The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Aku Mencintaimu



Yang suka cerita bantu promosiin ya😍. Jangan lupa tinggalkan like dan komentar.


...----------------...


Mobil mewah yang mengantar keluarga Erik melaju pelan menuju bandara. Satu mobil diisi oleh Erik, Ella, Riella, Maura serta satu pria setengah matang yang berada di balik kemudi. Sisanya, ikut bersama mobil Kalun.


Saat ini Riella hanya diam, menatap ke arah jendela, tidak ingin menoleh ataupun berbicara dengan Erik yang duduk di sampingnya. Sedangkan Maura duduk di kursi belakang dengan Ella. Mendengarkan lagu galau yang mewakili hatinya.


Sudah sepuluh menit mobil yang ditumpangi Riella melaju, dan kurang lebih sepuluh menit lagi, mobil itu akan tiba di bandara.


Erik yang melihat anaknya diam dan melamun, tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya menatap saja ke arah wajah anaknya yang tampak jelas tengah bimbang. Dia dulu pernah mengalami hal seperti ini, jadi sedikit paham dengan perasaan anaknya.


“Lagi galau?” Erik menoleh ke arah Ella, tapi jari telunjuknya menunjuk ke Riella. Ella membalas dengan senyuman ke arah suaminya. Lalu menepuk pundak Riella.


“Apapun masalahnya, jika kalian merasa belum selesai, jangan ditinggal seperti ini. Nggak baik lari dari masalah.” Ella menjeda ucapannya, mengamati wajah Riella, khawatir, jika nanti bicara panjang lebar, tapi anaknya tidak konek.


“Kalau masih bisa diselesaikan dengan cara baik-baik, jangan sampai kalian berpisah seperti ini! Mama nggak tahu persis apa masalahmu. Mama tahu batasannya, La. Tidak baik orangtua terlalu ikut campur dalam rumah tangga anaknya. Tapi kalau kamu minta pendapat ke Mama. Mama akan mencoba cari solusi, supaya tidak merugikan kamu maupun Kenzo.” Ella bicara panjang lebar menasehati Riella yang duduk di depannya. Hanya dia dan si kembar yang tidak tahu apa masalah Riella sebenarnya.


“Iya, jangan dicontoh Mamamu tu, La. Main kabur-kaburan, lagi! Ya kali, kaburnya ke Tebet, itu ke Sydney, jauh kan mana tiket mahal lagi.” Erik menggoda, tapi tidak menatap istrinya. Dia berbicara serius menatap Riella. Seperti tengah curhat.


“Itu kan salah kamu, Yang! Main buka-bukaan sama si, itu … si Riza!” balas Ella yang membuat Erik mati kutu.


“Memang Papa pernah main buka-bukaan, Ma?” Riella bertanya, menoleh ke arah Ella. Tapi lirikannya tetap ke wajah papanya.


“Iya tuh, tanya saja!” Ella menunjuk dengan ekor matanya. “Bikin nyeseg kan?” lanjutnya mencoba mencari sekutu, untuk menyerang Erik.


“Lagian kurang cantik apa coba, Mama ini? Body semok, depan belakang, tinggi juga merunjau. Tapi sempat-sempatnya colek-colekan sama Riza!” seperti mengingat masa mudanya, Ella meluapkan kekesalannya sekarang.


Emang ya? Kalau laki sudah bikin kesalahan, seumur hidup akan selalu diingat! Dasar wanita! Batin Erik menatap kesal ke arah istrinya.


“Sudah stop! Mau aku cium di sini?” suara Erik sudah naik oktaf dari alto ke baritone saat mendengar ocehan Ella yang tidak kunjung berhenti, bibirnya sudah menghadap Ella sambil dimanyun-manyunkan.


“Ah nggak asyik masa bersambung ... Riella kan masih penasaran? Ternyata papa masa mudanya nakal juga, Ya?” Riella mengamati wajah Erik, mengeluarkan wajah judesnya yang aduhai.


“Playboy tuh!” Ella seperti menjadi pemanas suhu ruangan, pendingin udara seolah disetting naik secara otomatis.


“Yang … sudah deh!” peringatan kedua keluar dari bibir Erik. Membuat Ella menutup mulutnya, beruntung Maura tengah menggunakan headset di telinganya. Jadi tidak mendengar keburukan Erik di masa muda.


“Terus gimana, Ma?” rasa penasaran Riella belum juga kandas. Dia masih penasaran dengan masa lalu Erik yang main buka-buka sama Riza.


“Ya nggak gimana-gimana, nyatanya Papa jodohnya sama Mama. Meski banyak masalah yang silih berganti, itu justru membuat kita semakin dewasa untuk menghadapi masalah berikutnya. Dan kamu contoh kita saja. Papa ganteng, tajir melintir, kuat juga, pensiunan dokter spesialis, banyak nilai plus nya. Tapi mau saja sama Mama yang cuma jadi emak-emak berdaster."


"Love dead, Yang!" sambar pria di depan Ella.


Ella tersenyum samar, sembilan puluh lima persen Erik tidak melihatnya. "Buat pelajaran saja. Apapun masalahnya bicarakan baik-baik. Komunikasi itu penting, gunakan ranjang untuk bercerita sebelum bercinta, tanyakan bagaimana pekerjaan di kantor, seharian ini, capek ya? Sini Riella pijetin!" Ella mempraktekannya di bahu suaminya.


"Sekecil apapun perhatian kita, itu akan wow di matanya. Iya kan Opanya Leya?" imbuh Ella bertanya pada Erik.


"Hmmm ... itu karena aku mencintaimu Rehuella!" jawab Erik.


"Sekarang kamu pikirkan duduk masalahmu itu di mana. Jangan main pergi begini, sama saja dengan kita menghindari masalah. Bukan menyelesaikannya. Gimana nanti kalau masalahnya nambah?” Ella mengusap pundak Riella, “lagian orang hamil itu lebih merepotkan, lebih sering kangen ketek suami!”


“Kalau ini Papa setuju. Dulu waktu mama hamil kakakmu, bawaanya nempel terus kaya lintah, nggak mau pisah sama Papa, kemana –mana mama ngekor terus. Tapi Papa menyukainya." Erik menceritakan memorinya yang masih terkenang hingga sekarang.


Riella kembali diam, pandanganya tertuju ke arah jalanan yang dihiasi pepohonan warna hijau. Tangannya mengusap perutnya, lembut. Mata indah miliknya terpejam saat calon anak di dalam perutnya memberikan gerakan kecil dari.


“Ok sudah sampai, ayo keluar!” Maura bersuara, sambil melepas headset dari telinganya.


Mobil saat ini sudah berhenti di area parkir khusus tamu VIP. Semua orang keluar, termasuk yang menghuni mobil di depan mobil Erik.


Saat Riella masuk, hatinya bimbang. Cukup lama dia berhenti di pintu masuk bandara. Berulangkali mamanya memanggil, tapi tidak ada respon darinya.


“Riella di sini dulu saja, Ma. Benar kata mama masalah kita belum menemui titik terang, kita hanya salah paham. Mama pulang duluan, kapan-kapan Riella main ke Jakarta,” ucap Riella sambil memeluk tubuh mamanya.


“Pulanglah! Temui suamimu, kalian masih muda, ego pasti sedang tinggi-tingginya. Salah satu coba mengalah lebih baik, dari pada harus pergi seperti ini. Mama akan mendoakan kebahagianmu dan Kenzo.” pesan Ella.


Riella mengangguk, setelah berpamitan dengan semuanya, dia lalu mengambil kopernya. Berjalan keluar gedung bandara. Tangannya bergerak mengirimkan pesan pada Kenzo. Namun, sayang sudah sepuluh menit lamanya, pesan itu tidak dibaca oleh suaminya.


“Sabar …” ucap lirih sambil menggoyangkan kakinya. Riella kembali menatap ponselnya lagi, pesan yang dikirimkannya belum terbaca. Dia lalu mencoba menelepon ke nomor Kenzo. Tapi nomor ponsel Kenzo kini justru tidak aktif. Riella lalu berusaha menghubungi Alby, meminta bantuan untuk menjemputnya di bandara.


“Al, jemput aku ya … aku nggak jadi pergi.”


“Kakak ipar di mana?”


“Di bandara.”


“O woke sepuluh menit lagi Al tiba di sana kebetulan ini baru di kantor.”


Riella masuk ke dalam mobil, saat Alby membuka pintu untuknya. Saat di mobil pria di sampingnya itu terus berceloteh menceritakan tentang kondisi Kenzo ketika mereka bermasalah.


“Kita mampir ke supermarket ya, Al? Banyak stok makanan ya sudah habis.” minta Riella.


Alby langsung menepikan mobilnya saat itu juga. Dia awalnya hanya ingin menunggu di dalam mobil. Tapi, mengingat Riell tengah hamil, jadi dia turut menemaninya.


Saat berada di supermarket, Alby yang menawarkan diri mendoring troli nya. Saat berjalan pun Alby tidak henti-hentinya menceritakan tentang Reva. Termasuk dimulainya hubungan mereka ini.


“Jadi, kakak ipar jangan khawatir, aku akan menjaganya. Jangan sampai dia mendekati bang Kenzo lagi.” Simpulnya setelah panjang kali lebar bercerita tentang Reva.


"Padahal nih ya, aku mau comblangin kamu sama Maura, eh malah sudah punya pasangan."


"Maura itu cantik, mana mau sama aku, Kak. Tapi kalau jodoh nggak kemana kok." Alby menyengir.


Padahal awalnya Riella hanya bencanda. Dia justru menanggapi serius. Merasa telinganya sudah panas. Riella segera mengakhiri acara belanjanya.


Alby membawa belanjaan ya ke mobil setelah Riella membayar semuanya. Dia segera melajukan mobilnya pulang ke rumah. Pasti abangnya akan terkejut melihat istrinya pupang. Bisa jadi ini kejutan untuk Kenzo.


Saat tiba di rumah, pintu masih sama, seperti saat ia berangkat ke bandara. Mobil Kenzo juga di rumah. Jadi, Riella sudah menduga jika suaminya itu berada di dalam kamar.


Alby bergegas pergi saat semua barang yang tadi ia beli sudah diletakkan di dapur. Dia pamit untuk kembali ke kantor karena banyak pekerjaan yang menunggunya.


“Nggak makan siang dulu, Al?” Riella mencoba menawari, padahal mau masak apa saja dia belum tahu.


“Nggak, sudah ada janji makan siang bareng sama pacar,” sahutnya lalu meninggalkan rumah. Mengangguk pelan saat mendapat pesan dari Riella untuk berhat-hati.


Riella menoleh sejenak ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Merasa perutnya sudah merasa lapar, dia memilih menuju dapur untuk mengolah makan siang.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Semua makanan hasil olahannya, sudah tersaji di atas meja. Tapi Kenzo belum keluar dari persembunyiannya.


Riella memperhatikan masakannya, yang sudah siap santap. Selama ini dia belum pandai dalam memasak, selain keasinan, kadang kelebihan gula. Jadi terkadang dia heran ini kolak atau sayur bening. Seperti siang ini sepertinya dia terlalu banyak memberikan gula pada sayur bening bayam yang tadi dia olah. Dia tersenyum saat merasakan sendiri hasil masakannya.


"Nanti lama -lama juga bisa yang penting mau belajar." Riella bergumam menghibur diri.


Melihat Riella tidak jadi pergi, Nindi datang menyerahkan Aslan padanya. Dia senang akhirnya Riella mau memberi kesempatan pada Kenzo.


“Baru beberapa jam saja dia sudah rewel, La. Bagaimana nanti kalau kamu benar-benar pergi,” keluh Nindi sebelum dia menghilang dari pintu utama rumahnya.


“Kita bangunin papi, yuk!” Riella menggendong tubuh Aslan lalu membawanya masuk ke kamar.


“Papppp iiii.” Aslan mencoba mengikuti apa yang Riella ucapkan.


“Iya, kita bangunin pappii,” ulangnya mengajari Aslan menyebut kata papi, “anak Mami pintar, sudah bisa manggil pap-pi.” Riella tertawa kecil, sambil memutar handle pintu kamar.


“Tuh, papi masih bobo,” lirih Riella di samping telinga Aslan, tangannya menunjuk ke arah Kenzo yang tidur sambil meringkuk. Dia lalu meletakan Aslan di samping Kenzo. Bayi itu terus memanggil-manggil nama papinya. Sambil menepuk pelan lengan Kenzo.


"Papp iiii...." Aslan memanggil sambil memasukkan telunjuknya ke dalam mulut. Membuat air liur bening keluar dari sela-sela bibirnya yang terbuka. Merasa tidak ada respon, Aslan menepuk pipi Kenzo dengan jemarinya yang basah, bibirnya bterus erceloteh, menggantikan Riella membangunkan Kenzo.


Riella tahu jika Kenzo belum menyadari, jika dia kembali untuknya. Memberikan Kenzo kesempatan sekali lagi.


“Kamu tidur kaya orang pingsan, lama banget,” ucapnya saat melihat Kenzo terkejut saat melihat dirinya di sana.


"Apa ini nyata? Kamu benar di sini, La?" tanya Kenzo, lalu meletakkan Aslan di sampingnya dan mencoba menyentuh Riella.


“La, jawab aku?” tanyanya lagi saat tidak mendapat jawaban dari Riella.


“Hem, aku di sini. Bangunlah, aku sudah buat makan siang, kamu keluar dulu aku mau masukin bajuku lagi ke lemari.” Riella beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah koper, dia ingin memasukkan lagi pakaiannya, karena dia akan tinggal di sini lagi, mendampingi suaminya.


Kenzo masih diam, dia mencoba membedakan, ini mimpi atau nyata. Sedangkan Riella, saat ini memasukkan pakaiannya ke lemari dengan posisi setengah duduk, Kenzo yang melihatnya pun langsung menghampiri dan memeluknya.


“Terima kasih.” Kenzo mencium rambut panjang Riella sambil memejamkan matanya, menghirup dalam parfum rambut yang dikenakan Riella. Pelukannya semakin erat, sampai dia melupakan jika ada bayi di dalam perut istrinya.


“Apa alasanmu kembali?”


“Aku ingin kita kembali ke awal. Mencoba menyusunnya lagi. Aku sengaja memberimu waktu, supaya kamu mengoreksi semuanya. Supaya kita lebih dewasa untuk menghadapi masalah berikutnya yang akan datang.”


“Aku mencintaimu.” Saat Kenzo hendak mencium bibir Riella, terdengar suara tangisan dari Aslan. Bayi kecil itu terjatuh dari atas ranjang, karena gerakannya yang bergulung kesana kemari.


“Astaga! Kamu gimana, sih! Teledor tahu nggak! Harusnya kamu meletakkan gulinh di samping Aslan.” Riella melepas pelukan Kenzo, lalu menghampiri Aslan. Beruntung Aslan jatuh di atas karpet bulu, jadi saat Riella mendekatinya dia justru terbahak memperlihatkan gusi merah, yang belum ditumbuhi gigi.


“La, yang kangen di sini itu aku! Bukan Aslan!” rengek Kenzo ketika Aslan memenangkan perhatian Riella.


...----------------...