The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Momen Bahagia



Kenzo melajukan mobilnya ke arah pasar tradisional, yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya. Sesekali ia mendengarkan suara Alby yang tengah mengobrol dengan Reva melalui sambungan telepon.


Kenzo sudah beberapa hari meninggalkan kantor, untuk menemani Riella di rumah sakit. Padahal sebelum ini, dia selalu menyibukkan diri, meski sebenarnya tidak begitu sibuk.


“Kau sudah menanyakan laporan kesehatanku, Al?” tanyanya ketika Alby sudah diam menantap jalanan. Kenzo memang meminta Alby untuk menanyakan ke dokter Lukas tentang resume medisnya.


“Hemm … sudah dua hari yang lalu, Bang.” Alby menatap Kenzo yang terlihat lelah. Ia merasa kasihan dengan pria di sampingnya ini, karena nasib sial selalu menimpanya. Tapi kali ini dia tidak bisa berpihak padanya karena Kenzo memang salah kaprah. Dan kesalahan besar Kenzo, dia tidak segera meminta tes kesehatan terakhirnya dulu, sebelum teraphy terakhirnya gagal karena kepulangannya yang dipercepat.


Mobil Kenzo berhenti di area parkir pasar Tungging. Kenzo turun untuk mencari bahan makanan yang dipesan Ella. Dia menarik tangan Alby untuk menemaninya mencari ikan karena dia selalu pusing jika mencium aroma ikan mentah.


Tiba di pasar hari sudah siang, sebagian pedagang juga sudah membereskan dagangannya. Mereka berdua sudah berkeliling dan menjadi pusat perhatian para penjual dan pembeli yang berkunjung ke pasar. Tapi tetap saja, mereka belum bisa menemukan penjual ikan tengiri.


“Tulak haja ke pasar iwak, di sini kadada iwak tengiri, mun handak nag ada iwak Barakuda ja! Nyaman jua gasan baulah empek-empek ; Datang saja ke pasar ikan. Di sini sudah tidak ada ikan tengiri. Ada ikan Barakuda kalau mau! Enak juga buat bikin empek-empek.” Terdengar teriakan penjual merayu Kenzo yang tengah menutup hidung dan mulutnya dengan tanga. Dia mencoba menahan nafas saat melewati beberapa penjual ikan yang ada di sana.


“Kita beli itu saja Bang, kan katanya boleh untuk bikin empek-empek? Sama saja kan, bisa buat tekwan.” Alby mencoba merayu Kenzo saat mereka tak kunjung menemukan pedagang ikan.


Kenzo menggeleng cepat, menolak tawaran Alby. Dia akan mencari ikan tengiri sampai ketemu. Padahal bentuk ikan tengiri seperti apa saja. Dia belum tahu. Kenzo lalu memutuskan untuk berpindah ke pasar nelayan. Setelah mendapatkan bahan pelengkap lainnya di sana.


Pasar nelayan sebenarnya tidak terlalu jauh dengan pasar tradisional. Tapi Kenzo membawa mobilnya, demi mempersingkat waktu.


“Kamu saja yang masuk, Al! pilihkan yang paling segar dan mahal!” Kenzo menunduk meletakkan kepalanya yang terasa berat ke stir mobil. Beberapa hari kurang istirahat benar-benar membuat daya tahan tubuhnya melemah. Tubuhnya kini mulai berat untuk digunakan berjalan, badannya juga sedikit demam, tapi ia berusaha menahan itu semua demi memenuhi permintaan Riella.


Saat Kenzo hampir masuk ke alam mimpi, suara panggilan telepon terdengar memenuhi mobilnya. Dia berpikir jika itu panggilan dari mertuanya yang meminta ia untuk segera pulang. Tapi bukan, nomor itu tidak ada di phonebook nya. Kenzo yang setengah sadar segera menggeser tombol terima.


“Hallo,” sapanya lirih sambil terbatuk.


Wanita di seberang telepon berbicara dengan bahasa asing. Dan Kenzo mampu menjawab dengan lancar saat wanita itu memberitahu padanya jika, pihak rumah sakit sudah mengirimkan hasil tes kesehatannya tadi pagi melalui email.


Setelah ponsel itu mati. Kenzo segera membuka email masuk di ponselnya. Tangannya tiba-tiba bergetar, jantungnya turut derdetak tak teratur saat melihat nama rumah sakit Singapura tertera di sana. Ia lalu menekan dan membuka lampiran email yang dikirimkan pihak rumah sakit.


Kenzo berdecak kesal saat layar tersebut menampilkan kata ‘silakan tunggu'. Kenzo sudah tidak sabar, ingin membaca resume medis nya. Layar ponsel di tangannya menampilkan laporan kesehatan terakhir di Singapura. Di sana tertulis jika sel sper*manya sudah kembali normal, kandungan sper*ma dalam air maninya sudah mencapai 175 juta/mililiter.


Kenzo memejamkan matanya. Air matanya sudah berhamburan keluar begitu saja, mengiringi bayangan perlakuannya pada Riella selama ini. Ia melajukan mobilnya pulang ke rumah, meninggalkan Alby yang tengah memilij ikan di dalam pasar.


Mobil Kenzo melaju kilat, perasaan bahagia bercampur penyesalan hinggap di hatinya saat ini, dia mau berusaha lebih keras lagi untuk minta maaf pada istrinya.


Tiba di rumah Kenzo langsung turun dari mobil, dan membawa barang belanjaannya ke dapur. Terlihat Ella tengah berbincang dengan Nindi, sambil terbahak.


“Riella mana, Ma?” Kenzo mengerutkan dahinya ketika tidak melihat istrinya di ruang keluarga.


“Ada di kamar.” Ella tersenyum saat melihat wajah Kenzo tampak khawatir saat tidak mendapati Riella.


“Dia jalan sendiri?” selidiknya karena takut terjadi hal-hal buruk dengan Riella.


“Iya, tadi Mama tuntun. Nggak perlu cemas begitu.”


“Mamaaaa … Maaaa!” Terdengar suara teriakan melengking dari arah kamar utama. Semua yang berada di dapur berlari ke arah kamar utama.


Namun, saat tiba di sana. Riella justru tersenyum senang sambil meraba-raba perutnya. Dan membuat tiga orang yang tadi berlomba lari menatapnya bengong.


“Kenapa?” tanya Ella mendekat ke ranjang.


“Perutku bergerak!” Riella mengadu, sambil tersenyum senang.


“Kamu senang kan, sekarang punya mainan baru?” Ella meledek sambil tertawa. “Apa ini pertama kali kamu merasakannya?” selidik Ella, yang masih mencari di mana letak gerak calon cucunya.


“Iya ….” Riella menjawab dengan senyuman yang masih tersisa.


Sedangkan Kenzo hanya diam menatap kebahagiaan yang saat ini Riella rasakan. Dia lalu meminta kedua mamanya untuk pergi dari kamar, memberi waktu untuknya berbicara dengan Riella.


Kedua wanita yang sudah tidak muda itu akhirnya keluar kamar. Memberi waktu Kenzo supaya menikmati momen berkesan pertamanya.


Kenzo masih menatap Riella yang tengah menikmati gerakkan halus dari calon bayinya. Istrinya itu tidak sadar jika ia sudah duduk tepat di sampingnya. Air matanya hampir terjatuh, saat merasakan atmosfer bahagia yang diciptakan istrinya. Dia ingin sekali menyentuh perut Riella, memeluk tubuh Riella dengan erat, meluapkan kebahagiaan dan kerinduan yang ia tahan.


Riella menoleh ke arah samping, menangkap Kenzo yang juga menatap dirinya. Raut wajahnya seketika berubah tak suka.


“Sejak kapan kamu di sini?” Riella sedikit menggeser tubuhnya, saat menyadari kehadiran Kenzo.


“Baru saja.” Kenzo berbohong, “kamu sedang apa? Aku lihat kamu senang sekali?” suara Kenzo terdengar hati-hati, dia sedikit takut jika Riella akan langsung mengusirnya.


Riella tidak menjawab, dia justru mengambil bantal dan meletakkannya di kepala ranjang, bersandar di sana sambil menunggu anaknya bergerak lagi. Merasa percuma, ia lalu meraih headphone dan ponsel yang ada di laci meja samping ranjang. Memutarkan music classic untuk calon anaknya.


Riella memejamkan mata, sambil mengusap perutnya dengan lembut. Dia terkesiap, tubuhnya duduk sempurna, bibirnya kini tertarik lebar saat merasakan gerakan bayinya semakin nyata. Ia terkekeh hingga giginya yang putih terekspos sempurna di mata Kenzo.


Kenzo yang melihatnya, ingin sekali merasakan gerakkan calon anaknya, tapi dia takut untuk mengatakan itu pada Riella. Dia tahu diri, empat bulan bukan waktu yang singkat untuk Riella menderita morning sickness dan gejala hamil lainnya. Ia harus bisa bertahan, demi calon bayinya. Demi Riella berada di pelukannya lagi.


“Kamu terlihat bahagia sekali.” Ucapan Kenzo membuat Riella kembali membungkam bibirnya, tapi tangannya masih berada di perut, merasakan gerakan bayinya yang mungkin, tengah meregangkan tangan.


“Ada yang ingin aku sampaikan padamu, La.” Dengan keberanian tinggi Kenzo merengkuh tubuh Riella. Istrinya itu tidak menolak dan membalas pelukannya. Tangan Riella menggantung di udara, ekspresinya juga datar. Kenzo memeluk lama, mencium dan menghirup wangi yang ia rindukan.


“Aku minta maaf, La.” Kenzo menangkup Riella, “ku mohon maafkan aku yang bodoh. Maafkan kebodohanku selama ini.” Kenzo memohon dengan mata kelabunya. Tatapannya penuh penyesalan.


“Kau datang ke kamar hanya untuk membahas masalah ini?!” tanya Riella. “Kamu merusak mood baikku! Pergilah!” Riella justru mengusir Kenzo, dia tidak ingin membahas kenangan buruknya sekarang. Dia tidak ingin melewatkan momen pertama ketika anaknya menendang perutnya.


“Maaf, iya aku tidak akan merusaknya.” Kenzo mengusap air mata di pipinya, “apa aku juga boleh merasakannya?” suara Kenzo membuat Riella terdiam, dia terlihat berpikir cukup lama untuk menjawab ‘ya’ sambil meletakkan tangan Kenzo ke perutnya. Kenzo berhak merasakan momen ini, apapun keputusannya nanti.


Kenzo seperti mendapat keajaiban, saat merasakan getaran dari perut Riella. Matanya kembali mengeluarkan air yang jatuh menetes ke punggung tangan Riella. Seolah membalas sentuhan Kenzo, calon anaknya menendang dengan keras ke arah perut Riella dan itu mengakibatkan getarannya semakin terasa. Kenzo tertawa di tangah tangisnya, kebahagian yang baru pertama kali ia dapatkan. Sedangkan Riella hanya tersenyum, tapi tidak selebar tadi.


Kenzo lalu meletakkan kepalanya di pangkuan Riella, dia mengambil posisi ternyaman supaya bisa menyapa calon anaknya.


“Hai anak Papi.” Sapanya pertama kali, suaranya terdengar serak. “Apa yang kamu lakukan di dalam sana?” tanyanya sambil melirik ke arah Riella.


“Mami begitu bahagia saat merasakan tendangan pertamamu, Papi juga tak kalah bahagia. Papi pikir Papi tidak bisa memilikimu, tapi Tuhan memberikan keajaiban untuk Papi. Terima kasih sudah bertahan, Sayang.” Kenzo lalu diam, tangannya mengelus lagi perut Riella, membuat lingkaran kecil dengan jari telunjuknya.


“Maafkan, Papi, Sayang. Papi yang bodoh di sini. Semoga kamu tidak menuruni sifat bodoh Papi. Bilang sama mami mu jangan tinggalin Papi sendiri di sini. Papi nggak tahu gimana jadinya nanti ... jika kalian pergi.” Kenzo terus berbicara sambil menikmati gerakan halus dari calon anaknya. Ia lalu mengakhirinya dengan kecupan lembut di perut Riella.


“Kamu sakit, badanmu panas?” Riella bertanya, saat tidak sengaja kulitnya bergesekan langsung dengan kulit Kenzo.


“Nggak. Aku cuma sedikit lelah.” Kenzo berpindah mendudukkan tubuhnya.


“Istirahatlah, aku melupakan Alby tadi di pasar, aku akan menjemputnya dulu,” ucap Kenzo. Tanpa mendengar jawaban dari Riella dia berjalan keluar kamar. Meninggalkan Riella di kamar sendirian.


...----------------...


Yang suka mereka bantuin promosi dong, lewat apa saja boleh. Terima kasih 😍