The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Trauma Masih Tersisa



Selamat Membaca!


🌹


Saat matahari sudah terasa menyengat di kulitnya. Kenzo segera menggendong Aslan untuk masuk ke dalam rumah Nindi. Dia tidak tega saat melihat wajah Aslan yang sudah merah karena kepanasan.


Semenjak Riella kecelakaan sampai sekarang, Aslan memang diasuh oleh Nindi. Wanita itulah yang menggantikan posisi Riella saat ini. Meski dia tahu, kadang Aslan kebingungan mencari keberadaan Riella.


Nindi yang baru saja masuk ke dalam rumah, langsung memberondongi Kenzo dengan berbagai pertanyaan. Tatapannya sudah tajam, menusuk tepat ke kornea mata putranya.


“Kau bicara apa sama Riella?!” hardiknya, tidak melemahkan tatapannya ke arah Kenzo. “Kenapa dia pergi begitu saja?” tanpa mendengar jawaban dari Kenzo, kembali Nindi melontarkan pertanyaan lagi. “Kau benar-benar akan menceraikannya? Di mana tanggungjawabmu, sebagai seorang pria yang seharusnya setia sampai tua? Kau meninggalkannya saat dia membutuhkanmu. Dan sekarang ... saat dia menemuimu kamu justru memintanya pergi.” Nindi terus bersuara tanpa memperhatikan air muka anaknya.


Kenzo menatap Nindi dengan tatapan bingung. Dia berusaha mencerna mentah-mentah apa yang dikatakan mamanya. Kenzo lalu mengukir senyuman manis, sambil menciumi pipi Aslan. Mencoba melupakan pertanyaan Nindi.


Membuat wanita di depannya itu semakin geram terhadap tingkahnya. Kedua tangannya langsung mengambil Aslan dari gendongan Kenzo.


“Cepat kejar Riella!” bentak Nindi yang tidak sabar ingin Kenzo menahan menantunya.


“Mama bicara apa sih, Ma!” Kenzo menggeleng tak paham. Dia lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air mineral.


“Lintang! Tolong ambilkan sapuku!” teriak Nindi memerintahkan Lintang yang berada di ruang tamu. Sudah dari dulu hingga saat ini, ketika melihat anak didiknya yang berusia lebih dari 10 tahun, tapi masih membangkang perintahnya. Maka, dia akan memukul anak itu dengan sapu. Tak terkecuali Kenzo saat ini.


“Ma, awas kena Aslan!” peringat Kenzo saat Nindi mengangkat sapu tinggi-tinggi, hendak mendaratkan di pahanya.


“Kenapa kamu tidak menahan Riella. Kamu justru membiarkannya pergi! Apa kamu masih ingin meminjam paha Mama untuk enampung air matamu yang setiap malam terus menetes itu!!” Nindi berteriak membongkar kelakuan Kenzo beberapa Minggu ini, tanpa melihat ke arah Lintang yang senang saat mendengar ucapan Nindi.


“Tunggu. Tunggu. Tunggu dulu, Ma! Riella datang?!” Kenzo bertanya penuh selidik. Kedua tangannya menghadang batang sapu yang hendak mendarat di tubuhnya.


“Iya. Tapi, dia pergi lagi. Memangnya apa yang sudah kamu katakan padanya, Hah?” wajah Nindi masih terlihat marah. Ingin melayangkan sapu ke tubuh putranya.


“Kenzo benar-benar tidak tahu kalau Riella datang. Dari tadi Kenzo sama Lintang dan Aslan, tidak ada yang memanggil Kenzo juga, kok!” Kenzo menjelaskan.


“Ya sudah, sana kejar Riella sampai ketemu dan cepat bawa pulang!” perintah Nindi. Dia tidak ingin anaknya itu terus-terusan bersedih karena kepergian Riella. Apalagi dia tahu sedalam apa Kenzo mencintai Riella.


Kenzo masih mencerna ucapan Nindi. Benarkah Riella datang menemuiku, dia yang datang sendiri padaku? Dalam hati Kenzo terus bertanya-tanya.


“Mama nggak bohongin Kenzo?” tanya Kenzo memastikan, dia sedikit ragu jika Riella datang padanya.


“Anak bodoh! Cepat sana pergi!” mendengar bentakan Nindi yang semakin keras, Kenzo yakin jika Nindi tidak mungkin berkata bohong. Kenzo segera mengambil kunci mobil mamanya, dia panik, bingung apa yang harus dia lakukan. Dia tidak mungkin pulang dan mengambil mobil barunya, karena itu sama saja akan membuang waktu.


Kenzo segera menyalakan mobil Nindi yang masih berada di garasi. Dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan bangunan rumah orang tuanya. Saat tiba di pos satpam kedua tangannya menekan keras klakson mobil. Dia tidak sabaran ingin segera keluar dari rumah.


“Bu Riella?” Mukidi tampak bingung, dia masih mencerna pertanyaan Kenzo. “Ow iya, Bu Riella pergi, menggunakan taksi bandara tadi, Pak!” jawab Mukidi sambil tersenyum bodoh. Dia memang seperti itu, kadang lambat dalam berpikir. Tapi, kalau berpapasan dengan wanita cantik responnya sangat cepat.


Setelah pintu gerbang terbuka lebar, Kenzo segera melajukan mobilnya menuju bandara. Tidak peduli sekencang apa dia mengemudikan mobilnya. Sebenarnya sudah sejak hari itu. Hari dimana dia mendengar berita Riella sudah bangun dari koma nya, dia ingin segera bertemu dengannya, tapi dia masih merasa tidak pantas untuk bertemu Riella.


Tiba di bandara Kenzo memarkirkan mobilnya di sembarang tempat. Dia menghubungi Alby yang tengah dirundung duka karena kepergian Reva. Kenzo meminta pria itu untuk mengurus mobilnya yang dia tnggal di bandara. Saat dia hendak masuk ke gedung bandara. Terpaksa dia harus beradu mulut dulu dengan petugas pengecekan tiket. Karena dia tidak membawa tiket penerbangan.


“Maaf saya tidak bisa mengizinkan Anda masuk ke dalam!” kata pria itu lalu menutup akses jalan Kenzo yang ingin masuk ke bandara. Kenzo hanya mampu memendam rasa kesalnya saat mendapatkan perlakuan buruk dari petugas tersebut. Dia lalu melihat ke arah layar lcd 42 inch yang tertempel di dinding.


Tulisan nama maskapai dengan tujuan bandara Soerkarna Hatta tampak berkedip, 15 menit lagi pesawat akan segera lepas landas. Dan itu membuat Kenzo sadar, jika dia hampir saja melupakan Riella. Dia berlari kencang ke arah loket penjualan tiket. Beruntungnya waktu masih berpihak padanya, dia segera memberikan kartu KTP dan melakukan pembayaran.


Lima menit kemudian, tiket dengan tujuan ke Jakarta sudah berada di tangannya. Sayangnya ... saat panggilan masuk pesawat yang terakhir, Kenzo masih harus melakukan check in. Dia hanya mampu berharap, masih bisa mengejar istrinya dan berharap pula Riella berada satu pesawat yang ia tumpangi.


Semua penumpang sudah masuk ke dalam pesawat. Hanya Kenzo, salah satu pemumpang yang masih berada di luar. Kenzo berlari kencang ke arah Gate masuk pesawat yang akan dia naiki. Lorong kaca itu sudah sepi, tidak ada satu orang pun yang tersisa di sana, karena tujuan Jakarta sebentar lagi akan segera take off. Kemungkinan besar, pintu pesawat sudah ditutup rapat oleh pramugari.


“Tunggu!” teriaknya keras saat pramugara hendak menutup pintu pesawat. Dia berlari kencang, mendekat ke arah pintu, menghentikan pergerakan pramugara yang setinggi dengannya.


“Penerbangan GA 538 tujuan Jakarta, kan?” tanya Kenzo memastikan. Pramugara yang mendengar pun mengerutkan dahinya, lalu mengecek boarding pass yang ada di tangan Kenzo.


“Silakan masuk, Pak!” perintahnya ramah memberi jalan Kenzo supaya bisa masuk.


“Sis, tolong antar bapak ini ke kursinya!” perintahnya pada pramugari yang berdiri tidak jauh darinya.


“Tunggu! Saya mau mencari istri saya.” Kenzo protes saat pramugari itu mengarahkan tempat duduk yang sesuai di lembar boarding pass.


“Maaf, Pak! Pesawat akan segera lepas landas. Jadi, Anda harus duduk di kursi dulu! Silakan!” tolak pramugari itu dengan sopan dan ramah. Dia mempersilakan Kenzo untuk duduk, saat menemukan nomor kursi pria tersebut tepat di urutan ke tiga dari belakang.


“Mbak, saya ingin mencari istri saya!” maki Kenzo. “Saya tidak ingin duduk di sini!” tolaknya, dia masih berusaha melawan pramugari di yang sok manis di depannya.


“Silakan duduk! Saya akan memastikan keamanan Anda!” Pramugari itu mendudukan tubuh Kenzo. Lalu memakaikan seatbelt di perut Kenzo. Karena sebentar lagi dia akan melakukan safety demonstration.


Awalnya Kenzo nekad ingin melepas seatbelt yang melingkar di perutnya, dan mencari keberadaan Riella. Tapi, saat merasakan pesawatnya bergoyang, dia mengurungkan niatnya. Dia masih merasakan merasa takut, kejadian waktu dulu tiba-tiba terlintas begitu saja. Dan akhirnya, dia hanya bisa membuang nafas kasar.


Kenzo mengedarkan tatapannya, mencoba mencari keberadaan Riella, siapa tahu istrinya itu duduk di sekitarnya. Tapi nihil, dia tidak bisa menemukan keberadaan istrinya saat ini.


Kursi yang Kenzo tempati saat ini, adalah kelas ekonomi. Dia membeli tiket yang masih tersisa dari penerbangannya pagi ini. Saat dia merasakan pesawat sudah berada di atas awan. Kenzo segera mencari keberadaan Riella. Tanpa meminta izin pramugari lebih dulu, dia mulai berkeliling mencari keberadaan Riella.


...----------------...