
Sumbangkan vote buat mereka ya, biar naik rangking. Kalau naik rangking, semakin banyak dilihat orang, semakin banyak pula yang buka. Oke! Terima kasih😍
🌹
Setelah mengantar Kenzo menuju bandara Soekarno Hatta, Riella melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dia sedikit terbawa perasaan kali ini, dia merasa kesepian setelah pesawat Kenzo lepas landas. Mungkin, efek hormon kehamilannya kali ini.
Saat tiba di rumah sakit, hari sudah sore. Matahari hampir sepenuhnya tenggelam di ujung barat. Riella berjalan masuk ke rumah sakit miliknya, menyapa beberapa perawat yang ia lewati.
Sore ini, Riella menggenakan dress yang mencetak jelas bentuk tubuhnya, bermotif salur, yang sudah lama tidak ia gunakan. Jelas terlihat perutnya yang sedikit membuncit, membuat perawat yang mengenalinya menghentikan langkah kakinya saat ini.
“Gemas, lihatnya Bu. Sudah berapa bulan?” tanya perawat yang tadi duduk di meja pendaftaran. Dia segera berdiri menghentikan langkah Riella, saat mengetahui atasannya itu samakin dekat dengannya.
“Memang kelihatan banget ya, kalau aku hamil?” Riella mengusap perutnya, sambil tersenyum manis ke arah perawat.
“Iya, Bu. Bu Riella juga semakin cantik. Pasti anaknya cewek ya!” perawat itu mencoba menebak.
“Masih rahasia, biar kejutan.” Setelah itu Riella kembali tersenyum tipis. “Aku naik dulu ya.” Riella segera berlalu sebelum mereka kembali membrondonginya dengan pertanyaan lagi.
Dia menuju kamar yang tempati Erik. Meski mamanya sudah melarangnya untuk datang. Tapi, dia tidak ingin membuang waktunya dengan melamun sendirian di kamarnya.
Riella memasuki kamar Erik. Melihat pemandangan yang menghangatkan hatinya. Dia juga ingin seperti mamanya, yang selalu merawat papanya ketika sedang sakit. Papanya juga begitu, masih saja bermanjaan dengan mamanya, meski kebanyakan orang di usia seperti ini, sudah merasa bosan dengan hubungannya.
“Ehhem!” Riella berdehem, membuat kedua orang tuanya itu segera membuat jarak masing-masing. Dia menoleh ke arah Riella secara bersamaan sambil tersenyum tipis.
Erik menatap tak suka ke arah Riella. “Pakai pakaianmu yang benar!” suara peringatan Erik keluar saat melihat lekuk tubuh Riella tercetak jelas. Meski cukup sopan bentuk pakaiannya, tapi ini tampak kekecilan jika dipakai Riella yang tengah hamil.
“Ih Papa. Berlebihan, deh! Cuma baju juga. Kenzo juga gak mengingatkan tadi sebelum berangkat. Jadi aman-aman saja, kan?”
“Kemana Kenzo, La?” tanya Ella, yang memberi tempat duduknya untuk Riella, dia berpindah di samping Erik.
Riella mengambil duduk di samping bed Erik, menghembuskan nafas kasar, “dia pulang ke Banjarmasin. Ada pekerjaan yang harus segera dia selesaikan,” ucap Riella sambil mengusap rambutnya kebelakang.
“Hmm ... asyik dong, bisa di sini lama.” Ella merasa bahagia mendengar ucapan Riella. itu berarti dia akan berlama-lama mengurusi ibu hamil. “Kamu perawatan sana sama adikmu, manjakan tubuhmu. Mumpung suamimu tidak ada, jadi nanti bisa memberikan kejutan untuk Kenzo,” tambahnya setelah beberapa menit hening.
“Kenzo nggak dikasih kejutan juga sudah senang.” Riella menyahut dan langsung mendapat pukulan dari Ella.
“Ati-ati musim pelakor. Bukan hanya pelakor juga sih, pebinor juga banyak. Contohnya itu mantan tunanganmu, istrinya diambil pebinor.” Ella keceplosan menceritakan kondisi Emil saat ini.
“Mama tahu dari mana?” tanya Riella setelah mamanya menghentikan ucapannya.
“Biasa. Sejak Mama mu ikut arisan, dia jadi sering kumpul sama ibu-ibu sosialita. Yang suka menggosip. Bahkan mereka punya fans club’ nya sendiri.” Erik menceritakan dengan detail. Dia kesal karena sering ditinggal Ella di rumah sendirian, istrinya itu harus menghadiri acara arisan. “Pengin tahu nggak nama fansclub-nya apa?”
“Apa?” Riella menatap serius ke arah Erik, menjawab cepat pertanyaan papanya. Karena rasa penasaran yang ia rasakan turut diingin bayi di dalam perutnya.
“Lambe dower.” Erik menjawab sambil melirik ke arah sang istri. Dia bersiap mengunci tangan Ella yang hendak mencubitnya.
“Astaga benaran, Ma? Yang terkenal itu, ya? Wah ... Mama sekarang jadi tukang ghibah, dong!” Riella berbinar, sedikit geli jika mamanya mengikuti akun yang tengah naik daun tersebut.
“Tidak usah didengarkan Papamu ini!” Ella melempar bantal ke arah suaminya. Dia lalu kembali menatap Riella.
“Mamanya Emil, cerita ke Mama katanya menantunya yang cantik itu kabur setelah melahirkan bayinya Emil.” Ella mengamati wajah Riella. Tidak ada perubahan yang serius yang ditampilkan anaknya perempuannya itu. Dia sedikit lega, mungkin Riella sudah berhasil move on dari Emil. Dan dia bisa menerima sepenuhnya keberadaan Kenzo.
“Kenapa, Kak?” tanyanya pada Kalun. Pria yang meneleponnya saat ini.
“Keluarlah aku menitipkan sesuatu untuk papa di meja resepsionis. Aku akan mengantar kakak iparmu dulu. Karena kita baru saja tiba di Jakarta.”
“Apa memangnya, Kak?” Riella heran kenapa tidak besok saja Kalun menyerahkan pada papanya.
“Cepat ambil! Aku sudah mengatakan pada Dilla. Supaya memberikannya padamu! Dia baru banyak pasien jadi nggak mungkin bisa ke ruangan papa.”
“Iya. Aku ke sana sekarang.” Riella lalu berdiri, hendak mengambil apa yang dititipkan Kalun untuk papanya.
Sebenarnya malas juga untuk jalan ke depan. Tapi demi Erik, Riella akan melakukannya. Kalun tidak akan melakukan ini, jika itu tidak begitu penting untuk papanya.
Riella segera pergi dari ruangan Erik, meninggalkan ponselnya di dalam tas.
“Jangan lama-lama, ini sudah malam!” pesan Erik saat melihatnya pergi dari ruangan.
“Oke Pa. Cuma ke depan saja kok,” jawab Riella lalu menutup pintu kamar. Dia berjalan ke arah meja depan untuk menemui petugas jaga.
Tiba di sana Riella segera meminta barang yang dititipkan ke Dilla. Kebetulan dia saat ini bertemu dengan teman kuliahnya yang tengah menjalani praktek di sana.
“Praktek di sini kamu, ya?” tanyanya pada pria di depannya. Pria itu tampak terkejut saat mendapati Riella menyapanya. Tatapannya turun ke arah perut Riella yang menggembung.
“Hamil juga, loe?” Pria itu justru bertanya pada Riella. Saat menyadari perubahan tubuh temannya.
“Dasar! Orang ditanya balik tanya. Dah lihat gue hamil masih saja berlaga bodoh!” cibir Riella menatap ke arah pria di depannya.
“Lagi hamil juga! Mulut pedes amat! Dah lah, gue pulang capek!” lelaki itu berlalu begitu saja, meninggalkan rumah sakit.
“Pam!” panggil Riella, dia sedikit berteriak supaya pria itu mau menghentikan langkahnya. Dia lalu mendekat ke arah Pamuji, “Minta nomor ponselmu, dong! Ada hal yang ingin aku tanyakan.”
“Catat cepat!” pria itu menyahut, sambil mendekatkan bibirnya ke arah Riella.
“Astaga ponselku tertinggal di kamar.” Riella menepuk keningnya. “Kamu yang catat nomorku saja!” Riella lalu menyebutkan nomornya dengan jelas di depan Pamuji. Tanpa ia ketahui, jika ada pria yang ikut mencatat nomor ponselnya.
“Kamu hubungi aku dulu, nanti aku simpan nomormu!” Pamuji hanya berdehem, lalu berlalu menuju area parkiran mobil.
Riella kembali masuk untuk mengambil titipan Kalun yang tadi masih ia tinggalkan. Entah buku apa yang diberikan Kalun untuk papanya. Tapi ia tahu bahwa papanya suka membaca karya penulis yang ada di buku ini.
“Makasih ya, Dilla.” Setelah mengucapkan itu, Riella segera kembali ke ruangan Erik.
Baru saja dia berjalan tiga langkah, seseorang memanggil namanya dengan suara lembut. Dia tidak menoleh ke belakang, dia hanya diam di tempat. Sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini.
“Mas Emil, adik saya bawa ketemu dokter dulu, ya.” Seorang wanita berucap pada Emil. Wanita itu tengah menggendong bayi dan menenteng tas di tangannya. Dia segera pergi setelah Emil memberikan izin padanya.
...----------------...
Kok aku deg-deg-an ya. Apa yang akan dilakukan Emil hayo? Tulis komentar boleh kok.