
"Dokter Riella," panggil Rizki dari depan pintu ruangan.
Lama Riella terdiam masih terhanyut rasa bersalah, hingga terdengar panggilan kedua kalinya dari Rizki ia baru mempersilakannya untuk masuk ke ruangan. Tampak lelaki itu membawa dua cup minuman hangat di tangannya, bertuliskan kedai coffe yang ada di seberang jalan rumah sakit, Rizki lalu menyodorkan minuman yang ia bawa ke atas meja, mendorong pelan ke arahnya.
“Maafkan saya, Dok!” ujarnya penuh penyesalan saat melihat Riella yang jelas sekali tengah kacau.
“Sudahlah, lupakan. Mungkin ini benar salah saya." Riella diam sejenak sambil menatap wajah Rizki, "saya yang terlalu buru-buru ingin segera pulang, hingga tidak fokus saat menangani pasien Julius tadi.” Riella lalu mengambil cup bertuliskan coklat panas di depannya. Meminumnya sedikit, menikmati rasa pahit dan manis yang berpadu pas di dalam mulutnya, lalu meletakkannya kembali ke atas meja, melingkarkan tangannya yang dingin di cup coklat tersebut, supaya bisa menyalurkan kehangatan di tangannya.
“Pasien sudah stabil, Dok. Jantungnya juga sudah normal. Dokter tidak perlu khawatir, Dokter Febri sudah menanganinya dengan baik,” jelas Rizki yang mengabarkan berita baik kepada Riella.
“Syukurlah,” ucap singkat Riella sambil membuang nafas lega.
“Dokter bisa pulang sekarang!” perintah Rizki yang paham kondisi Riella yang kelelahan.
Riella memberikan senyum tipisnya untuk Rizki, yang dibalas hal yang sama oleh Rizki.
“Iya, sebentar lagi. Aku akan melihat dulu pasien tadi, setelah itu aku baru bisa pulang dengan tenang,” jelas Riella sambil menyeruput lagi minuman coklatnya.
“Terima kasih coklat panasnya, Ki. Maafkan sikapku tadi. Aku panik tadi, nggak bisa fokus menangani pasien,” ucapnya ramah pada Rizki.
"Ya, untuk dijadikan pelajaran ke depannya, usahakan tenang dalam menangani pasien. Utamakan keselamatan pasien di atas masalah kita."
"Ya, kamu benar. Harusnya aku begitu."
Lelaki di depan Riella mengagguk ramah, belum satu bulan dia praktek di rumah sakit yang Riella pimpin, tapi baru kali ini, dia melihat Riella menangani pasien tidak sepenuh hati, seperti diburu waktu yang mengharuskannya untuk segera menyelesaikan penanganan untuk pasiennya.
Setelah menghabiskan coklat panasnya. Riella berjalan berdua dengan Rizki di sampingnya, mereka kembali ke ruang ICU. Melihat pasien yang tadi siang mereka tangani. Riella hanya mampu melihatnya dari balik kaca, sambil menatap lelaki yang terpasang berbagai selang dan kabel yang menempel di dadanya. Terlihat nafasnya masih naik turun, tapi lebih baik dari satu jam yang lalu.
Setelah puas menatapnya Riella mengajak Rizki untuk beranjak dari tempat tersebut, menyerahkan semuanya pada perawat yang berjaga di sana. Berpesan untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu dengan pasien.
Setelah sampai di depan pintu rumah sakit, keduanya berpisah, karena Rizki ingin menemui rekannya dulu. Riella menatap jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8 malam, percuma saja, jika ia datang ke tempat yang sudah ia janjikan, karena pasti mereka benar-benar sudah pulang ke rumah masing-masing. Riella lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Eva, menanyakan keberadaan sahabatnya saat ini.
“Lagi di mana?” tanya langsung Riella saat panggilan sudah tersambung.
"Aku baru di jalan menuju rumah," jawab Eva.
“Chika? Apa dia sudah pulang?” tanyanya lagi memastikan.
“Sepertinya sudah, tadi dia diantar Kak Emil.” Jawab Eva singkat.
“Diantar Kak Emil?! Kenapa nggak bareng sama kamu tadi?” tanya lagi Riella, memprotes Chika, setelah mendengar jawaban Eva.
“Nggak, bukan cemburu Va, cuma aneh saja, kan?” ujar Riella yang tergiang berbagai pertanyaan di kepalanya.
“Nggak aneh sih, salah sendiri kamu nggak datang, kenama sih kamu!”
“Aku tadi mau berangkat ke sana, tapi tiba-tiba ada pasien cito makanya aku nggak bisa mengabari kalian.” Riella menjelaskan pada Eva kenapa ia bisa tidak datang ke café yang sudah dijanjikan.
“Nggak papa, aku nggak masalah, aku tahu tugasmu memang berat. Tapi calon suamimu tadi kelihatan kacau, dia rindu padamu sepertinya. Dia marah-marah nggak jelas tadi di cafe tadi, memaki pelayan yang jelas-jelas dia yang salah.”
"Apa dia punya masalah di kantor?" tanya Riella sambil menarik pintu mobilnya.
"Nggak ada masalah serius, hanya masalahnya, minggu depan dia harus bertugas ke Madiun. Melihat proses pembuatan armada baru di sana." Eva menjelaskan masalah yang dihadapi Emil.
"Tapi dia tidak berkata apapun padaku?"
"Belum sempat mungkin, soalnya baru tadi pagi papaku bilang padanya."
"Dia pergi denganmu, kan?"
"Iya, tapi tenang saja. Aku kan menjaganya nanti untukmu," ujar Eva menenangkan.
“Terima kasih sudah mengerti, kamu memang sahabatku yang terbaik! Setelah ini aku akan menghubunginya,” ucap Riella lalu menutup panggilan telepon setelah mendapatkan jawaban dari Eva.
Riella segera melajukan mobilnya pelan untuk pulang ke rumah. Tidak lagi peduli dengan makian Emil yang tadi ia dengar. Dia benar-benar lelah hari ini, ia ingin beristirahat setelah sehari menangani pasien-pasiennya.
Tiba di rumah, Riella segera naik ke kamar, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai ia mencoba untuk menghubungi Emil. Ia akan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Tapi hingga panggilannya yang ke lima pemilik telepon tidak segera mengangkat panggilannya. Riella yang lelah pun akhirnya memilih untuk memejamkan mata. Melupakan makan malam yang belum sempat masuk ke dalam perutnya. Berharap ketika ia bangun, akan ada pesan singkat beruntun dari Emil seperti hari-hari biasanya.
Namun, hingga pagi ini. Ketika ia membuka mata, tidak ada satu pun pesan masuk dari Emil. Hanya ada pesan masuk dari operator yang mengabarkan jika kuota internetnya habis.
"Pantas saja, mungkin gara-gara ini, kamu tidak menghubungiku." Riella bergumam menatap ponselnya, lalu mengotak-atik ponselnya. Menyambungkan dengan sambungan Internet di rumahnya. Tapi tetap saja tidak ada pesan dari Emil. Dia hanya melihat nama Emil yang tengah mengetik pesan tapi tidak kunjung ia kirim, tertera kata mengetik bewarna hijau di bawah nama tunangannya.
🚑
🚑
🚑
Terima kasih yang sudah mampir, jangan lupa like, komentar dan votenya boleh ditunda dulu untuk akhir bulan.🤣🥰