The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Boarding Pass



Ella butuh isi brankas kalian buat Vote. Setelah periode ini selesai (3 Januari), aku liburkan readers buat vote. Jadi bayarannya pentokin sekarang ya😆😆😆😆. Minimal bertahan di angka 13. Terima kasih yang sudah rela berkorban🙏🙏🙏🙏😂


“La … Kak. Bangun bentar yuk, ada hal penting yang ingin mama tanyakan padamu,” kata Ella mencoba membangunkan Riella.


Riella masih enggan bergerak dari tidurnya saat ini, seperti di nina bobokan mamanya dengan suara dan usapan lembut tangan Ella. Ia masih tengkurap, dengan ponsel yang masih di bawah telapak tangannya.


“La ....” Ella mencoba lagi membangunkan Riella, yang belum merespon.


“Emmm ....” terdengar suara sahutan dari Riella, dengan nada khas orang tidur.


“Bangun dulu, Sayang!” Perintah Ella, mencoba mendudukan tubuh Riella. Mencoba tersenyum pada anaknya, mencoba menghilangkan perasaanya yang tidak baik.


“Kenapa sih, Ma? Riella masih ngantuk.” Riella protes ketika tidurnya terganggu, kepalanya masih lunglai, ia justru menarik selimut lagi menutupi tubuhnya. Ella yang hendak menyampaikan apa yang ia dengar tadi, hanya bisa menunggu sampai kesadaran Riella terkumpul sempurna.


“La, ada pesawat gagal landing di Bali. Mama berharap Kenzo tidak berada di dalamnya.” Ella mengatakan dengan pelan, supaya Riella tidak syok saat mendengarnya.


Hanya terdengar senyuman tipis dari bibir Riella, dengan mata masih setengah terpejam, “Mama becanda nya jangan kelewatan deh ... dah Riella ngantuk, Mama keluar dulu! Nanti kita bicara lagi,” sahut Riella kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal.


Ella tidak mampu untuk memberitahu Riella, dia juga bingung bagaimana cara menyampaikannya, ia bahkan tidak tahu, apakah menantunya itu ikut dalam rombongan korban pesawat jatuh atau tidak. Ella lalu mengambil remot televisi yang ada di meja. Ia menyalakan televisi. Dan benar dugaannya, suara pertama dari siaran berita pesawat yang gagal landing di bandara Ngurah Rai, Bali.


... saat ini beberapa petugas medis dan petugas bandara tengah melakukan evakuasi korban jatuhnya pesawat. Diketahui pesawat yang membawa 120 penumpang dewasa, 5 penumpang anak, 1 penumpang bayi, dan 7 petugas awak kabin, berangkat dari Jakarta pukul 15.00 wib, dengan nomor penerbangan B737-900 xxx gagal mendarat di runway bandara Ngurah Rai, Bali. Pesawat tersebut justru jatuh di laut yang berjarak 50 meter dari pusat landasan, diperkirakan dari pengamatan sementara karena kondisi cuaca yang tidak baik. Berikut beberapa gambar yang saat ini bisa kami dapatkan. Dan informasi selanjutnya akan kami sampaikan satu jam ke depan. Terima kasih.


( Tayangan televisi menayangkan beberapa potongan gambar kondisi pesawat diiringi backsound lagu Angel - Sarah McLachlan ) 😭


Riella yang mendengar pembawa siaran berita wanita yang ada di televisi, langsung bangun dari tidurnya. Berjalan mendekat ke arah televisi. Melihat gambar pesawat yang terbelah menjadi dua bagian, antara ekor dan depannya, Riella bisa melihat jelas beberapa orang tengah mengevakuasi penumpang pesawat.


“Ma. Ken-." Riella menoleh ke arah Ella, "nggak mungkin, kan? Dia berada di dalam?” tanya Riella memastikan, siapa tahu dia salah mendengarnya. Ella yang masih berada di samping anaknya, segera memeluk tubuh Riella.


“Tenang dulu!” kata Ella berusaha menenangkan Riella, mengusap lembut lengan Riella.


“Nggak, nggak, nggak mungkin, Kenzo pergi secepat ini!” kata Riella tanpa ada air mata yang keluar. hanya saja dadanya terasa sesak, sulit untuk bernafas lega, seperti terikat tali tambang, setelah melihat dan mendengar berita di televisi di depannya.


Baru saja dia akan memulai semuanya dengan baik dengan suaminya, tapi kenapa Tuhan mengujinya dengan hal seperti ini. Riella mengurai pelukan Ella, tidak peduli dengan pakaian yang ia kenakan saat ini, dia berlari menuruni anak tangga, tanpab menjawab pertanyaan dari Ella. Riella panik sampai tidak mampu berpikir dengan jernih.


“Kamu mau ke mana, La?” tanya Erik yang mengejar Riella dari belakang.


“Pe-pesawat Ken, Pa. Riella harus melihat sendiri kondisinya.” Riella menjawab dengan suara terbata, berjalan cepat menghampiri mobilnya.


“Kamu nggak bisa ke sana sekarang. Penerbangan di sana masih ditutup, apalagi cuaca sedang buruk. Kamu masuk dulu, kita tunggu kabar dari orang kepercayaan papa!” perintah Erik menahan kepergian anaknya.


“Nggak Pa. Riella mau ke bandara sekarang! Kalau bisa Riella sewa pesawat buat terbang ke sana!” ucap Riella dengan emosi.


“Sayang ... jangan, kita tunggu saja kabar dari Yohan,” ucap Erik.


Ella yang mendengar Erik mencegah kepergian anaknya, hanya menggelengkan kepala, “Mas nggak tahu, betapa khawatirnya seorang istri, Mas. Biarkan aku yang menemani Riella, Mas kalau mau ikut, ayo! Tapi kalau tidak mau, jangan sampai mencegah kita!”


Terdengar helaan nafas dari Erik, "aku menunggu kabar dari Yohan dulu, secepatnya aku akan menyiapkan penerbangan ke Bali. Kamu tenangkan Riella dulu. Jaga dia!"


Riella yang menyadari bajunya terlalu terbuka, kembali masuk ke kamar. Saat dia tiba di kamar, ia masih berusaha menghubungi Kenzo, siapa tau Kenzo termasuk korban yang sudah selamat. Namun, tetap saja ponsel suaminya belum bisa dihubungi. Saat ia melihat nomor Eva menghubunginya, Riella segera mengangkat panggilan Eva, dia berpikir mungkin Eva bisa membantunya kali ini. Mengingat, Eva kebetulan tengah berada di Bali.


“Astaga Riella, itu benar pesawat suamimu nggak? Di sini, oh ... La, kamu mendengarkan aku nggak? Hantaman keras dari pesawat terdengar dari tempatku, jika Kenzo berada di dalam pesawat semoga dia termasuk orang yang selamat." Eva diam karena tidak mendengar suara Riella. "Sudah 35 orang penumpang ditemukan meninggal, dan kemungkinan masih ada lagi. Kamu tenang saja, pasti aku akan membantumu mencari informasi yang akurat.”


“Ya, terima kasih.” Riella tidak mampu menjawab panjang lebar penjelasan Eva. Tubuhnya terasa lemas saat mendengar 35 orang sudah ditemukan dan dinyatakan meninggal, karena korban kecelakaan pesawat.


“Tenangkan hatimu, serahkan semua pada Allah,” pesan Eva singkat lalu menutup teleponnya.


Setelah itu Riella mengganti bajunya, ia keluar rumah, bersama Ella dan sopir menuju ke bandara. Ingin mencari informasi tentang jatuhnya pesawat yang ada di Bali. Saat berada di mobil, pikiran Riella berlarian tidak tenang, bagaimana jika Kenzo berada di dalam pesawat tersebut, dan meninggalkan dia untuk selamanya.


“Nggak, Ma. Kenzo nggak akan ninggalin Riella lagi, kan?” Air mata Riella lolos melewati pelupuk matanya, seperti mengenang kejadian 10 tahun yang lalu, dia juga seperti ini, sama saat nomor ponsel Kenzo tidak bisa dihubungi, setelah itu Kenzo hilang tanpa kabar.


“Kita serahkan semua pada Allah, ikhlas apapun yang terjadi. Karena kita hanya mampu menerima takdir hidup. Kita tidak bisa menawar atau melawan takdir. Jadi serahkan semuanya pada-Nya." ucap Ella, yang terus menenangkan anaknya.


“Ma ... baru semalam aku menjalankan kewajiban sebagai seorang istri, baru tadi siang Riella berjanji pada Kenzo, akan berusaha melupakan masa lalu Riella, tapi kenapa seperti ini? Kenapa Allah tidak memberiku kesempatan untuk memperbaikinya, Ma?” ucap Riella, air matanya semakin deras, mengeluarkan sedikit demi sedikit apa yang menyiksa hatinya saat ini. Ella hanya bisa menenangkan anaknya, berusaha untuk kuat demi memberi semangat untuk Riella.


Saat tiba di bandara, Riella berlari kecil menuju pusat informasi, ia mencari daftar nama penumpang, yang diinformasikan pihak petugas bandara. Riella mengeluarkan air matanya lagi, saat melihat nama Kenzo, masuk ke dalam daftar korban penumpang kecelakaan pesawat. Nomor boarding pass Kenzo juga jelas tercantum di sana. Jadi Kenzo benar-benar masuk ke dalam pesawat naas itu.


Riella memejamkan matanya erat, berusaha untuk menyangkal apa yang terjadi saat ini. Tapi tidak, ketika ia membuka mata, tangisan orang di sampingnya semakin kencang. Saat mereka mendengar informasi jika anggota keluarganya dinyatakan meninggal. Riella semakin kacau, ia tidak ingin mendengar berita itu, ia hanya ingin mendengar suara Kenzo lagi yang memanggil namanya.


Bayangan dan pesan terakhir Kenzo sebelum ia masuk ke bandara, masih terdengar jelas melewati telinganya. Suara lembutnya, kecupan pipi kanan dan kiri masih terasa hangat, masih bisa ia rasakan saat ini, tapi tidak dengan kehadirannya.


Ella yang berdiri di belakang tubuh Riella mulai memainkan ponsel untuk menghubungi Kalun. Berharap anak lelaki satu-satunya itu, bisa membantu Riella yang saat ini tengah khawatir dengan kondisi suaminya.


🙄


🙄


🙄


🙄Like, komentar, dan VOTE😂