The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Satu Kesempatan



Kamu benar-benar tidur ya?” tanya Kenzo dengan suara lembut, tapi Riella sama sekali tidak bergerak dari posisinya. “Papa bilang mau membawamu pergi ke Jakarta.” Kenzo memberi jeda kalimatnya. “Jujur aku bingung harus melakukan apa, aku tidak bisa kehilangan kamu.”


...----------------...


Kenzo terus berbicara sendiri, seolah Riella mau menanggapi ucapannya. Namun, yang ada Riella hanya diam tidak mau bergerak maupun menjawab pertanyaanya.


Merasa tidak mendapat jawaban dari Riella, Kenzo kembali menutup mulut. Kini tangannya mulai bekerja, dia meraih pergelangan tangan Riella. Mengusap jemari Riella dengan lembut, sambil mengamati wajah Riella lagi. Dia berharap, mata Riella kembali terbuka dan menjawab obrolannya.


Namun, sayangnya Riella masih tertidur. Dia mungkin terlalu lelah setelah mengeluarkan cairan dari dalam perutnya tadi.


“Bangunlah, Riella. Ada yang ingin aku tanyakan padamu?” lirihnya dengan wajah yang ia tundukkan. Dia tidak ingin melakukan ini sebenarnya. Menganggu jam istirahat Riella mengingat istrinya masih sakit.


“Apa kamu mau bertanya, anak siapa yang ada di perutku?” sahut Riella dengan mata yang masih tertutup rapat, tangannya ia tarik dari genggaman tangan Kenzo.


Kenzo terdiam, perasaan kosong hinggap dihatinya. Dia juga membenarkan ucapan Riella, karena itulah yang akan ia tanyakan sedari tadi.


Melihat Kenzo hanya diam, Riella kembali angkat suara, “dia anakku, Ken! Kamu tidak perlu mengakuinya, aku tidak papa. Aku bisa mengurusnya sendiri.” Riella yang sudah membuka matanya, berpindah posisi tidur membelakangi tubuh Kenzo.


“Riella …” panggilan Kenzo melembut. “Anak siapa yang ada di perutmu, aku janji akan menerimanya. Tapi tolong, ceritakan semuanya padaku!”


Riella memejamkan matanya, tenggorokannya tidak bisa mengeluarkan suara, air matanya turun di sela-sela kelopaknya yang tidak tertutup rapat. Kamar rawat yang ia tempati semakin hening. Ia seperti merasa sendirian di dalam ruangan.


“Pergilah, Ken. Aku tidak ingin melihatmu!” Riella mengusir Kenzo yang kini sudah pindah duduk di belakangnya. Dia turus mengusap air matanya, menahan supaya Kenzo tidak menyadari jika ia tengah menangis.


“Kau harus dengarkan aku dulu Riella! Kamu harus mendengarkan aku.” Kenzo bersuara lantang. Meminta Riella untuk mendengarkan penjelasannya.


Menyadari suaranya yang keras, Kenzo kini menunduk diam merenungkan kesalahannya.


“Aku punya alasan, kenapa aku melakukan itu! Aku punya rahasia yang tidak kamu ketahui. Aku takut untuk mengatakan semua padamu! Aku belum siap untuk kehilangan kamu lagi.” Kenzo kini mengamati punggung Riella yang membelakanginya.


“Apa dengan cara mengabaikan aku dan bayi tak bersalah ini, Ken? Kau selalu membuatku tertekan! Setiap malam aku merenung, mencari letak kesalahanku? Aku selalu mencoba untuk tidak memikirkannya, tapi kita tinggal seatap, semua jelas terlihat beda! Kau berubah, aku tidak mengenalimu lagi! Bahkan setiap aku bertanya apa salahku, kau selalu menghindar. Tak pernah mau melihatku!” suara Riella sudah serak, ia tahu Kenzo mengetahui jika ia tengah menangis. Coba saja Kenzo bisa diajak bicara seperti ini sedari dulu, pasti masalahnya tidak akan berlarut-larut dan membuatnya sakit hati begitu dalam.


“Boleh tidak? Aku meminta satu kesempatan lagi. Aku janji akan memperbaikinya.” Kenzo memohon.


“Tidak! Aku sudah lelah, Ken. Andai aku tidak hamil anak ini. Aku akan meminta cerai saat ini juga.” Riella mengambil tempat duduk bersandar, sambil menatap Kenzo tajam.


“Riella ….” Dada Kenzo naik turun saat mendengar Riella mengucapkan kata cerai. “Tolong pikirkan dulu, aku begitu karena takut kehilanganmu!”


“Tapi sikapmu seperti memintaku untuk pergi, Ken!” ucap Riella dengan suara memenuhi ruangan, “kamu tahu gelas yang sudah pecah tidak akan bisa kembali seperti semula, begitu dengan hubungan kita. Sekuat apapun kita merapikannya, masih terlihat jelas goresan yang kamu berikan. Aku akan pergi, kamu tidak perlu pedulikan aku lagi! Jangan pernah menemui aku lagi! Sebelum kita bertemu di pengadilan! Dan kamu, juga tidak perlu menemani aku saat aku melahirkan nanti! Aku bisa mengatasinya sendiri!” Riella memperingatkan Kenzo dengan lirih dan jelas, air matanya terus mengalir deras.


Kenzo tidak bisa untuk tidak memeluk Riella, mencoba meredakan tangis istrinya. Dia benar-benar memeluk erat tubuh Riella. Menolak kata perpisahan yang baru saja Riella katakan untuknya. Membayangkan berpisah saja ia tidak mau, apalagi jika itu benar terjadi. “Tolong ngertiin aku, La. Kamu harus dengarkan dulu penjelasan ku! Kamu tidak bisa minta pisah seperti ini!” Kenzo beralih menatap wajah riella. Kedua tangannya menghadapkan wajah Riella ke arahnya.


Keduanya kini sama-sama mengeluarkan air mata yang terus mengalir deras di pipi masing-masing.


“Aku tidak bisa memiliki keturunan, La. Kamu tahu! Aku setiap bulan pergi ke Singapura, itu untuk teraphy supaya aku jadi lelaki yang sempurna. Menjadi lelaki yang bisa membahagiakanmu, La.” Untuk pertama kalinya Kenzo berkata tentang kekurangannya pada Riella.


“Kamu ingat, saat terakhir aku pergi ke Singapura, aku membatalkan teraphy ku karena aku melihat videomu dan Emil tengah bercinta. Itu sebabnya, aku dulu pulang lebih cepat, dan memaksamu untuk melakukannya denganku, kamu ingat kan? Dan saat itu, aku melihat tanda merah di lehermu, itu semakin membuatku yakin jika kamu dan Emil benar melakukannya. Aku ragu karena aku punya alasan. Kalau dihitung-hitung usia itu sama, seperti anak yang ada di perutmu.” Kenzo menjelaskan panjang lebar apa yang mengusik hatinya selama ini.


Riella hanya diam, dia ingat dengan ancaman Emil yang akan mengirimkan video itu pada Kenzo. Tapi ia juga tidak tahu video mana yang Emil kirimkan. Jika Emil benar mengirimkan video kenangannya dulu, dia harus membuat perhitungan pada lelaki itu.


“Sekarang kamu paham kan, bagaimana rasa sakitnya aku, La! Dokter bilang aku tidak bisa menghamilimu. Orang lain tidur denganmu dan kamu hamil! Apa aku salah bertanya anak siapa yang ada di perutmu?” tangis Kenzo semakin pecah, air matanya sangat deras, bibirnya bergetar saat ia hendak melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya seperti terhalang batu kerikil yang membuatnya sulit untuk mengeluarkan kata-kata lagi.


“Tapi aku tidak pernah melakukannya, Ken!” sahut riella, dia sedikit cemas jika Kenzo tidak percaya padanya. “Emil memang datang padaku, tapi kita tidak melakukan itu!”


“Tapi tanda merah itu membuktikannya, La!” Kenzo mengucapkan dengan suara keras.


“Ken, aku tahu … aku tidak sempurna. Aku tidak seperti wanita lain yang memberikan kesuciannya pada sang suami. Tapi aku tahu bagaimana menempatkan diriku. Aku dulu memang suka bermain api, tapi hanya untuk satu orang, aku tidak pernah berselingkuh pada siapapun!” menyadari ucapannya, Riella melepaskan tangan Kenzo dari tubuhnya. Ia teringat Kenzo terakhir kali keluar dari rumah sekretarisnya.


“Aku tidak seperti kamu, yang dengan mudahnya berselingkuh!”


...----------------...