
Alby menginjak rem mobilnya dalam-dalam, saat melihat keributan di pinggir jalan. Perasaannya sungguh tidak nyaman, saat melihat beberapa orang berhambur mendatangi mobil yang baru saja mengalami kecelakaan. Dia segera turun karena jalanan kini juga macet, dia tidak bisa melewatinya.
Alby berusaha mendekat ke arah mobil, perasaanya semakin tidak nyaman saat melihat logo merk mobil Toy*ta. Dan di seberang jalan tak jauh dari mobil tersebut, ada sebuah truk yang menyalakan Hazard lamp nya. Truk itu sudah ringsek bagian bumper depan akibat kecelakaan yang baru saja terjadi.
Dia segera berlari ke arah mobil. Ketakutannya terjawab, dia segera meraih ponselnya yanb ada di kantung celana. Dia ingin mengabari Kenzo, jika Riella mengalami kecelakaan, di tempat yang sama saat Kenzo kehilangan Khalisa.
Jarak mobilnya dengan mobil yang dikemudikan Riella tadi memang sedikit jauh, karena dia sempat terhalang lampu merah. Selain itu Riella mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Astaghfirullah!” Sebutnya saat melihat kondisi mobil Kenzo yang juga ringsek bagian depan. Dia langsung berlari menuju pintu mobil samping kemudi.
Penduduk di sekitar cuma bisa diam. Mereka takut jika dimintai saksi, karena korban terluka parah. Alby yang melihat mereka hanya diam, hanya memaki dan berteriak-teriak tidak jelas.
Dia melihat kepala Riella yang sudah menunduk menghadap stir kemudi. Dress yang ia kenakan pun sudah berlumuran darah. Melihat itu dia semakin panik, pikirannya sudah tidak jernih lagi
“Riella! Kakak ipar! Kau dengar aku? Jawab?!” Alby berteriak sambil menepuk pipi Riella, dia ingin memastikan kondisi Riella. Awalnya, Riella tidak sadarkan diri. Tapi, mendengar seseorang memanggilnya, perlahan bulu matanya bergerak, dan dia berusaha membuka matanya. Dia ingin berbicara pada orang di sampingnya, saat mengetahui itu adalah Alby.
Alby! bibir Riella bergerak memanggil nama Alby. Tapi, tidak bisa mengeluarkan suaranya.
“Riella, bertahanlah, kita ke rumah sakit, sekarang!” Alby mencoba mengangkat tubuh Riella, dia ingin segera membawa ke rumah sakit. Tapi, Riella justru menahan tindakan Alby.
“A ... Al.” Riella sungguh kesusahan untuk menggerakan bibirnya. Tapi, sebisa mungkin dia menyampaikan pesan terakhirnya untuk Alby.
“Selamatkan bayi ini, Al! Kamu tahu abangmu sangat menginginkannya. Biarkan aku yang pergi, aku ikhlas. Please dengarkan keinginanku ini!” Riella mengeluarkan sisa tenaganya untuk mengatakan itu pada Alby. Dia rela jika memang ini sudah waktunya dia pergi.
“Jangan begitu! Ku mohon, bertahanlah! Aku akan menyelamatkan kalian. Bang Kenzo menyanyangi kalian berdua!” Dengan gerakan lembut, Alby menarik tubuh Riella dari mobil.
“Tolong buka pintu mobilnya!” teriak Alby, tanpa menunggu Kenzo datang. Alby segera membawa Riella ke rumah sakit. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Riella dan calon keponakannya saat ini.
Jantung Alby semakin berpacu cepat, rasa cemas tengah menyerangnya saat ini, ketika melihat mata Riella yang terpejam sempurna, dia menambah kecepatan laju mobilnya supaya segera tiba di rumah sakit.
Lima belas menit kemudian mobil Alby berhenti di depan pintu UGD, dia berteriak-teriak meminta perawat membawa brankar untuk Riella. Setelah itu dia hanya bisa menunggu, kerena dokter tidak mengizinkan dia untuk masuk.
Alby kembali menghubungi Kenzo, menanyakan posisinya saat ini. Tapi baru sambungan pertama terlihat mobil Kenzo berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Tampak Kenzo mengabaikan teriakan petugas keamanan yang meminta meletakkan mobilnya dengan benar.
Kenzo berlari menghampiri Alby, penampilannya sungguh beda dari yang tadi. Dia tahu kondisi tubuhnya sedang tidak baik.
"Bagaimana?" tanya Kenzo.
“Dokter masih menanganinya! Kita tunggu saja, Abang tenang!” Alby berusaha menangkan Kenzo saat melihat gelagat Kenzo yang tampak panik. Pria itu mondar-mandir tidak jelas sambil menatap pintu ruang UGD. Tangan dan bibirnya tidak berhenti untuk bergerak. Entah apa yang digumamkan Kenzo, dia pun tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
“Bagaimana kondisi terakhir kamu melihatnya? Apa dia sampai berdarah-darah? Aku salah di sini!” Kenzo bertanya, dia juga menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Riella. Dia duduk di kursi besi warna hitam. Menunggu dokter keluar dari ruang UGD.
“Apa dia parah, Al?” tanya Kenzo sambil mengusap air mata bercampur ingusnya yang terus keluar. “Hubungi mereka jika memang seperti itu.” Suara Kenzo terdengar serak, dia tidak bisa melakukan apapun saat ini fokusnya hanya untuk Riella.
Pintu ruang UGD terbuka. Dokter keluar dari ruangan, dia mencari-cari keluarga korban kecelakaan yang tengah ia tangani.
“Ada suaminya di sini?” tanya seorang dokter pria yang menghampiri Kenzo dan Alby. Mereka tidak sadar jika sedari tadi dokter itu tengah mencari keluarga pasien. Kenzo tengah terhanyut dalam kesedihannya. Dan Alby tengah mengabari keluarga Riella yang ada di Jakarta.
Kenzo lalu mendongak saat melihat sepatu hitam berhenti di sampingnya.
“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?” Tanya Kenzo berdiri di depan sang dokter. Dari nadanya dia sudah terdengar khawatir.
Dokter di depan Kenzo membuang nafas kasar, dia menatap kenzo dengan nada khawatir.
“Maaf kita harus menyelamatkan salah satunya demi menghentikan pendarahan.”
“Apa separah itu? Bisakah dokter menyelamatkan keduanya?” Kenzo bertanya, dia sedikit menuntut supaya dokter menyelamatkan dua orang yang tengah berjuang di ruang UGD.
“Saya akan berusaha, sekuat tenaga. Tapi, jika darurat saya akan mengambil keputusan yang terbaik.”
“Selamatkan istri saya!” sahut Kenzo cepat. Dia tidak perlu ragu lagi untuk mengambil keputusannya, apapun yang terjadi, Riella harus selamat.
“Bang! Riella bilang padaku, untuk menyelamatkan bayinya.”
“Tutup mulutmu! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!” Kenzo lalu menatap dokter di depannya.
“Baiklah, jika seperti itu, segera tanda tangani surat pernyataannya. Karena kita harus segera melakukan operasi.” Dokter itu lalu pergi meninggalkan Kenzo.
“Bang!”
“Cukup, Al! Jangan katakan lagi! Apapun alasannya aku akan lebih memilih menyelamatkan ibunya!” Kenzo segera berlalu menuju meja administrasi. Dia segera menandatangani surat pernyataan yang diminta dokter. Supaya dokter segera bertindak.
Bohong jika dia tidak ingin menyelamatkan anaknya. Tapi, jika Allah lebih sayang dengan bayi itu mau tidak mau dia harus melepaskan apa yang dia inginkan saat ini. Dia yakin Allah punya rencana indah untuk kehidupan selanjutnya. Dengan atau tanpa Riella.
****
Sedangkan di Jakarta, tepat pukul 11 malam Erik dan Ella bertolak ke Banjarmasin setelah mendapat telepon dari Alby.
Ella yang meminta Erik untuk segera mengantarkannya ke rumah sakit. Karena Ella tidak bisa tenang setelah mendapat kabar dari Alby. Saat berada di dalam pesawat bibirnya terus bergumam mendoakan putrinya semoga dalam keadaan baik-baik saja dan bisa berkumpul lagi bersama.
...----------------...