The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Om Kecil



Malam semakin larut, satu persatu mulai meninggalkan rumah Erik. Kini tinggal keluarga inti saja yang masih berada di sana, kecuali Kalun, ia sudah masuk ke dalam kamarnya, karena menemani Aluna yang mengeluh capek.


Mereka berkumpul di ruang keluarga, membicarakan tanggal pernikahan, perdebatan kecil terjadi antara Emil dan Riella. Emil menginginkan bulan depan akan menikahi Riella, karena ia sudah merasa siap untuk membangun keluarga baru. Tapi Riella menolak karena bulan depan Riella harus pergi ke Australia ada hal penting yang harus ia selesaikan di sana.


“Bulan berikutnya ya, awal bulan deh nggak papa.” Rayunya yang bergelayut manja di lengan Emil.


“Kalian bisa melaksanakan akad dulu,” nasihat Erik memperhatikan raut wajah keduanya yang tidak bersahabat.


“Betul itu Yang.” Bujuk Emil, yang tetap ingin melaksanakan bulan depan.


“Nggak ah, 2 bulan lagi. Kan, sekalian kita merayakan ulang tahunmu.”


Emil yang mendengar itu akhirnya menyerah, menyetujui keinginan Riella, dia bahkan lupa kalau dua bulan lagi adalah hari ulang tahunnya. Keputusan diambil dari vote terbanyak setelah mereka meminta pendapat dari keluarga, mereka akan menikah pada bulan Agustus saat hari ulang tahun Emil.


“Emil boleh tidur di sini dong kalau begitu,” goda Emil di tengah perbincangan serius, tatapannya menjurus pada calon mertua lelakinya.


“Enak saja, mana bisa seperti itu! belum halal ya!” seru Ella berjalan memisahkan tempat duduk Riella dan Emil. Membuat semua orang yang berada di sana menertawakan kelakuan Ella.


“Zaman sekarang, anak muda kalau di luar malu-malu, tapi kalau sudah masuk kamar berubah jadi kucing garong,” sahut Erik dengan candaan garingnya.


“Bukan hanya yang muda saja, yang sudah beruban pun seperti itu! Betul kan Bun,” sahut calon besan Erik yang duduk di samping Erik. Membuat semuanya serempak terkekeh menatap pasangan masing-masing. Kecuali Ella yang menatap penuh dendam ke arah Erik yang tengah terbahak.


Tidak lama kemudian, Eva yang ternyata masih berada di sana, mengganggu kehangatan dua keluarga tersebut, dia ikut duduk di samping Riella, memeluk erat dan mengucapkan selamat pada sahabatnya.


“Terima kasih, Va. Semoga kamu segera menemukan pasanganmu, supaya nominasi jomblo seumur hidup itu terhempas darimu,” balas Riella ketika mendengar doa dan ucapan terbaik dari sahabatnya.


“Apaan sih! Aku masih betah menjomblo, pengennya tahu-tahu ada aja calon suaminya!” sahutnya memukul ringan bahu Riella yang masih tertutup baju kebaya.


“Ya, ya boleh itu!” ucap Riella sambil menatap ke arah Eva.


“Ya sudah, aku pamit dulu ya, sepertinya sudah larut malam, aku takut pulang sendirian kalau lebih lama lagi di sini.” Pamit Eva yang diangguki oleh keluarga Erik dan Emil.


“Eh, kamu naik apa? Kamu bisa pulang dengan Kak Emil, iya kan, Sayang!” kata Riella menatap wajah Emil yang berada di samping kanan mamanya. Emil merespon cepat dengan mengacungkan jempol ke arah Eva, menyetujui permintaan calon istrinya.


“Nggak usah, nanti ngrepotin.” Tolak Eva segera.


“Nggak Va, lagian kita searah kok.” Sambung Emil yang sudah berdiri hendak berpamitan dengan calon mertuanya.


“Loh, nggak jadi menginap?” canda Erik menatap Emil.


“Nggak lah, Om. Takut nanti Emil kehilangan keperjakaan, bila benar menginap di sini,” jawab Emil, menanggapi obrolan Erik. Ia lalu mencium tangan kedua mertuanya bergantian.


Riella mengantar kepergian keluarga Emil hingga di halaman rumahnya, lambaian tangan ia berikan ketika mobil Emil berjalan lambat meninggalkan pekarangan rumahnya.


“Kenapa Papa menatapku seperti itu?” tanya Riella saat menangkap mata Erik yang menatapnya lekat.


“Heran saja, perasaan baru kemarin papa menggantikan popokmu, tapi kenyataanya sudah 23 tahun yang lalu, dan waktunya kamu pergi meninggalkan papa, bersama imamnu yang baru. Semoga kamu bahagia dengan kehidupan barumu nanti.” Setelah itu mereka berdua masuk ke rumah.


“Kalian ini, kenapa!” kata Ella yang heran menatap kedua orang yang melintas di depannya.


“Papa baper, Ma,” jawab Riella sambil membawa Erik duduk di sofa yang ada di depan televisi. Ia masih memeluk Erik, menenangkan papanya, yang sebenarnya sudah tenang.


Ella yang melihat itu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Ia tahu Erik lebih dekat dengan Riella, dibandingkan Nara dan Rara, jadi wajar jika Erik terlihat berat melepaskan Riella.


“Sudah jangan seperti ini, lihat itu mamamu cemburu, nanti papa nggak dapat makanan enak,” tegur Erik melerai pelukan Riella, bergantian memeluk istrinya yang sudah berada di sampingnya.


“Ma, persiapan pernikahan. Riella serahkan sama Mama ya, Riella benar-benar tidak paham apa saja yang harus Riella siapkan. Riella juga repot mengurus rumah sakit.”


“Iya, kamu tinggal terima beres, nanti biar mama dan bibi Sashi yang mengurus semuanya,” jawab Ella sambil fokus ke arah ponselnya.


“Makasih Ma, Mama terbaik deh.”


“Kamu juga jangan terlalu capek, Sayang. Takut juga, gimana nanti, akan jadi anak kita yang ke-5. Kalau kamu kelelahan.” Canda Erik yang memainkan perut datar Ella.


“Gila kamu Pa, dah mau jadi opa juga! Masih mikirin anak ke-5.”


“Nggak papa, kan keren. Nanti anak bontot kita dipanggil Om kecil.”


“Males deh La, kalau Papamu nglantur begini, ini efek puber kesekian kalinya, hati-hati ya, nanti kalau Emil tengah mengalami fase puber, bukan singa buas lagi, pasti akan lebih dari itu.” ungkap Ella yang diketawai oleh Riella, ia berusaha mengurai pelukan Erik, tapi lelaki itu masih erat memeluknya, tidak ingin melepaskannya.


“Eh, jangan bicara 21+ di depan Riella, dia tidak akan paham, Sayang.” Erik mencium pipi Ella sambil terkekeh.


“Dah deh, lanjutkan saja kegiatan Papa dan Mama. Riella mau ganti baju dulu, tapi lanjutnya di kamar sana, biar Rara dan Nara tidak melihat adegan panas kalian.”


“Ya, pinter kamu, Nak. Tunggu ya, nanti siap-siap dapat adik kecil baru!” teriak Erik ketika mendapati Riella berjalan ke arah lantai atas. Riella hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya, merasa geli sendiri dengan ucapan papanya.


Tiba di kamar, ia segera melepaskan pakaian yang ia kenakan, mengganti bajunya dengan baju tidur. Saat ia membersihkan wajahnya, terndengar bunyi ponsel berdering nyaring memenuhi ruang kamarnya, Ia menatap sejenak nama yang tertera di layar ponselnya. Dia segera menggeser tombol hijau, tidak ingin orang yang diseberang sana memakinya karena terlalu lama menunggu. Ucapan selamat ia terima setelah mendengar suara pertama sahabatnya.


“Iya, terima kasih. Kapan kamu pulang!” tanya Riella, “kamu harus membawakan aku oleh-oleh yang banyak!” lanjutnya setelah mendengar jawaban Chika.


“Ya, bersenang-senanglah, aku tahu kamu stress karena lelaki itu pergi darimu!”


Cukup lama mereka berdua ngobrol bersama, hingga tak lama kemudian Riella segera mengakhiri panggilannya karena merasa lelah. Ia melihat banyak pesan masuk dari aplikasi pesan bewarna hijau di ponselnya. Satu ucapan tidak lain adalah dari Kenzo. Tapi dia enggan membalasnya, meski ucapan yang Kenzo berikan membuat hatinya lega. Ia justru membalas pesan Emil, dan memintanya untuk tidak membahas pesan mesum, ketika tengah berjauhan.


🚑


🚑


Ada papa Erik di sini🙊 lagi kumat pubernya.


Terima kasih sudah berkenan membaca jangan lupa untuk like, vote dan komentar