
Merasa tidak nyaman dengan apa yang tengah ia rasakan, Kenzo kembali mendudukan tubuhnya, bersandar di kepala ranjang. Jemarinya terus bergerak di layar ponsel, tidak tahu apa yang tengah ia lihat saat ini, yang paling penting ia bisa mengalihkan perasaan yang tengah ia rasakan ke arah lain.
Setelah lama membuang waktu, kini Kenzo beralih menatap punggung Riella yang memunggunginya. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kenzo yang tidak nyaman dengan situasinya saat ini, berusaha memecah keheningan, ia mulai memberanikan diri untuk membuka suara.
“Apa kamu sungguh-sungguh ingin tidur?” Tanya Kenzo, yang melihat Riella masih memainkan gawainya, Kenzo menyusun bantal untuk dipakai bersandar di kepala ranjang, “sebenarnya ada hal penting yang ingin aku katakan padamu,” lanjut Kenzo saat tidak mendengar sahutan dari Riella. Istrinya itu belum bergerak sedikit pun dari posisinya.
“Bicara saja, aku akan mendengarkan!” jawab Riella, tanpa membalikkan tubuhnya ke arah Kenzo.
“Maukah kamu pulang denganku ke Banjarmasin? Banyak pekerjaanku di sana, dan ….”
“Nggak mau, aku juga punya banyak pekerjaan, karena acara ke Australia kemarin yang aku tunda.” Riella memotong ucapan Kenzo yang belum sempat terselesaikan hingga akhir.
Terlihat jelas wajah kecewa dari Kenzo ketika mendapat jawaban dari Riella. Namun, ia berusaha menutupi dengan senyum yang tidak dilihat Riella.
“Baiklah jika seperti itu, aku akan berusaha bolak balik ke Jakarta untuk menengokmu. Tapi aku tidak bisa janji, jika akan pulang setiap weekend, karena aku harus pintar-pintar membagi waktuku.” Kenzo sengaja menghentikan suaranya, melihat respon yang Riella berikan, tapi tetap saja gadis itu masih diam dalam posisinya. “Dan aku mau kamu bisa menjaga dirimu dengan baik, bagaimana harusnya kamu bersikap sebagai istriku.” Pesan Kenzo lalu meraih ponselnya yang tadi ia letakkan di meja samping ranjang, mengabari rekannya untuk memesankan tiket pesawat untuknya besok siang.
Riella tidak ingin menjawab ucapan Kenzo, dia justru membalas pesan dari Eva yang meminta maaf karena tadi ia pulang lebih dulu, dan tidak sempat berpamitan dengannya. Riella lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, hingga menutup bagian dadanya
Merasa diabaikan, Kenzo kembali angkat suara, meminta Riella untuk menanggapinya, “Kamu mendengarkan aku bicara?”
Riella menoleh ke arah Kenzo, memberikan jawaban atas ucapan Kenzo, “Okey baiklah. Nggak papa, kamu pulang ke Banjarmasin, aku bisa jaga diriku dengan baik.” Riella lalu memejamkan matanya erat, kembali mengabaikan Kenzo. “Jangan meminta hak mu, aku belum ingin melakukannya sekarang!” pesan Riella sebelum ia terlelap menuju alam mimpinya.
Kenzo yang mendengar itu hanya mampu tersenyum tipis menatap wajah Riella. Memperhatikan setiap detail wajah cantik yang selalu hadir dalam mimpinya. Tapi dalam mimpinya, Riella sangat mencintainya, bukan Riella keras kepala seperti di depannya ini.
“Tidurlah, aku juga tidak akan meminta hak ku sekarang. Aku tahu kamu belum siap!” terangnya yang meringsutkan tubuhnya sejajar dengan Riella. Menemani Riella tidur siang, dengan pembatas guling di tengahnya.
Sedangkan di lantai bawah terjadi keributan karena menghilangnya menantu perempuan Erik. Di lantai atas sana tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Aluna yang kabur tanpa kabar, dan membuat anak lelaki Erik kalang kabut.
Cukup lama Kenzo dan Riella mengurung diri di kamar, hingga jam makan malam tiba mereka baru beranjak dari kamarnya. Makan malam terasa hening, terjadi ketegangan di meja makan. Maura yang biasa lebih aktiv berbicara kini hanya menikmati makannya dalam diam. Siapapun pasti merasa tidak nyaman, dengan kondisi seperti ini.
“Maaf Ken, kamu nikmati saja makan malamnya, kami sedang memikirkan menantu kami yang kabur entah ke mana.” Erik menjelaskan kediaman seluruh anggota keluarganya.
“Iya nggak papa, Pa. Ken paham kok.” Jawab Kenzo seraya menganggukan kepalanya lemah.
Selanjutnya hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring. Setelah makan malam usai, Kenzo lebih memilih masuk ke kamar, menghubungi rekannya, untuk menanyakan tiket keberangkatannya besok.
“Kamu benar nggak mau ikut aku ke Banjarmasin?” tawar Kenzo memastikan lagi, pilihan Riella.
“Nggak?” jawab Riella yang berjalan ke arah ranjang.
“Yakin?” tanya Kenzo dengan senyum menggoda.
Riella kembali memikirkan tawaran Kenzo, “berapa hari di sana?” tanyanya sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.
“Terserah kamu, mau berapa hari, di sana tempat aku pulang, banyak keluarga besarku yang tinggal di sana. Kamu pasti akan menyukainya. Banyak anak asuhku yang nanti akan menghiburmu.”
“Aku nggak yakin, bisa bertahan lama di sana.” Riella berucap sambil memperhatikan Kenzo yang tengah memasukkan barangnya.
“Ya nggak papa, setidaknya kamu bisa mengenal mereka. Kamu bisa kembali lagi ke Jakarta, kalau kamu merasa bosan.” Kenzo memasukkan bajunya ke dalam koper kecil, “Aku juga harus ke Singapura, dan Bali bulan depan, dan kamu bisa balik dulu ke Jakarta, aku nggak akan memaksamu untuk tinggal di sana selamanya.” Kenzo menjelaskan panjang lebar pada Riella, supaya Riella tidak memikirkan jika dia akan menahannya untuk berada di sana.
“Aku susun dulu barangku.” Riella akhirnya memutuskan untuk mengikuti ke mana Kenzo akan membawanya pergi. Setelah menimbang-nimbang pilihannya sejak sore tadi.
“Terima kasih,” ucap Kenzo lembut, mengusap pipi Riella, seperti seorang bapak yang mendengar anak gadisnya menurut dengan apa yang di perintahkan.
“Hemm, ya.”
“Aku akan menghubunginya, untuk menyiapkan rumah sebelah, biar sampai sana kamu bisa beristirahat dan tidak capek untuk membersihkannya.” Kenzo terus menjelaskan apa yang akan mereka lakukan di sana, menjelaskan singkat tentang kondisi lingkungan di rumahnya. Supaya Riella punya gambaran tentang kondisi pantinya besok.
“Ya.”
“Terima kasih.”
“Buat?” Riella mengeryit bingung dengan ucapan Kenzo.
“Semuanya.”
“Yah. Aku istri baik, kan?” puji Riella pada dirinya sendiri.
“Yah.”
“Singkat betul jawabanya, nggak suka dengan ucapanku?”
“Kan, seperti kamu!”
“Kenzo!” panggil Riella sedikit membentak.
“Ya.” sahut Kenzo lembut.
“Keennzoo!” Riella meninggikan panggilannya.
“Iyah,” jawab Kenzo lembut seraya menarik resliting kopernya, tapi terlihat jelas senyumnya yang tipis saat menatap wajah Riella yang tengah meredam emosinya.
“Nyebelin ...!”
“Begitulah aku,” kata Kenzo menyahut.
“Sudah diam!”
“Iya, ini diam, cepat kemas barangmu. Aku akan meminta Alby untuk memesankan satu tiket untukmu.”
Riella segera beranjak dari posisi rebahan, masuk ke dalam kamar, menyusun barang bawaan yang akan ia bawa untuk ke Banjarmasin besok.
🚑
🚑
🚑
🚑 Di sini saya sengaja buat karakter Riella super nyebelin, jadi harap sabar. Karena akan indah pada waktunya.🤫
Jangan lupa untuk like😘♥️
Komentar positif. JANGAN VOTE YA. VOTENYA AKHIR BULAN SAJA🤭😂