
Kenzo sengaja tidak membawa bayinya pulang ke rumah. Dia takut setelahnya akan selalu terbayang tubuh kaku putrinya. Setelah selesai dimandikan, dikhafani dan dishalatkan. Kenzo menggendongnya sendiri masuk ke dalam mobil. Jangan tanya bagaimana perasaanya saat ini! Sakitnya melebihi rasa sakit fisik yang dia derita puluhan tahun yang lalu.
Sorot matanya tampak kosong menatap bayi mungil ditangannya, dia duduk di samping Ella, berusaha tegar demi meyakinkan Ella jika dia baik-baik saja, dan bisa mengurus semuanya.
Kenzo tidak mampu berkata sepatah katapun saat berada di mobil. Sampai tiga puluh menit kemudian mobil berhenti di tempat pemakaman umum.
Tidak banyak orang yang mengantarnya. Hanya Nindi, Haikal, Ella, Si kembar, Lintang, Reva, Alby, dan dua orang petugas TPU. Mereka semua datang, turut berduka atas kepergian putri pertama Kenzo.
Kenzo meletakkan putri kecilnya ditempat peristirahatan. Dia mengumandangkan sendiri suara adzan dan iqomah untuk putrinya. Dia lalu berdiri di depan lubang yang tidak seperti lainnya, karena ukurannya memang lebih kecil.
Temanilah Khalisa, Zea! Kamu punya teman di sini. Batin Kenzo menatap tanah merah yang perlahan menimbun tubuh putrinya. Dia sengaja memilih tempat makam anaknya di samping adiknya.
Seperti namamu kamu akan selalu bersinar di hati kami. Kenzo hanya mampu menatap tanah yang sudah menutupi tubuh putrinya.
“Kak Kenzo yang kuat ya, pasti Allah akan menggantinya dengan yang lebih banyak lagi.” Naura yang melihat air mata Kenzo, berusaha menguatkan kakak iparnya.
“Iya, Kakak ikhlas ... semua sudah digariskan oleh Allah. Biarlah Zea yang mendoakan kami dari atas sana.” Kenzo memaksakan senyumnya, menjawab ucapan Naura. Supaya gadis itu tidak mengkhawatirkan kondisinya saat ini.
“Iya. Lagian masih ada kak Riella, yang menunggu Kakak. Jangan patah semangat! Nifas selesai, nanti program lagi sama papa!” Naura menggoda kakak iparnya.
Kenzo hanya membalas dengan senyuman kecut saat mendengar candaan adiknya. Dia tahu Naura sengaja menggodanya supaya dia tidak stress, saat melihat bongkahan tanah merah itu menimbun tubuh Zea.
Kenzo menatap ke arah wanita yang berdiri di samping Alby. Dia heran, kenapa wanita ini berada di sini? Wanita yang sudah mengubah kebahagian menjadi tangisan hanya dalam waktu semalam. Dia menyesali pernah menceritakan masalah kekurangannya dulu pada Reva.
Dan saat ini, bagaimana dia dengan tega membuka semua tentang dirinya. Dia tidak tahu dari mana wanita itu bisa mendapat informasi detailnya. Yang jelas, dia pernah bercerita jika harus menjalani teraphy diluar negeri karena masalah fertilitas.
Dia mendekat ke arah Reva. Tatapannya sudah siap menerkam wanita jala*ng yang berdiri di samping adik angkatnya. Kenzo langsung menarik rambut panjang Reva yang terurai indah. Wanita itu mengaduh kesakitan karena Kenzo menariknya terlalu kuat.
Alby yang melihat pun mencoba meredakan emosi Kenzo. “Biar Alby yang mengurusnya, Bang! Tolong lepaskan!” teriaknya menahan tangan Kenzo yang berpindah mencekik leher Reva.
“Apa kamu bisa dipercaya? Kamu mencintai wanita ini! Pasti kamu tidak akan tega untuk menghabisinya.” Kenzo sudah berteriak, saat melihat semua orang sudah meninggalkan pemakaman.
“Okey, Abang bisa lihat sendiri. Alby yang akan membawanya ke kantor polisi!”
Kenzo tertawa layaknya orang gila. “Enak sekali, masuk sel habis itu bebas? Bergoyang sana-sini! Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, dan juga tidak akan pernah membuat hidupnya tenang!” ucap Kenzo penuh amarah, matanya menajam ke arah Reva.
“Apa maksudmu, Ken!” tegas Reva, wajahnya sudah terlihat jika wanita itu ketakutan dengan sikap Kenzo yang diperlihatkan saat ini.
“Bang, aku juga yang salah. Jangan menyalahkan Reva. Aku yang sudah memberitahu semuanya pada Reva. Aku pikir dia benar-benar mencintaiku dan akan berusaha menyembunyikannya untuk Abang. Tapi, aku salah. Jadi, maafkan aku, Bang! Hukumlah aku juga.” Alby mengakui kesalahan yang sudah ia lakukan. Dia memang menceritakan kejadian yang dia lihat pada Reva. Tapi, nyatanya dia salah menilai wanita itu.
Kenzo merasa jengkel dengan situasinya saat ini. Dia berharap Reva mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Tapi dia akan lebih bersyukur lagi, jika wanita itu gila dan dipasung di rumah sakit jiwa selamanya.
Setelah itu Kenzo, segera pergi meninggalkan pemakaman. Sejenak dia menatap makam anaknya yang sudah sepi, suara angin sepoy pun ikut terdengar, menyejukkan siang hari yang terik.
“Papi akan sering datang, Sayang. Doakan mami, supaya mami cepat sembuh, papi akan membawanya ke sini,” gumam Kenzo lalu berjalan menjauh dari pemakaman putrinya.
Kenzo menamainya Zea, dia hanya asal-asalan menamai putrinya dengan nama itu. Karena sejauh ini mereka berdua belum memikirkan nama bayi yang akan mereka pakai untuk menamai anaknya.
Kenzo kembali ke rumah sakit, satu mobil dengan yang ditumpangi Ella. Mereka semua masih diam membisu, pikirannya berkecamuk memikirkan kondisi Riella yang belum sadarkan diri.
Erik tidak ikut dengan mereka, karena tengah menunggu Riella di ruang ICU. Padahal dokter bilang semuanya sudah mulai stabil, tapi anehnya seolah Riella enggan bangun, dan marah dengan takdir yang dialaminya saat ini.
Tiba di rumah sakit, Kenzo segera turun mendahului mereka. Dia berjalan menuju ruangan Riella. Kenzo tidak inggin meninggalkan Riella sendirian di ruang ICU. Dia ingin menunggu istrinya, berjuang bersama melewati masa-masa terberatnya saat ini.
Saat tiba di ruang ICU. Riella terlihat sendiri di dalam sana. Saat dia bertanya pada petugas jaga di mana mertuanya sekarang. Danperawat itu bilang jika Erik tengah pergi ke kantin sejak 20 menit yang lalu. Kenzo lalu mendekat ke arah Riella, memindai dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Dia bisa melihat tetesan ASI yang membasahi baju Riella.
“Kau belum bangun juga?” Kenzo meletakan tangan Riella di pipinya, mempertemukan kulitnya dengan kulit Riella, dia merasa ada yang tidak beres, badanya panas. “Kamu marah denganku? Kalau boleh ... marahnya jangan lama-lama. Aku kangen kamu yang cerewet, yang manja, selalu minta ini itu.” Kenzo lalu mengamati baju Riella yang semakin banyak yang terkena tetesan Asi. Dia berteriak pada perawat untuk mengganti baju Riella.
“Bagaimana caranya supaya bisa berhenti, Sus?” tanya Kenzo.
“Biasanya kalau nggak dikeluarkan, lama-lama bisa berhenti sendiri, Pak.” Suster di depan Kenzo menjawab.
“Apa ini sakit, kenapa bengkak begitu?” tanya Kenzo saat melihat suster di depannya memasangkan breastpad di payu*dara Riella.
“Biasanya terasa sakit, Pak. Jika tidak kuat tubuh ibu akan meriang, demam kalau ASI-nya tidak segera dikeluarka.” Perawat di depan Kenzo menjelaskan.
Kenzo yang mendengar hanya diam sambil menatap sayu ke arah Riella. Bahkan saat putrinya sudah lahir pun istrinya tetap mengalami hal ini. Dan ini semua karenanya. Perawat di sampingnya berpamitan pergi setelah mengganti pakaian Riella yang baru. Sedangkan Kenzo kembali duduk di samping Riella, matanya menatap wajah istrinya.
“Kapan lagi kamu bangun, Sayang.” Kenzo bertanya lagi. “Aku akan menunggumu, di sini.” Kenzo lalu tersenyum tipis. Berharap Riella akan menjawab ucapannya. Tapi tidak! setelah beberapa menit berlalu. Respon Riella justru membuatnya kalang kabut.
Dia berteriak kencang memanggil dokter saat tubuh Riella mengejang hebat. Bahkan, bunyi suara mesin EKG menunjukkan alarm bahaya.
“Tolong, Bapak keluar dulu!” perintah dokter yang baru saja tiba. Dia juga panik saat tiba di dalam ruang ICU.
“Tidak. Aku akan tetap berada di sini, menunggunya!” bantah Kenzo yang tidak ingin meninggalkan ruangan. Dan akhirnya, dokter meminta orang untuk menyeret Kenzo keluar.
...----------------...