
Malam ini Erik sudah berada di kamar Riella. Dia menatap tak suka ke arah menantunya yang duduk di samping Riella. Berbeda dengan Ella, saat ini dia tengah mengobrol ramah dengan Kenzo, sambil bermain dengan Aslan di pangkuannya. Dia belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua.
Pintu ruangan terbuka, seorang perawat masuk sambil mendorong kursi roda di tangannya. Perawat itu meminta Riella untuk ikut ke ruang praktek dokter karena harus melakukan pemeriksaan lanjutan.
“Biar saya yang mendorong, Sus!” Kenzo menawarkan diri, sambil mengambil alih kursi roda dari tangan perawat. Lalu menggendong Riella dan mendudukannya di kursi. Dan Riella tidak mungkin menolak, karena di sana hanya ada Kenzo yang bisa membantunya. Erik tidak mungkin mampu untuk mengangkat tubuhnya saat ini.
“Hati-hati, sebenci apapun kamu dengan anakku, jangan sampai kamu mendorongnya!” Erik yang sudah mendekat, berbisik memperingati Kenzo.
“Pa ...” suara teguran keluar dari bibir Ella, dia merasa curiga melihat wajah kesal suaminya, saat menatap Kenzo. “Kalian ada masalah apa sih? Dari tadi aku perhatikan seperti terjadi perang dingin, hum?” lanjutnya bertanya sambil menatap lelaki di depannya bergantian.
“Nggak papa. Sudah yuk, kita akan melihat calon cucu kita, sini biar Aslan aku yang gendong!” Erik mengambil Aslan dari tangan Ella. “Kamu tebak cewek apa cowok, calon cucu kita?” Erik mengalihkan pembicaraan sambil membawa istrinya keluar ruangan.
“Di mana, Sus, ruangan dokter Wulan?” Dulu saat mengantar Riella periksa bukan di rumah sakit ini, dia ingat jika dulu yang menangani Riella bukan dokter Wulan melainkan dokter Syifa, dokter cantik yang sepantaran dengannya.
“Mari saya antar, Pak!” Perawat itu berjalan mendahului Kenzo, menunjukkan di mana letak ruangannya.
Tiba di ruangan dokter Wulan, Erik dan Ella sudah duduk di kursi yang ada di depan dokter. Kenzo yang tidak mendapat kursi pun hanya bisa berdiri tegak di samping Riella. Dia lalu menggendong tubuh Riella dan membawanya ke brankar pemeriksaan setelah mendengar permintaan dokter Wulan.
“Semoga semua baik-baik saja, ya.” Wulan berkata sambil memberi gel di alat USG.
“Amin.” Riella menyahut, itulah keinginanya saat ini. Melihat anaknya tumbuh dengan baik. Dia memang teledor, tubuh yang ia rasa baik-baik saja nyatanya tidak. Dan kejadian tadi siang benar-benar membuatnya sadar, jika dia membutuhkan orang lain saat ini.
Dokter Wulan mulai menggerakkan stick tranducer di tangannya. Wajahnya sedikit tertekuk saat alat itu menampilkan kondisi janin Riella.
“Masih tetap bed rest ya, Bu! Usahakan jangan turun dari tempat tidur!” ucapnya memperingati Riella. “Suara detak jantungnya masih sangat lemah.” Dokter kemudian mengeraskan volume speaker, setelah itu terdengar suara denyut jantung bayi Riella memenuhi ruangan.
Kenzo yang duduk di samping Riella beralih menatap ke arah istrinya. Beginikah rasanya, ketika mendengar suara detak jantung bayi? Batin Kenzo ketika hatinya ikut bergetar, ikut bahagia, terharu dan itu membuat matanya basah. Ini pertama untuknya mendengar detak jantung bayi, dan ini sungguh di luar dugaannya.
“Bagaimana supaya bisa normal, Dok?” Riella bertanya karena ingin segera mengatasi masalah calon bayinya.
“Istirahat yang cukup, jangan terlalu banyak pikiran, makan makanan bergizi.” Dokter Wulan menjelaskan, sambil sesekali menoleh ke arah Kenzo.
Dokter mulai melanjutkan lagi memeriksa janin Riella, menggerakkan alat di tangannya. “Sudah 17 Minggu 6 hari ya, Bu. Organ tubuhnya juga sudah lengkap.”
“Apa jenis kelaminnya, Dok?” suara pertanyaan terdengar dari balik tirai. Erik yang penasaran dengan jenis kelamin calon cucunya langsung menyahut ucapan dokter.
“Belum tahu, Pak. Belum terlihat ini!” ucap dokter Wulan, menjawab jujur. Karena sejauh ini dia belum bisa melihat jenis kelamin bayi Riella.
Mendengar jawaban itu, Erik berjalan masuk ke ruang USG, menyingkap gorden yang sedari tadi menjadi penghalang. Dia ingin mengambil alih posisi dokter yang memeriksa putrinya saat ini.
“Emmm minggir, coba!” Erik mengusir dokter yang memeriksa Riella dengan lembut.
“Nggak bisa, Pak! Ini pelanggaran!” dokter Wulan menolak permintaan Erik.
“Yang, ambilkan kartu dokter di dompet!” Erik berteriak pada istrinya yang tengah duduk memangku Aslan.
“Nggak bawa dompet, Yang!” sahut Ella enteng.
“Pa sudahlah, biarkan menjadi rahasia untukku.” Riella mulai protes, sedari awal dia memang tidak ingin mengetahuinya, apapun jenis kelamin bayinya dia akan menyayanginya dengan sepenuh hati.
“Nggak bisa begitu!” Erik lalu mengambil tranducer dari tangan dokter Wulan. Memeriksa sendiri calon cucunya. Dan itu membuat Kenzo cemburu, saat tangan Erik dengan lihai menggerakkan tranducer di perut Riella.
Erik menunjuk ke arah gambar yang terlihat di monitor, “dokter tahu artinya ini, kan?” Erik bertanya pada dokter di sampingnya. “Hamburger sign,” imbuhnya membuat dokter di sampingnya meringis.
Dokter Wulan melihat dengan jelas, ada tiga garis putih di monitor, yang menandakan itu adalah labia dengan klitor*s di tengahnya. Hampir seperti hamburger dengan dua tumpukan roti dan daging di tengahnya. Menandakan calon bayi Riella adalah seorang gadis yang akan mewarisi kecantikan ibunya
Hanya Erik dan dokter Wulan saja yang tahu, mereka semua tidak paham dengan istilah kedokteran yang ada di dunia mereka. Apalagi Riella yang hanya mendapat gelar dokter umum.
“Sudah berapa lama jadi dokter? Dulu saya seusia Anda sudah dinobatkan jadi dokter terbaik di Jakarta. Harusnya Anda mengenali saya!” Erik mencoba menyombongkan dirinya.
“Tapi sayangnya saya pensiun dini,” tambahnya sambil memberikan lagi stick tranducer pada Wulan, lalu mengambil tisu untuk membersihkan tangannya.
“Yang, nggak perlu kamu ceritakan!” Ella bersuara membuat Erik terdiam.
“Segera keluarkan surat izin keluar rumah sakit, saya akan membawa anak saya ke Jakarta besok pagi!” minta Erik sambil menatap ke arah Riella.
“Nggak bisa! Bapak bisa melihat bagaimana kondisi calon cucu Bapak,” ucap Wulan menolak memberikan izin Riella keluar dari rumah sakit.
Erik lalu berjalan ke arah istrinya, setelah mendengar ucapan dokter. Dia tidak mau mengambil resiko jika sesuatu terjadi dengan Riella dan calon cucunya.
“Dok, boleh dengar suara detak jantungnya lagi?” minta Kenzo yang ingin mendengar suara detak jantung bayi yang ada di perut Riella.
“Bapak nggak pernah mendengarnya sebelum ini?” dokter Wulan menyelidik. Dan Kenzo hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, terlihat dengan jelas wajah penyesalan yang kini ia tampilkan.
“Sudah, cukup, Dok! Saya mau istirahat saja. Saya lelah.” Riella memotong saat dokter Wulan hendak memeriksa lagi perutnya
Kenzo hanya menyetujui, dia tidak memprotes penolakan Riella atas permintaanya. Kenzo lalu mengangkat tubuh Riella ke kursi roda dan membawanya kembali ke kamar. Di sana sudah ada Erik dan Ella menempati tempat tidur dengan Aslan berada di tengah keduanya.
Kenzo duduk diam sambil menunggu Riella, siapa tahu istrinya itu membutuhkan sesuatu.
“Pulanglah! Tidak ada tempat tidur untukmu di sini!” Riella mengusir Kenzo pergi dari ruangannya. Rasa kecewanya terhadap Kenzo masih jelas terasa dan dia tidak ingin hatinya luluh karena sikap Kenzo padanya.
“Aku bisa tidur di kursi, kamu istirahatlah! Jangan pedulikan aku! Jika kamu ingin berpisah. Setidaknya aku masih bisa menemanimu saat kamu masih berada di sini.” Kenzo menutup tubuh Riella dengan selimut tebal. Lalu mematikan lampu ruangan, karena sepertinya kedua orang tua Riella juga sudah terlelap.
Riella dengan pelan mengganti posisi tidurnya membelakangi Kenzo yang duduk di sampingnya. Dia benar-benar tidak mempedulikan kehadiran Kenzo di ruangan tersebut. Hatinya sudah ditutup perasaan benci, terhadap suaminya.
Kenzo menerima perlakuan Riella terhadap dirinya. Dia hanya berharap semoga Riella bisa membuka hatinya lagi. Perlahan mata Kenzo yang lelah mulai terpejam, dia tidur dengan posisi duduk sambil meletakkan kepalanya di tepi bed yang digunakan istrinya.
...----------------...
Jangan lupa untuk like, vote dan tinggalkan komentar, terima kasih😘