The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Pasangan Lucknut



Tiba di kamar utama yang ada di apartemen sahabatnya, Riella memperhatikan bentuk seprei yang sudah tidak rapi, bantal sudah sedikit berantakan, isi kepalanya sudah menuju ke adegan dewasa antara suami dan istri. Riella yang ingin membuktikan kebenarannya, segera berjalan membuka semua almari di kamar wanita tersebut, satu persatu ia buka, tidak peduli apa itu privasi atau bukan. Dia seperti mendapat surat izin kepolisian untuk menggledah isi kamar sahabatnya. ia membuka almari paling besar yang tertera di kamar bernuansa vintage tersebut. Dia kesulitan untuk bernafas, seperti ada benda yang menghalanginya untuk bernafas, saat ia menemukan beberapa kemeja yang sangat ia kenali tergantung rapi bersama gaun-gaun merk terkenal di sana. ia lalu beralih ke arah meja nakas dekat ranjang, praduganya benar, beberapa rasa alat kontrasepsi ada di laci tersebut. Ia ingat keinginan Emil beberapa bulan yang lalu saat menceritakan efek dari obat kontrasepsi, dan menyarankan untuk menggunakan pengaman saja, tapi dia tidak mau menggunakan, karena setelah resmi bertunangan, dia enggan untuk melakukannya dengan Emil. Riella jatuh terduduk di pinggir ranjang, memeluk tubuhnya sendiri, membenturkan dahinya ke ujung dipan jati di sana. Ia menangis, meraung keras dalam hati, menyesali kenapa punya calon suami sebrengsek Emil. Sangat lama ia menangis menumpahkan kekecewaannya. Hingga usapan lembut di pundaknya, membuatnya mendongak. Namun, ia segera menampik tangan lelaki itu dari punggungnya.


“Maaf Sayang! Maafkan aku. Aku yang bersalah di sini!” Riella tiba-tiba jijik dengan suara hiburan dari Emil, ia mengusap pipinya yang basah, mencoba berdiri dengan kaki yang terasa seperti tidak bertulang, menyerahkan seluruh kekuatan untuk menghadapi lelaki di depannya.


Riella beralih menatap wanita yang berdiri di ambang pintu kamar, wanita itu tengah bersidakep dada menyaksikan apa yang akan ia perbuat. Tidak nampak wajah penyesalan dari wanita tersebut, justru terlihat wajah menang karena sudah mengambil miliknya. Riella menghampiri wanita yang tidak berusaha meminta maaf padanya, satu tamparan keras mendarat di pipi mulusnya, tercetak jelas bekas tiga jarinya di sana. Ia menarik gaun tidur tipis wanita di depannya.


“Aku tidak pernah mengira, setelah bercerai dengan suamimu kamu beralih profesi sebagai wanita penggoda!” Riella hendak lagi mendaratkan satu tanganya lagi ke arah pipi Chika, tapi cekalan di pergelangan tangannya menahan keras tangannya.


“Lepas, pria brengsek! Jangan menahanku!” teriak Riella meminta Emil.


“Jangan hukum Chika, hukum aku juga, aku yang bersalah di sini.”


Dengan kasar Riella menghempaskan tangan Emil, hingga tangannya terbebas dari cekalan lelaki tersebut.


“La, tenanglah! Jangan hanya menghukumku! Karena Kak Emil sendirilah yang datang padaku!” keduanya saling mencari kambing hitam, saling menyalahkan.


“Dengan mudahnya kamu mengatakan itu!” Riella mengangkat tangan kananya, tapi lagi-lagi Emil menahannya, dia memeluk erat tubuh Riella dari belakangnya. Menahan pergerakannya.


“Kalian memang cocok! Satunya pengkhianat, satunya lucnut! Apa arti semua ini? Ucapanmu yang kamu berikan padaku?! Lepaskan! Aku mau memberi hukuman pada perempuan itu!” teriak Riella yang berusaha melepaskan pelukan Emil.


“Stop sudahi, Sayang! Dia sudah di hukum karena kehilangan calon anak kami. Hukum saja aku! aku yang bersalah di sini.” Emil lalu meletakkan tangan Riella ke pipinya, mencoba sekuat tenaga menanmparkan tangan Riella ke arah pipinya sendiri.


Riella hanya terdiam setelah mendengar apa yang diucapkan Emil, bibirnya bergetar tak mampu berucap untuk mengatakan sepatah kata, rasanya semakin sakit mendengar kejujuran Emil, hatinya tidak bisa menerima ini semua. Cintanya yang tulus ditikam dengan pisau oleh sahabatnya sendiri, dan mereka melakukannya dengan cara seperti ini, bahkan lelaki itu sempat punya anak dengan sahabatnya. Ia mengumpati dirinya dalam hati dan bodohnya semua itu terbongkar ketika persiapan pernikahan hampir usai. Air mata yang sebenarnya ia tahan untuk tidak keluar di depan mereka, tapi akhirnya kembali deras mengucur, meluapkan kesakitan hatinya, ia memukul keras dada Emil dengan brutal.


“Kenapa kalian lakukan ini! Hah! Kenapa?” kata Riella yang terus memukul dada Emil. Ia tidak mampu lagi menahan amarahnya.


“Aku pria normal, Riella. Sejak kamu berubah menjahuiku, tanpa aku sadari Chika lah yang selalu ada untukku!”


Aliran darah Riella semakin memanas, emosinya kian tersulut mendengar pengucapan Emil. Dia berteriak keras, kata-kata kotor untuk keduanya berhamburan ia keluarkan.


“Apa kamu tidak pernah berpikir, sejauh apa hubungan kita. 30 hari lagi, undangan sudah selesai didesain, makanan catering sudah ditetapkan. Kenapa kamu tidak mengatakan ini padaku sebelumnya! Apa kamu akan menjadikan aku istri kedua, Hah!”


“Nggak begitu! Aku cinta sama kamu, Sayang. Kamu akan tetap di hatiku?” ujar Emil kembali meraih jemari riella.


“Please, percaya padaku Sayang!” mohon Emil dengan tangan terkatup di depan dadanya.


Riella berulangkali menatap ke arah Chika. Seperti tidak ada penyesalan mendalam dari wajah perempuan tersebut. Ia kesusahan menarik nafas, nafasnya terasa pendek-pendek, dadanya sudah naik-turun menahan emosinya. Tanpa perpikir panjang ia lalu meraih ponsel yang masih berada di jas snellinya. Dengan cepat jari lentik itu bermain di layar ponsel, lalu ia meletakkannya di samping telinga.


“Assalamu’alaikum Tante,” sapanya pertama kali setelah mendengar kata ‘hallo’ dari wanita di ujung telepon. Ia berusaha keras menahan isakkannya. Supaya wanita di ujung telepon tidak curiga apa yang dilakukan anak lelakinya. Setelah terdengar basa-basi menanyakan kabar, Riella segera memotong ketika ibu Desi membahas persiapan pernikahan mereka berdua.


“Maaf Tante, kalau Lala nggak sopan. Harusnya Lala main ke rumah dan berbicara langsung dengan Tante. Tapi karena Lala sedang sibuk jadi mohon maaf sekali Lala harus menyampaikan ini melalui sambungan telepon.” Riella menghentikan suaranya, setelah mendengar hembusan nafas berat yang keluar dari bibir Emil. “Tante maafkan Lala, mulai hari ini Tante nggak usah repot-repot mikirin persiapan pernikahan Lala dan kak Emil. Karena Lala sudah memutuskan untuk membatalkan acara pernikahan kita.” Dengan suara jelas dan keras Riella mengatakan itu, supaya wanita di belakangnya juga turut mendengar apa yang diucapkan.


“No! Jangan lakukan ini!” Teriak Emil lalu meraih ponsel dan melemparkannya ke sembarang arah, hingga ponsel kesayangan Riella hancur tak berbentuk, “jangan lakukan ini! Kamu sedang emosi, atau kamu akan menyesalinya Sayang.”


“Aku tidak akan pernah menyesal untuk melepaskan seorang penkhianat seperti kamu!” teriak Riella lalu menarik kasar tangannya, “silakan lanjutkan kegiatan kalian. Kalau kalian berniat menghancurkan hatiku, selamat kalian sudah berhasil.” Riella bertepuk tangan dengan tempo pelan melewati Chika yang sejak tadi menonton pertengkaran live di depannya. Ia lalu berjalan ke arah luar ruangan panas tersebut. Saat ia hendak tiba di pintu, terdengar hembusan kecewa dari bibirnya, ia kembali membalikkan tubuhnya ke arah kamar, ingin memungut ponselnya yang sudah hancur. Banyak kenangan di ponsel itu, membuatnya tidak rela untuk meninggalkannya begitu saja.


Tapi sakit hati riella semakin membumbung tinggi tatkala melihat kedua manusia lacnut itu berpelukan. Riella mengabaikan pemandangan yang ada di depannya. "Benar," gumamnya dalam hati. Ia menyakinkan hatinya, jika yang sudah ia lakukan adalah langkah yang tepat, membebaskan kedua manusia lucknut itu untuk meresmikan hubungannya. Biarkan ia yang pergi, biarkan ia yang berkorban merelakan mahkotanya, biarkan dia yang berkorban merasakan sakit hatinya, semua demi lelaki yang ia cintai. Bukan! mulai sekarang dia akan berubah, ia akan memberi pupuk, supaya perasaannya berubah menjadi kebencian.


Riella membanting pintu apartemen kasar. Ia berlari ke arah lift. Beruntung sore itu lift tidak ada yang menempati, membuatnya semakin keras mengeluarkan tangisnya. Saat lift berhenti sempurna, ia segera berlari ke area parkir di mana mobilnya berada. Masih dengan tangis yang menderu, ia keluar dari apatermen Mediterania yang terletak di Kemayoran. Ia melajukan mobilnya lamban, menyusuri jalanan yang kian meredup, menyambut kehadiran malam yang gelap.


Pikirannya campur aduk, kacau tidak mampu untuk berpikir jernih, kata orang cinta itu butuh pengorbanan. Tapi penggorbananya berbuah pengkhianatan, apa perjuangan kurang untuk lelaki yang ia cintai. Riella berteriak sekuat tenaga saat berada mobilnya berhenti di lampu merah, tangisnya semakin pecah, dialah dengan menangis bisa mengobati luka perih yang ia rasakan. Tidak peduli dengan mereka yang ada di luar mobil akan mendengarnya atau tidak, ia hanya ingin mengeluarkan apa yang ia rasakan saat ini. Ingin berlari dari kenyataan yang menyakitkan hatinya.


"Jika kita tidak berjodoh, kenapa Tuhan mempertemukan kita? Kenapa ini terjadi denganku?" lirihnya di tengah tangis lelahnya.


🚑


🚑


🚑


🚑


Terima kasih sudah menyimak pengkhianatan Emil, semoga like🤭. Jangan lupa komentar🙄🙄🙏