
Gejala-gejala yang dialami ibu hamil mulai menyerang Riella. Tanpa terasa usia kehamilannya sudah 8 minggu. Ia mengalami mual saat matahari mulai muncul, dan akan hilang seiiring merangkaknya matahari semakin terik.
Seperti pagi ini, begitu Riella membuka mata, perutnya seperti diaduk-aduk ingin segera mengeluarkan cairan di dalam perutnya. Riella segera berlari ke dalam kamar mandi menumpahkan cairan di wastafle.
Suara yang dikeluarkan Riella bergitu memilukan, tidak ada yang membantu mengusap punggung ataupun membantu menyibakkan rambutnya. Sakit yang ia rasakan berlipat, saat menyadari jika lelaki yang tengah terlelap di atas ranjang, benar-benar tidak peduli dengannya.
“Bee ... tolong dulu Aslannya!” teriak Riella dari dalam kamar mandi, saat mendengar suara Aslan yang menangis kencang.
Sudah dua Minggu ini, Kenzo mendiamkannya. Berbicara dengannya hanya saat memberi uang untuk belanja. Kenzo selalu masuk kamar ketika ia sudah tidur nyenyak. Terkadang Kenzo tidur di ruang kerjanya. Seperti awal-awal pernikahan mereka.
Riella pun hanya diam, tidak ingin membahas soal kehamilannya pada Kenzo. Ia selalu ingat dengan kata-kata Erik, jika kehamilan pertama sangat rawan keguguran. Jadi, sebisa mungkin ia melupakan masalahnya, takut berimbas pada kehamilannya.
Riella yang sebenarnya mulai respec pada Kenzo, sekarang justru kembali seperti dulu. Membentengi hatinya lagi, ia akan menjaga jarak dengan Kenzo karena ia tahu sifat asli Kenzo.
“Bee,” panggil ulang Riella ketika masih mendengar suara tangisan Aslan. Tapi sayangnya, Kenzo seperti menulikan telinganya.
Riella yang kasihan dengan Aslan segera keluar dari kamar mandi. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia berusaha mencari sandaran di tembok, mencari pegangan supaya tidak terjatuh karena tubuhnya sudah lemas. Ia lalu melirik ke arah ranjang melihat Kenzo yang masih memejamkan matanya.
“Sayang ... sini sama Mami, maaf ya dedeknya rewel jadi Mami nggak bisa buru-buru nolongin Aslan.” Riella berucap sambil mengangkat tubuh Aslan dari box bayi, Aslan pun langsung diam saat berada di gendongan Riella. Membuat Riella terharu dan menciumi pipi gembul Aslan yang semakin berisi. Ia menimang sejenak sambil membawanya duduk di tepi ranjang.
“Bee ... sepertinya kita butuh bicara. Aku tidak suka kamu diam seperti ini. Kita sudah sama-sama dewasa Bee. Jika aku ada salah lebih baik kamu memberitahukan semuanya padaku. Supaya aku bisa memperbaikinya.” Riella berucap sambil menepuk-nepuk pantat Aslan, sedikit menenangkan Aslan yang rewel.
Kenzo yang sebenarnya sudah bangun tidak berniat menanggapi ucapan Riella. Ia justru menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
“Aku nitip Aslan dulu, aku kembali mual,” ucap Riella sambil meletakkan Aslan di samping Kenzo, berusaha menahan mulutnya yang hendak muntah. Ia segera berlari ke kamar mandi, mengeluarkan lagi cairan kuning dari dalam perutnya. Ntah kenapa begitu sulit untuk menghentikan morning sickness yang ia alami saat ini. Lebih parahnya lagi setiap cairan yang ia keluarkan, dibarengi air matanya yang menetes.
Jika Riella tahu hamil anak Kenzo akan sesulit ini, ia tidak akan mau mengandung anak dari lelaki yang dulu ia benci. Kenzo yang harusnya memberi support padanya, tapi kini seolah dia tidak peduli dengan kondisi tubuhnya yang rapuh.
Riella duduk sambil bersandar di bawah meja wastafel. Memulihkan kembali tenaganya yang sudah terkuras habis. Setelah merasa kuat, ia kembali ke kamar. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang, sambil memejamkan matanya.
“Ken ... kalau aku tahu hasilnya akan seperti ini. Aku tidak akan mau mengandung anakmu!” kata Riella yang sudah emosi, dia geram dengan kelakuan Kenzo saat ini, yang seolah membuangnya “ini berat buat aku jalani, Ken. Tapi kenapa kamu sepertinya menolak kehadirannya. Apa dia bersalah padamu?” lanjut Riella menanyai Kenzo. Tapi sungguh diluar dugaan Riella. Kenzo yang mendengarnya, justru pergi meninggalkan kamar, ia berjalan keluar tidak ingin menjawab pertanyaan Riella.
Riella yang melihat kelakuan Kenzo hanya bisa bernafas lelah, sambil memeluk Aslan yang kembali tertidur. Meredam air matanya supaya tidak lolos lagi. Menguatkan hatinya jika dia akan baik-baik saja dengan sikap Kenzo saat ini. Dia bahkan pernah melewati rasanya ditikam oleh pacar dan sahabatnya sendiri.
“Bagaimana aku tidak marah, jika istriku hamil anak orang lain! Aaarhhh ...” teriak Kenzo di tengah pukulan yang ia berikan, itulah fakta yang ia terima. Asumsinya seperti itu, ia tidak ingin mengoreksinya lebih dulu.
“Katakan Riella aku harus apa? Katakan!” Kenzo emosi cengkraman tangannya semakin erat, dengan sekuat tenaga ia membabi buta lawannya yang tidak bisa membalas. Dia juga sakit, hatinya tergores, ketika mengetahui jika Riella hamil. Hamil yang ia tahu, itu bukanlah anaknya. Karena yang ia tahu dirinya tidak menghamili siapapun. Ia berasumsi video yang diberikan Emil dulu adalah video nyata, yang terjadi sebulan yang lalu.
“Ternyata memiliki ragamu seutuhnya saja aku tidak mampu. Aku kalah dengan lelaki yang hanya mengandalkan kejantanannya! Aku harus bagaimana Riella, Hah? Haruskah aku menerimamu dan anaknya?” gumam Kenzo yang sama hancurnya, air matanya becampur satu dengan keringat yang ia keluarkan pagi ini.
Kenzo memang tidak menyakiti Riella secara fisik. Tapi ia menghukum Riella seperti itu, menghukum wanita yang ia cintai dengan cara tidak berbicara dengannya, dan itu semakin sakit saat diam-diam ia mendengar isakkan Riella atas perlakuannya.
Kenzo menangis di sana, ia tidak mau terlihat lemah di depan Riella. Meski sebenarnya ia juga rapuh.
Setelah emosinya sedikit mereda, Kenzo keluar dari ruang gym nya. Ia bersiap untuk ke kantor, tidak berniat untuk sarapan di rumah. Karena ia yakin Riella masih merasakan morning sickness. Namun, saat ia hendak berangkat panggilan Riella menghentikan langkahnya.
“Sarapan dulu, Ken!” perintah Riella sambil menarik kursi yang biasa dipakai Kenzo.
“Aku sudah terlambat hari ini ada rapat penting,” kata Kenzo sambil mengangkat tangan kirinya menatap jam tangan yang sudah menunjukan pukul 8 pagi.
Riella hanya bisa menelan kekecewaan atas sikap Kenzo. Demi membuatkan nasi goreng untuk Kenzo ia terpaksa menahan rasa mual karena aroma bawang yang begitu menyengat. Tapi suaminya itu membalasnya dengan seperti ini. Ia hanya bisa tersenyum tipis, sambil mengembalikan salivanya yang terasa sulit untuk ia telan lagi.
“Ya, hati-hatilah. Jangan lupa makan siang!” pesan Riella dengan suara pelan, ia lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi, yang tadi ia siapkan untuk Kenzo.
Riella menikmati sarapannya sendiri di sana, ia sengaja tidak mengantar Kenzo ke depan rumah. Karena melihat Kenzo yang enggan untuk menatap wajahnya. Andai dokter mengizinkannya untuk naik pesawat, mendingan dia pergi saja ke Jakarta dari pada di sini ia tidak dihargai.
Dalam diam Riella menikmati sarapannya. Hanya satu suap saja ia bisa menikmati nasi goreng buatannya itu, selebihnya ia hanya bisa menatap nasi goreng yang menggelitik perutnya. Nasi goreng buatannya itu ditolak oleh calon anaknya. Ia tidak bisa melanjutkan sarapannya pagi ini. Dia yakin berat badannya bulan ini turun drastis karena ia tidak bisa makan dengan benar. Jangankan minum susu hamil, vitamin dari dokter saja ia sering lupa untuk meminumnya, dia hanya berharap semoga calon anaknya tumbuh dengan baik di dalam sana.
Riella lalu masuk ke dalam kamar, ia kembali tidur dengan Aslan, hanya bayi Aslan yang mau menerimanya di sini. Ia menikmati hari-harinya berdua dengan Aslan, teman cerita sekaligus penghiburannya saat ia sedih.
#Note :
Reader yang punya aplikasi kuning berlogo N tengokin karya Ella ya, ketik saja My Second Husband (free) oke terima kasih, jangan lupa like, komentar dan vote😉