The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Anak ini Anakku?



“Aku tidak seperti kamu, yang dengan mudahnya berselingkuh!”


...----------------...


Ucapan Riella membuat Kenzo diam membeku, dia menundukkan kepala dalam, teringat akan kelakuannya sendiri. “Aku minta maaf. Tapi percayalah aku tidak selingkuh! Apa yang kamu lihat?” Kenzo menyangkal tuduhan Riella. Tidak pernah terpikir dalam benaknya untuk mengkhianati Riella.


Riella menatap sengit ke arah Kenzo. Kilatan amarah terlihat dari sorot matanya yang jernih. Menurutnya pengkhianat tidak akan pernah sembuh dari kebiasaan buruknya.


“Sama seperti kamu, yang tidak percaya padaku. Kita impas! Kamu tidak percayakan? Kalau aku tidak melakukan dengan Emil? Sama seperti kamu, aku juga tidak akan pernah percaya dengan ucapan mu. Karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kamu keluar dari rumah wanitamu itu.” Riella bicara panjang lebar, menjelaskan apa yang ia lihat. Dadanya ikut sesak, layaknya orang yang tengah cemburu, saat mengingat Kenzo keluar dari rumah Reva.


“Pergilah! Sampai bertemu lagi di pengadilan!” suara Riella terdengar lembut, dia benar-benar mantap dengan keputusannya kali ini.


Kenzo hanya bisa menunduk, dia sudah kehabisan kata-kata, tidak tahu lagi mau menjelaskan apa pada Riella. Semua kejujurannya tidak berarti lagi saat ini. Kini yang ada hanyalah penyesalan. Andai dia punya keberanian untuk mengatakannya sedari awal. Andai rasa takut kehilangan itu tidak menghantuinya. Dia pasti akan jujur sejak awal pada istrinya. Kini ketakutannya menjadi nyata, kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Riella akan pergi meninggalkannya.


Dengan mata berkaca-kaca Kenzo menatap wajah Riella. Dia mengumpulkan keberaniannya untuk membujuk Riella lagi, dia benar-benar tidak menginginkan perpisahan.


“Hukum aku atas kesalahanku, tapi ku mohon jangan tinggalkan aku! Kita bisa memperbaikinya.” Suara Kenzo semakin serak.


“Dan sayang nya aku tidak berniat memperbaiki itu semua, Ken!” Riella langsung menjawab tanpa memikirkan lagi keputusannya. Diabaikan dan dikhianati membuatnya kembali benci dengan pria di depannya ini. Tidak ada alasan lain untuk dia bertahan selain anak yang ada di perutnya saat ini.


“Baiklah, kamu bilang anak ini anakku? Lalu bagaimana dengan dia? Dia berhak mendapatkan kasih sayang dariku?” Kenzo mencoba meraih tangan Riella, memohon supaya Riella mau merubah keputusannya.


“Dia tidak membutuhkan kasih sayang, dari seorang ayah yang tidak mau mengakuinya! Kamu ingat perbuatan mu selama ini padaku, kan? Atau mau aku sebutkan satu-persatu!” Riella sedikit menaikkan nada bicaranya membuka paksa ingatan Kenzo.


“Riella! Please!” mohon Kenzo menyentuh tangan Riella.


“Ini terakhir kalinya aku meminta padamu, Ken.” Riella menatap wajah Kenzo, “pergilah!” lanjutnya, dia menarik tangannya dari genggaman Kenzo. Lalu merebahkan tubuhnya, menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Kenzo masih diam di sana, sambil mengusap air matanya. Dia tidak ingin keluar dari ruang rawat Riella. Ingin menahan Riella supaya tidak pergi darinya.


Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka, terlihat Nindi datang bersama dengan Alby yang menggendong Aslan. Bayi lelaki itu sudah pintar mengoceh, terlihat dia tertawa senang saat melihat Kenzo duduk di samping bed ranjang Riella. Tapi Kenzo tidak mampu membalasnya. Dia masih dirundung kesedihan, karena pernyataan Erik yang akan membawa pergi istrinya.


Bayi enam bulan itu mengoceh tidak jelas, membuat Riella tergerak untuk menyingkap selimutnya saat mendengar suara Aslan.


“Mam ... mam mam....” terdengar suara Aslan yang Riella anggap tengah memanggil namanya. Bayi itu terus mengoceh menyebut nama 'Maam' menggerakkan hati Riella ikut menyahut Aslan.


“Hey, Aslan. Sini, Sayang!” ucap Riella menepuk tempat kosong di sampingnya. Dia lalu menatap Nindi yang sudah berurai air mata saat melihat kondisinya.


“Ma, kenapa? Riella nggak papa, Riella masih selamat.” Riella masih bisa becanda sambil berusaha menyentuh tubuh Nindi, terdengar suara tawa kecil keluar dari bibirnya, berusaha menenangkan mertuanya.


Nindi yang mendengar pun segera memeluk tubuh Riella yang terbaring di ranjang. Dia menangisi kondisi Riella saat ini yang terlihat lemah. Dan itu semua karena perlakuan anaknya.


“Sudah lah, Ma. Riella kangen sama Aslan! Jangan menangis seperti ini,” ucap Riella menepuk punggung Nindi.


Alby yang mendengar segera mendekat ke arah Riella, lalu meletakkan Aslan di samping tempat Riella tidur.


“Dia sangat rewel kemarin,” jelas Nindi menceritakan kondisi Aslan saat Riella pergi.


“Benarkah?” Riella merasa tidak percaya, jika Aslan bisa memiliki kontak batin setajam itu dengannya.


Kenzo yang melihat pun hanya bisa diam mengawasi istrinya. Bahkan sambutan Riella pada Aslan lebih ramah daripada Riella menyambutnya. Tapi dia sedikit lega melihat senyum tipis dari bibir Riella saat Aslan datang berkunjung.


“Riella, kalau kamu tidak mau pulang dengan Kenzo tidak apa-apa. Kamu bisa tinggal dengan Mama,” ucap Nindi menatap Riella yang tengah bermain-main dengan Aslan.


Riella menampilkan senyum palsunya. Dia tidak bisa memikirkan hal itu sekarang. Pikirannya belum bisa berpikir jernih saat ini. Dia ingin menenangkan diri dulu dari semua masalah yang selama ini menyiksa batinnya.


“Biarkan Aslan menemaniku di sini, Ma. Pasti dia menyusahkan Mama, kalau dia rewel,” minta Riella sambil mengusap rambut Aslan, dia mengamati mata bening yang tengah menatapnya. Bayi laki-laki itu terus mengoceh menyebut namanya, seolah menyampaikan kerinduan setelah hampir dua hari tidak bertemu.


Ketika Riella meninggalkan Aslan bersama Alby kemarin, bayi itu belum bisa menyebut namanya. Dan hari ini dia mendengar bayi lelaki itu menyebut namanya. Hatinya begitu bahagia, meski Aslan bukan lahir dari rahimnya sendiri.


“Apa kata dokter, La?” tanya Nindi yang penasaran dengan kondisi menantunya.


Riella menoleh ke arah Nindi, “nggak perlu khawatir, Ma. Semuanya sudah normal, kok. Kemarin sempat ada kontraksi tapi beruntung Riella segera dibawa ke rumah sakit. Jadi bisa diatasi dengan tepat.”


Kenzo semakin merasa bersalah setelah mendengar penjelasan Riella. Tanpa berpamitan dengan siapapun, ia segera keluar dari ruang rawat Riella.


“Riella, maafkan Kenzo yang mengabaikanmu. Dia sudah cukup tersiksa selama ini dengan penyakitnya itu. Jadi wajar saja jika pikiran buruk menghantui pikirannya,” ungkap Nindi setelah Kenzo dan Alby pergi dari ruangan.


“Riella kecewa dengan Kenzo, Ma. Riella bersyukur karena bayi Riella bisa bertahan sampai detik ini.” Riella mengusap perutnya lembut.


Nindi yang melihat itu, ikut mengusap perut Riella. “Pikirkan baik-baik untuk keputusanmu nanti. Jangan sampai hidup kalian hancur dengan adanya perpisahan. Mama tahu, Riella anak yang baik, Riella tidak akan membiarkan bayi ini berpisah dengan orangtuanya. Kamu lihat Aslan, di bahagia berada di tengah kalian. Jadi, bisa kamu bayangkan bagaimana bayimu nanti jika berpisah dengan ayahnya.” Nindi ikut membujuk Riella supaya mau bertahan di samping anaknya.


Riella memejamkan matanya, menghalau air mata yang hendak mengalir. Dia benci menangis di depan orang. Tapi ucapan Nindi benar adanya.


“Riella akan memikirkannya.”


Mendengar itu Nindi hanya bisa tersenyum simpul, dia sangat paham keadaan Kenzo, tapi ia juga mengerti sifat Riella yang keras kepala. Mereka akhirnya mengobrol membahas kesana kemari, hingga Aslan tidur dalam pelukan Riella.


Riella meminta pada Nindi untuk tidak membawa Aslan pulang ke rumah. Ia ingin mengenalkan Aslan pada ke dua orangtuanya, karena selama ini mereka hanya bertemu lewat video call.


“Baiklah, Mama pulang dulu. Mama akan memanggil Kenzo untuk menemanimu!” Nindi berpamitan karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat Riella.


“Nggak perlu, Ma. Riella bisa kok mengurusnya sendiri.” Riella yang tidak ingin melihat Kenzo, menolak mentah-mentah tawaran Nindi.


“Ya sudah, kamu istirahat gih! Mumpung Aslan juga tidur,” ucap Nindi lalu keluar dari ruang rawat Riella. Saat Nindi keluar, ia melihat anak lelakinya tengah menunduk dalam di depan ruang rawat Riella. Dia hanya membuang nafas kasar saat melihat wajah anaknya tampak kusut.


“Masuklah, Riella tidak mau jika Aslan Mama bawa pulang, dia mungkin merindukan Aslan,” lirih Nindi pada anak lelakinya. Dia lalu segera pergi meninggalkan rumah sakit bersama Alby. Meninggalkan Kenzo sendirian di sana.


Sedangkan Riella yang berada di dalam ruangan, masih senang menciumi aroma Aslan yang sedang terlelap, dia begitu merindukan bayi lelaki di dekapannya ini. Satu-satunya orang yang menemaninya saat dia bersedih. Hanya Aslan yang menghiburnya kala itu.


Riella mulai kebingungan saat merasakan desakan dari kantung kemihnya. Salah dia juga kemarin menolak untuk dipasangkan kateter, dia takut, benda kecil itu akan membahayakan janinnya. Jadi saat ini mau tidak mau Riella harus turun dari bed dan pergi ke kamar mandi.


“Bentar ya, Sayang ... jangan bangun dulu. Mami ke toilet sebentar!” ucapnya sambil mengambil infus yang ada di sampingnya. Riella pelan-pelan berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Aslan yang masih terlelap di atas ranjang.


Riella menutup pintunya rapat, dia khawatir jika ada yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi. Mengingat suaminya masih berkeliaran di rumah sakit.


...----------------...


Terima kasih untuk vote, hadiahnya, like dan komentarnya yang begitu antusias menyambut Kenzo menangis. Saya baca satu-satu. Tapi maaf nggak bisa balas semua . Itu semua semangat saya buat lanjutin cerita ini loh🥰. Terima kasih buanyak 😘😘