The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Duda! Jaminan100% Orisinil



Drama terjadi ketika Kenzo hendak membawa Riella pergi jalan-jalan. Kaila terus merengek, meminta ikut kemana pun Kenzo pergi. Dan akhirnya acara yang sudah Kenzo susun dengan apik, harus terganggu dengan celotehan bocah kecil yang tengah duduk di kursi belakang. Ia terus berdendang menyanyikan lagu anak-anak kesukaannya, menggantikan radio yang biasa diputar di mobil Kenzo.


Sedangkan wanita cantik di samping Kenzo, hanya diam menatap ke arah jalan. Menoleh ke tepi, jika ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Tidak ingin membuka mulutnya jika Kenzo tidak bersuara, atau menanyakan sesuatu padanya.


“Sepertinya ..., masalah membuatmu semakin dewasa ya? Kamu sudah tidak se-cerewet dulu lagi,” kata Kenzo sambil focus ke arah jalan.


“Bukan cuma itu, usiaku juga tidak seperti dulu, jadi wajar saja!” Riella menjawab tanpa menatap Kenzo, masih dengan suara sengau yang biasa ia keluarkan.


“Yah, itu benar.”


Tidak lama kemudian, mobil Kenzo berhenti di tempat parkir di area lahan yang tampak rimbun. Angin sejuk danau menyambut kedatangan mereka siang ini. Kenzo yang akan membuka pintu Riella, hanya mampu kecewa karena Riella sudah turun lebih dulu darinya. Ia lalu membuka pintu belakang membawa Kaila ke dalam gendongannya, berjalan menyusul Riella yang sudah sepuluh meter darinya.


“Kaila nggak mau jalan sama Kak Riella saja?” tanya Kenzo ketika Kaila tengah asyik di gendongannya.


Kaila menatap lekat wajah Riella, rambut Riella berkibar karena terpaan angin, wajahnya nampak judes dan tidak ramah dengannya. Bibir Kaila mengerucut ketika mendapati Riella yang nampak acuh, “nggak mau ah, Pa. Kak Riella itu wajahnya serem, kaya Ratu Freya, yang ada di snow white!” Kaila lalu mengalungkan tangannya semakin erat lagi di leher Kenzo.


“Ih … nggak mau ya sudah. Kak Riella juga nggak mau ngajak Kaila main air nanti, wlek …” sahut Riella sambil menjulurkan lidahnya ke arah Kaila, lalu segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Itu karena Kaila nggak kenal, sama Kak Riella. Sebenarnya dia baik, suka nolong orang, suka bikin ketawa kalau pas wajahnya marah. Tu lihat, bibirnya, seperti pan- tat ….” Kenzo tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya meringis saat matanya menangkap wajah Riella yang bersiap memakinya.


“Dah yuk, Kaila jalan saja, Papa capek.” Keluh Kenzo sambil menurunkan tubuh Kaila. Mereka berjalan berdampingan dengan Kenzo yang berada di tengah, tangan kirinya menggandeng tangan Kaila sedangkan tangan kananya berusaha meraih telapak Riella untuk ia genggam. “Lebih baik begini,” ucap Kenzo setelah berhasil mengenggam tangan Riella, memainkan jempolnya di telapak Riella.


“Cantik kan danaunya?” tanya Kenzo saat mendapati danau biru yang tampak indah, meski bekas penggalian tambang batu bara. “Aku nggak mungkin membawamu ke Pasar Apung, karena aku tidak pandai untuk tawar-menawar. Kalau kamu penasaran kamu boleh pergi dengan Mama, lain waktu,” kata Kenzo menjelaskan.


“Nggak, aku juga nggak penasaran. Bagaimana itu Pasar Apung.” Riella lalu mengamati Kaila yang tengah bermain di tepi danau. Merasa sedikit terhibur dengan apa yang tengah Kaila lakukan. Gadis itu melemparkan batu, hingga membuat suara yang terdengar keras, Kaila pun tertawa ketika berhasil melakukan itu.


“Ken …” panggil Riella membuat Kenzo beralih menatap ke arah Riella.


"Kenapa?" Kenzo menyahut sambil mendekatkan tubuhnya dengan Riella.


“Kaila mirip denganmu, ya?” tanya Riella saat mengamati lekat wajah Kaila.


Kenzo mengangguk menyetujui ucapan Riella, “ya, bukan cuma kamu yang berkata seperti itu. Sudah banyak yang mengatakan jika dia mirip denganku. Tapi kenyataanya, hasil DNA kita berbeda, DNA nya tidak ada yang sama denganku.” Kenzo lalu ikut menatap Kaila, mengamati jika hidung dan bentuk rahang Kaila memang sangat mirip dengannya.


“Ada apa denganmu hingga melakukan tes DNA, semalam kamu bilang belum pernah melakukannya? Tapi kenapa kamu curiga dengan Kaila?” tanya Riella curiga dengan perkataan Kenzo yang baru saja ia dengar.


“Ya, hanya untuk memastikan saja. Meski aku pernah tidur dengan mamanya, tapi bukan berarti kita pernah melakukan itu.”


“What! Maksudmu?” Riella terkejut dengan ucapan Kenzo.


“Iya, dia anak dari wanita yang ada di ponselmu kemarin.”


“Berarti anakmu dong?! Sudah jelas itu? Sepasang manusia, seranjang, telanjang pula! Apa coba yang kalian lakukan, kalau bukan adegan dewasa? Lagian, ya, mana ada cowok baik-baik zaman sekarang?!” cibir Riella sambil meluapkan rasa kesal terhadap lelaki di depannya.


“Itulah alasanku untuk melakukan tes darah. Aku tidak sepenuhnya sadar waktu itu, aku bangun tiba-tiba di posisi seperti itu, siapapun pasti curiga. Tapi hasilnya memang aku tidak melakukannya. DNA Kaila berbeda denganku.” Kenzo mulai menjelaskan bagaimana kejadian yang sudah hampir 6 tahun terlewati.


“Lalu di mana mamanya? Apa dia tahu jika kamu menikah denganku?” tanya Riella memastikan.


“Mamanya meninggal sebelum dia lahir dan Kaila dipaksa keluar, karena saat itu dokter menyatakan jika bayinya masih hidup.”


“Waow, sepertinya seru juga hidupmu. Lalu ayahnya Kaila di mana?” tanya Riella sedikit terkejut dengan pernyataan Kenzo.


“Ayahnya.” Kenzo mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan ceritanya, “Ayah biologisnya tidak mengakui Kaila. Lucu kan? Mamanya dulu berpacaran denganku, tapi dia melakukan hal itu dengan pria lain, bilangnya cinta tapi ya? Begitulah. Beruntungnya aku tidak pernah serius meladeninya. Tapi akhirnya akulah yang bertanggungjawab.”


“Berarti kamu?!” Riella menatap tajam ke arah Kenzo, menyampaikan apa yang ada di pikirannya.


“Mungkin saat hamil Kaila. Eritha membenciku, jadi wajah Kaila bisa mirip denganku. Mitos orang begitu, kan?” Kenzo lalu memberanikan diri menatap wajah Riella yang tengah menggeleng tak percaya dengan apa yang ia katakan.


“Kenapa Eritha membencimu? Bukannya dia mencintaimu?” tanya Riella curiga dengan kebohongan Kenzo.


“Mau tahu kenapa? Yakin, nggak akan menyesal jika kamu tahu?” tanya Kenzo memastikan.


“Nggak kamu katakan, juga nggak masalah! Nggak penting juga buatku! Hidupmu rumit, seperti benang kusut!” cibir Riella acuh sambil berlenggang menghampiri Kaila.


“Karena aku selalu memikirkanmu, La. Hanya kamu yang ada di hatiku.” Kenzo berucap lirih sambil menatap Riella yang semakin jauh darinya. Bibirnya tertarik ke atas, ia sedikit lega, karena beban di hatinya, sebagian sudah ia ungkapkan pada Riella. Entah bagaimana hubungannya nanti, setidaknya ia sudah berani mengungkapkannya.


***


Matahari sudah condong ke arah barat, setelah cukup lama melihat Riella dan Kaila bermain di pinggir danau. Kenzo membawa kedua wanita itu untuk pulang ke rumah, Kaila yang kecapekkan, saat ini sudah terlelap di kursi penumpang bagian belakang, sedangkan Kenzo focus ke arah kemudi dan sesekali menatap Riella yang hanya diam membisu, setelah percakapan panjang di danau tadi.


“Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu memikirkan masa lalu ku yang buruk?” tanya Kenzo.


“Aku sedang merangkai setiap kejadian yang kamu ceritakan tadi. Khalisa meninggal setelah setahun, batalnya kamu ke Korea dengan kami. Kamu strees butuh perawatan, lalu kuliah dan punya pacar, setelah itu menikah, punya Kaila. Lalu kembali ke Indonesia menyusun semua dari awal. Serasa ganjal mendengarmu menikah di usia muda. Apalagi dengan Kaila yang tiba-tiba tinggal di panti asuhan.”


“Ya, itu pun kalau tidak dipaksa aku tidak akan menikah di usia dini. Aku dan mamanya Kaila, hanya mencari status, untuk akte lahir Kaila, dan kami hanya beberapa bulan saja tinggal seatap.”


“Berarti aku menikahi duda dong ya, beranak satu pula? Kenapa aku tidak sadar akan hal itu.”


“Boleh aku mengatakan satu hal lagi. Iya memang benar, kamu menikahi duda, tapi jaminan 100 persen orisinil dan masih perjaka.” Kenzo tertawa kecil sambil kembali menatap Riella yang tersenyum kecut, karena merasa tersinggung dengan ucapan Kenzo.


“Percaya juga sih kalau kalian tidak melakukan apapun. Secara nafsumu saja setingkat rw,” ledek Riella ketika mengingat kejadian setelah resepsi pernikahan mereka.


“Kamu berkata begitu? Karena belum tahu bagaimana diriku sebenarnya, karena kamu tidak mau mencobanya.”


“Ken!”


“Hem … benar, kan?” Kenzo menyahut sambil memainkan bibirnya.


“Ada waktunya ken,” tegas Riella.


“Sampai kapan?” tanya Kenzo sedikit santai karena tidak ingin membebani Riella.


“Sampai aku siap. Aku akan menyerahkan semuanya padamu.”


Kenzo mengalah, mengangguk menyetujui permintaan riella. Ia lalu memperlambat laju mobilnya, mengingat lagi apa yang sepuluh tahun lalu ia alami.


“La, di tikungan ini lah, kecelakaan naas itu terjadi, tepat pukul 7 malam. Pesanku padamu, jangan mengendarai mobil saat berada di sini, tapi kalau di Jakarta terserah kamu, kamu bisa bebas pergi kemana pun.”


“Tapi cukup ramai jalannya,” ucap Riella sambil mengamati tikungan jalan yang cukup tajam.


“Iya saat ini, tapi berbeda dengan 10 tahun yang lalu.” Kenzo menjelaskan singkat, lalu kembali melajukan mobilnya ke arah rumah. Setelah itu mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing, hingga mobil Kenzo berhenti di depan rumah. Dan kedatangan mereka disambut hangat oleh Nindi yang sudah menunggu mereka pulang.


🚑


🚑


🚑


🤪🤪🤪 MINTA VOTENYA DONG!! SUPAYA BISA RAJIN UPDATE🙏🙏