The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Kedai Es Krim



“Aku melakukannya, Va.” Riella mengucapkan itu tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. Membuat Eva segera mendekat ke arah Riella, karena tidak paham apa yang diucapkan Riella.


“Tunggu, tunggu, tunggu. Apa maksudmu?” tanya Eva penasaran, dia sudah duduk di samping Riella bersiap mendengarkan penjelasan dari sahabatnya.


“Iya. Apa yang diminta kak Emil selama ini, dan kita kemarin benar-benar melakukannya,” jelas Riella, mengingat lagi memorinya karena Emil sudah memintanya sedari awal mereka berpacaran.


“Gila kamu ya!” Eva membulatkan matanya, menampilkan ekspresi marah, “apa yang akan kamu berikan pada suamimu nanti saat malam pertama, kalian?” lanjutnya sambil menarik bantal bermotif batik, lalu membawanya kepangkuannya, melampiaskan kekesalannya dengan dekapan erat.


“Dia yang akan menikahi ku, Va.” Terdengar sahutan Riella tak kalah keras dari suara Eva.


“Seyakin itu kamu?!” Eva menelengkan kepalanya, mengernyit menatap Riella, “kalian baru pacaran 6 bulan. Kamu sudah menyerahkan kesucianmu, setahun nanti kamu akan menyerahkan apa?! Rumah sakit, yang baru berpindah menjadi namamu kemarin?” Sindiran Eva terdengar kesal, dia merasa jengkel dengan sahabatnya setelah mendengar pernyataan Riella yang sudah kehilangan kesuciannya.


“Aku cerita padamu untuk mencari penghiburan, Va.” Riella mengubah posisi tidurnya menyamping menghadap ke arah Eva, memakai satu tangan untuk menahan kepalanya.


“Penghiburan? Apa maksudmu?! Memintaku untuk membenarkan zina? Kamu salah La, nggak seharusnya kalian melakukan itu, dan sebagai sahabatmu, sudah dari dulu aku memperingatkanmu, untuk jangan melakukannya.”


Terlihat Riella menahan nafasnya, lalu membuangnya perlahan, menatap ke arah Eva.


“Gimana, enak?” tanya Eva ambigu sambil tersenyum kecut ke arah Riella. Suaranya terdengar ejekkan bukan pertanyaan sebenarnya untuk Riella. Tapi wanita di depannya tidak menjawab, hanya terlihat sorot matanya, yang menampilkan penyesalan.


“Lelaki brengsek tahu nggak, yang merusak wanita hanya dengan nafsunya sesaat! Aku sumpahin jika dia selingkuh darimu, tidak akan kubiarkan dia tidur nyenyak sepanjang malam!”


“Jangan seperti itu, kak Emil mencintaiku. Dia tidak mungkin selingkuh!”


“Iya, sekarang!” sahut cepat Eva membenarkan posisi duduknya, “ibarat pernikahan kalian ini masih menikmati madunya cinta. Kamu nggak kepikiran bisa saja dia bosan denganmu! Bosan dengan hubungan kalian dan bisa saja mencari pelampiasan pada wanita lain, yang sudah resmi saja bisa selingkuh apalagi kalian yang baru berpacaran! Dan yang lebih penting kalian melakukan dosa, di agama manapun tidak membenarkan zina, La!” peringat Eva.


“Ah. Sudahlah Va. Jangan bicara lagi! Kepalaku tiba-tiba pusing tahu nggak, mendengar ocehanmu,” ujar Riella sambil menutup wajahnya dengan bantal.


“Ya, sudah terserah kamu. Yang penting sekarang kamu harus mengikat kak Emil erat-erat. Takutnya ia menyeleweng, celup sana celup sini!” peringat Eva sambil terbahak di pengujung kalimatnya.


“Nggak ya! Aku yang pertama untuknya sama dengan dia yang pertama untukku.”


“Kamu tahu?!” Eva membulatkan matanya dengan bibir sedikit tertarik ke atas.“Cowok itu tidak bisa terlihat mana yang sudah pernah melakukan maupun yang belum, emang miliknya bisa berbicara, kamu yang pertama Sayang, kamu yang pertama. Nggak, kan? Berbeda dengan milikmu, pasti akan terasa beda, tidak ada darah yang akan keluar, sekalipun kamu berkata belum pernah melakukannya.”


Riella kembali membuang nafasnya, “aku akan menghubungi rekanku yang ada di Korea, untuk melakukan operasi selaput dara.” Keputusan Riella membuat Eva terdiam, tapi tetap dengan senyuman kecutnya ke arah Riella.


“Yah, terserah. Jika ciptaan-Nya bisa ditiru, akan banyak diperjual belikan diluar sana! Ayo-ayo dibeli, dibeli! jual selaput dara 80 juta saja siapa beli, siapa beli, dijamin keluar darah kaya perawan!” kata Eva berlagak menirukan penjual asongan di akhir kalimatnya.


“Sudahlah, kamu lupakan jika aku pernah mengatakan ini padamu. Kamu antar aku jalan-jalan saja yuk! Kita beli es krim green tea sepertinya enak,” ajak Riella penuh semangat.


Eva diam, memainkan mata bulatnya menatap Riella. Hidupnya yang dulu monoton kini lebih bervariasi setelah mengenal Riella. Jadi sebagai sahabat baik Riella, dia harus turut menjaga rekannya itu, memperingatkan jika berbuat salah, memberikan motivasi ketika Riella membutuhkannya.


“Baiklah! Kamu tunggu, aku mau mandi dulu,” jawab Eva beranjak dari ranjang.


“Mendingan aku, nggak perawan tapi rajin mandi, dari pada kamu perawan jam segini belum mandi, mana ada cowok yang mau mendekat!”


“Ya, lebih baik akulah! Masih sempit, masih bisa keluar darah perawan,” goda Eva sambil berlenggang masuk ke dalam kamar mandi. Membuat sahabatnya yang masih rebahan di ranjang hanya bisa menggelengkan kepala menatap kepergiannya.


Setelah selesai bersiap, keduanya segera keluar dari halaman rumah Eva menuju kedai es krim langganan, yang biasa mereka kunjungi. Mereka tidak mengabari Chika, karena kemarin suami Chika baru saja tiba di Jakarta, jadwal Danish yang padat membuat Chika jarang bertemu dengan suaminya. Tapi justru Chika senang, karena dia masih bisa bebas seperti sebelum mereka menikah, karena pernikahan itu sebenarnya tidak diinginkan oleh Chika. Mereka menikah hanya untuk mempererat tali persahabatan atara kedua orangtuanya.


Tiba di tempat parkir kedai es krim, Riella mengawasi kedai es krim yang nampak ramai di depannya, banyak balon karakter kartun yang terlihat dari kaca bening kedai. Ia berniat mengurungkan niatnya, tapi karena Eva sudah turun dari mobil, ia akhirnya turun dan mengejar Eva yang sudah lebih dulu berjalan ke arah pintu kedai.


Riella dan Eva masuk ke dalam kedai, terdengar suara anak-anak lebih ramai dari yang ada di luar tadi. Riella menghentikan langkahnya ketika melihat punggung lelaki yang ia kenal. Cukup lama dia menatapnya dengan tatapan kesal. Hingga pertanyaan Eva membuyarkan pandangannya.


“Mau duduk di mana? Bengong saja!” tanya Eva memukul pelan punggung Riella.


“Emmm, nggak, aku nggak bengong! Heran saja kenapa ada dia di sini!” kata Riella sambil menunjuk ke arah Kenzo yang tengah bersendau-gurau dengan anak-anak yang memakai baju dengan warna yang sama.


“Nyari hiburan mungkin! Sudah ayo!” kata Eva, menarik tangan Riella ke arah tempat kursi kosong. Mereka memilih tempat yang jauh dari keramaian.


“Aku kemarin melihatnya, dia membuang kardus warna merah ke tempat sampah, aku rasa ia akan memberikannya untukmu!” terang Eva menatap ke arah Kenzo yang tengah menghibur anak kecil.


“Peduli amat dengannya! Kamu naksir ya? Ambil sana! sebelum diembat cewek lain!” kata Riella sambil menatap Kenzo sekilas, lalu kembali menatap wanita di depannya yang tengah tertawa.


“Kalau bisa pasti aku jadikan dia suamiku, siapa juga wanita yang mampu menolak pesonanya, lihat tuh, dia penyayang anak-anak! Dan lagi, tubuhnya impian wanita banget tahu nggak, La. Sayang kamu mengabaikan cintanya,” ucap Eva nampak bersemangat membicarakan Kenzo, “bagaimana nanti dengan anaknya sendiri. Pasti beruntung sekali wanita yang akan mendapatkannya!” lanjutnya beralih menatap ke arah Riella.


“Ya sudah sana! Buruan dekati!” kata Riella sambil tersenyum tipis ke arah Kenzo. Dalam hatinya membenarkan ucapan Eva, tapi dia nggak bisa membalas cintanya, karena lelaki itu sudah lebih dulu mengecewakan perasaanya.


Keduanya lalu memesan es krim yang biasa mereka nikmati. Tanpa membicarakan dan melirik ke arah Kenzo lagi, mereka berdua menghabiskan waktunya di kedai es krim, sambil menikmati cuaca panas siang itu.


Hampir dua jam mereka di sana, bercerita ke sana- kemari, seperti tidak ada kesibukkan selain bercengkrama membicarakan hal-hal yang tidak jelas. Hingga pukul dua siang mereka keluar dari kedai es krim. Riella meninggalkan Eva yang meminta izin untuk membayar tagihan.


Saat tiba di luar pintu, mata Riella menangkap sepatu sneakers putih yang menghadang langkahnya. Ia mendongak, matanya menangkap Kenzo yang tersenyum ramah ke arahnya.


“Minggir!” ketusnya meminta lelaki bertubuh tegap itu menyingkir dari depannya.


“Aku antar kamu pulang!” tawar Kenzo saat melihat langkah kaki Eva mendekat ke arah pintu transparan kedai.


“Nggak perlu! Aku bisa pulang sendiri!” tolak Riella mencoba mencari jalan melewati Kenzo.


“Sekali ini saja, izinkan aku mengantarmu!”


Riella menatap lekat ke arah Kenzo, membalas tatapan lembut lelaki di depannya dengan tatapan kesal. “Sekali saja!” singkat Riella, mengalah menuruti keinginan Kenzo. Membuat lelaki tampan di depannya, tersenyum lebar.


Tatapan Kenzo beralih menatap Eva yang baru saja keluar dari kedai es krim, mengisyaratkan pada Eva untuk pulang lebih dulu, karena dia yang akan mengantar Riella.


🚑


🚑


Jangan lupa dukungannya ya, tekan like, tinggalkan komentar, dan vote seiklasnya. Matur suwun sanget ; terima kasih banyak.🙏