
Di salah satu rumah sakit ternama di Banjarmasin, tampak Riella tengah terbaring lemah di atas bed rumah sakit. Ia hanya bisa menatap bergantian orang yang duduk di sampingnya. Kedua orangtua itu, yang satu memijit kakinya dan yang satu lagi mengusap pucuk kepalanya lembut.
Riella belum ingin membuka mulutnya, ketika Erik terus menanyakan apa yang terjadi dengannya saat ini. Dia hanya menggelengkan kepalanya tidak ingin bercerita pada kedua orangtuanya. Menurutnya apa yang terjadi dengan keluarga kecilnya, biarlah menjadi rahasia antara dia dan Kenzo.
Riella yakin bisa menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkan kedua orangtuanya. Dia takut jika orangtuanya tahu sikap Kenzo padanya mereka akan membenci suaminya. Bagaimanapun lelaki itu adalah ayah dari bayinya, Riella belum siap jika hal buruk terjadi pada hubungannya dan Kenzo.
“Beneran nggak mau cerita sama Papa?” bujuk Erik mencoba merayu Riella, “kamu hampir saja kehilangan anakmu Riella, jika mereka tidak segera menolongmu. Jadi Papa butuh penjelasan darimu, tentang apa yang terjadi denganmu!”
Terlihat Riella kesusahan menelan air liurnya, ia padahal sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu memikirkan masalahnya dengan Kenzo. Tapi kejadian kemarin benar- benar membuatnya kacau, menguras otak dan seluruh tenaganya.
“Sudahlah jangan membuat Riella tambah stress, biarkan dia istirahat!” minta Ella, yang kini terus mengusap rambut Riella.
Erik mengerutkan dahinya, kecewa juga dengan Riella yang tidak mau jujur dengannya, meski dia sudah tahu apa yang Riella alami, dia hanya ingin mendengar sendiri cerita dari Riella. Beruntung tadi pagi anak buahnya mengikuti Riella pergi, jika tidak, ia tidak bisa menjamin keselamatan calon cucunya.
“Sudah kamu istirahat sana, Pa! Biarkan Riella aku yang jagain.” Ella mengusir Erik pergi dari tempatnya, siapa tahu dengannya Riella mau menceritakan masalah apa yang ia alami.
Tadi pagi saat Riella pinsan, dia ditolong oleh anak buah Erik yang dikirim untuk menjaga Riella. Lelaki itu sengaja mengirimkan anak buahnya untuk mengawasi Riella dari kejauhan, semenjak menyadari kelakuan Riella yang mulai aneh. Dan paket rumput itu sebenarnya anak buah Erik lah yang mengirimkannya bukan pihak ekspedisi. Dan selama ini Erik selalu mendapatkan laporan tentang kondisi Riella yang di alami Riella.
“Kamu saja yang istirahat, Yang! Biarkan aku yang menjaga Riella,” jawab Erik yang mengkhawatirkan kondisi Ella.
“Sudahlah mama dan papa istirahat saja, Riella sudah baik-baik saja!” jelas Riella dengan suara serak. Tubuhnya kini masih lemah. Dokter menyatakan jika Riella mengalami kontraksi dini, dan harus mendapatkan perawatan khusus. Beruntung Riella segera mendapatkan pertolongan jadi bayinya masih bisa diselamatkan, dan kini perlahan mulai normal kembali.
“Ya, sudah yuk, Yang. Kita istirahat saja!” ajak Erik menarik tangan istrinya. Ella hanya mengikuti Erik yang membawanya ke tempat tidur yang sengaja mereka minta pada petugas.
“Kamu juga tidurlah, Riella. Istirahatlah dengan baik, jangan ganggu papa dan mama, ya? Atau kamu mau Papa panggilkan Kenzo biar ada yang memelukmu?” tawar Erik menggoda Riella.
“Nggak perlu, Pa!”
“Ya, sudah cepatlah tidur!” ulang Erik sambil mematikan lampu ruangan, dia berjalan menyusul istrinya, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Erik yang tidak tega, berjalan mendekat ke arah Riella. Putri pertama yang sejak lahir ia rawat dengan penuh kasih sayang. Gadis yang selalu meminta diikat rambutnya setiap hari olehnya. Riella juga yang mengobati rindunya pada Ella ketika ia merindukan istrinya. Melihat anaknya seperti ini, dadanya ikut tertekan batu besar, ikut merasakan kesedihan Riella.
“Menangislah! Jika itu bisa membuatmu lega!” lirih Erik yang duduk di tepi ranjang Riella. Riella yang mendengar suara Erik, buru-buru mengusap air matanya.
“Pa, Papa belum tidur?” Riella berbalik ke arah Erik. Ia menatap lelaki yang masih selalu di hatinya, lelaki yang ingin selalu ia jaga perasaanya supaya ia tidak mengetahui kondisinya saat ini.
“Menangislah!” ucap Erik, menghiraukan pertanyaan Riella. Erik merentangkan tangannya, meminta Riella untuk meluapkan rasa sakitnya ke dalam pelukannya.
Riella pun duduk dan segera memeluk Erik, suara isakannya semakin jelas terdengar di telinga Erik. Tubuh Riella bergetar hebat dalam pelukan Erik, seolah menyalurkan rasa sakit yang selama ini dia pendam sendiri.
Erik hanya mampu mengusap punggung Riella. Mencoba memberikan tempat ternyaman untuk anaknya.
Tapi tidak! Riella tidak mampu berbagi rasa sedihnya dengan Erik. Ia tidak ingin menceritakan apa yang ia alami saat ini. Ia hanya menangis di pelukan Erik. Masih ingin menjaga nama baik suaminya.
“Jika kamu sudah tidak bisa melanjutkan hubunganmu dengan Kenzo, lepaskanlah! Pulanglah ... jika berada di sampingnya akan sesakit ini! Maafkan Papa, yang salah memilih dia untukmu!” Riella menggelengkan kepalanya, dia tidak menyalahkan Erik dengan apa yang terjadi saat ini. Ini semua murni masalahnya dengan Kenzo.
“Riella baik-baik saja, Pa!” sahut Riella dengan suara lirih. Erik menangkup wajah Riella membantu mengusap lembut air matanya.
“Ya ... teruslah baik-baik saja, biar Papa sebagai orang tua juga bisa turut bahagia. Tidurlah, tidak baik untuk calon cucuku, jika kamu terus bersedih seperti ini!” Perintah Erik lalu mengurai pelukannya, membiarkan Riella untuk beristirahat.
Erik dengan setia duduk di samping bed tidur Riella, ia menatap wajah cantik anaknya, hingga tanpa sadar Erik pun ikut terlelap di samping Riella dengan posisi kepala di tepi ranjang Riella.
#Note :
Usia papa Erik sekarang sudah hampir mendekati kepala 7😁