The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Dia Kuat, Seperti Aku!



Cakrawala nan cerah sudah menyambut indahnya hari ini. Cahaya matahari yang sejuk, tepat mengenai tubuh pria yang baru saja turun dari mobil sewaannya. Suara kicauan burung yang berdiri di dahan pohon, seolah menyambut kedatangan Erik yang sudah berdiri di depan rumah Kenzo. Pria yang sudah tua itu masih tampak gagah dengan sweater hangat di tubuhnya.


Erik sejenak menatap bangunan rumah kayu di depannya. Unik, antik, terlihat nyaman dari arah luar. Dia tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya, ternyata rumah mewah, bukan jaminan akan kebahagiaan seseorang. Dalam hatinya berucap.


Usai menjalankan sholat subuh tadi. Erik meminta anak buahnya untuk mengantarkan ke rumah Kenzo. Dan di sinilah dia sekarang, berdiri di depan rumah lelaki yang masih berstatus menantunya.


Erik menarik nafas dalam sebelum tangannya mulai mengetuk pintu rumah Kenzo. Cukup lama ia melakukan itu, tapi tetap saja, tidak ada sahutan dari dalam rumah. Erik lalu meraih ponselnya, berinisiatif untuk menelepon Kenzo.


Sedikit kesal karena sedari tadi hanya mendengar nada sambung dari seberang telepon. Erik lalu mematikan ponselnya, ia kembali mengetuk pintu utama rumah Kenzo. Merasa sia-sia ia kembali menelepon nomor menantunya. Kali ini Kenzo langsung mengangkat panggilannya.


“Aku di depan rumahmu, bisa kamu buka pintu!?” ucap Erik tanpa mengucapkan salam pada lelaki di seberang panggilan.


Kenzo yang mendengar suara Erik langsung tersadar dari tidurnya. Dia segera bergegas membukakan pintu rumah, dengan mata yang masih lengket.


“Pa!” seru Kenzo saat melihat tubuh Erik yang membelakangi pintu utama rumahnya. Dia terkejut karena tiba-tiba Erik berada di depannya pagi ini.


Erik memperhatikan penampilan Kenzo. “Hai ... gimana kabarmu?” tanya Erik memalsukan senyum ramahnya ke arah Kenzo.


“Baik, Pa. Kenzo bersih-bersih badan dulu. Papa silahkan masuk ke rumah!” Kenzo membuka lebar pintu rumahnya untuk Erik, dan ia segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Erik melangkahkan kakinya ke dalam rumah, mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan. Di dalam rumah Kenzo, menurutnya sangat nyaman, bersih, dan rapi. Ia lalu mendekat ke arah ruang keluarga, terpasang di sana sebuah televisi besar menghadap ke arah sofa. Erik bisa membayangkan, Riella yang tengah melihat televisi sambil rebahan di sofa yang empuk di sana, becanda dengan keluarga kecilnya. Tapi semua itu sirna bukan itu yang Riella dapatkan selama ini.


Erik lalu duduk di sofa di depan televisi. Matanya mengarah ke kertas USG yang ada di meja. Tanganya bergerak untuk mengambil gambar calon cucunya.


Kamu boleh mengabaikan aku Ken! Tapi lihatlah dia begitu kuat, sama seperti aku!


Tulisan tangan Riella membuat perasaan Erik semakin kacau. Membayangkan Riella diabaikan saja membuatnya sakit hati. Bagaimana dengan perasaan Riella yang mengalaminya, apalagi dia tengah hamil. Tampak mata Erik mulai berair, ia berusaha kuat untuk tidak mengeluarkan butiran bening itu.


“Pa ... Kenzo buatkan teh dulu.” Kenzo berjalan ke arah dapur setelah selesai membersihkan tubuhnya.


Erik yang melihat Kenzo segera mengikuti langkah kakinya. Dia lalu mengambil duduk di meja makan, sambil menunggu Kenzo membuatkan minuman untuknya. Erik yang paham dengan sifat Ella, mulai mengetikkan pesan untuk istrinya, dia khawatir jika Ella akan mengkhawatirkannya karena saat ia tidur istrinya itu masih terlelap di tempat tidur.


Sepuluh menit kemudian, Kenzo berjalan ke meja makan dengan dua cangkir teh di tangannya. Ia lalu mengambil kue kacang yang selalu menjadi stok camilannya di rumah dan menghidangkannya di depan Erik.


“Silakan, Pa. Maaf Riella sedang tidak ada di rumah,” kata Kenzo sopan, sambil menunduk.


Bagai petir yang menyambar ubun-ubunnya. Tubuh Kenzo tiba-tiba membeku, diam tak berkutik, diam-diam meremas kepalan tangannya yang ia sembunyikan di bawah meja. Wajahnya berubah cemas setelah mendengar ucapan Erik, “lal- lu bagaimana kondisi Riella sekarang, Pa?” tanya Kenzo, bibirnya terasa kelu hanya untuk menanyakan kabar istrinya.


“Tenang saja, kami mengurusnya dengan baik. Dia sudah baik-baik saja.” Erik tersenyum menenangkan ke arah Kenzo.


“Pa ... maaf! Kenzo bukannya menelantarkannya. Tapi-


“Aku cuma mau tahu alasanmu mengabaikan anakku?” potong Erik yang memulai inti percakapannya, “sebenarnya aku tidak ingin mencampuri urusan kalian! Kalian sama-sama sudah dewasa. Tapi, sekarang aku tidak tega, sudah berbulan-bulan kamu mengabaikan riella. tanpa kamu jelaskan titik masalahnya. Kami sungguh tidak rela, jika anak yang sudah kami besarkan dengan penuh kasih sayang kamu abaikan seperti ini!”


Kenzo hanya diam mendengarkan, mencoba merangkai kata-kata yang pas untuk pembelaan atas dirinya.


Erik yang melihatnya pun menarik nafas berat, berusaha meredam emosinya, “Jika kamu sudah tidak membutuhkannya ...” Erik meraih tangan Kenzo yang sudah berada di atas meja, sorot matanya menatap wajah Kenzo yang semakin memucat. “Ku mohon kembalikan Riella pada kami. Kami masih siap untuk memberikan dia kasih sayang. Kami janji akan merawat Riella dan anakmu dengan baik! Pegang janjiku!” mata Erik mulai basah saat mengatakan itu pada Kenzo. Hati orangtua mana yang tidak tersayat saat melihat anaknya diperlakukan seperti itu, pada orang yang sudah ia percaya bisa membimbingnya ke jalan yang benar.


“Pa!” panggil Kenzo yang ingin menjelaskan masalahnya pada Erik, “Maaf kan Kenzo yang sudah mengabaikan Riella, tapi semua ada sebab akibatnya. Sekarang Kenzo tanya pada Papa. Lelaki mana yang tidak sakit hati jika istrinya hamil anak pria lain! Hum? Papa sendiri juga nggak mau kan, jika istri Papa dihamili pria lain?”


Wajah Erik sudah merah padam. Ingin sekali ia menyiramkan teh panas itu ke wajah Kenzo. Karena untuk memukulnya pun, ia tidak punya tenaga lebih. Tubuhnya kini sudah tidak sekuat dulu yang bisa memukul orang dengan mudah. Jantung Erik kembali berpacu cepat, emosinya semakin terlihat jelas di saat Kenzo menyebut kata 'istri Papa' berarti yang dimaksud Kenzo adalah Ella, wanita yang sangat ia cintai. Tapi dia tidak ingin membahas itu, ia datang hanya ingin memperjelas masalah anaknya.


“Atas dasar apa kamu menuduh Riella seperti itu? Apa kamu tidak mengenal putriku dengan baik? Aku tahu, kamu bukan yang pertama untuknya. Tapi aku bisa menjamin jika Riella tidak akan pernah melakukan itu! Dia wanita yang setia!” Erik mengambil nafas dalam, “Sepertinya kamu tidak pernah mengenal Riella dengan baik. Inikah yang kamu katakan cinta, yang selalu kamu agung-agungkan itu, tapi kelakuanmu seolah tidak mengenal anakku, kamu justru menuduh istrimu hamil pria lain!” lanjutnya dengan nafas naik turun.


Kenzo memejamkan matanya, dadanya ikut sesak, saat mendengar ucapan Erik. Dia mencintai Riella dengan seluruh hatinya. Dia bahkan bisa menerima Riella apa adanya, virgin atau tidak virgin. Tapi melihat Riella hamil bukan karenanya, ia juga sakit. Kenapa sekarang tidak ada yang paham dengan posisinya? Dia punya kekurangan yang tidak semua orang mengetahuinya.


“Sepertinya aku sudah benar-benar mantap untuk mengambil putriku darimu!” ucap Erik manatap mata Kenzo yang sudah berair.


“Ku pastikan Riella akan meminta khuluk padamu setelah anaknya lahir nanti! Selama ini kamu juga tidak merawatnya, kan! Dan anggap saja bayi itu benar bukan anakmu!” Erik tidak mampu lagi membendung amarahnya, dia meluapkan semua apa yang ia pikirkan.


“Aku punya buktinya, Pa!” Kenzo menatap ke arah jendela rumahnya, “aku punya video Riella dengan Emil, dan Papa tahu ... dokter mengatakan aku tidak subur! Ada kelainan dalam cairan sper*maku!” Kenzo menjelaskan secara detail pada Erik, menanggung rasa malunya sebagai lelaki yang lemah. Dia terus bercerita, bagaimana dia bisa mendapatkan penyakit itu, hingga ia berjuang untuk menjalani teraphy di Singapura. Berulang kali Kenzo menahan supaya air matanya supaya tidak turun, tapi nyatanya ia juga sama lemahnya seperti wanita. Dia menangis di depan Erik.


Setelah selesai mendengar cerita Kenzo, Erik segera berdiri dari duduknya, “aku akan membawa anakku pulang ke Jakarta! Silakan jika kamu ingin menemui Riella untuk terakhir kalinya!”


...----------------...


Terima kasih untuk semua dukungan kalian. Silakan vote dan beri hadiah lagi ya🤭, yang tidak punya bisa nyumbang like dan komentar review-nya👍👍


Salam hangat dari penulis remahan teramah seMangatoon. ^_^