
Siang harinya, setelah kejadian tidak mengenakan tadi pagi. Riella masih belum berniat untuk pulang, dia khawatir jika kakaknya sudah memberitahukan pada kedua orang tuanya, pasti mereka akan kecewa dengan apa yang sudah ia lakukan.
Setelah selesai mengobati luka Emil, Riella masih memeluk erat kekasihnya yang kini tengah menonton televisi di depannya. Kata Emil, pelukan erat darinya adalah obat rasa sakit lukanya saat ini. Sesekali mulutnya terbuka memberikan pertanyaan pada Emil, tentang hubungan mereka ke depannya, menceritakan mimpi-mimpinya tentang keluarga bahagia di masa depan.
Sesaat kemudian terdengar suara panggilan dari ponsel Riella. Membuat Riella segera melepas pelukannya, lalu beranjak dari sofa, menghampiri ponselnya yang masih terus bersuara. Dia membuang nafas pelan saat menatap nama si penelepon. Tak ingin membuat sahabatnya menunggu lama, Riella segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
“Hall-” Belum Riella melanjutkan sapaannya, tapi wanita di ujung telepon menghentikannya. Ia disambut suara tangis Chika yang terdengar jelas. Riella mendengarkan Chika yang terus mengoceh di tengah suara tangisnya.
“Jelaskan pelan-pelan, aku tidak bisa mengerti jika kamu berbicara sambil menangis seperti itu!” perintah Riella. Ia lalu mendengarkan permintaan Chika.
"Kita bertemu di cafe langganan, cepat datanglah aku butuh teman cerita!"
“Hemm, Ya. Tunggulah di sana! Aku akan segera datang, kamu bisa menceritakan semuanya padaku!” Riella menyanggupi permintaan sahabatnya, karena merasa kasihan setelah mendengar suara tangis Chika yang memilukan. Dia lalu segera mematikan panggilannya, beralih menatap Emil yang tengah memperhatikannya sedari tadi, ia lalu masuk ke dalam kamar untuk bersiap menemui Chika.
“Biar aku yang akan mengantarmu!” kata Emil yang mengikuti langkah Riella, dengan wajah yang masih terlihat lebam bekas pukulan Kalun.
“Wajahmu seperti itu, Kak. Kamu di sini saja!” sahut Riella. Emil yang mendengar penolakkan Riella, justru berjalan untuk mengambil kunci mobilnya.
“Kak Emil yakin mau ikut?”
Emil menganggukkan kepalanya cepat sebagai jawaban.
“Apa kata Chika jika melihatmu seperti ini, hum?” lanjutnya bertanya menunjuk tubuh Emil yang hanya mengenakan celana pendek. Emil yang paham hanya tersenyum tipis saat menyadari apa yang ia kenakan.
“Jangan tinggalkan aku, awas ya. Jika kamu pergi, aku tidak akan memberi jeda bernafas untukmu nanti malam!” ancamnya seraya berjalan mundur ke arah lemari baju .
Riella hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Emil. Dia lalu mengenakan sepatu sneaker kesayangannya sambil menunggu Emil berganti pakaian.
Mereka berdua berjalan keluar rumah sakit dengan pakaian serasi, kaus couple warna putih dilengkapi celana jeans warna hitam yang kontras namun tampak pas di tubuh mereka.
Tiba di tempat parkir Emil membukakan pintu untuk Riella, menunjukkan perhatiannya untuk ke kasihnya, ia lalu melajukan mobilnya, meninggalkan rumah sakit, menuju ke alamat cafe yang Chika berikan. Cafe yang biasa menjadi tempat janjian antara Riella dan sahabatnya. Perjalanan cukup lama memakan waktu hampir 30 menit untuk tiba di tempat café yang nampak sepi, mereka berdua segera masuk dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Chika.
Chika yang melihat kedatangan Riella, segera berdiri dari duduknya, dia memeluk sahabatnya, sebelum sahabatnya itu duduk di depannya. Sedangkan Emil yang sudah duduk di tempatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Drama apa ini? Seperti syuting sinetron saja,” ungkapnya diiringi tawa jenaka yang begitu lirih. Riella yang mendengar ucapan Emil segera memberikan tatapan tajam memukul pelan lengannya memperingatkan supaya tidak meledek keadaan Chika.
“Duduklah dulu! Ceritakan semuanya, aku bersedia menjadi pendengarmu dan kalau aku bisa, aku akan membantumu mencari solusi!” kata Riella sambil membawa Chika ke tempat kursinya. Chika menurut, sambil mengusap air mata yang masih melunjur bebas.
Sejenak hanya terdengar isakkan yang keluar dari bibir Chika, hidungnya terus menarik supaya ingusnya tidak meluncur keluar dan Riella terus mengusap punggung Chika, menenangkan supaya sahabatnya itu terdiam. Beruntung kondisi cafe siang ini tampak sepi.
“Danish menceraikan aku La,” lirih Chika menunduk dalam. Ia tidak berani menatap wajah Riella.
“What!” Riella membulatkan matanya, menghentikan usapan di punggung Chika. Ia sedikit terkejut karena pernikahan yang tidak ada landasan cinta itu harus kandas dalam waktu tiga bulan saja.
“Iya, dia menceraikan aku.” Chika kembali terisak setelah mengulangi penjelasannya.
Riella lalu tertawa tipis setelah menyadari sesuatu yang menggelitik hatinya, “bukakah kamu tidak cinta Danish? Kenapa kamu bisa sesedih ini?”
“Bukan begitu La, kamu tahu sendiri. Usiaku baru 23 tahun. Masa sudah menjadi janda muda, nggak adil banget nasibku, apalagi disaat kalian baru bersenang-senang dengan pasangan kalian. Masa iya aku cerai.” Chika menjelaskan panjang lebar pada Riella, meski Riella tahu itu adalah alasan saja.
“Aku tanya padamu, kamu sudah jatuh cinta dengan Danish, kan?” tanya Riella, setelahnya terukir senyum dibibirnya, karena Chika menganggukl malu sebagai jawaban.
“Ya, pacarnya sudah kembali.” Chika menjelaskan singkat dari curhatannya masa lalu.
“Ya, sudah lepaskan. Dia belum menyentuhmu, kan? Kamu masih bisa mencari lelaki yang benar-benar menginginkanmu,” jelas Riella.
“Gitu ya, emangnya ada yang mau? meskipun aku masih perawan tapi sudah mendapatkan gelar janda.”
“Tenanglah, yang benar-benar janda saja masih ada kok yang bisa menikah. Lupakan jika dia memang tidak menginginkanmu, kamu masih bisa mencari pasangan yang lebih baik dari dia. Bahkan lebih ganteng darinya.” Hibur Riella lalu menatap ke arah Emil yang menatapnya lekat.
“Aku salut sama kalian berdua, meski belum resmi menikah, tapi bisa menjaga hubungan kalian dengan baik.” Chika sedikit memberikan tepukan tangan untuk mereka berdua.
“Iyalah. Karena kita saling mencintai.” Sahutan terdengar dari bibir Emil sambil merangkul leher kekasihnya, untuk mendekat di wajahnya.
“Kak. Malu ih, jangan begini! ini tempat umum.” Tegur Riella sambil melepaskan tangan Emil dari pundaknya. Tidak lama kemudian obrolan mereka terganggu dengan pelayan yang mengantarkan buku menu. Riella hanya memesan jus alpukat tanpa gula, dan kedua orang itu memesan makanan kesukaanya masing-masing
“Papa sama mamamu, sudah tahu perihal perceraian kalian?” tanya Riella memastikan, setelah pelayan itu nb berlalu.
“Sudah, mereka tahu jika kita berdua tidak saling mencintai. Dan mereka justru minta maaf padaku.”
“Baguslah, meski kalian bercerai, kedua orangtua kalian masih bisa berhubungan dengan baik. Datanglah nanti ke sidang perceraian supaya prosesnya segera selesai.” Riella lalu menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi kayu. Dia menatap wajah sedih yang tengah ditampilkan oleh Chika.
“Terima kasih atas saranmu, meski perceraian itu tidak baik. Tapi untuk apa juga aku mempertahankan hubunganku dengan Danish. Sebelum cintaku terlalu jatuh dalam dengannya. Mungkin lebih baik aku tidak mengenalnya.”
Tidak lama kemudian, ponsel pintar Riella berdering, membuat acara meminum jus yang sudah tersedia di depannya terganggu, karena panggilan tersebut dari Ella. Dia segera mengangkat panggilannya, lalu mendengarkan permintaan Ella yang memintanya untuk segera pulng ke rumah. Riella lalu menutupnya setelah mendengar ucapan salam dari Ella.
“Kak, aku duluan ya. Mama mencariku, ada hal penting sepertinya, yang akan beliau katakan dan itu tidak bisa ditunda.”
“Biar aku antar!” kata Emil yang hendak berdiri dari duduknya, tapi tangan Riella segera menahannya.
“Kakak di sini saja, Kak Emil juga belum selesai makan. Biarkan aku naik taksi online, lagian jaraknya juga tidak terlalu jauh dari sini.” Cegah Riella sambil mengambil tasnya yang tadi ia letakkan di kursi kosong dari seberangnya duduknya.
“Nitip Kak Emil ya, kalau nakal cubit saja ya, Chi!” pesan Riella sambil menatap Emil penuh senyuman.
“Beneran naik taksi, ya? Jangan aneh-aneh!” pesan Emil, yang berat melepaskan tangan Riella.
“Siap Sayang!” ucapnya sambil menempelkan bibirnya di kening Emil. Mambuat wanita yang masih berada di depannya ini berdecih sambil memberikan senyum tipisnya, ia sedikit iri melihat keromantisan keduanya yang mereka tampilkan.
“Bye,” kata Riella sambil melambaikan tangannya, lalu segera berlalu keluar dari café yang menjadi tempat pertemuan mereka saat ini. Ia benar-benar pulang ke rumah orangtuanya menggunakan taksi online yang sudah ia pesan, meninggalkan kekasih dan sahabatnya di cafe.
🚑
🚑
🚑
Bang Emil sayang banget sama Riella😍, tapi masih saja dibully🙃🙃.
Terima kasih buat vote dan like serta komentar positifnya. Aku tunggu dukungan selanjutnya ya🤭😝🙏