The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Putri Kecil



Satu kata yang bisa Kenzo rasakan saat ini. Perih, ketika menatap tubuh kecil yang terbujur kaku di depannya. Bayi yang belum ada dua jam keluar dari rahim istrinya. Sekeras apapun dokter berusaha menyelamatkan nyawanya, semua berujung sia-sia. Tuhan lebih menyayangi putri kecilnya. Dia begitu mengambil kembali putri yang belum sempat ia dengar tangisnya.


Bayi itu sudah tiada, dia sudah tidak bernafas lagi, dia tidak bisa merasakan terang dan gelapnya dunia. Bahkan putri kecilnya itu tidak memberi izin maminya untuk menyentuh kulitnya yang lembut. Mungkinkah ini hukuman untuk keduanya? Supaya bisa berhati-hati dalam berkata.


Sekuat tenaga Kenzo menahan untuk tidak menangis, tapi tetap saja. Kata bang Dhani aku bukanlah Supermen, pria juga bisa nangis, bila kekasih hatinya pergi meninggalkannya. Kira-kira seperti itulah yang dia rasakan saat ini. Kehilangan separuh nyawanya. Bayi yang dia nantikan kini pergi untuk selamanya, dan istrinya saat ini berada di ruang ICU.


Andai waktu bisa diulang, dia akan memperbaiki semuanya. Apa yang sudah dia ucapkan dan dia lakukan saat itu, supaya tidak terjadi masalah di hari ini.


Saat ini wajah Kenzo sudah lembab karena air mata, kelopak matanya sudah bengkak karena gesekkan dari tangan kanan dan kirinya yang bergantian mengusap butiran bening yang terus keluar.


“Bisakah papi menggantikan tempatmu, Sayang. Biarlah kamu saja yang menemani mami mu di sini. Papi yang salah, papi yang seharusnya pergi,” lirihnya menatap mata putrinya yang terpejam sempurna. Tangis Kenzo semakin pecah, setelah mengucapkan dua baris kalimat itu. Penyesalannya semakin terasa jelas.


Tangan Kenzo mencoba menyentuh kulit putri kecilnya. Bayi dengan berat 1.300 gram dan tinggi hanya 38 cm. Kulitnya begitu lembut dan tipis. Bahkan, dia bisa melihat urat kehijauan di kulitnya yang putih. Rambut hitam tipisnya pun sudah mulai menghiasi kepalanya yang mungil, garis hidungnya, bibir hitamnya, semua organ tubuhnya sudah lengkap. Hanya tinggal penyempurnaan dan penguatan paru-parunya saja, bayi itu siap untuk dilahirkan. Tapi, kejadian buruk menimpanya, membuatnya kehilangan kesempatan untuk merasakan kasih sayang kedua orangtuanya.


Dengan bibir bergetar Kenzo mengusap rambut tipis anaknya. Hanya satu kata yang bisa dia syukuri saat ini dia masih bisa menyentuhnya, bagaimana dengan istrinya yang tidak pernah merasakan ini?


“Pak bisa kita mandikan bayi nya sekarang?” tanya perawat yang sedari tadi berdiri di pintu ruangan. Dia menunggu Kenzo menyelesaikan tangisnya.


“Sebentar, Sus.” Kenzo kembali mengamati tubuh mungil di depannya. Dalam hatinya berharap semoga putri kecilnya itu menjawab genggaman jemarinya. Tapi, semua hanya ekspetasi-nya yang tidak akan pernah dia rasakan.


“Meski papi kehilangan kamu, tapi ingatlah cinta papi tidak berubah untukmu. Papi akan mendoakanmu, dari sini. Dan adek bisa melihat papi dari atas, Sayang. Kamu dengar kan? Di manapun adek berada selalu hadirlah di mimpi papi.” Kenzo diam, tanganya mengusap terus air matanya yang semakin terasa perih.


“Kenzo!”


Panggilan terdengar, dari arah pintu. Nindi yang baru saja datang berlari kecil menuju kursi yang ia tempati saat ini.


“Dia pergi, Ma.” Kenzo menarik nafasnya dalam melalui mulut. Dia merasa hidungnya sudah tersumbat karena cairan dalam hidungnya. “Kenapa Tuhan mengambilnya, Ma? Apa ini adil untukku?” tambahnya memeluk Nindi erat, mencoba mencari kekuatan dari salah satu wanita yang dicintainya.


Perasaan Nindi semakin tak karuan, saat mendengar keluhan Kenzo. Dia takut jika Kenzo mengalami stress berat seperti saat kehilangan Khalisa waktu itu. Dia membalas pelukan Kenzo sama eratnya, mencoba memberikan kekuatan.


“Ikhlas ..., belajar ikhlas pasti ada hikmah atas kejadian ini. Kamu harus kuat, Ken. Karena ada Riella yang membutuhkanmu di sana.” Nindi berusaha mengalihkan Kenzo dari rasa kehilangan putrinya.


Seperti teringat sesuatu, Kenzo segera berjalan keluar ruangan. Dokter memang tidak mengizinkannya masuk saat Riella menjalani operasi tadi, dan pastinya dengan alasan ketenangan. Dia berjalan cepat, meski langkah kakinya terseol-seol menghampiri ruangan Riella. Dia seperti tidak kuat menahan beban jenis tubuhnya saat ini.


“Maafkan Kenzo, Pa, Ma. Kenzo tidak bisa menjaga Riella dengan baik.” Kenzo menunduk, dia sadar jika ini semua adalah kesalahannya. Karena kelakuannya, mereka kehilangan calon cucu nya.


“Dia cantik, seperti mami nya. Maafkan Kenzo ... semua salah Ken,” lirihnya. Namun, bisa di dengar mertuanya dengan jelas.


Dua orang di depan Kenzo hanya diam mengamatinya. Siapapun tidak ingin hal seperti ini terjadi. Kenzo sudah terpukul atas kehilangan putri kecilnya, yang mungkin sudah dia nantikan beberapa bulan terakhir ini.


Erik tidak ingin membuat Kenzo lebih tertekan lagi dengan caci makinya. Dia pernah terpuruk, saat dia harus kehilangan calon anak pertamanya. Dia tahu apa yang dirasakan menantunya saat ini.


“Urus pemakaman cucu ku hari ini juga! Aku akan mengurus Riella di sini.” Erik dengan suara tegas memerintahkan Kenzo. Dia lalu berdiri, hendak menyambangi cucunya untuk terakhir kali.


Kenzo berdiri dari duduknya, dia ingin melihat kondisi Riella saat ini. Tanpa berpamitan dengan Ella, Kenzo memasuki ruang ICU ( Intensive Care Unit) di mana Riella dirawat saat ini.


Ruangan tampak lenggang, hanya bunyi mesin yang menjadi musik pengiring istrinya saat ini. Kenzo sejenak mengeringkan air matanya, dia tidak ingin menampilkan kesedihannya di depan Riella. Dia melangkah mendekat ke arah Riella, mengulas senyum ke arah wajah Riella yang terlelap.


Tapi, saat jaraknya semakin dekat, butiran bening itu kembali menetes lagi. Dia bisa melihat, warna darah yang menghiasi perban warna putih di lengan Riella. Belum lagi dahinya yang tertempel kasa putih dengan tiga plaster yang menutupinya.


“Bangunlah Riella, apa kamu sama sekali tidak ingin melihat anakku? Dia sudah tidak berada di rahimmu. Maaf ... maafkan aku.” Kenzo mengusap air matanya, “bangunlah, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, karena sudah membawanya lahir di dunia ini. Meski ....”


Kenzo terisak semakin keras, dia tidak mampu melanjutkan ucapannya saat ini. Dia seperti merasakan kiamat kecil yang harus ia lewati.


Bayangan-bayangan kelakuan nakalnya dulu seolah mengingatkan padanya, jika bayi itu tidak berhak hadir untuknya saat ini. Dia yang menolak sendiri putrinya saat itu, karena dia menganggap bayi itu bukan anaknya. Dari awal putrinya hadir di rahim Riella, dia seperti tidak diinginkan. Rasanya cukup adil jika Allah mengambilnya saat ini.


Kenzo lalu mengusap lagi air matanya.


“Bangunlah, kita mulai semua dari awal. Kita perbaiki semuanya, Sayang. Jangan seperti ini.” Kenzo kembali diam. Karena merasa tidak kuat untuk tetap berada di dalam ruangan.


Dadanya semakin sesak, dia ingin keluar untuk mengeluarkan tangisan kerasnya. Dia bingung ingin menangis di mana, berteriak sekuat tenaga supaya bebannya sedikit berkurang.


...----------------...


Maafkan aku, pasti kurang panjang ya 😒😒. Kalau aku lanjutkan lagi moodku hancur buat nulis yang ada di sebelah.😅🤣