
Riella langsung menginjakkan kakinya ke lantai, menghampiri di mana Kenzo berdiri, segera menurunkan lengan baju lelaki di sampingnya. “Kamu nggak tahu Ken! Kamu nggak pernah tahu bagaimana sakitnya perasaanku saat ini!”
Dengan isyarat mata, Kenzo meminta Rifat untuk keluar ruangan. Rifat yang paham dengan kekacauan yang ia buat segera berlalu dari ruangannya. Membiarkan keduanya menyelesaikan masalahnya.
Pintu tertutup rapat, Kenzo menghadap ke arah Riella mulai menenangkan wanita di depannya. Memulai bicara dari hati ke hati, seperti yang dipesankan oleh mamanya.
“Menangislah sesukamu, luapkan semua yang kamu rasakan saat ini. Jika itu bisa membuatmu bebas dari perasaan sakit hati. Aku berdiri di sini, siap mendengarkan keluh kesahmu.” Kenzo membawa Riella kembali ke ranjang yang tadi Riella gunakan untuk berbaring.
“Nggak akan bisa, Ken! Tidak akan semudah itu aku bisa terbang bebas.” Riella mengalihkan tatapanya dari Kenzo, berpindah ke arah jendela ruangan.
Kenzo lalu menepuk pundaknya, meminta Riella untuk menyandarkan kepalanya di sana, hanya dengan isyarat Kenzo memerintahkan itu, tapi Riella masih enggan melakukannya.
“Kamu nggak akan tahu sebesar apa pengorbananku untuk lelaki brengsek itu Ken. Kesucian, kehormatan, tubuhku, waktuku, semua sia-sia.” Riella tergugu, perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Kenzo, baru kali ini ia mengungkapkan perasaan sakit hatinya kepada orang lain, dengan Eva kemarin ia hanya bercerita tentang keburukan Emil.
Kenzo meraih tangan Riella, menautkan jemarinya ke sela-sela jemari Riella. Mengusap lengan wanita di sampingnya, berusaha menenangkan, lewat sentuhan tangan.
“Kamu pasti tahu, tidak ada lelaki yang akan menerima aku apa adanya. Bisa jadi, aku akan hidup sendiri sepanjang usiaku.”
Kali ini Kenzo hanya mengangguk, sambil tersenyum ramah. “Adalagi yang ingin kamu ungkapkan?” tanya Kenzo memastikan saat hanya terdengar suara tangis Riella. Dan Riella terus mengoceh kesana-kemari, meluapkan apa yang ia rasakan saat ini. Cukup lama Riella bercerita, hingga tidak sadar kepalanya berada di dekapan tangan Kenzo, dia masih menangis dengan air mata yang terus mengalir, membasahi kemeja yang Kenzo kenakan.
“Aku juga pernah berada di posisimu saat ini. Sakit? Iya memang sakit, menyesakkan, menyiksa, tapi tidak tahu harus bagaimana, luka berat tapi belum tahu obatnya, ketika melihat orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain. Ingin rasanya aku egois, mendoakanmu supaya kamu putus dan aku akan membawamu kepelukanku. Tapi itu tidak aku lakukan, itu cuma ada di pikiranku. Aku justru berdoa untuk kebahagianmu dengannya.” Kenzo menjeda ucapannya, mencium aroma rambut Riella yang tepat berada di bawah hidungnya.
“Walaupun dia meninggalkanmu dalam kondisi terburuk sekalipun, bukan berarti tidak ada orang yang mau menampung hatimu, percaya pada Allah, Dia mengambil sesuatu yang baik darimu, dan pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik lagi, untuk kehidupanmu selanjutnya.” Setelah itu hanya terdengar nafas Riella pendek, ia menangis keras di sana, membuat Kenzo kebingungan.
“Kalau kamu mau, aku akan men-”
“No, nggak Ken. Please jangan lakukan! Kamu tahu sendiri bagaimana perasaanku padamu, kita sama-sama keras kepala, api dan minyak tidak akan bersama, jika mereka bersama kamu tahu apa yang akan terjadi?” ujar Riella di tengah tangisnya, ada sedikit penegasan bahwa ia tidak ingin menikah dengan Kenzo.
“Benar katamu, tapi mereka juga bisa melengkapi, saling mengisi. Jika kamu memilih menjadi minyak, aku akan berubah jadi apinya saja, yang akan mencairkan hatimu. Hingga kita bisa saling melengkapi membuat gorengan yang enak dan renyah untuk disajikan, mengatur apinya supaya makanan itu bisa matang sempurna, dan layak untuk dimakan.” Kenzo tersenyum jenaka setelah mengucapkan itu. Membuat Riella segera mengurai pelukannya.
“Mari kita lakukan, kita akan melakukan bersama, kita akan memasukkan cairan itu, demi melupakan orang yang kita cintai.” Ajak Kenzo menatap Riella sambil menggerakkan kedua alisnya. Dia sudah berdiri hendak mengambil suntikan.
“Biar aku saja, kamu nggak perlu.”
“Mungkinkah? Jika kamu lupa ingatan …, Setelah itu kamu bisa memulai mencintai aku?”
“Nggak akan terjadi, Ken!”
“Jika begitu. Biarkan aku melakukannya, kita akan memulai semuanya dari awal, sama-sama tidak saling mengenal, membuang semua kenangan masa kecil kita, dan …” jelas Kenzo segera mengambil suntikan yang tadi di letakkan Rifat di nampan stainless.
“Gila. Gila! Kamu gila Ken!” teriak Riella kesal sambil menggelengkan kepalanya, berlalu keluar ruangan. Niatnya memasukkan cairan pelupa ingatan itu sirna, karena tanpa ia sadari, ia tidak ingin Kenzo melupakan semua kenanganya. Kenangan masa kecilnya ketika mereka berlibur bersama setiap tahun yang dulu pernah mereka lewati.
Masih dengan wajah dingin Riella duduk di kursi samping kemudi, mengisyaratkan Kenzo untuk menggantikan posisinya menyetir. Tanpa bertanya pun Kenzo yang sudah paham maksud Riella, segera mengemudikan mobilnya keluar dari rumah Rifat.
Kesunyian menyerang saat Kenzo membawa mobilnya menyusuri jalanan, ia sendiri juga bingung tidak tahu letak dan tepatnya seperti apa kota Jakarta, sedangkan saat ia hendak bertanya Riella justru memejamkan matanya sambil bersandar di sandaran kursi, tidak ingin mengarahkan jalan untuknya.
Mata Kenzo menangkap penjual bubur ayam yang sempat menjadi trending beberapa bulan yang lalu. Dia berniat membawa Riella untuk sarapan bersama di warung tenda bertuliskan warung bubur "Bang Haji" ia segera menepikan mobilnya, memarkirkan mobilnya di halaman area parkir depan tenda.
“Kita mampir beli sarapan dulu!” ajak Kenzo.
“Bubur ini terkenal enak, kamu pasti suka. Aku sempat melihatnya di beranda sosmedku,” rayu Kenzo sambil fokus memainkan gawainya.
“Sekali nggak, tetap nggak!” kata Riella yang kini sudah membuka matanya, menatap tajam ke arah Kenzo.
“Okey baiklah! Kamu tunggu di sini. Biar aku saja yang turun, jangan ke mana-mana. Jangan mencoba untuk melarikan diri dari kenyataan.” Kenzo mengakhiri ucapannya dengan kekehan kecil, menggoda Riella supaya membuang perasaan kesal terhadap dirinya. Ia lalu turun, berjalan ke arah warung tenda penjual bubur ayam, tempatnya yang cukup ramai membuat Kenzo harus mengantri cukup panjang, demi membeli bubur ayam untuk Riella.
Sedangkan Riella yang sudah merasa bosan di dalam mobil. Hanya menatap tubuh Kenzo yang tengah berdiri mengantri di belakang pembeli emak-emak. Mengumpati Kenzo dalam hati karena terlalu lama menunggu.
“Dasar Ken Arok! Kamu pikir aku masih menyukai bubur. Sok tahu banget jadi orang! Kenapa nggak tanya dulu? Pokoknya awas saja, aku nggak akan mau makan makanan itu, mau kamu paksa sampai kumismu tumbuh aku nggak akan memakannya,” gumam Riella sambil memainkan rambutnya yang panjang, tatapan penuh mengancam ke arah Kenzo, jika dalam drama mungkin tatapan Riella seperti peran antogonis yang ingin menyerang lakonnya.
Sesaat kemudian, pintu samping kemudi terbuka, Kenzo yang baru saja masuk memberikan satu mangkok sterofoam bubur ke pangkuan Riella, “sayang sekali, buburnya tinggal satu, itu buat kamu saja. Aku tadi sudah minum teh.”
Riella dengan sigap meletakkan bubur ayam di kursi belakang, membiarkan bubur yang dibeli Kenzo dingin dengan sendirinya. Membuat Kenzo menunda niatnya untuk melajukan mobilnya.
“Heh, aku beneran sudah sarapan, La. Jadi makanlah!” kata Kenzo menatap Riella, ia tidak paham apa yang diinginkan Riella.
Riella memejamkan matanya, kembali menyandarkan tubuhnya di kursi, “seiring berjalannya waktu, sepertinya kamu semakin tidak paham dengan diriku. Buat kamu saja bubur itu, aku sudah tidak menyukai bubur apalagi bubur ayam!”
“Benarkah?!” Kenzo mengambil kembali bubur yang tadi diletakkan Riella, di kursi belakang. Membuka bubur itu di depan Riella. Ia benar- benar menunda niatnya untuk pergi dari halaman warung bubur. Seketika aroma gurih mencemari mobil Kenzo, membuat Riella kesusahan menelan salivanya.
“Emmm … ini pasti enak sekali, beneran kamu nggak mau,” kata Kenzo menggoda, seraya mengaduk bubur ayam yang ada di tangannya. Setelah merata barulah ia mendekatkan sendok plastik di tangannya ke arah bibir Riella.
“Kenzo!” ucap Riella dengan nada marah, karena Kenzo dengan lancang menyentuh bibirnya dengan ujung sendok “jangan paksa aku berbuat kasar! Aku nggak suka dengan perhatianmu!”
Kenzo menarik kembali tangannya, meletakkan sendoknya ke dalam mangkok sterofoam, “bukan untuk kamu, tapi pikirkan akibatnya jika kamu terus seperti ini.” Kenzo menjeda ucapannya, beralih menatap ke arah depan, focus pada mobil yang beranjak meninggalkan warung bubur. “Mungkin mereka berdua tengah bertepuk tangan merayakan kesedihanmu. Dia lelaki brengsek yang tidak seharusnya kamu tangisi. Hidupmu akan terus berjalan, tanpa dia ada atau tidak di sisimu, jangan buang air matamu untuk orang yang tidak bisa menghargai dirimu.”
Terdengar hembusan nafas lelah dari Riella. Ia lalu dengan cepat mengambil bubur yang ada di tangan Kenzo. “Jalankan mobilnya, terserah kamu akan membawaku ke mana!” kata Riella mulai memakan bubur di tangannya.
Senyuman terukir dari bibir Kenzo, dia menganggukkan kepalanya.
“Bagaimana kalau kita ke Banjarmasin, di sana akan ada anak panti yang akan bisa menghiburmu!”
Mata Riella melotot sempurna, setelah mendengar tawaran Kenzo, “jangan gila! Kamu paham aku tidak bisa berkawan baik dengan anak kecil.”
“Lagian kita juga tidak sedekat itu, kamu tidak akan bisa kamu membawaku ke sana.” lanjut Riella setelah menghentikan kunyahan di mulutnya. Kenzo hanya tersenyum sebentar ke arah Riella, lalu kembali focus ke arah jalan. Mengantarkan Riella pulang ke rumah orangtuanya. Karena dia tidak tahu akan membawa Riella kemana.
🚑
🚑
🚑
🚑
Jangan lupa untuk like, dan komentar yang baik😝🙏
Votenya akhir bulan saja🤭🤣