The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Masih Butuh Kamu Untuk Melupakannya



Riella berjalan mendekat ke arah bed tidur Kenzo. Ia duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Terus menikmati wajah tampan suaminya yang belum bergerak sama sekali. Riella ingin menjadi orang pertama yang Kenzo lihat, saat lelaki itu sadar dari tidurnya.


“Sudah 3 hari, Ken. Kenapa kamu tidak segera bangun?” tanya Riella sambil mengusap punggung tangan Kenzo.


“Jangan membuatku semakin merasa bersalah, Ken. Andai saja melupakannya bisa semudah membalikkan tangan. Andai saja aku bisa langsung menempatkan kamu di hatiku. Akan aku lakukan semua itu, Ken." Riella menghentikan ucapannya kembali menatap wajah Kenzo, "Tapi nyatanya tidak. Semua butuh waktu, melupakan tidak semudah mengganti baju. Dan, aku masih butuh kamu untuk membantuku melupakannya. Jadi, cepatlah bangun, Ken!” Riella mengusap air matanya yang mulai membasahi pipi.


Sudah 3 hari ini, dia merasa jadi wanita cengeng, tiada hari tanpa suara tangisan dari bibirnya, tapi Riella wanita pintar, untuk menyembunyikan itu semua, dia selalu seperti ini, tidak ingin orang lain melihatnya. Kecuali waktu itu, waktu di mana Kenzo kecelakaan pesawat, dia tidak bisa mencegah untuk menyembunyikan rasa sedih dan kehilangannya. Riella menunduk di sana, sampai ia tertidur dengan wajah yang menghadap ke arah bawah. Tenggelam dalam mimpi yang indah dari realita kehidupannya. Sampai sebuah tangan, membangunkan dia dari tidur singkatnya.


“Riella ... bangunlah, Sayang! Pulanglah ke hotel, kamu pasti lelah!” Nindi bergumam lirih sambil terus mengusap punggung Riella.


Riella yang mendengar suara lembut seorang wanita, segera membuka matanya. Riella tersenyum tipis meski tidak tahu betul siapa yang datang. Karena dia masih menutup matanya.


“Tidurlah di hotel, biar mama dan papa Haikal yang menjaga Kenzo. Kamu pasti lelah, kan?” bujuk Nindi memperhatikan wajah lelah Riella. Riella menanggapi dengan senyuman, seolah ingin menyangkal bahwa dia tidak lelah, dia masih kuat menemani suaminya.


Namun, karena bujukkan Nindi yang terus menghasutnya, Riella akhirnya mengalah. Semua demi kesehatannya, tidak salahnya juga ia tidur nyenyak siang ini.


“Riella titip Kenzo ya, Ma. Semoga dia segera bangun, saat Riella pergi,” kata Riella singkat lalu berdiri dari duduknya. Mendekat ke arah wajah Kenzo. Tanpa rasa malu ia mencium dahi Kenzo di depan mertuanya.


“Ma, kalau sesuatu terjadi dengan Kenzo, ingat untuk menghubungi Riella, ya!” Pesan Riella sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan ruangan. Nindi mengangguk lalu mengantarkan Riella ke pintu keluar ruangan.


Tidak butuh waktu lama Riella berjalan dari rumah sakit ke hotel, karena jarak yang lumayan dekat. Tiba di sana Riella menghempaskan tubuhnya di ranjang, menghilangkan rasa pegal di pinggang yang sudah beberapa hari ini ia rasakan. Riella tidak peduli dengan tubuhnya yang sudah sebau apa, Karena sejak kemarin sore dia belum mandi.


***


Sore hari Riella baru membuka matanya, ia terbangun ketika jarum jam tepat berhenti di angka 4. Ia lalu segera membersihkan tubuhnya, untuk bergegas ke rumah sakit, menggantikan kedua mertuanya untuk menjaga Kenzo. Takut mertuanya menunggu lama, Riella memilih untuk memakai jasa taksi online untuk mengantarnya ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit ia berlari kecil menuju ruang yang Kenzo tempati. Tanpa mengetuk atau mengucapkan salam, Riella masuk ke dalam ruangan Kenzo. Membuat Nindi dan Haikal yang berada di sana terkejut, melihat betapa kasarnya Riella saat membuka pintu.


“Kenapa, kamu, La?” tanya Nindi khawatir, ia mengerutkan dahinya saat melihat nafas Riella yang terdengar ngos-ngosan.


“Emmm nggak papa, Ma. Riella cuma takut kenapa-napa dengan kenzo. Maaf tadi Riella tidur terlalu lama jadi datang terlambat.”


“Astaga ... nggak papa, La. Nggak usah minta maaf, Mama ini masih ibunya jadi wajar kalau harus menjaga Kenzo.” Nindi menjelaskan pada menantunya, supaya tidak terlalu sungkan dengannya.


“Berhubung kamu sudah datang, Mama dan papa cari makan dulu ya!” lanjut Nindi yang langsung diangguki oleh Riella. Setelah itu Nindi dan Haikal meninggalkan ruang rawat Kenzo.


Riella hanya membuang nafas lelah, sambil mengerucutkan bibirnya, “aku pikir kamu sudah bangun, Ken. Sampai aku takut. Jika aku bukan orang pertama yang kamu lihat, ketika kamu membuka mata.” Kata Riella mendekat ke arah Kenzo.


“Selamat sore tuan Kenzo, cepatlah bangun, apa kamu tidak merasa risih? Sudah 3 hari kamu tidak mandi?!” Riella berjalan mengambil air hangat beserta handuk kecil untuk menyeka tubuh Kenzo, setelah melihat suaminya itu belum bergerak sama sekali.


“Kapan kamu bangun, Ken? Jangan terlalu lama tidurnya.” Riella mengusap pipi Kenzo, “apa kamu tidak merindukan aku, hum?” lanjutnya membenarkan tempat duduknya, bersila menghadap Kenzo. Supaya lebih nyaman menatap wajah Kenzo.


“Hari ini, aku khawatir sekali. Aku takut saat kamu bangun dan aku tidak berada di sampingmu. Lalu kamu dibawa pergi sama mama dan papa dan aku tidak bisa bertemu lagi denganmu,” ucap Riella, mengungkapkan kekhawatiran yang ia rasakan.


Tangan Riella terus bermain di wajah Kenzo, mendaratkan jemarinya di atas alis hitam Kenzo, membelainya lembut bulu hitam pendek itu. Lalu semakin turun memberikan sentuhan sensual di wajah Kenzo. Hingga telunjuk tepat di belahan bibir Kenzo, mengusap bibir Kenzo lembut, seperti mengoleskan pelembab bibir di sana.


“Wanna taste it?”


Sontak Riella yang mendengar suara serak Kenzo segera menjauhkan tangannya, dari jangkauan bibir Kenzo. Ia masih diam menatap wajah Kenzo dengan lekat.


“Ingin mencicipinya?” ucap Kenzo dengan suara lirih, dia masih memejamkan matanya. Namun, Riella masih terdiam, belum ingin mengeluarkan suara merdu miliknya. Dia takut jika dirinya tengah berhalusinasi atau terlalu berharap, jadi ini hanyalah mimpi.


Masih dengan memejamkan mata, tangan Kenzo yang masih lemah, meraih tengkuk Riella untuk mendekat lagi dengannya.


“Wanna taste it, my wife? Aku sudah sadar, jangan bengong begitu? Atau kamu lupa jika aku suamimu?” kata Kenzo berbisik di daun telinga Riella.


“Ken, ini benar?” tanya Riella memastikan. “Aku tidak sedang berhalu kan, Ken?” lanjutnya tampak bahagia, meski matanya sudah terlihat jelas air matanya yang sudah menggenang.


“Iya, aku sudah sadar, karena kamu merawatku dengan baik.” Kenzo perlahan membuka matanya, di sambut senyum ramah dari Riella.


Merasa bahagia melihat mata Kenzo yang bergerak, Riella menangis sambil menutup mulutnya, isakkannya terdengar membuat Kenzo justru tersenyum tipis ke arahnya.


“Kenzooo ...” panggil Riella manja sambil memeluk tubuh Kenzo yang terbaring di bed. “Akhirnya kamu bangun, kita ketemu lagi, di dunia yang sama.” Riella memeluk erat kenzo, hingga tanpa sadar dia kini berada di atas tubuh suaminya.


“Aduh ... dadaku sesak! Tolong jangan menindihku!” peringat Kenzo yang menyadarkan kelakuan Riella.


“Nggak, kamu pura-pura saja! Kamu nggak tahu betapa aku khawatir padamu,” kilah Riella yang masih berada di atas tubuh Kenzo. Menyandarkan kepalanya di dada Kenzo yang bidang, tanpa peduli jika paru-paru suaminya, tiga hari ynag lalu, habis tersiram air laut. Namun, akhirnya ia sadar setelah mendengar suara batuk Kenzo, dan itu membuatnya panik. Riella segera turun dari bed, tanpa peduli Kenzo yang tersenyum tipis, ia berlari keluar ruangan, memanggil dokter jaga.


🚑


🚑


🚑


Jangan lupa like, komentar dan vote.🤭👍