The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Maura dan Naura



Boleh aku nodong votenya🤣. Sini kirimin ke mereka😉 jangan lupa beri hadiah ya. Terima kasih.


♥️


Menjelang azan maghrib berkumandang, dua buah mobil mewah berhenti di depan rumah Kenzo. Seorang pria berpakaian hitam, membukakan pintu mobil yang ditumpangi Maura dan Naura. Mereka berdua sudah disambut sang pemilik rumah yang berdiri di teras.


Erik dan Ella yang mendengar suara mobil berhenti di halaman langsung berlari ke arah teras rumah. Naura yang lebih senang bermanja dengan Ella, langsung merengek saat melihat bayangan Ella.


“Nyebelin!” Gerutu Naura penuh penekanan tapi tangannya melingkar di tubuh wanita yang ia cintai. “Katanya cuma sehari, sudah berhari-hari nggak pulang!” masih mengoceh menambahkan tenaga memeluk tubuh Ella. Ella membalas pelukan Naura, dia juga merindukan kedua anak kembarnya ini.


“Nyatanya juga bisa ditinggal kita berdua, kan!? Kalian itu harus belajar mandiri mulai sekarang!” balas Erik dengan nada kesal, anaknya itu sudah lebih dari dua puluh tahun tapi masih suka ngintilin mamanya. “Nanti gimana jika kalian menikah?” tambahnya mencubit pipi Naura. Membuat gadis berambut panjang itu mengaduh sambil mengusap pipinya.


“Ye, siapa yang mau nikah muda! Naura mau jadi pengacara terkenal dulu baru menikah. Nanti sama kaya kak Riella, gara-gara Papa sama Mama jodohin dia, Kakak dibawa Kak Kenzo kesini. Dan dia tidak bisa melanjutkan sekolah spesialisnya!” Naura menatap wajah Kenzo yang berdiri di samping pintu, terlihat pria itu tersenyum kecut ke arahnya.


“Sini biar Leya aku gendong, Bun! Kamu pasti lelah, kan habis muntah tadi!” terdengar suara lirih dari Kalun yang meminta sang bayi dari gendongan Aluna.


“Nggak perlu deh, A' kita masuk dulu saja istirahat.” Aluna menjawab sambil mendekat ke arah kerumunan orang.


“Kamu hamil lagi, Lun?” tanya Erik menyelidik, tatapannya menatap lekat ke arah Aluna. Dia akan senang sekali jika Aluna menjawab iya.


“Nggak, Pa. Luna cuma mabuk daratan tadi.”


Erik hanya berucap o ria setelah mendengar jawaban Aluna. “Sebenarnya Papa berharap kamu menjawab iya, sih!” setelah itu Erik tertawa menatap anak lelakinya yang mencibirkan bibirnya.


Mereka semua masuk ke dalam rumah, karena sebentar lagi hari akan gelap. Mengadakan sholat berjama'ah yang dipimpin oleh Erik. Erik sadar jika anak dan menantunya itu tidak terlalu dekat dengan Sang Pencipta. Padahal Erik selalu menegur Kalun untuk berilmu, tapi mereka selalu beralasan sibuk dengan hal duniawi. Dia hanya berusaha, meminta pada Allah supaya membalikkan hati anak-anaknya.


Malam yang semakin dingin, tak mengurungkan mereka untuk berkumpul di ruang keluarga di rumah Kenzo. Hanya ada keluarga Erik ditambah Kenzo dan Aluna yang menyandang status sebagai anak mantu. Erik dan Kalun tengah berbincang di teras samping rumah. Berbeda dengan Kenzo yang memilih menimang Leya, karena gadis itu ditinggal bundanya menyiapkan makan malam.


“Kakak gendutan gini, makan apa sih?” pertanyaan keluar dari bibir tipis Maura, sambil menowel pipi Riella.


“Masak kakak gendut sih, Dek?!” Riella mengamati tubuhnya. Perasaan bagian tubuhnya yang membengkak hanya perut dan bukit indahnya saja. Bisanya adiknya bilang gendutan.


“Hem, benar. Tanya saja sama Kak Ken!” Maura beralih menatap Kenzo, yang tengah bermain-main dengan Leya.


“Em, nggak kok masih sama kaya dulu. Tetap sexy!” sambut Kenzo menjawab pertanyaan Maura yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.


“Kak Kenzo nggak peka, ih!”


“Ya, sudah ntar Kakak diet.” Riella menyimpulkan sambil menaikkan kakinya ke sofa.


“Nggak boleh diet, bahaya!” peringat Kenzo “makan makanan sehat dan banyak biar dedek di perut semakin keras menendangnya,” lanjutnya tanpa menatap Riella.


“Emang sudah gerak-gerak ya, Kak?!” Maura tampak antusias, berbeda dengan Naura, dia justru menginginkan nikah dan segera memiliki anak di usia yang masih muda. Tapi paling tua dua puluh lima tahun, pokoknya harus di bawah usia mamanya menikah dulu.


“Baru tadi geraknya.” Riella menjawab, sambil mencoba merasakan gerakan calon buah hatinya.


“Duh pengen ngerasain, andai Mama mau hamil lagi, pasti bisa deh, pegang-pegang perut buncitnya.” Maura membayangkan jika Ella benar hamil adiknya.


“Sudah gila kamu, ya? Mama sudah jadi nenek masih saja diminta hamil lagi!” bentak Riella dengan emosi. Adiknya itu memang hobby menghalu, dulu dia sering meminta Maura untuk menjadi penulis novel saja, karena seringnya mendengarkan cerita unfaedah dari bibir adiknya.


Setelahnya Maura terbahak, “kan lucu, Kak!” otaknya kembali membayangkan dirinya akan punya adik cowok yang ganteng seperti papanya.


“Kamu sana hamil sendiri. Cari cowok yang bener dulu, habis itu suruh nikahin kamu!” nasihat Riella. Meski dia pernah salah dalam hal pacaran tapi dia tidak mau adiknya mengikuti pergaulannya yang salah. Menikah muda lebih baik, dari pada zina.


Tak lama kemudian, Alby datang dengan mobil baru yang baru saja dia beli. Rumah Alby memang tidak terlalu jauh dari rumah Kenzo, dan terkadang dia juga sering menginap di rumah Nindi, jika terlalu malam untuk pulang ke rumah.


“Dari mana?” tanya Kenzo, menatap lelaki yang berjalan mendekat ke arahnya.


Alby menunjuk kantong putih di tangannya. Lalu menyerahkannya pada Kenzo. “Cepat sembuh, Bang!” ujarnya sambil memainkan matanya pada Kenzo. Mengisyaratkan kebingungnnya karena ada Maura di samping Riella.


Kenzo yang paham hanya tersenyum, “kenalan sendiri sana!” tunjuknya sambil tersenyum.


Kedua pasang mata itu tampak malu-malu saat saling bersinggungan. Tapi Alby lebih berani menatap Maura.


“Alby.” Alby mengulurkan tangannya di depan wajah Maura. Gadis itu masih terbengong, menatap malaikat berjenis laki-laki di depannya. Dia seperti melihat pria tertampan pertama yang ada di bumi ini. Meski rambutnya panjang, dan sedikit menutupi wajahnya, tapi itu tidak mengurangi kharisma Alby.


“Maura!” dengan cepat Maura menerima uluran tangan Alby. Dia sedikit mengeratkan sambutan tangannya.


“Nama yang indah.”


“Gombal!” Riella ikut menyahut. “Jangan mudah kamu termakan gombalannya. Kakak saja sering digombalin sama dia!” cibir Riella menatap jenaka ke arah Alby.


Alby merasa mati kutu, dia sering memuji Riella, dan berucap dengan ceplos-ceplosnya. Tapi tidak perlu dibongkar dengan adiknya juga kali, Kak!


Alby yang malu langsung berjalan ke arah dapur, untuk mengambil air putih di lemari pendingin. Namun, saat tiba di sana, di tersentak saat mendapati wanita yang sama berada di dapur.


“Capat sekali kamu pindah di sini! Jalan lewat mana?” katanya yang membuat Naura bingung. Memang Maura dan Naura menggunakan baju yang sama sore ini. Piyama bercorak Donald duck.


“Ow, dia assistannya kakak iparmu.” Ella menjelaskan sambil tersenyum ke arah Alby.


“Baru saja kan, kita sudah kenalan masak lupa?” cibir Alby setelah selesai meminum air putih yang baru saja ia ambil. Semua wanita yang berada di dapur terbahak saat mendapati Alby yang polos..


“Pasti tadi kamu kenalan sama Maura ya, dan yang di sini, Naura.” Ella menjelaskan sambil membawa piring ke meja makan.


“Ayo makan malam dulu, sini. Kebetulan Mama tadi membuat makanan khas Palembang. Sekalian sini, Al!” ajak Ella. “Panggil kakak dan papa mu, Dek! Mereka berada di teras samping rumah!” minta Ella pada anak gadisnya.


“Jadi mereka kembar, begitu?”


Ella mengangguk menjawab pertanyaan Alby.


***


Di saat jamuan makan malam, Alby terus memperhatikan keduanya. Memang wajahnya sekilas sama persis. Tapi jika dilihat lebih detail mereka berbeda. Hidung Naura lebih maju satumili dibandingkan Maura. Dan Maura ada gigi gingsul di bagian gigi atas. Dan itu membuatnya bertambah manis. Tapi apapun bentuk dan secantik apa, dia tidak akan jatuh hati, karena hati nya sudah diisi wanita lain.


“Kita gak jadi kemah, Pa?” tanya Maura, penasaran. Niatnya datang ke sini ingin merasakan angin malam di kota Banjarmasin.


“Besok saja. Kita malam ini tidur di dalam. Lagian kita juga belum pasang tenda.” Erik menjawab setelah selesai mengunyah makanan dalam mulutnya.


“Okey, deh!”


“Aneh kamu, Ra! Disaat rumah yang luasnya seperti lapangan, kamu malah milih bikin tenda di luar rumah!” cibir Naura.


“Asyik tahu, nggak! Kamu sih nggak paham artinya kebersamaan, keromantisan yang bisa diciptakan saat berkemah!” Balas Maura, tak mau kalah.


“Emang kamu mau romantisan sama siapa, pacarmu saja baru mutusin kamu!” perbincangan akan semakin panjang jika mereka membahas masalah cowok.


“Alhamdulillah.” Terdengar ucapan syukur dari bibir Erik. Dan itu membuat Maura kesal.


“Papa, ih!” keluh Maura, saat mendengar perkataan Erik.


“Sudah makan! Cepat habiskan setelah ini biar Kakak iparmu mengantarkan kalian ke kamar yang ada di rumah mama Nindi!” Ella berucap melerai perdebatan mereka.


Kalun hanya diam sambil menyuapi Aluna yang tengah menyusui bayinya. Sedangkan Kenzo tengah sibuk mengambilkan ini itu untuk Riella. Dan Alby hanya makan dalam diam sambil mengamati gadis kembar di depannya bergantian.


Setelah makan malam selesai seluruh anggota keluarga Erik diantar Kenzo ke rumah Nindi. Mamanya itu menyambut ramah keluarga Erik. Dan itu membuat Kenzo merasa lega. Mungkin hal ini akan menjadi pelajaran untuknya, menambah kamar lagi ke depannya, supaya mereka tidak mengungsi di rumah mamanya. Setelah mereka semua masuk ke dalam kamar, Kenzo segera meninggalkan rumah mamanya, karena Riella berada di rumah sendirian. Alby sudah pulang ke rumah nya sendiri, karena merasa tidak nyaman jika harus berada di tengah keluarga Riella.


Namun, panggilan Kalun yang ingin berbicara dengannya, mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Dia membawa Kalun keluar rumah supaya bisa berbicara dengan bebas. Setelah beberapa langkah dari rumahnya. Sebuah pukulan melayang di wajah Kenzo yang putih. Seketika tubuh Kenzo yang tidak seimbang terhuyung ke samping.


Bugh!


Pukulan kedua terdengar lagi. Kalun seperti tengah menyampaikan rasa kesalnya pada Kenzo.


“Ini untuk apa?” tanya Kenzo sambil menyentuh pipinya. “Jika untuk membalas sakit hati Riella, aku dengan senang hati akan menerimanya!”


Bugh! Bugh! Bugh!


Lagi, Kalun kembali memukul wajah Kenzo. Wajah Kenzo sudah berdarah-darah, lebam sudah menghiasi kedua pipinya. Pelipisnya juga sudah robek karena terkena cincin yang digunakan Kalun.


“Ini belum sebanding dengan sakit hati Riella! Karena perlakuanku!”


Bugh!


Kini Kalun beralih pada perut Kenzo. Dia tidak bisa mengendalikan emosinya ketika tadi Erik menceritakan apa yang dilakukan Kenzo pada adiknya.


“Lanjutkan tidak apa-apa!” Kenzo berucap dengan jelas, “kamu juga tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaanku saat itu!” tangannya menunjuk tubuhnya sendiri, memint Kenzo untuk melanjutkan.


Tidak ada yang mengetahui kejadian itu, mereka semua sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.


“Aku tidak mengira jika kamu bisa serendah itu, memfitnah adiku!” Kalun berucap dengan tatapan kesal. Kembali dia hendak melayangkan lagi pukulannya. Tapi Kenzo justru menghentikan dengan ucapan.


“Ya, lakukanlah! Jika itu bisa membuat Riella bertahan di sampingku, aku siap menerima, Kal!” suara Kenzo sudah melemah.


“Asal kamu tahu, bagaimana perasaanku saat itu, andai kamu tahu bagaimana beratnya jadi aku! Apa kamu tahu perasaan adikmu saat ini padaku!” Kenzo tertawa kecil di tengah rasa sakit yang kini ia rasakan. “Nyatanya dia belum merimaku sepenuhnya, secuil cinta darinya pun belum pernah aku temui dari sorot matanya!” kini air mata Kenzo turun tanpa izin.


“Aku memiliki tubuhnya! Tapi aku tahu, di hatinya belum ada aku!” lirihnya.


Bugh!


Kalun kembali melayangkan pukul keras di wajah Kenzo. Lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan sepatah katapun.


Tubuh Kenzo lunglai, dia terjatuh di hamparan rumput antara rumahnya dan rumah Nindi. Dia menunduk dalam di sana, dengan air mata yang terus menetes. Seperti alam turut berduka atas kesakitan fisik dan hatinya, malam ini hujan turun dengan deras, seolah membersihkan darah dan luka yang ada di wajahnya. Dengan langkah kaki tertatih dia berjalan menuju rumahnya yang berjarak dua puluh meter dari tempatnya saat ini.