
Jangan bosan baca note ini ya. Ella cuma butuh poin readers untuk bantu bertahan di rank 13. Kalau bisa naik Alhamdulillah sekali. Terima kasih semuanya muaaahhh😘 yang belum vote segera vote. Yang sudah tambah lagi juga gak papa.😆😆😆🙏
🚑
Cahaya matahari senja menyilaukan mata abu milik Kenzo. Sejak tadi ia berjalan di gurun pasir, sudah berkilo-kilo meter. Namun, tidak menemui ujung keluar, tidak ada kehidupan yang bisa ia temui di sana. Ia bingung mau berjalan ke arah mana lagi, tenggorokannya terasa kering, kakinya sudah lelah sejak tadi berjalan.
Kenzo menyipitkan matanya, melihat ke arah depan betapa luasnya hamparan pasir di depannya ini. Tangan kanan Kenzo terangkat melindungi matanya dari cahaya matahari. Ia bisa melihat jika ada titik hitam bergerak ke arahnya. Tapi penglinghatannya, tidak bisa melihat dengan jelas apa itu yang bergerak.
Titik hitam itu semakin mendekat ke arahnya. Semakin dekat, dekat lagi, hingga ia bisa melihat wajah lelaki yang menggunakan pakaian hitam. Lelaki itu memakai hoodie sebagai penutup kepala, kakinya masih sama dengan kakinya, masih bisa menyentuh pasir yang ia pijak.
“Papa …” panggil Kenzo saat bisa melihat dengan jelas wajah lelaki di depannya. Wajah lelaki itu mirip dengan papa Haikal. Lelaki itu tersenyum tipis lalu menurunkan penutup kepalanya, mengangguk pelan.
“Hai …, waktunya untuk pulang!” Lelaki berpakaian hitam itu merangkul punggung Kenzo, meluapkan rasa sayang, mengusap punggungnya dengan lembut penuh kasih sayang. Kenzo menatap ke arah lelaki di sampingnya, sedikit mendongak karena lelaki itu lebih tinggi darinya.
“Papa ngapain di sini?” tanya Kenzo saat menyadari jika lelaki di sampingnya itu benar Haikal. Namun, lelaki itu tidak menjawab, ia terus membawa Kenzo berjalan meninggalkan gurun pasir.
“Kita mau ke mana?” tanya Kenzo sambil mengikuti langkah lebar lelaki di sampingnya.
“Pulang. Karena waktumu sudah habis,” jawab lelaki yang berada di samping tubuh Kenzo. Dia menoleh sejenak lalu kembali menatap depan.
Kenzo ingin menghentikan langkah kakinya, memikirkan ucapan Haikal yang ingin membawanya pulang, tapi saat menatap ke arah depan ia tidak bisa melihat alat transportasi apapun di lokasi.
“Wajahmu seperti papa, tapi kau begitu dingin, kau bukan jelmaan papa, kan?” tanya Kenzo menatap lelaki di depannya meminta untuk seger amemberi jawaban.
“Kenzo Abyan Pratama, kamu harus pulang pada tanggal 23 juli meninggal karena insiden kecelakaan pesawat. Sampai sekarang belum ada yang bisa menemukan tubuhmu.” Lelaki itu berucap seperti membacakan naskah resmi di hadapan hakim.
“Tunggu, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Pulang? Pulang ke Banjarmasin atau ke rumah istriku? Aku berjanji pada Riella akan menjemputnya. Oh tidak … dia yang akan datang sendiri padaku.” Kenzo menggaruk kepalanya, merasa bingung dengan apa yang dia alami saat ini. Terasa sangat janggal.
“Buat apa kamu peduli dengan istrimu? Sedangkan dia tidak sama sekali peduli padamu,” ucap lelaki yang wajahnya sama persis dengan Haikal.
Kenzo semakin dibuat bingung. Dia ingin sekali pulang, tapi lelaki itu tidak mengatakan akan membawanya ke mana dia lalu mencoba menjawab ucapan lelaki di sampingnya. “Aku mencintai Riella, apapun keputusan yang dia ambil aku menerimanya, itu mungkin konsekuensi dari kesalahanku masa lalu.” Kenzo lalu menatap mata lelaki di sampingnya yang berubah menjadi merah.
“Kamu terlalu baik, Ken! Kamu terlalu lemah perihal cinta.” Lelaki itu terus membawa Kenzo berjalan semakin jauh, dari tempat pertama Kenzo berdiri, semakin dekat dengan pintu pemisah antara dua dunia.
“Sekarang pulanglah, kamu pasti bisa melihat betapa wanita itu kehilangan atas dirimu.” Ujar lelaki membujuk Kenzo.
Kenzo yang mendengar suara itu, langsung menoleh ke arah belakang. Terdengar dengan jelas suara Riella yang tengah menangis seraya memanggil namanya.
“Apa kamu bisa mendengarnya?” tanya lelaki di samping Kenzo, membebaskan Kenzo untuk melihat di balik tubuhnya.
“Aku nggak mau ikut Papa, aku tidak mungkin mengingkari janjiku padanya untuk yang kedua kali. Sampai kapanpun ia tetap menjadi orang yang berkuasa di hatiku. Sesering apapun aku kecewa, keyakinanku berkata jika secepatnya dia akan menjadi budak cintaku.” Kenzo berucap dengan tatapan percaya diri pada lelaki di depannya.
“Hei ... Paman tidak memberimu pilihan, kamu harus pulang sekarang juga!” Lelaki itu menarik tangan Kenzo membawanya masuk ke arah pintu keluar.
Tapi segera tangan Kenzo menahannya. “Paman?” Kenzo bingung sendiri karena setahunya paman mereka sudah mati.
“Nggak perlu aku jelaskan lagi, kan? Karena pembaca pasti sudah tahu!” sambil menahan senyum jenaka, Kenzie membawa tangan Kenzo segera masuk ke dalam.
“Paman Kenzie? Paman kan, sudah meninggal kenapa datang lagi? lepas atau aku bacain surah-surah!”
“Punya keponakan ternyata nggak punya otak! Kamu sudah mati, kita bisa melihat mereka dari sini!”
“Nggak Kenzo masih hidup, Kenzo akan segera pulang, dan memeluk Riella.” Kenzo melepaskan tangannya dari cekalan Kenzie.
“Ken ... nggak bisa kamu menawarnya, semua sudah ditulis dalam bukumu! Jadi terima saja takdir kita, mati di usia muda,” jelas Kenzie yang masih berada di depan Kenzo. Membujuk Kenzo supaya mau ikut dengannya.
Kenzo memejamkan matanya, mendengar suara tangisan Riella, yang terasa jelas melewati gendang telinganya. Ia semakin yakin jika ia harus meninggalkan pamannya ini.
“Maaf paman, Kenzo harus pergi!” teriak Kenzo sambil kembali berlari menjauhi Kenzie. Dia berlari kencang tidak mendengar dan menoleh ke arah orang yang masih menatap tubuhnya. Semakin dekat dengan suara tangisan Riella. Hingga seseorang mengangkatnya dari dalam air laut.
Ia merasa ada yang menindih dadanya dengan tangan, menekannya untuk mengeluarkan air yang masuk dalam paru-paru. Ia sempat pinsan dan tenggelam karena tangannya terbentur dinding pesawat.
Kenzo berhasil dievakuasi oleh petugas medis, dengan wajah membiru, Kenzo dibawa ke pusat evakuasi korban untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun, saat tiba di sana peralatan yang minimum membuat Kenzo harus segera dipindahkan dan mendapatkan perawatan terbaik secepatnya. Dan di sinilah Kenzo sekarang, di ruang ICU dengan beberapa selang dan kabel yang menempel di tubuhnya. Diiringi suara isakkan mamanya.
“Jangan pergi dulu, Ken. Biar mama yang pergi lebih dulu dari kamu. Kamu masih muda, kehidupanmu tidak pernah beruntung selama ini. Bertahanlah, setelah ini mama janji akan mewujudkan mimpimu, kamu akan punya keluarga bahagia, dengan istri dan anak-anak!” kata Nindi lirih, terus mengusap dahi Kenzo.
“Sudah, ayo! Pasti Kenzo akan segera sadar, biarkan dia istirahat dulu. Kita nggak boleh menganggu waktu istirahatnya.” Setelah itu Haikal segera membawa Nindi keluar rumah ICU membiarkan Kenzo beristirahat di sana.
🚑
🚑
🚑
Semoga bang Kenzo baik-baik saja. Jangan lupa like, komentar, dan vote ya🤭