
Aku butuh vote kalian ya😜 buat aku tahu, jika kalian menantikan cerita ini.🤭🤭🤭
Dan terima kasih yang sudah rela memberikan poinnya. Semoga Allah membalas kebaikan readers, dan melipat gandakan🤲🤲 amiin.
♥️
♥️
Bulan demi bulan sudah berlalu, anniversary pernikahan Kenzo dan Riella yang pertama akan datang dua bulan lagi. Namun, mereka berdua masih saja seperti dulu. Bahkan, hubungannya cenderung mengarah pada kakak yang menjaga adiknya. Tidak ada hubungan seperti suami istri pada umumnya. Meski Kenzo sudah beberapa kali menyinggung hal kewajiban seorang istri, tapi yang mereka lakukan hanya sekedar ciuman, layaknya orang berpacaran masa remaja.
Seperti bulan-bulan sebelumnya, setiap akhir bulan Kenzo akan pergi ke Singapura. Dan ketika waktu itu tiba, Riella meminta supaya ia tinggal di Jakarta. Tapi bulan ini berbeda, setelah Kenzo kembali dari Singapura ia akan bertolak ke Bali, karena mendapat undangan pernikahan dari rekannya.
Siang ini Kenzo mengantar Riella ke Jakarta, dan dia akan berangkat ke Singapura pukul 7 malam. Tiba di Jakarta mereka berdua disambut ramah oleh Erik dan Ella. Mereka juga tengah bahagia dengan hadirnya cucu pertama yang mereka tunggu selama ini.
Tiba di rumah, Kenzo dan Riella diminta untuk beristirahat ke kamar, karena Erik dan Ella paham, perjalanan Banjarmasin ke Jakarta tidak lah singkat. Dan di sinilah mereka berdua saat ini. Tengah merebahkan tubuhnya berdampingan di ranjang queen size yang ada di kamar Riella, dengan kaki masih menggantung menyentuh lantai.
“Sebenarnya ngapain sih, kamu setiap bulan pergi ke Singapura?” tanya Riella yang berada di samping kiri Kenzo.
“Ngurus hal penting,” jawab Kenzo singkat.
“Kenapa nggak Alby saja?” Riella menatap Kenzo mencari kejujuran dari mata suaminya.
“Kenapa memangnya? Kamu takut merindukanku ya?” Riella hanya tersenyum tipis, menanggapi ucapan Kenzo.
“Nggak. Mungkin karena kita terbiasa bareng saja, jadi serasa beda kalau kemana- mana pergi sendiri, apalagi kamu meninggalkan Kaila di sana sendirian.”
“Aku akan segera kembali, tenang saja. Setelah ini kamu bisa mendekapku seterusnya.” Kenzo lalu mendudukan tubuhnya membelakangi Riella.
“Hah, ogah kamu bau ketek saja, kok! Jarang mandi pula!” cibir Riella saat menyadari jika Kenzo jarang mandi di kamar utama yang biasa ia tempati.
“Mana ada? Kamu saja yang pintar ngeles,” sahut Kenzo. “Kamu nggak tahu bagaimana dirimu memelukku erat, saat tidur!”
“Itu karena aku kedinginan, Ken!” Riella menutup wajahnya dengan bantal.
“Yah. Nanti malam kalau kedinginan, pakai selimut tebal ya!”
“Pasti lah!” sahut Riella acuh.
“Tidurlah! Kamu pasti capek. Atau mau aku memijat kakimu?” tawar Kenzo kembali menghadap Riella lalu membuka bantal yang menutupi wajah istrinya. Menatap wajah istrinya yang malu karena kepergok memeluk erat tubuhnya.
Mendapat tawaran yang menguntungkan, Riella segera menjawab tawaran Kenzo. “Boleh, kalau kamu mau!” Riella lalu meletakkan kakinya di pangkuan Kenzo sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang putih.
Kenzo mulai memijit kaki Riella dari telapak kaki hingga batas lututnya. Kaki Riella yang putih dan bulu tipis pun tampak jelas di depannya. Ia sengaja memberikan sentuhan lembut di sana. Berharap Riella akan memintanya lebih dulu. Namun, saat jarinya mulai merangkak di atas lutut, sebuah peringatan ia dapatkan.
“Kaki saja! Jangan naik ke atas!” Riella bersuara di tengah rasa geli yang ia rasakan.
“Iya Tuan Putri.” Kenzo pun memijit kaki Riella lagi. Gayanya seperti suami takut dengan istri, tapi padahal ia sedang mengalah supaya tidak menimbulkan keributan.
“Ken, aku nanti mau ke rumah sakit ya. Kakak ipar melahirkan, dan bayinya cewek. Pasti menggemaskan!”
“Kamu pengin punya bayi?” tanya Kenzo dengan wajah penasaran.
“Jangan bilang kamu mau menghamiliku, jika aku menjawab ya.”
“Emangnya kamu mau dihamili siapa lagi, kalau bukan suamimu?” tanya Kenzo menatap Riella.
Hanya kekehan yang keluar dari bibir Riella yang memenuhi ruangan. Ia tidak ingin membahas masalah bayi, karena anak di panti saja sudah cukup membuat rumahnya berantakan saat mereka datang berkunjung. “Sudahlah, hentikan! Aku takut kamu khilaf.”
“Sama sekali tidak. Sulit untuk melupakannya, Ken. Meski dia sudah menikah. Mungkin karena kita pernah jadi satu, jadi aku sulit untuk melupakannya. Aku tahu itu dosa, dan itu juga membuatku merasa bersalah padamu, kamu yang harusnya mendapatkan itu, bukan dia.”
“Ya, maaf.”
“Aku yang harusnya minta maaf. Terlalu lama kamu menunggu cinta itu hadir lagi. Tapi ternyata rasaku padanya belum bergerak sedikit pun dari hatiku.”
Ingin rasanya Kenzo berteriak memprotes ucapan Riella, tapi ia tidak mampu, dia tidak sanggup menyakiti hati wanita yang dicintainya. Kenzo lalu memeluk tubuh Riella, mendekapnya erat, menciumi harumnya rambut Riella, yang menyeruak dihidungnya.
“Tidurlah!” perintah Kenzo sambil memejamkan matanya. Riella yang jahil dengan cepat mengecup bibir merah Kenzo. “Maaf ….”
Mata Kenzo kembali terbuka, ia menatap Riella yang juga menatapnya. “Sudah dua kali kamu mencuri ciumanku, La! Aku tidak ingin melepaskanmu, jika kamu mengulanginya lagi!” peringat Kenzo penuh ancaman. Setelah itu Kenzo kembali menutup matanya, masih dengan mendekap tubuh Riella. Saat Riella ingin kembali mencium bibir Kenzo. Kenzo yang merasakan gerakan tubuh Riella, melawan dan merebahkan tubuh Riella di sampingnya. Kenzo kini di atas tubuh Riella bersiap untuk menerkam Riella hidup-hidup. Sedangkan istrinya masih bersikap polos, hanya tersenyum jahil sambil menggerakkan telapak tangannya meminta Kenzo untuk melepaskan.
“Bang Kenzo, nggak mungkin melakukan lebih dari sekedar ciuman!” ledek Riella, sambil tersenyum mengejek ke arah Kenzo. Berbeda dengan Kenzo yang menatap acuh tubuh Riella, mengusir rayuan setan lucknut nya, yang membujuk untuk melakukan serangan saat ini juga.
“Aku mencintaimu, Riella!” lirih Kenzo, “dari dulu hingga saat ini, rasa itu tidak berubah, meski berulangkali kau membuatku kecewa!” Kenzo meluapkan perasaanya sambil membelai wajah cantik Riella.
Karena tidak mendapat respon dari Riella, Kenzo mulai mendekatkan bibirnya, lebih dekat lagi dengan sang istri, nafasnya pun bisa memantul kembali menerpa wajahnya karena jarak yang begitu dekat. Bagian dada Kenzo sudah bisa menyentuh benda kembar milik Riella, sangat terasa di dada Kenzo, benda kenyal itu seperti jelly padat yang siap untuk disantap. Kenzo mulai menyerang bibir Riella, memainkannya dengan lembut, dan menikmati setiap gerakannya. Setiap sentuhan yang ia berikan membuat aliran darahnya sendiri semakin naik secara perlahan.
Tubuh Riella tidak mampu bergerak, ia hanya bisa menerima pemberian Kenzo. Ia membalas apa yang dilakukan suaminya saat ini. Kecapan lembut terdengar memenuhi ruangan, suhu yang tadi dingin tiba-tiba berubah menjadi sedikit memanas, membuat keringat keluar dari tubuh mereka masing-masing.
Kenzo menurunkan aktivitasnya, menyusuri leher putih milik Riella. Ia mengigit sedikit leher Riella dengan gigi bagian depan, hingga membuat Riella berteriak kesakitan.
“Jangan jadi Drakula, Ken!” peringat Riella di sela suaranya. Kenzo mengabaikan karena ia penasaran dengan cara membuat kissmark. Ia mengecup lagi, lebih dalam hingga tanda merah keunguan tercetak jelas di leher Riella.
“Kau nggak akan melakukannya kan, Ken! Kamu masih mau menunggu rasa itu hadir, kan?” tanya Riella saat Kenzo mulai menurunkan lagi ciumannya.
“Nggak tahu, sepertinya tidak ada hukum yang ku langgar jika aku melakukannya sekarang!” sahut Kenzo lalu melanjutkan aktivitasnya.
“Ken ….” Terdengar suara Riella yang tampak khawatir, karena Kenzo mulai meraba, dan mencari biji kenikmatannya.
Kenzo yang mendengar itu, terpaksa harus menarik lagi tubuhnya dari atas Riella. Dia hanya ternyum tipis saat melihat bekas gigitannya yang memerah di leher Riella.
“Tenang saja, aku tidak akan menyakiti wanita yang aku cintai.” Kenzo kembali merebahkan tubuhnya di ranjang, memejamkan matanya, untuk meredam apa yang ia rasakan saat ini. Sedangkan Riella, tengah memperbaiki piyamanya, karena hampir semua kancingnya terlepas. Mereka berdua sama-sama tertidur, karena dirundung rasa lelah saat perjalanan.
Malam pun tiba, Kenzo harus segera berangkat pergi ke Singapura. Seperti layaknya istri yang baik, Riella mengantar kepergian Kenzo ke bandara malam ini.
“Jaga dirimu, baik-baik jika hal buruk terjadi padamu segera hubungi aku! Aku akan segera kembali, aku akan selalu berdoa semoga kamu baik-baik saja,” pesan Kenzo saat mereka berdua semakin dekat dengan pintu masuk bandara.
“Iya, sudah sana pergi! Ketinggalan pesawat nanti!” kata Riella sambil mendorong tubuh Kenzo masuk gedung bandara. “Kabari aku jika sudah tiba di sana. Aku menunggu kabar darimu Tuan Kenzo!” seru Riella, saat Kenzo baru beberapa langkah darinya.
“Pasti Nyonya Kenzo.” Kenzo berbalik sambil melambaikan tangan ke arah Riella, lalu kembali berjalan lagi menuju ruang tunggu penumpang.
Riella masih menatap punggung Kenzo yang semakin lama semakin menghilang karena tertutup orang yang lalu lalang. Riella lalu meraih ponselnya yang ada di saku jaket, menatap layar ponsel yang tampak berbeda, sedikit terkejut ketika layar ponselnya berubah menjadi wajah Kenzo yang memenuhi layar disertai tulisan kecil di atas bentuk hati.
Libatkan aku di setiap langkahmu. Supaya kamu bisa segera melupakannya.
Riella menggelengkan kepala, lalu tersenyum tipis saat menyadari jika itu kelakuan Kenzo. Riella lalu berbalik badan untuk bertolak ke rumah sakit, tapi yang ia lihat justru wajah orang yang sampai saat ini masih ada di hatinya. Iya, Emil di depannya! Menatapnya dengan sendu. Seperti anak yang ingin mengadu pada ibunya tentang kejahatan temannya.
🚑
🚑
🚑
Jangan lupa like dan komentar.