The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Bukan Kisah Novel



Teriakkan Riella pun, tertahan di bibir Emil, membuat lelaki di depannya semakin gencar melakukan aksinya. Riella yang menyadari jika lututnya berada di antara kaki Emil, tiba-tiba menemukan ide cemerlang. Ia sedikit menaikkan lututnya ke atas. Meski sedikit kesusahan karena rok panjang yang ia kenakan, tapi tenaga yang ia kumpulkan, menendang tepat mengenai merpati milik Emil.


Emil mengaduh kesakitan karena ulah Riella tangannya beralih menggosok merpati nya yang terasa sakit. Membuat Riella punya kesempatan untuk terbebas dari cekalan tangannya.


Dengan cepat Riella mendorong tubuh Emil, hingga tubuh lelaki di depannya terjengkang kebelakang. Terdengar rintihan kecil dari Emil, tapi Riella enggan untuk membantunya berdiri.


Tatapan tajam Riella berikan di kedua mata Emil, ia menatap benci ke arah lelaki yang tengah berusaha berdiri. Setelah melihat Emil berdiri sempurna, Riella dengan cepat mendaratkan tamparan keras di pipi mantan calon suaminya. Ia bisa merasakan betapa Emil kesakitan karena tamparan yang ia berikan, tidak ia pungkiri kini tangannya juga terasa panas.


“Aku lupa, jika aku dulu belum memberi hukuman fisik untukmu!” ujarnya setelah menampar pipi Emil, “itu tidak lebih menyakitkan, dari luka yang kamu berikan untukku! Jauhi aku, jangan lagi muncul di depanku!” Riella hendak meninggalkan Emil, tapi lelaki itu kembali berucap.


“Kau akan menyesal, Sayang. Aku akan mengganggu hubunganmu dengan lelaki itu! Pernikahanmu tidak akan pernah baik-biak saja. Aku seperti ini karenamu!” kata Emil yang berujung menyalahkan Riella. Tampak jelas di wajahnya yang tengah emosi.


“Masih bisa menyalahkan aku? Kamu yang selingkuh brengsek!” maki Riella yang sudah tidak tahan menahan emosinya. Ia kembali memaki Emil di sana, ingin kembali menampar mulut manis Emil. Namun, hatinya tidak mampu, ia sudah tidak bisa melakukannya lagi. Riella kesusahan menahan tangis di depan mantan calon suaminya, dia tidak ingin menunjukkan kesedihannya di depan Emil, ia ingin terlihat baik-baik di depan lelaki yang sudah mengkhianatinya.


“Coba kamu tidak menolakku? Pasti aku nggak akan tergoda dengan Chika!” Emil kembali mencari alasan, untuk menutupi kesalahannya.


“Heh, syukurlah kamu tergoda ketika kita belum resmi menikah! Jika sudah aku akan lebih sakit lagi!” sahut Riella, dia lalu menatap sengit ke arah Emil, “terima kasih atas apa yang kamu berikan padaku, meski sulit bagiku untuk menerima, tapi setidaknya aku paham jika kamu bukan pria baik-baik. Terima kasih atas pelajaran berharga ini! Selamat tinggal Emilyan Caesar Handoko. Nikmatilah hidup barumu yang sekarang, tanpa aku!” lanjutnya lalu berlenggang pergi meninggalkan di mana Emil berada. Menyembunyikan perasaannya yang kembali perih mengingat pengkhianatan Emil. Riella berlari kecil ke arah rumah sambil menjinjing gaunnya yang menyapu tanah. Meninggalkan Emil yang berteriak penuh ancaman untuknya.


Tiba Riella di kamar pengantin baru, ia melihat Kenzo yang tengah melepas kancing kemeja yang tadi tertutup tuxedonya. Beruntung masih ada kaus putih yang melapisi tubuh Kenzo, jadi ia tidak akan melihat tubuh Kenzo yang terlihat bagus itu. Tidak peduli dengan apa yang dilakukan Kenzo, Riella segera berjalan ke arah kamar mandi, mengunci pintu, berdiam diri, sambil melepaskan satu persatu kancing gaun yang ia kenakan.


Matanya menoleh ke bath up yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar. Riella menatap sengit ke arahnya, menyesali kenapa ada orang yang menyiapkan itu untuknya. Hingga akhirnya ia menyerah, lebih memilih menceburkan diri di sana, berendam di dalam air untuk membersihkan aroma Emil yang tersisa di bibir merahnya Mengabaikan ketukkan pintu yang menanyakan kondisinya saat ini, ia hanya diam tidak ingin menyahut pertanyaan Kenzo. Hingga lelaki itu lelah memanggil namanya.


“Kalau ada apa-apa katakan padaku, aku akan menghukum orang yang sudah menyakitimu,” ujar Kenzo yang terdengar jelas di telinga Riella. Tapi Riella mengabaikannya, dia justru risih dengan ucapan yang Kenzo lontarkan.


Riella kembali termenung, sambil memainkan busa yang menempel ditubuhnya. Menyesali apa yang sudah dilakukan dengan Emil tadi di samping rumahnya, ia menyentuh bibirnya yang masih terasa bibir lelaki tersebut, hangat menyerang bibirnya hingga saat ini, ia berusaha menghapus rasa itu, perasaan yang sebenarnya belum berkurang sedikitpun, tapi ia menutupi dengan berpura-pura benci dengan Emil.


“La, ada telepon dari Eva.” Terdengar lagi suara Kenzo dari arah luar kamar mandi, yang lagi-lagi diabaikan olehnya.


Setelah Riella merasa jenuh berendam segera mengambil handuk kimono hijau yang sudah di sediakan di kamar mandi, ia mengikat talinya kencang, supaya tidak terjadi drama seperti novel-novel yang sering ia baca. Ia geli saat teringat cerita yang ia baca beberapa waktu lalu.


“Ini kisahku! Bukan kisah novel! Nggak ada adegan jatuh tersungkur lalu si pria menggendongnya ke ranjang, dan melakukan anu-anu di sana. No. ini Riella yang tidak akan sembarangan melakukannya dengan Kenzo, lelaki yang sudah mengecawakanku,” ujarnya seraya mengikat kuat tali handuknya. Ia lalu berbalik badan membuka pintu kamar mandi. Berlenggang keluar menuju lemari, melewati Kenzo yang tengah focus ke arah ponsel di tangan kanan.


Syukurlah kalau nafsunya tingkat Rw, jadi biarlah seperti ini dulu. Gumamnya lagi ketika berada di dalam kamar mandi. Setelah selesai berganti baju, ia kembali ke dalam kamarnya.


Masih dengan gayanya, Riella duduk di depan meja nakas, menyisir rambutnya yang panjang, dengan gerakkan pelan, mengenakan lotion aroma green tea ke tubuhnya, sesekali melirik ke arah Kenzo yang tidak meliriknya sama sekali. Ia hanya menyengir tak suka atas tindakkan Kenzo, karena tidak mau menatapnya.


Riella lalu beralih ke ranjang, “Menyingkirlah, ini daerah kekuasaanku!” ujarnya meminta Kenzo untuk berpindah tempat.


“Boleh, silakan saja. Aku tidak akan menganggumu.” Kenzo menjawab tanpa menggeser sedikitpun dari posisinya. Mempersilakan Riella untuk melewatinya.


“Kamu di sofa!” ujar Riella sedikit keras, sambil menunjuk kursi sofa yang berada di dekat jendela.


“Hssttt ... jangan keras-keras nanti orang luar bisa mendengar.” Kenzo memperingati Riella yang berdiri di depannya, ia lalu berdiri memutari ranjang, mengalah dan beralih ke sisi sesebelahnya.


Membaringkan tubuhnya di ranjang, sambil terus memainkan layar ponsel untuk mengalihkan pikirannya dari Riella. Wanita yang sudah membuat debaran jantungnya kian berpacu cepat, hingga darahnya ikut memanas meminta untuk segera didinginkan.


Bonus biar makin semangat baca.



🚑


🚑


🚑


🚑


Jangan lupa like ya, komentar positif😘


Terima kasih♥️♥️♥️