
“Kau tahu, hari ini dia berkata mam! May be, Sheva merindukan mamanya.” tawa sumbang terdengar lirih, suara yang keluar dari bibir Emil. Jemarinya masih menahan tanda mikrofon di ujung bawah sebelah kanan salah satu room chat. “Kamu di mana? Apa boleh aku berharap kamu akan segera pulang? Kita di sini butuh kamu." Suaranya semakin melemah, rasa kehilangan atas kepergian Chika masih terasa basah dalam hatinya.
Meskipun begitu, mesin perekam di smartphone-nya berhasil bekerja dengan baik, me-record suaranya dengan sempurna. Jangankan didengar oleh pemilik nomor. Pesan yang ia kirimkan sejak pertama kali saja, sepertinya tidak pernah sampai di telinga sang empunya.
Setelah pesan VN (Voice Note) berhasil tercentang satu, Emil meletakan kembali ponselnya ke atas meja. Mata hitamnya tertuju ke wajah sang putra yang terlelap di atas ranjang. Dadanya berdesir, saat menatap wajah tak berdosa di depannya saat ini. Rasa bersalah kembali membara, seakan ingin menemukan mesin waktu dan kembali di masa sebelum istrinya pergi meninggalkan mereka berdua. Mengulang kembali dari awal.
Kehadiran Sheva memang sebuah kejutan bagi Emil. Merusak semua masa depan yang sudah direncanakan dengan baik. Termasuk merusak hubungannya dengan Eriella (mantan tunangan). Sampai akhirnya, ia terpaksa menikahi Chika, sahabat dari Eriella.
Miris, saat mengingat tingkahnya dulu. Emil bahkan mengabaikan Chika, menganggap wanita itu perusak hubungannya dengan Eriella. Dan mungkin, itulah alasan yang membuat istrinya itu pergi dari rumah atau ... benar apa yang dikatakan sang mama. Jika wanita itu tidak mau menerima kondisi Sheva.
Sheva Elyan Handoko, sejak dalam kandungan, dokter sudah memprediksi jika ada yang janggal dengan perkembangan Sheva. Anak itu akan tumbuh menjadi anak istimewa.
Terbukti. Hingga anak itu berusia 6 tahun, Sheva jauh berbeda dari anak seusianya. Tumbuh kembangnya begitu lambat meski sudah menjalani teraphy sana-sini. Dan baru hari ini, tepat di usia 6 tahun 2 bulan anak itu baru bisa mengucapkan kata mama. Sebuah kebahagian tersendiri bagi seorang Emilyan Caesar Handoko. Pria 30 tahun yang kini sedang meratapi kesalahannya.
“Emil! Emil! Buka pintu!” suara dari luar kamar memutus pandangan Emil dari wajah Sheva.
“Em—mill!” Suara itu kembali terdengar, kali ini diiringi gedoran pintu yang begitu membahana. Emil tahu itu suara Ineke.
Ia mendesah pelan sambil beranjak dari ranjang, suara gedoran pintu masih terdengar jelas bahkan semakin keras.
“Sebentar, Ma! Emil tidak tuli,” sahutnya berjalan ke arah pintu. Saat pintu kamar terbuka lebar, ia mendapati sang mama yang berdiri tegap di depan pintu. “Why?” tanya Emil acuh, menatap wajah wanita di depannya.
“Papa mau bicara sama kamu! Segera turun kalau anakmu sudah tidur,” titahnya dengan nada sengau. Seperti biasa tatapnya begitu remeh ke arah sang putra.
“Ya.” Emil menjawab singkat. “Lain kali kalau ketuk pintu tolong pelan saja. Sheva baru saja tertidur!” pesan Emil membuat Ineke mengurungkan niatnya untuk pergi.
Wanita berusia 50-an tahun itu kembali menatap tajam ke arah Emil. “Mau tidur terus pun, anak kamu tidak akan berubah jadi anak pintar!!” ketusnya, “emang dasar pabriknya bobrok ya tetap saja, hasilnya minus! Kau tahu, sendiri. Dia itu wanita pengoda, Emil! Palingan yang jadi donatur juga orang banyak! Jadilah, anaknya nggak normal!”
“Ma!” sentak Emil tak terima. “Emil tekankan lagi, kalau Sheva itu cucu kandung mama! Tolong jaga hatinya! Meski dia belum bisa berbicara normal. Tapi telinga dan hatinya berfungsi dengan baik!” sekuat tenaga Emil menahan rasa kesalnya pada sang mama. Bagaimana pun wanita itu sudah melahirkannya. Wajib baginya untuk menghormati.
Ineke selalu membahas masa lalu Emil. Dia seperti tertimpa beban berat saat Emil batal menikah dengan anak salah satu konglomerat di kotanya.
“Mama turun dulu! Aku akan segera menemui papa,” putus Emil tak mau memperlama lagi perdebatannya dengan sang mama.
Beruntung saat Emil kembali memasuki kamar, Sheva masih terlelap. Ia hanya meninggalkan kecupan hangat di kening Sheva, sambil menarik selimut untuk menutupi setengah badan putranya. Setelah memastikan putranya tidak akan terjatuh dari ranjang, Emil segera turun ke bawah untuk menemui sang papa.
“Ada apa, Pa?” Ia langsung bertanya, setelah duduk di depan sang papa.
“Ada banyak hal yang ingin papa katakan padamu!” mata Yoga memicing tajam, tangannya menghempas kasar sebuah amplop putih di depan Emil. “Untuk kamu!” ucapnya.
“Apa ini, Pa?”
“Bukalah!” titah Yoga.
Emil menatap nanar stempel biru di amplop. Ia lekas mengeluarkan isi amplop tersebut. “Surat panggilan untuk wali Sheva?” Mata Emil menatap Yoga penuh tanya.
“Ya.” Singkatnya, membenarkan ucapan Emil.
Hari ini Emil memang tidak bisa menjemput Sheva karena ada rapat penting, baby sitter Sheva juga sedang pulang dan akan kembali besok pagi. Keputusannya meminta bantuan sang mama sepertinya ide buruk. Terbukti, Ineke tak menyampaikan langsung tersebut padanya. Apa karena ini mama membahas masa lalunya, lagi? Batin Emil.
“Jam 8 pagi harus tepat waktu. Papa nggak mau kamu terlambat datang ke sekolah. Papa malu, kamu kan, tahu yang punya yayasan itu rekan bisnis papa!” Ucap Yoga penuh penekanan.
Silakan baca kelanjutannya di buku baru judulnya Begin Again. Terima kasih.