinkan aku untuk memperbaikinya, La. Beri aku kesempatan untuk itu.”
“Bisa kamu lepaskan pelukanmu, maaf aku tidak nyaman.” Riella mencoba melepaskan pelukan tangan Kenzo yang memeluknya erat. Tapi sayang tenaga lelaki memang tercipta lebih kuat dibanding wanita. Tetap saja ia masih kualahan.
“Khalisa meninggal karena aku! Aku yang membawanya naik mobil, berniat mencari hadiah untukmu, dan kecelakaan itu tidak bisa terhindarkan, itu terjadi setelah satu hari aku mengirim pesan padamu.” Kenzo berhenti berbicara, dia semakin mendekap tubuh Riella semakin erat, mencoba mencari keberanian untuk menceritakan kisah hidupnya.
“Kita berdua sama-sama terluka parah, walaupun sebenarnya aku lebih ringan dari Khalisa. Namun, akhirnya papa membawa kami berdua ke rumah sakit yang ada di Singapura. Dan Khalisa, dia koma lebih dari 400 hari, sebelum dia pergi untuk selamanya. Sedangkan aku yang sudah tersadar, masih tergiang teriakan Khalisa yang berteriak di dalam mobil. Rasa trauma dan kehilangan itu merusak sistem sarafku. Aku depresi karena merasa bersalah atas meninggalnya Khalisa. Bukan hanya aku yang terluka batin, tapi mama juga ikut merasakannya, karena kehilangan Khalisa.”
Riella meneteskan air matanya setelah mendengar penjelasan Kenzo. Air matanya kini jatuh membasahi punggung tangan Kenzo. Tapi tetap, dia tidak ingin membalikkan tubuhnya menghadap Kenzo.
Kenzo merasakan tubuh Riella yang bergetar, justru melanjutkan ceritanya. “Setelah itu papa yang mengurus aku dan mama, hingga kami benar-benar pulih. Seperti tidak ada habisnya, banyak masalah yang menimpa keluarga kami ketika kita tinggal di Singapura. Bukan hanya masalah materi, tapi sepertinya kamu paham dengan latar belakang papa Haikal, dia masuk komplotan mafia, masalah itu aku nggak bisa ceritakan padamu. Itu aib papa, maaf!” Kenzo diam sejenak, menyandarkan kepalanya di tengkuk Riella, mencium aroma rambut Riella sambil memejamkan matanya.
“Dan tiga tahun yang lalu, kami kembali pulang, menyusun semua dari awal di sini. Termasuk menjalankan apa yang sudah ditinggalkan opa. Aku yang memulai semuanya dari nol.” Kenzo membalikkan tubuh Riella menghadap ke arahnya.
“Tiga tahun yang lalu, semua belum seperti ini, aku takut untuk mendekat padamu. Aku mungkin bodoh, karena menganggapmu hanya mau menerimaku ketika melihat banyaknya materiku, Tapi itu pemikiranku dulu. Namun, setelah semuanya di dalam genggaman, tapi aku justru kehilanganmu, kamu sudah dengannya.”
“Omong kosong kan? Kamu bohong, kan? Semua yang kamu ucapkan tidak ada yang benar.”
“Iyah. Aku bohong.” Kenzo tersenyum smirk ke arah Riella.
“Aku tidak menuntutmu untuk percaya setelah apa yang aku lakukan selama ini.”
Riella yang mendengar ucapan Kenzo, segera berjalan ke arah kamar untuk mengambil ponselnya. Dia terus menggulirkan ponselnya, memperlihatkan foto Kenzo yang tengah berada di atas ranjang dengan seorang wanita yang tidak terlihat wajahnya.
Kenzo mengerutkan dahinya, “kamu dapat mana foto itu?”
“Nggak perlu kamu tahu, aku dapat dari mana, Ken!”
“Pergilah!” usir Riella.
“Maaf.”
“Pergi Ken!” Kenzo tersentak saat mendengar bentakkan Riella.
“Tapi aku tidak melakukannya, aku hanya dijebak supaya aku mau menikahinya.” Kenzo berusaha menjelaskan.
“Ken!”
“Aku berani bersumpah, aku belum pernah melakukannya! Percaya padaku, aku masih suci. Kamu bisa mencobanya kalau perlu!” kata Kenzo menjelaskan.
Amarah Riella yang tadi membara, kini perlahan mulai meredup saat mendengar penjelasan Kenzo. Tapi Riella tetaplah Riella yang tidak mudah memberi maaf pada seorang pengkhianat.
“Aku nggak semudah itu percaya padamu, Ken. Aku akan bertanya dengan mama Nindi dulu, apa yang kamu katakan itu benar.”
“Ya silakan.” Kenzo pasrah dengan ucapan Riella.
“Tidurlah, ini sudah pagi!” perintah Kenzo, menuntun Riella menuju ranjang yang biasa ia tempati.
“Jangan terlalu banyak memikirkan masa lalu, karena itu bisa membuatmu semakin terpuruk dalam kebencian. Memaafkan lebih baik, dan ikhlaskan dia, mungkin kamu diciptakan untuk menemani masa tuaku.”
“Pergilah! Telingaku sudah panas mendengarmu dari tadi berbicara,” usir Riella mendorong pelan tubuh Kenzo.
“Ya, selamat malam, aku menyayangimu!” Kenzo lalu segera pergi dari kamar.
“Kamu nggak tidur?” tanya Riella menahan langkah Kenzo.
“Emm … ya aku akan tidur, kamu tidurlah dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Kenzo lalu berjalan ke arah ruang kerja, mendudukan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ia menundukkan kepalanya, meminta maaf dalam hati karena tidak bisa mengatakan semuanya pada Riella. Ia tidak mampu untuk mengatakan apa yang harusnya Riella ketahui. Ia takut Riella akan meninggalkannya setelah mengetahui semua apa yang ia alami.
🚑
🚑
🚑
🚑
Yang nebak kecelakaan siapa ya? Benar jawabannya.😂
Gerakkan jempolnya untuk meninggalkan jejak👣👣👣👣