The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Obsesi Saphira



Selamat Membaca!


🌹


Obsesi Eritha, berbuah manis saat ini. Pesan yang dia sampaikan pada temannya kini bisa terpenuhi dengan sempurna. Kehidupan Kenzo yang tidak pernah bahagia dalam rumah tangganya itu akibat dendam yang ia titipkan pada Reva.


Siapa yang tahu, dunia mereka begitu sempit. Reva tidak terima atas meninggalnya Eritha saat itu, meski polisi Singapura mengatakan jika itu murni karena kecelakaan. Tapi, perlakuan Kenzo pada temannya sungguh menorehkan luka yang mendalam untuknya.


Mendengar cerita dari almarhumah Eritha, wanita itu begitu mencintai pacarnya. Tapi ternyata pria yang dicintai tidak pernah membalas cintanya sama sekali.


Hingga suatu hari Eritha menjebak Kenzo. Dengan berpura-pura hamil anak Kenzo. Dia pikir dengan Kenzo menikahinya, perlahan pria itu bisa mencintainya. Tapi, siapa sangka! Kenzo justru semakin tertekan dengan tuntutannya, dia semakin enggan untuk melihatnya.


Aku tidak rela pokoknya. Jika dia hidup bahagia, apalagi dia bisa mendapatkan Riella kembali. Ucapan itu yang selalu berdengung di pendengaran Reva. Saat itu Eritha menelepon Reva, sebelum kecelakaan naas itu merenggut Eritha.


Meski awalnya dia hanya ingin membalaskan dendam Eritha. Tapi nyatanya, pesona Kenzo mampu membuatnya tertarik. Seringnya bertemu dengan Kenzo, membuat benih cinta itu bersemi dihatinya. Rasa dendam yang dititipkan temannya itu bertumbuh menjadi sebuah rasa obsesi yang tak terkendali.


Mulai saat itu, dia ingin menjadikan Kenzo miliknya. Tanpa peduli Kenzo mencintainya atau tidak. Dia hanya ingin memiliki Kenzo sepenuhnya.


Sampai Kenzo memutuskan hubungannya saat itu, dia merasa tidak terima. Apalagi dengan alasan yang tidak masuk akal. Kenzo bilang jika dia ingin sendiri. Reva berusaha keras untuk menghilangkan perasaanya, tapi yang terjadi–rasa itu semakin nyata dia rasakan. Dia tidak rela melepas Kenzo begitu saja untuk wanita itu.


Seiring berjalannya waktu, dia benci saat melihat Kenzo bahagia bersama Riella. Apalagi wanita itu tengah hamil. Seolah kesempatan untuk memiliki Kenzo tidak ada lagi. Ingin sekali dia menjebak Kenzo malam itu, membuat dirinya hamil anak Kenzo. Tapi, dia tidak tega. Dia merasa ini belum waktunya. Masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan dulu, yaitu lepas dari jeratan cinta Alby.


Saat itu, malam yang sudah ia nantikan. Rencana yang sudah ia susun jauh-jauh hari, karena dia ingin berjalan sesuai harapannya. Dia hanya perlu sedikit banyak bicara. Menyulut api pada bom yang disembunyikan rapat oleh Kenzo. Dan perbuatanya itu didukung oleh semesta, seolah Tuhan merestuinya untuk hidup bersama Kenzo.


Dan saat ini, Reva tengah tersenyum puas, seolah merayakan kepergian Riella. Sudah satu minggu rival-nya itu pergi. Meski dia tahu, saat dia tersenyum, ada air matanya yang turun menetes. Meski keinginnya sudah tercapai. Tapi, yang terjadi, Kenzo kini semakin membencinya. Jangankan, memiliki Kenzo! Setiap kali dia berpapasan dengan pria itu, ancaman mematikan justru keluar dari bibir pria tersebut.


Tatapan tajam matanya, seolah ingin menusuknya dengan belati. Seperti malam tadi, saat dia berkunjung ke rumah pria tersebut. Pria itu justru menelepon polisi saat itu juga. Dia tahu pria itu tengah terpukul saat ini. Karena itu dia ingin menawarkan sandaran untuknya. Mencoba menghibur Kenzo dari rasa kehilangan.


Reva kembali terbahak, saat mengingat hal itu, suaranya tersamar oleh angin malam yang menerpa saat ini. Tidak ada lagi tujuan hidupnya. Kenzo pun sampai mati akan membenci dirinya karena perbuatan yang sudah ia lakukan.


Saat ini dia tidak punya harapan lagi, seolah dia kehilangan arah dan tujuan hidup. Dia kehilangan sinar cahaya yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya.


Kenzo yang selalu berbicara padanya, untuk menjalani hidup seperti wanita normal lainnya. Tapi, tidak! Siapapun pria tidak mungkin bisa menerima kekurangannya. Hanya Kenzo yang paham tentang kondisinya. Karena dia pikir, mereka ditakdirkan sama-sama tidak bisa memiliki keturunan.


"Aaaaaa ...." Reva berteriak meluapkan kesalnya. "Kau tidak mau mengenalku lagi! Sekarang lebih baik aku seperti Eritha. Pergi darimu selamanya!" teriaknya lagi sambil menatap lampu-lampu kota Banjarmasin. Reva hanya bisa menangis, meluapkan perasaan sedihnya.


Malam ini, Reva tengah berada di rooftop gedung tertinggi salah satu hotel tempatnya menginap. Dia takut pulang ke rumah. Karena polisi tengah berjaga di sekitar rumahnya. Bersiap menangkap dan menjebloskannya ke sel penjara. Dan semua itu atas perintah Kenzo. Pria yang dia cintai.


Perlahan dia bisa mendengar suara wanita berbicara dengannya. Wanita itu menertawai tindakannya saat ini.


"Kau berteriak?!" tanya wanita tersebut mendekat ke arah Reva.


Reva hanya terbengong saat mendapati tubuh Eritha. "Tha? Kamu di sini?" tanya Reva.


Wanita itu tersenyum tipis, sambil menggelengkan kepala. Lalu berjalan mendekat ke arah Reva.


"Aku memintamu membuatnya menderita, bukan untuk mencintainya! Tapi, apa yang kamu lakukan, hah?!" suara Eritha terdengar marah. Seolah dia menyalahkan Reva yang sudah jatuh cinta pada Kenzo.


"Tha!" Reva mencoba menenangkan temannya.


"Kenzo hanya milikku! Apa kamu paham! Saphira Revalina!" hardik Eritha, wanita itu terlihat marah besar dengan kelakuan Reva yang mencoba merebutnya.


"Kamu tahu, dia mengabaikan anakku demi wanita itu!" lanjutnya, masih menatap tajam ke arah Reva yang ketakutan. Reva sadar seharusnya dia tidak terjerat dengan pesona Kenzo. Semenarik apapun pria itu di matanya, dia seharusnya sadar jika Kenzo milik Eritha.


Tapi, tidak! Menurutnya jatuh cinta itu bebas, tidak ada yang melarangnya untuk dan pada siapa dia akan tumbuh.


Eritha mendekat lagi ke arah Reva. Wanita itu sudah mengangkat tangannya untuk mencekik leher kecil Reva.


"Jangan lakukan!" teriak Reva. "Aku boleh memiliki Kenzo!" tambahnya semakin berteriak kencang, membuat wanita di depannya itu semakin murka.


Jika ada orang melihat tingkahnya saat ini, pasti mereka akan menjulukinya orang gila. Karena tanpa dia sadari, Reva mencekik sendiru lehernya. Bayangan Eritha yang hadir itu hanya ilusi-nya yang tiba-tiba muncul di pikirannya.


Malam yang sunyi itu menjadi saksi perbuatan Reva. Kakinya yang jenjang, terus melangkah mundur, karena ingin menghindar dari tangan Eritha. Namun, tanpa ia sadari, dia sudah berada ke tepi bangunan, sampai pijakan kakinya tidak lagi menyentuh lantai. Tapi, justru ruang hampa yang membuatnya jatuh ke halaman gedung hotel. Tubuhnya terhempas bak meteor jatuh dari langit saat malam hari.


Beberapa orang yang mendengar suara terjatuh segera berlari mendekat ke arah benda tersebut. Sebagian wanita berteriak histeris saat mendapati mata Reva yang melotot lebar dan beberapa anggota tubuhnya mengeluarkan darah.


"Innalillahi wa innailahi raji'un." Seseorang berucap setelah memeriksa denyut nadi Reva, dijawab beberapa orang yang ikut menyaksikan di depannya.


Pihak hotel pun bergegas menghubungi keluarga Reva. Tapi, siapa yang mengira jika keluarganya justru menyerahkan semua pada keluarga Kenzo. Kerena selama ini keluarga Reva sudah menganggapnya mati. Mereka tidak mau menerima Reva lagi, karena Reva sendiri adalah anak pungut yang diambil dari panti asuhan tempat keluarga Kenzo.


...----------------...


Aku mau vote dan like nya😅🤣. Berikan ya ... menghitung hari bakalan END 👍