
“Nggak usahlah, kamu ngurusin aku dan anak-anak kita saja. Nggak papa, Kan?”
Riella mengangguk setelah mendengar pendapat Kenzo. Dia lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, menatap langit-langit ruang kerja suaminya yang tampak simple.
“Kenapa es krim nya lama sekali?” keluhnya sambil mengusap dengan lembut perutnya yang kini mulai terlihat membesar.
Kenzo tersenyum cerah, “kamu nggak lagi ngidam, kan? Sudah bukan bulannya ngidam aneh-aneh!” Kenzo mencubit hidung Riella yang hampir menyaingi Pinokio.
“Sakit!” keluh Riella, memukul tangan Kenzo hingga terlepas dari hidungnya. “Coba sini kamu!” lanjutnya dengan tatapan kesal. Kenzo tertawa lepas dan itu membuat Riella semakin kesal. “Aku sumpahin kamu ngidam aneh-aneh setelah ini, dan aku nggak mau mencari buatmu.” Ancaman keluar dari bibir merah Riella, memudarkan suara tawa Kenzo yang tadi memenuhi ruangan.
Dia mengalungkan tangannya di lengan Riella, ikut duduk bersandar di sofa, sejajar dengan istrinya. “Nggak, biar kamu saja yang ngidam, dan aku yang nurutin. Kalau aku yang ngidam kasihan kamunya. Udah kamu bawa anak kita, masak sih harus kesusahan mencari makanan untukku?” Kenzo menyandarkan kepalanya di pundak Riella. Mereka berdua menikmati kesunyian siang ini, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Hingga satu pertanyaan di pikiran Kenzo, menggelitik untuk dikeluarkan. “Hamil itu capek nggak, sih?” tanya Kenzo menoleh ke arah Riella, membuat jarak yang tadi dekat semakin lebih dekat lagi dengan istrinya.
“Nggak, tiap malam juga kamu pijat kakiku. Aku cuma takut saat nanti melahirkan.” Hal yang paling ditakuti Riella adalah melahirkan, apalagi mendengar cerita mamanya saat melahirkan dirinya.
“Kenapa memangnya?” Kenzo menatap Riella penuh harap, supaya istrinya mau menjawab.
“Ada istilah, orang melahirkan itu sakitnya seperti dua puluh tulang dipatahkan secara bersamaan. Kamu bisa bayangin aku melewati itu nanti? Satu jari ini saja, kalau patah menyakitkan, apalagi dua puluh.” Riella mengamati telunjuk kanannya yang sudah dia angkat. Kenzo diam memikirkan.
“Aku nggak mau bayangin. Tapi aku ingin, kamu melewatinya denganku.” Kenzo menjawab sambil menarik tangannya dari lengan Riella. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana nanti Riella kesakitan saat akan melahirkan generasi penerusnya. Di cuma berharap saat Riella melewati itu, dialah yang ada di sisinya.
“Tapi jika aku tidak selamat, tetap sayangi dia ya, cari pengganti yang baik untuk di–
Riella tidak bisa melanjutkan bicaranya, sebab bibir sexy suaminya itu, kini sudah menyasau bibirnya yang tipis. Dia berusaha meronta, meminta Kenzo untuk melepaskan, dia tidak mau ada yang memergokinya saat Kenzo mencumbunya di ruangan ini.
“Tidak ada yang tergantikan dari dirimu. Ku cuma mau kamu!” ucap Kenzo penuh peringatan. “kita berjuang sama-sama, sudah banyak alat canggih zaman sekarang, kalau kamu mau kita bisa melakukan operasi seccar.” Saat Riella hendak menjawab, Kenzo kembali menciumnya.
Tapi ciuman yang diberikan Kenzo kali ini sungguh beda, setiap gerakan lembut yang menyentuh bibirnya, diiringi dengan debaran jantung yang luar biasa. Bisa jadi, suaminya itu turut mendengar detak jantungnya saat ini.
Kenzo buru-buru menarik bibirnya saat mendengar pintu diketuk dari arah luar. Masih mengamati bibir Riella yang lembab, seolah bibir itu memintanya untuk disentuh lagi. Masih mengabaikan seseorang yang tengah menunggu di depan pintu. Kenzo kembali membuang waktunya dengan mengusap bibir Riella dengan jempol.
“Area kesukaanku!” ujarnya dengan senyuman penuh arti, matanya berkabut gairah.
“Bukannya favoritmu yang bawah?” ledek Riella, membalas.
“Semuanya, favoritku!” Kenzo kembali mendekat, hendak menikmati lagi. Tapi suara ketukan itu semakin terdengar nyaring.
“Es krim,” celetuk Riella saat teringat pesanannya.
Kenzo yang teringat pun segera beranjak dari kursi, sambil mendengus kesal. Dia membuka sedikit daun pintu, menemukan Alby yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya. Wajahnya tampak kesal, sama seperti Kenzo.
Alby lalu menyerahkan cooler bag ke tangan Kenzo.
“Terima kasih.” singkat Alby menyinggung pria di depannya.
“Sama-sama,” balas Kenzo, yang menanggapi godaan Alby, dia ingin segera menutup pintu tapi tangan Alby buru-buru menahannya.
“Bang sekali-kali makan siang bareng yuk!” ajak Alby. Beberapa bulan ini, mereka berdua memang tidak terlalu dekat karena Kenzo tengah fokus pada masalahnya.
“Nggak, aku lebih nyaman berdua saja dengan istriku. Kamu duluan, setelah es krim habis aku juga akan keluar nyari makan siang.” Kenzo menjawab tanpa menatap ke arah Alby.
“Oke, Bang.” Alby memasang wajah kecewa saat mendengar jawaban dari abangnya, padahal ia pikir dia bisa mendamaikan perasaan Riella dan Reva.
Kenzo kembali masuk ke ruangan, menyerahkan es krim yang ada di tangan pada istrinya.
“Suapin!” minta Riella saat Kenzo membuka es krim untuknya.
“Emang kamu mau ngapain?” tanya Kenzo saat melihat tangan Riella yang tidak membawa apapun.
“Balas pesan Eva, katanya dia mau ke Banjarmasin ada urusan di sini.” Kenzo mengangguk lalu menyuapi es krim ke mulut Riella. Sedangkan Riella tengah asyik bermain ponsel di tangannya.
“Kamu punya foto ini, Ken?” tanya Riella menunjuk foto mereka berdua saat masih kecil.
“Iya. Gimana bagus, kan?” mata Kenzo berbinar, bibirnya tertarik ke samping saat melihat foto yang ditunjukkan Riella.
“Kamu di-follow Emil?” tanya Riella, saat menemukan aku mantan tunangannya.
“Nggak tahu, aku nggak pernah main sosmed, tadi cuma iseng. Dia komen kamu, nih!” Riella menunjukkan balasan yang dikirimkan Emil pada foto yang posting Kenzo.
Kenzo melirik ke arah tangan Riella yang kembali menekan akun Emil, dia terus memperhatikan apa yang dilihat istrinya.
Pertama yang dilihat adalah banyak foto Emil dengan bayinya. Tapi semuanya hanya mereka berdua, tidak ada Chika yang ikut berfoto bersama. Dia juga tidak memperlihatkan wajah bayi yang kira-kira berusia 3 bulan itu. Riella lalu membuang nafas, sambil melirik ke arah Kenzo yang ternyata tengah memperhatikannya. Dia memberikan senyum ke arah suaminya.
“Kamu marah?” Riella bertanya sambil menyuapkan es krim ke mulut Kenzo.
Kenzo kembali meletakan kepalanya di pundak Riella. “Tidak ada gunanya aku marah. Aku marah pun, kamu juga tidak peduli. Karena di sini ....” Kenzo memainkan telunjuknya di dada Riella. Membentuk symbol hati di sana. “Belum ada namaku.”
“But, di sini ada anak kita.” Tangannya bergeser ke arah perut Riella, dia akan yang akan menyatukan kita entah itu kapan, tapi aku yakin—itu akan terjadi.” Kenzo paham, setelah kejadian empat bulan lebih dia mengabaikan Riella, dia tidak berhak untuk menanyakan perihal cinta padanya.
Riella mengamati tangan Kenzo yang memainkan perutnya. Menggelitik perasaanya.
“Apa dia sedang tidur?” Kenzo beralih menempelkan telinganya di perut Riella. Entah kenapa perasaan Riella kembali menghangat, dia menyukai Kenzo melakukan ini padanya. Tapi jika dia ditanya tentang perasaanya. Dia belum bisa menjawabnya sekarang, dia masih butuh waktu untuk memastikan lagi, barulah dia akan menyatakan semuanya dengan jelas.
“Duduklah!” ucap Riella memerintah. Dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Kenzo saat suaminya itu sudah duduk tegap di sampingnya. Riella memeluk erat tubuh Kenzo.
“Aku nyaman bersamamu saat ini, tetaplah seperti ini, menemaniku melewati semuanya. Karena kehadiranmu, membuatku lebih mudah untuk melewatinya.” Riella mengecup pipi Kenzo.
“Astaga, aku ngerasa jadi suami bayangan!” keluhnya masih dengan nada jenaka.
Riella mendongak menatap ke arah mata Kenzo yang jernih, keduanya saling beradu pandang. Senyum Kenzo terukir.
“Ulangi lagi!” minta Riella tanpa berkedip.
“Iya suami bayangan.” Kenzo langsung meringis saat merasakan cubitan di pinggangnya. Dia langsung menjauhkan dirinya saat tangan Riella hendak mengulangi kegiatannya itu.
“Stop atau aku robek bajumu!” ancam Kenzo penuh ancaman.
“Sudahlah aku nggak mau becandaan lagi, nanti aku capek.”
Riella lalu meletakan kotak bekas es krim yang sudah kosong ke atas meja. “Sudah duduk sini! Aku janji nggak akan nyubit kamu lagi!” perintah Riella menepuk ruang kosong di sampingnya.
“Cepetan aku mau tanya sesuatu sama kamu!”
“Kenapa?” Kenzo mendekat, meladeni permintaan Riella, membuat istrinya kembali memeluk pingganganya.
“Kamu ayah dari anak-anakku, cepat atau lambat aku akan jatuh cinta padamu lagi. Aku bisa jamin itu, apalagi dulu … yah dulu, aku pernah mencintaimu, kamu pria yang selalu aku puja-puja di depan mama papa. Dulu tapi ya! Sekarang belum.” Riella mengakhirinya dengan kecupan singkat di bibir Kenzo.
“Bisa kamu bohong padaku? Katakan aku mencintaimu!” perintah Kenzo.
“Ogah, nanti hidungku tambah panjang!”
“Pinter banget ngelesnya!” kembali Kenzo menarik hidung Riella. “Ayo katanya, mau ke toko buku!” imbuhnya.
“Males jalan.”
“Mau aku gendong?” tawar Kenzo. Dan Riella menggeleng cepat.
“Aku mau beli online saja bantuin milih!” Riella kembali mengeluarkan ponselnya, keduanya lalu ribut mempermasalahkan buku yang harus mereka pilih. Cara merawat bayi baru lahir yang paling terlengkap sampai nama-nama bayi pun mereka beli.
“Aku juga mau yang ini! Buat jaga, aku akan menceritakan nanti saat dia pulang pertama ke rumah.”
“Heh, manatahu anak kita! Yang ada dia akan terus menangis mendengar suaramu!”
“Nggak, nyatanya sekarang aku tengok dan aku ajak bicara di baby pasti merespon." Kenzo terdiam, lalu tersadar akan sesuatu, "Kita pulang yuk, aku mau melihatnya sedang apa!” Kenzo sudah berdiri, menarik pelan tubuh Riella. Sedangkan istrinya masih sibuk memilih buku apa yang akan ia beli nantinya.
...----------------...