
Hayok vote dulu, biar bertahan rankingnya ... saranghae wes pokoke buat readers tercinta ♥️♥️♥️🤭 terima kasih,🤣
♥️
♥️
♥️
Tiga hari sudah terlewati, tadi malam Kenzo sudah diperbolehkan untuk keluar rumah sakit. Mereka berdua kembali ke hotel yang sudah di tempati Riella beberapa hari ini. Meski Erik meminta Riella untuk menginap di resort milik keluarganya, tapi tetap saja Riella menolak dengan alasan jarak yang cukup jauh.
Dan pagi ini, terlihat sepasang manusia masih terlelap di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh masing-masing. Mereka kelelahan setelah sekian ronde menggoyang ranjang hotel, beberapa jam lalu. Semua karena permintaan Kenzo yang memaksa Riella untuk melayaninya. Dengan dalil ketaatan pada suami, Riella akhirnya mengalah dan melayani suaminya yang rindu akan belaian.
Suara ketuk kan pintu mereka abaikan, tidak bergerak sama sekali dari posisi tidurnya. Masih terlelap dengan pembatas guling di tengahnya, menandakan daerah kekuasaan masing-masing.
Flashback
Pergulatan hebat ronde kesekian, telah usai semenit yang lalu. Dengan Riella berada di atas tubuh suaminya, dan Kenzo yang berada di bawah, memeluk erat tubuh Riella yang sedang mengatur ritme nafasnya. Kenzo tersenyum dengan mata sedikit mengintip wajah Riella yang penuh keringat.
“You won!” puji Kenzo mengusap rambut Riella yang lembab karena kucuran keringat.
Riella meletakkan dagunya di dada Kenzo, wajahnya sangat dekat dengan suaminya saling bertukar nafas, hingga kehangatan menyentuh wajah mereka masing-masing.
“You lose,” sahut Riella berniat menjatuhkan tubuhnya di samping Kenzo. Tidak peduli ada benda yang masih menyatu dengan dirinya. Karena rasa lelah sudah mengalahkan semuanya.
“Hem … jangan bergerak, dia belum sepenuhnya terlelap!” peringat Kenzo menahan tubuh Riella untuk tetap berada di atas tubuhnya.
“Aku lelah, Bee.” Riella tetap melanjutkan niatnya, tidak peduli dengan peringatan suaminya dan hal itu semakin membuat Kenzo frustasi. Adik kecil yang belum sepenuhnya mengkerut kembali memanjang karena gesekan yang diberikan istrinya.
“Biar aku yang bekerja, Nee ….” Kenzo membalikkan tubuhnya, kini dia sudah berada di atas tubuh Riella. Baru dia akan memulai, tendangan kaki Riella melemahkan apa yang tadi mengeras.
“Aku lelah jangan memaksaku!” bentak Riella, seraya menjauhkan tubuh Kenzo.
Seketika Kenzo langsung melepaskan diri dari tubuh Riella, menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya. Memberi pembatas guling supaya dia tidak kembali tergoda dengan tubuh Riella yang belum tertutup kain.
Flashback off
Dan pagi ini Riella lebih dulu terbangun dari suaminya, mengingat kejadian semalam yang sudah membentak Kenzo, rasa bersalah hinggap dihatinya. Tangannya mengusap rahang suaminya lembut, ingin mencubit gemas bibirnya supaya Kenzo segera bangun. Namun, tidak ia lakukan, dia masih menyayangi bibir Kenzo yang merah itu.
“Bee … bangun sudah siang aku lapar.” Riella menggoyangkan lengan Kenzo, supaya segera terbangun dari tidur nyenyaknya. Namun, yang terjadi Kenzo tidak kunjung bangun. Riella justru takut terjadi sesuatu dengan Kenzo, karena seingatnya kondisi suaminya belum sepenuhnya pulih.
“Ken … kamu baik-baik saja, kan?” tanya Riella sudah mendudukkan tubuhnya, menempelkan tangannya di dahi Kenzo.
“Nggak,” jawab Kenzo singkat, terdengar jelas suaranya yang serak. “Bagaimana aku akan baik-baik saja, jika melihat quisy mu terekspos sempurna.” Kenzo membuka satu matanya, mengintip tubuh te*lanjang Riella.
“Alby,” ucap Riella menyerahkan ponselnya pada Kenzo, meminta Kenzo untuk segera menjawab panggilan temannya.
“Kenapa?” tanya Kenzo pada Alby saat panggilan sudah tersambung.
“Aku sudah membuat janji dengan Zain, Abang bisa menemuinya nanti.”
“Hmmm kirim saja alamat dan jam nya!” terdengar suara perintah dari Kenzo. Ia lalu segera mematikan panggilannya. Kembali ingin menggoda Riella yang masih berdiri di samping tempat tidur.
“Mandilah dulu sebentar lagi kita akan bertemu temanku!” perintah Kenzo, sama sekali tidak diindahkan Riella.
“Aku di hotel saja, aku masih ngantuk.” Riella justru menjatuhkan tubuhnya di samping Kenzo.
“Ow … apa kamu masih mau menikmati cairan maduku saat siang hari? Kenapa kembali tertidur di sampingku!” goda Kenzo mendekati lagi ke tubuh Riella.
“Ken!” panggil Riella dengan suara keras. Tapi Kenzo yang tidak menyukai panggilan Riella, langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela.
“Iya. iya … Bee!” Riella mengoreksi panggilannya, “Kamu ini lelaki berkadar mesum tertinggi yang pernah aku temui,” aku Riella membuat Kenzo tersenyum bangga.
“Iyakah? Hebat dong aku ya?” Kenzo memeluk tubuh Riella, “kamu harus ikut, aku akan mengenalkanmu dengan Flora, pasti kamu senang.” Kenzo lalu mendudukan tubuh Riella, tergelak saat melihat benda kenyal itu kembali terlihat.
“Mataku terkontaminasi, Nee. Jangan menggodaku kalau tidak mau melayaniku!” peringat Kenzo sambil menutupi matanya dengan sepuluh jari. Jangan harap bisa tertutup sempurna karena jarak jemarinya sengaja ia renggangkan.
“Dasar Kenzo gila!” Riella berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan Kenzo yang tengah tertawa renyah.
Keusilan Kenzo tidak berhenti di situ, ia seperti mendapat angin segar ketika melihat celah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Ide cemerlang bermunculan di otaknya. Tapi hanya satu yang dominan untuk ia lakukan. Kenzo berjalan pelan ke arah pintu kamar mandi.
“Baaaahh ….” Kenzo berteriak keras dengan nada mengageti Riella ketika pintu kamar mandi terbuka sempurna. Namun yang ada, hanya pantulan dirinyalah yang terlihat di cermin. Dia hanya mendapati selimut yang tadi Riella gunakan tergeletak di lantai. Terlihat sekali wajah kecewa Kenzo, saat tidak berhasil membuat kaget istrinya.
Melihat Riella yang tengah berendam di air sabun, membuatnya ingin menceburkan diri di sana. Riella yang sejak tadi menahan senyum karena kelakuan Kenzo. Akhirnya pecah, saat kaki Kenzo melangkah di bath up menyusulnya berendam.
“Masa kanak-kanakmu kurang bahagia pasti ya, main kaget-kagetan kaya gitu? untung nggak punya penyakit jantung bawaan.”
“Masa kecilku bahagia, ketika masa libur tiba. Dan kita bisa bertemu, bermain bersama, itulah masa terindahku.” Kenzo lalu membantu Riella membersihkan punggungnya.
Pagi menjelang siang itu mereka hanya mandi bersama. Tidak ada kegiatan panas di kamar mandi. Walaupun harus Kenzo akui, jika dia kesusahan untuk menahannya. Tapi keputusan Riella juga harus ia hargai.
Satu jam sudah berlalu, mereka berdua keluar dari kamar dengan pakaian senada. Sama persis seperti ABG alay saat baru pertama kali pacaran. Kenzo melingkarkan tangannya ke pinggang Riella berjalan keluar hotel hendak menemui rekannya.
♥️
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA!