The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Menanti Kabar



Yang mau masuk GC Kristiana ketikkan nama tokoh favorit kalian 1 saja, buat tanda jika kalian membaca karya Ella.🙏


👣


Follow Ig Ella ya rehuella1


Dan jangan lupa dukung Ella melalui VOTE, semoga bisa merangkak lagi ke 10 besar🤗🤗


👣


Saat Riella tiba di rumah orangtuanya, semua penghuni rumah sudah berada di kamarnya masing-masing, karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, sebenarnya ia masih ingin mengobrol sambil menunggu telepon dari suaminya. Tapi tidak enak juga, jika harus menganggu adik atau mamanya untuk menemaninya. Riella masuk ke dalam kamar, mengambil ponsel yang ada di dalam tas, mendapati tidak ada pesan singkat atau panggilan tidak terjawab dari Kenzo, ia sedikit kecewa, tapi masih ingin berpositif thingking pada suaminya.


Riella justru mendapat pesan menjijikan dari Emil yang berjumlah puluhan, dan berisi rayuan Emil untuk kembali padanya. Tanpa basa-basi Riella langsung memblokir nomor Emil, yang seharusnya ia lakukan sedari dulu. Tapi baru kali ini ia merasa terganggu dengan isi pesan yang lelaki itu kirimkan padanya.


Riella merebahkan tubuhnya, menarik selimut tebal yang ada di bawah kakinya, menatap langit kamar sambil menunggu dering teleponnya. Ia merasa kesepian karena tidak ada Kenzo di sampingnya, yang biasa menjahilinya, sebelum ia terlelap, entah itu tarik menarik bantal ataupun mencubit hidungnya ketika hampir ia tertidur nyenyak. Riella menoleh ke arah ponsel yang ia letakkan di atas meja, lalu kembali menatap langit-langit kamarnya, setelah tidak ada cahaya lampu yang berkedip.


“Aku tidur nih, kalau nggak segera telepon! Beneran aku tidur ya?" kata Riella menatap ponselnya lagi. "Dah ya ... nggak mau angkat nanti, kalau kamu meneleponku!” lanjut Riella berbicara sendiri, seolah orang yang berada di seberang sana, bisa mendengar ucapannya. Ia lalu memejamkan matanya, terbuai dalam rasa kantuk yang terus menyerang, hingga ia benar-benar tidak tahan untuk tidak terlelap.


***


Pagi hari Riella dibangunkan oleh bunyi alarm ponselnya. Ketika ia membuka mata, hal yang pertama ia lakukan adalah mencari ponsel miliknya, lalu melihat notifikasi panggilan. Tidak ada panggilan telepon yang terlewat, hanya satu pesan singkat dari Kenzo yang di terima pukul 1 dini hari.


From Bangkeπ : "Aku tahu kamu sudah tidur, jadi lebih baik aku kirim pesan saja. Aku sudah sampai di hotel pukul 12 malam. Maaf baru mengabari. Selamat tidur istriku, semoga mimpi indah."


Riella tersenyum tipis, lalu mulai mengetikkan balasan untuk Kenzo.


To Bangkeπ : "Selamat pagi Tuan Kenzo


Semoga hari mu menyenangkan saat berada di sana, dan kita bisa berkumpul kembali."


Setelah membalas pesan Kenzo, Riella segera beranjak dari ranjang untuk membersihkan tubuhnya. Seperti mendapatkan amunisi untuk mengawali aktivitasnya hari ini saat menerima pesan dari Kenzo. Pagi ini dia ada janji untuk menemui dokter sekaligus rekannya yang sudah ia percaya, untuk mengurus rumah sakit saat ia tinggal ke Banjarmasin.


Selesai bersiap Riella menuruni anak tangga, ingin lebih dulu menemui keluarganya, sebelum ia berangkat. Keadaan rumah masih sepi, hanya terlihat Ella yang tengah menyiapkan menu sarapan di dapur. Riella memeluk mamanya dari belakang, meluapkan rasa rindu karena hanya sebulan sekali saja bertemu.


“Minggir dulu, gosong nanti udang Mama!” minta Ella ketika merasakan dekapan Riella yang menganggu aktivitasnya.


“Kangen tahu, Ma. Coba rumah Riella dekat, pasti Riella main terus kemari!” ungkap Riella sambil menyandarkan kepalanya di pundak Ella.


“Em … ada Mama Nindi juga di sana. Pasti dia senang kamu tinggal dengannya. Itung-itung bisa menggantikan Khalisa.” Ella lalu mematikan kompornya karena udang yang ia masak sudah matang sempurna.


“Nggak seru ah, Mama Nindi. Nggak bisa meluk kaya gini kalau sama dia, cuma ngobrol terus tentang anak panti.”


“Tapi dia baik, Kan? Kalau dia memintamu yang aneh-aneh bilang sama Mama, biar besok Mama langsung meluncur ke Banjarmasin.” Ella melepaskan pelukan Riella menghadap ke arah anaknya.


“Baik kok Ma, sama seperti Mama, tapi ya itu banyak banget yang harus Mama Nindi urusin termasuk anak-anak panti, jadi Riella kurang perhatian deh.” jawab Riella lalu memasukkan udang buatan Riella yang sudah berada di atas tisu.


“Kenzo bagaimana, kabarnya? Sudah bisa masak apa saja kamu untuk Kenzo?” tanya Riella menanyakan kabar menantunya.


“Baik dong, kan Riella yang ngurus dia, Mama nggak lihat kemarin tubuhnya tambah berisi? Soal masakkan banyaklah yang sudah Riella bisa. Meski kadang suka kelebihan garam, seperti, spaghetti, teh manis, kopi pahit, roti panggang, telur ceplok, omelet daun bawang. Kaya gitu-gitu deh yang simple-simple aja …” jawab Riella dengan bangga, memasukkan lagi udang ke dalam mulutnya.


“Kalau cuma spaghetti Nara juga bisa! Itu bawa buku kecil yang ada di laci, sudah Mama tulis semua resep masakan yang biasa Mama buat. Mama sampai rela tangan Mama kram karena nulis resep masakan untukmu.”


“Betulan, Ma? Asyik banget sih, Mamaku ini!” kata Riella sambil mengecup pipi mamanya, lalu segera mengambil buku yang ditunjukkan Ella.


“Sebenarnya dalam memasak itu, tidak ada resep rahasia sih, Sayang. Hanya saja bagaimana cara kita menakar bumbu yang pas, mengatur kondisi api dan memasak dengan hati bahagia. Coba saja, pasti hasilnya maksimal,” kata Ella ketika melihat Riella mulai membuka lembaran catatan bukunya.


“Heh, Ma! Tapi kan, Riella buatnya selalu dengan cinta, tapi rasanya juga masih sama saja, jauh dari yang mama masak!”


“Siapa yang jatuh cinta? Nggak Riella belum jatuh cinta lagi dengan Kenzo, mak-maksud Riella bukan itu!” sahut Riella saat menyadari apa yang tadi ia ucapkan.


“Terapkan yang Mama katakan tadi, semoga berhasil!” Kata Ella sambil menahan senyuman. Takut anaknya akan malu, “Sudah sana, kita sarapan bersama! Panggil papa dan adikmu!” perintah Ella, sambil membawa menu sarapan ke meja makan.


Erik sudah berada di meja makan, sedangkan si kembar hanya membawa bekal sarapan dari Ella, karena mereka dikejar jam masuk kuliah. Erik terlihat segar pagi ini meski harus menggunakan kacamata saat berjalan.


“Kenzo kalau makan kamu ambil kan nggak, Kak?” tanya Erik pada Riella. Saat melihat anaknya itu mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


“Nggak, dia justru yang ngambilin Riella. Dia keras kepala kadang sudah ku larang tapi tetap saja melakukan hal itu!” jawab Riella jujur.


“Mulai besok setelah Kenzo kembali dari Singapura, gantian kamu yang mengambilkan. Sebelum dia mengambil makanan, ambilkan dulu, dan satu lagi!”


Riella menoleh ke arah Erik mendengarkan dan menyimpan apa yang diucapkan papanya.


“Gunakan waktu makan untuk ngobrol, luapkan sedikit perhatianmu di sana untuk suamimu. Jauhkan alat elektronik apapun saat berada di meja makan, meski hanya televisi, mendingan matikan saja. Nikmati waktu itu sebaik-baiknya, seolah itu adalah makan terakhir bersama kalian, biar kamu juga bisa menghargai waktu.”


Riella berpikir sejenak, “Yah, nanti Riella coba.”


“Bagus itu! Siapkan bajunya juga. Air minum sebelum dan setelah dia pulang kerja. Jangan kamu bangun setelah dia berangkat kerja, itu tidak baik! Papa dan Mama tidak mengajarkan itu, jadi jangan membuat malu! Meski Mama tidak mengucapkan ini itu, tapi Mama selalu memberikan contoh yang baik setiap kehidupanmu, jadi ambil itu untuk bekal berkeluargamu. Kamu itu anak Erik jadi harus pintar membuat suamimu betah di rumah. Benar kan, Ma?”


“Dan nambah satu lagi!” lanjut Erik sambil mengambil minuman di sampingnya.


“Papa sudah nggak mau kamu menolak untuk memberikan cucu untuk kita. Jadi apapun alasannya kamu harus berusaha memberikan kami cucu secepatnya!”


“Pa!”


“Papa sudah siapin resep asam folat buat kamu! Ambilkan, Ma! Biar diminum anakmu sekalian!” perintah Erik memerintah istrinya.


Ella pun menurut dan menyerahkan asam folat itu pada Riella. “Pa, aku sudah haid kemarin, jadi nggak perlu minum beginian. Lagian hormonku normal kok!” tolak Riella.


“Bagus itu, berarti kita tinggal menunggu bagaimana kedepannya nanti.” Kata Erik dengan senyuman ke arah Ella, yang tengah menyaksikan Riella meminum obat.


“Kamu minum juga, Sayang!” kata Erik sambil memeluk pinggang Ella.


Ella pun tersenyum tipis ke arah suaminya, “berapa dosisku untuk jadi anak laki-laki?”


“Satu saja cukup!” sahut Erik sambil membuka tub asam folat.


“Siapa yang akan mengasuh anak kita kalau kita mati! Hum?” Kata Ella sambil menatap tajam ke arah Erik.


“Papa juga, sudah menyandang status kakek masih juga ngebet punya baby! Nggk keren banget tahu nggak!”


“Kan, unik! Hidup itu kalau unik akan banyak yang mengenali!”


“Terserah! Dah lah Riella berangkat dulu ada janji dengan Tiffani.”


“Ya, hati-hati jangan pulang terlalu malam, dan jangan terlalu capek!” pesan Erik saat Riella mencium tangannya. Riella lalu masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju rumah sakit, menikmati kemacetan yang biasanya terjadi ketika jam jam berangkat kerja.


Saat tiba di di rumah sakit, Riella melihat Emil yang berada di pintu masuk rumah sakitnya, Riella berusaha menghindar dari pertemuannya dengan Emil, mencoba mencari jalan lain supaya tidak bertemu dengannya. Namun, ketika dia berjalan ke arah tangga darurat, Emil mengetahuinya dan mengikutinya. Riella masuk ke pintu tangga darurat, lalu menutupnya kasar. Tapi Emil berhasil menghentikannya, saat mereka berada di tengah tangga darurat, Emil menarik tangan Riella, menghimpit tubuh Riella ke dinding tembok.


🚑


🚑


Like untuk komentar dan like ya, vote wajib dong ya🤭