
Pagi harinya Riella yang biasa bangun siang, terpaksa harus bangun pagi karena mendengar suara tangisan Aslan. Bayi tampan itu memang tidak mengajaknya begadang. Namun, ia bangun sebelum matahari mengintip dari ufuk timur.
Riella dengan malas membuka matanya. Menepuk lengan Kenzo yang masih terlelap sambil memeluknya, meng-kode supaya Kenzo mengambil Aslan dari box bayi.
“Bee ...” panggil Riella dengan suara serak, tapi pemilik nama kesayangan itu, tidak kunjung membuka mata, ia justru menarik kembali selimutnya menutupi tubuh mereka berdua, karena merasakan dinginnya udara pagi buta.
Suara tangis Aslan semakin terdengar nyaring memenuhi kamar. Bayi itu sudah membasahi pipinya dengan air mata. Namun, tetap saja kedua orangtua angkatnya masih sibuk berpelukan. Mau tidak mau akhirnya Riella mengalah, ia mengambil tubuh bayi Aslan, meredakan suara tangisnya. Aslan pun diam ketika Riella mengangkatnya.
“Aslan pintar, bobo sama papi dulu ya, mami mau buatin susu buat Aslan!” kata Riella meletakkan Aslan di tangan Kenzo menggantikan dirinya, lalu meletakkan guling di sisi Aslan. Riella lalu keluar kamar untuk membuatkan susu Aslan.
Tak lama kemudian Riella kembali masuk, melihat pemandangan dini hari yang menyejukkan matanya. Tangan mungil Aslan berusaha masuk ke lubang hidung Kenzo mencoba membangunkan lelaki dengan menggaruk-garuk lubang hidung Kenzo, yang tengah memeluknya erat.
“Bee ... lihat itu Aslan yang kamu peluk, bukan aku!” peringat Riella ketika melihat Kenzo begitu erat memeluk Aslan. Riella lalu tersenyum saat mendapati wajah Kenzo yang nampak bingung.
“Kenapa kamu pergi? Tidurlah di sini!” perintah Kenzo menepuk lengannya. Riella tidak mendekat ke arah Kenzo ia justru merebahkan tubuhnya di samping Aslan lalu memberikan susu pada bayi tampan di sampingnya.
“Kenapa dia di sini, harusnya kamu letakkan saja di box bayi!” protes Kenzo yang tidak ingin ada jarak antara dia dan Riella.
“Tadi dia menangis karena haus, jadi aku ambil saja.”
“Apa kamu butuh bantuan baby sitter, biar besok Mama mencarikan untukmu?” tawar Kenzo yang sudah membuka matanya.
“Nggak perlu deh, Bee. Aku masih bisa mengurusnya,” tolak Riella.
“Baiklah, yang penting kamu suka dan satu lagi.” Kenzo menatap Riella dengan mata ngantuknya, “yang penting kamu bahagia.”
Terlihat Riella mengangguk sambil tetap memegang botol susu di tangannya. Sampai Aslan kembali tertidur, dan ia juga ikut terlelap di sampingnya.
***
Hari sudah terang, matahari sudah mulia menyengat. Namun, Riella baru saja membuka matanya. Ia tampak panik saat tidak mendapati Aslan di sampingnya. Ia segera keluar kamar, mencari keberadaan Aslan. Bibirnya terus menyerukan nama suaminya, tapi percuma karena suaminya tidak menyahut panggilannya.
Saat tiba di teras rumah, Riella bisa bernafas lega, saat mendapati Kenzo tengah menggendong Aslan di pundaknya. Bayi itu bertelan*jang menyisakan popok sekali pakai yang masih melekat di pantatnya, membelakangi arah matahari. Dengan tangan Kenzo sebelah kanan mengusap punggung Aslan. Terlihat Kenzo sudah biasa melakukan hal itu.
“Bee ... 15 menit saja jangan terlalu lama!” peringat Riella sedikit berteriak. Kenzo hanya tersenyum ke arah Riella, matanya tidak bisa dilihat istrinya karena tertutupi kaca mata hitam.
“Baru 10 menit, Mami. Sebentar lagi!” jawab Kenzo yang ikut berteriak.
Riella mengangguk mendengar jawaban Kenzo. Ia lalu segera berjalan ke arah dapur, menyiapkan sarapan untuk suaminya. Riella mendengus kesal saat minimnya stock bahan makanan.
“Kenapa Mama lupa bawain buku resep itu sih? Jadi gak bisa belajar masak kan, kalau begini caranya.” Riella bergumam lirih mengingat buku kecil yang ditulis tangan Ella.
Dengan bahan seadanya ia akhirnya memilih makaroni untuk menjadi menu sarapan mereka. Ia mengambil susu cair, memikirkan ulang sarapannya pagi ini, berbalik arah ke lemari pendingin ia ingin membuat setup makaroni saja. Yang praktis dan sudah pasti Kenzo akan menyukainya.
Lima belas menit kemudian Kenzo masuk dengan Aslan yang penuh keringat. Bayi itu berubah kulit jadi merah merona setelah terkena sinar matahari.
“Harumnya, Mami masak apa ya, Aslan?” tanya Kenzo berjalan menuju dapur, mengajak bicara bayi yang hampir memejamkan matanya.
“Apalah arti makanan enak jika aku tidak bisa menikmatinya denganmu. Aku lebih bisa menikmati makanan itu, saat aku santap dengan istri yang paling aku cintai,” jelas Kenzo memulai gombalannya.
“Awas, pakaikan dulu baju Aslan, Bee! Panas ini!” peringat Riella ketika Kenzo dekat dengan kompor, tidak peduli dengan gombalan Kenzo.
“Dia tertidur biarlah seperti ini dulu.” Kata Kenzo membungkus tubuh Aslan dengan selimut, lalu meletakkannya di di sofa depan tv. Ia ingin membantu Riella menyiapkan sarapan untuknya. Ia kembali mendekat ke arah dapur, bukannya membantu Kenzo justru memeluk pinggang Riella.
“Ada yang bisa aku bantu?” tawar Kenzo berbisik di telinga Riella.
“Nggak perlu, kamu memang nggak ngantor?” tanya Riella saat Kenzo tidak kunjung bersiap ke kamar.
“Emm ... nggak aku masih betah di rumah. Atau kamu ikut saja yuk! Nanti kita bawa Aslan ke kantor.”
“Ehmm ... repot pasti, nggak usahlah kapan-kapan saja kalau pas kamu ngantor. Aku antar makan siang untukmu.” Kata Riella, sebenarnya ia tidak yakin jika bisa membuat masakan yang enak untuk makan siang Kenzo.
“Ok.” Singkat Kenzo lalu membawakan dua mangkok sarapan yang sudah dibuat Riella. Mereka makan berdua pagi itu sebelum keributan datang karena Lintang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya. Riella yang merasa keberatan dengan kehadiran Lintang hanya mampu protes kenapa Lintang tidak mengetuk pintu dulu saat masuk rumahnya.
“Pintu rumah terbuka jadi aku langsung masuk saja.” Lintang menjelaskan tanpa rasa bersalah. Dia lalu menatap ke arah kursi sofa. Mengomel sekenanya ketika melihat Aslan hanya terbungkus selimut. Lintang hendak berjalan ke arah kamar Kenzo dan Riella. Riella yang melihat pergerakan Lintang, segera mencegah niat Lintang.
“Mau ngapain, kamu?” tanya Riella di depan pintu kamarnya. Kedua tangannya sudah menghadang Lintang yang akan masuk kamar.
“Cuma mau ngambil baju Aslan, Kak,” jawab Lintang singkat.
“Tunggu di sana biar aku yang ambilkan. Ranjang kami tidak boleh dilihat oleh orang lain! Jadi jangan masuk kamar kami sembarangan!” peringat Riella menatap kesal ke arah Lintang.
“Ceh pasti malas bersih-bersih, pasti masih berantakan, kakak kerjanya apa sih, jangan malas-malas jadi istri,” cibir Lintang menatap tak suka ke arah Riella.
“Diam kamu ya! Kamu nggak tahu apa-apa! Dasar anak bau kencur sudah mau jadi pelakor,” maki Riella yang lebih pedas dari bon cabe, tepat mengenai hati terdalam Lintang.
“Apaan sih Kak. Mana mungkin aku ada niatan ?merebut Kak Kenzo.” Lintang terlihat emosi mendengar penuturan Riella.
“Terima kasih sudah mengerti, jadi lebih baik kamu sedikit menjaga jarak dengan suami saya. Saya hanya khawatir ketika ada kesempatan datang kamu akan mengambil kesempatan itu!” ucap Riella dengan seringai licik dari matanya.
Tatapan Lintang semakin kesal, ia segera berlalu pergi dari rumah Riella dan Kenzo. Disambut senyuman menang dari bibir Riella.
Semua datang karena adanya kesempatan, aku sudah pernah kehilangan Emil karena membiarkan Chika mengambil kesempatan itu. Dan kali ini aku tidak akan membiarkannya. Batin Riella menatap punggung Lintang yang menjauh darinya.
Kenzo yang sebenarnya mengetahui perdebatan mereka hanya diam saja. Dia hanya ingin tahu sejauh mana Riella akan menjaga kamarnya dari pandangan orang lain. Bukan karena berantakan, nggak mungkin juga Riella membiarkan ranjangnya kotor, dia seorang dokter, jadi paham makna kebersihan. Hanya Kenzo yang tahu maksud isi pikirannya. Dia pun tersenyum tipis, setup makaroni yang tadinya berasa garam kini menjadi lebih nikmat dari bubur ayam langgananya.
“Bee ... aku pakaian baju Aslan dulu ya,” pamit Riella mengambil Aslan dari sofa.
“Yah, nanti aku suapin, segera datanglah ke sini,” sahut Kenzo sambil mengunyah setup makaroninya. Masih dengan senyuman yang tidak bisa dilihat istrinya.
JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR DAN VOTE🤫 TERIMA KASIH PELUK ONLINE🤗