
Kenzo yang baru saja tiba, segera berjalan ke arah dapur untuk meletakkan es krim pesanan Riella. Beruntung dia membelinya di daerah dekat sini, jika tidak pasti sudah meleleh, dimakan waktu. Dia menghembuskan nafas kasar ketika melihat tubuh Riella yang terbaring di sofa.
Kenzo tidak tega untuk membangunkanya, tapi mengingat jam dan calon anaknya, dia yakin istrinya itu belum mengisi perutnya malam ini. Kenzo lalu berjongkok di samping sofa, mengahadap Riella, mengamati wajah polos sang istri yang mungkin tengah bermimpi indah. Tangannya dengan jahil menekan-nekan hidung sang istri dengan jari telunjuknya.
Riella yang merasa terganggu mulai mengeluarkan rintihannya, tangannya berusaha mengusir jauh tangan jahil Kenzo. Tapi itu semakin membuat Kenzo tertarik untuk menggodanya. Andai istrinya itu tidak sedang hamil, pasti dia akan menindihnya.
“Makan yuk!” ajak Kenzo, padahal dia tahu, tidak ada makanan tersaji untuk malam ini di meja makannya. Tidak mendapat respon dari Riella, gerkannya yang tadi Riella proteskan tidak ia keluarkan lagi. Kenzo kembali menggodanya, kali ini di area hidung yang ia sentuh, bibirnya bergerak meniup-niup anak rambut Riella yang menutupi telinganya. Menggoda supaya sang istri mau bangun.
“Capek, sana pergilah!” Riella mengusir sesuatu yang menganggu tidurnya. Dia belum sadar jika sang suami sudah pulang dan membawakan pesananya. Dia begitu lelah saat ini, mungkin efek menemani Kenzo bergelantungan tadi.
“Kamu nggak kasihan ya sama anak kita? Dia kelaparan nanti, kamu nggak lihat dia gerak-gerak?” tanya Kenzo sambil memainkan telunjuknya di perut Riella. Mencoba mencari pergerakan calon anaknya.
“Kamu sudah pulang.” Riella mencoba menetralkan suaranya, saat merasakan kehadiran sang suami, dia tidak habis pikir jika suaminya itu sudah tiba di rumah tapi enggan membangunkannya.
“Sudah tiga puluh menit yang lalu,” jawab Kenzo sambil mengambil duduk di sofa, dia menggantikan bantal Riella dengan pahanya.
“Kenapa tidak membangunkan aku?” Riella mendongak menatap wajah Kenzo yang lebih tinggi darinya. Sorot matanya teduh menatap wajah sang suami.
“Nggak bilang? Aku membangunkanmu sudah lima belas menit yang lalu.” Kenzo menyengir, “apa kamu capek?” imbuhnya sedikit khawatir, tangannya mengusap rambut Riella yang menutupi dahinya.
Riella berpikir, sambil mengamati ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam, “Tidak. Aku di rumah saja tadi. Cuma—
“Cuma apa?” potong Kenzo bertanya dengan nada khawatir. Dia takut jika istrinya terluka ataupun sejenisnya.
“Pegel saja. Aku tidak apa-apa. Jangan panik seperti itu!” Riella tersenyum mencubit pipi sang suami. “O, ya di mana es krim pesananku? Kamu belikan, kan?” tanya Riella menagih. Dia teringat kenikmatan es krim yang tadi siang ia makan.
“Bukannya kamu tadi siang sudah makan es krim ya, jangan terlalu banyak makan manis-manis nanti bisa diabetes!” peringat Kenzo. Dia teringat dengan ucapan salah satu dokter yang biasa ia lihat di aplikasi ponselnya.
“Sedikit saja, Ken! Boleh ya, ambilkan sekalian!”
Mendengar perintah Riella, Kenzo justru menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Pikirannya melayang, nanti kalau bayinya berat badanya terlalu besar, istrinya akan kesulitan mengeluarkannya, membayangkan tanyangan video yang ia tonton tadi membuat bulu kuduknya berdiri. Kenzo mengusap tengkuknya, sambil menelan ludahnya lagi.
“Nurut, deh ya! Sekali ini saja demi kamu juga. Aku tidak ingin melihatmu kesakitan nanti!”
“Apaan sih, Ken! Jangan terlalu posesif gini deh!” Riella yang mulai keras kepala mulai lagi menentang suaminya. Dia lalu bangun dari posisi tidur, menggelung rambutnya yang panjang. Dia hendak pergi ke dapur untuk mengambil es krim pesananya.
“Ya, Dek!” sapanya sambil mendekatkan ponsel ke telinganya. Tapi yang dia dengar hanyalah isakan tangis dari Maura. Dan itu membuat Riella khawatir dengan kondisi adiknya saat ini. Pikirannya sudah melayang tentang kejadian buruk menimpa sang adik.
“Kenapa?” tanya Riella saat tidak kunjung mendapat jawaban. “Ayolah jangan menangis, dan ceritakan semuanya pada kakak!” imbuhnya meminta, rasa penasaran dan khawatir bercampur menjadi satu.
“Kak. Kakak bisa pulang ke Jakarta dulu nggak?” Maura justru bertanya padanya, dan membuatnya semakin bingung.
“Katakan alasannya cepat, kenapa kamu meminta kakak pulang ke Jakarta?”
Kenzo yang mendengar ucapan Riella, kini ikut mendekat, dia khawatir ada hal buruk yang menimpa keluarga sang istri. Apalagi melihat raut cemas Riella pasti ada hal buruk terjadi.
“Maura ….” Wajah Riella tampak khawatir, dan itu menyalur ke wajah Kenzo. Dia mengkhawatirkan kondisi istrinya, dia takut Riella akan drop lagi. Mengingat jika sang istri belum sembuh total.
“Papa … Kak. Papa sakit, dia masuk ICU Kakak kalau bisa pulang. Pulanglah!” Maura mengatakan sambil menangis, dan itu membuat Riella kalang kabut. Dia mencari pegangan lengan Kenzo, berusaha berpikir jernih, memikirkan langkah apa yang akan ia ambil.
“Kak, sudah ya, Rara matikan. Rara mau nenangin mama dulu, kak Kalun juga belum bisa datang, karena tengah berada di Solo.” Maura lalu memutus panggilan telepon, meninggalkan Riella yang masih ingin mengetahui kondisi papanya.
“Kenapa?” tanya Kenzo khawatir, nadanya lembut, ingin tahu apa yang terjadi.
“Papa sakit, kita ke Jakarta sekarang!” jawab Riella sambil berjalan ke kamar, “Minta Alby untuk mencarikan tiketnya. Kita harus berangkat malam ini juga!” Riella tidak berhenti berbicara, sambil menyiapkan semua kebutuhannya, berusaha menghilangkan perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba di hatinya. Selama ini papanya selalu terlihat baik-baik saja saat berada di depannya. makanya ia terkejut saat mendapati erik tengah masuk ke ruang ICU. Dia takut papanya menyembunyikan penyakit yang ia derita.
Tanpa menjawab, Kenzo segera menghubungi Alby untuk memesankan tiket ke Jakarta saat ini juga. Dia akan menemani Riella malam ini, dan menyerahkan urusan kantor pada adik angkatnya itu. Kenzo tidak berhenti mendengar isakkan yang keluar dari bibir sang istri, dan sendiri juga bingung bagaimana caranya menenangkan istrinya. Dia khawatir dengan kondisi keduanya. Karena sesuai anjuran dokter kalau Riella tidak boleh terlalu banyak pikiran, karena berpengaruh pada calon anaknya.
“Tenangkan pikiranmu, papa mertua akan baik-baik saja. Kamu lihat beberapa minggu yang lalu dia tampak sehat. Pasti hanya kecapean saja, jadi kondisinya drop.” Kenzo mencoba menenangkan Riella yang tengah menangis sambil menyusun perlengkapannya untuk pergi ke Jakarta.
“Tapi umur itu rahasia Allah, Ken! Kita tidak akan pernah tahu! Aku tidak akan memaafkan diriku, kalau papa pergi malam ini dan tidak sempat bertemu denganku! Anak kita belum lahir, papa nggak boleh pergi!” Riella memeluk Kenzo erat, mengusapkan pipinya yang basah ke baju sang suami, menularkan kekhawatirannya. Siapa tahu dengan cara ini dia bisa sedikit melepaskan beban yang ia rasakan saat ini.
“Jangan berpikiran terlalu jauh!” Kenzo berbicara sambil mengusap lelahan air mata Riella yang kembali turun. Meyakinkan pada Riella jika tidak akan terjadi hal buruk pada mertuanya.
Semua keperluan Riella sudah dimasukkan ke dalam koper, termasuk beberapa perlengkapannya. Kenzo menariknya koper itu ke depan teras, bersiap, supaya saat Alby datang mereka segera berangkat menuju bandara. Beruntung masih ada jadwal penerbangan terakhir malam ini. Dan diperkirakan mereka akan tiba di Jakarta pukul 12 malam.
Saat mobil berhenti, Kenzo segera memasukkan barangnya ke dalam mobil. Terpaksa dia harus mengambil es krim yang tadi ia masukkan di lemari pendingin, siapa tahu dengan memakan es krim vanilla itu Riella bisa sedikit merasa tenang.