
Ketika suatu hubungan tidak bisa disatukan kembali, jalan terbaik adalah merelakannya untuk pergi.
...****************...
Kenzo yang sudah mengetahui hubungan Alby dan Reva hanya diam saja, dia memang sudah mengetahui sejak dua bulan yang lalu. Entah apa yang terjadi dengan mereka berdua, dia hanya bisa mendukung adik angkatnya tersebut, saat Alby meminta restu padanya.
Mata Riella melembut saat mendengar penjelasan Alby, dia lalu kembali duduk untuk melanjutkan acara yang sudah disusun Maura. Perasaanya turut bahagia, hanyut dalam kebersamaan, dia bisa tersenyum lepas malam ini, setelah sekian lama diisi dengan tangisan lirih. Semua senyum yang terpancar tidak luput dari pandangan suaminya. Suaminya itu hanya mengamati, tidak berani menegur ataupun menyapa Riella lebih dulu.
Tidak ada raut sedih dari mereka semua, yang ada hanya tawa dan canda, tanpa ada yang tahu, apa yang tengah dipikirkan Kenzo. Dia takut jika Riella akan benar-benar pergi meninggalkannya, dia takut, Riella tidak memberinya satu kesempatan lagi.
Erik berdehem, mengalihkan perhatian semua orang yang hadir. “Segera tidur! Besok kita harus bertolak ke Jakarta. Pesawat kita sudah diusir dari bandara.” terdengar suara peringatan dari Erik.
Kenzo yang mendengar menatap ke arah Riella yang duduk berseberangan dengannya. Wanita itu bahkan tidak membalas tatapan matanya. Sepertinya dia benar-benar akan pergi ke Jakarta ikut dengan orangtuanya, dan Kenzo hanya bisa menunggu. Menunggu sampai bayi itu lahir, dan surat cerai datang padanya.
Merasa tidak nyaman dengan suasana hatinya, Kenzo beranjak dari tempat dia duduk, meminta izin untuk tidur di dalam rumah, dia beralasan jika tubuhnya sedang tidak sehat. Kenzo pun masuk ke kamar setelah mereka mengizinkan. Tiba di dalam kamar, dia mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.
Hatinya setelah ini akan kembali seperti dulu, gelap tak tentu arah, karena penyemangat nya telah pergi. Kenzo berusaha keras memejamkan matanya. Sulit! Riella belum pergi saja dadanya sudah seperti terkena belati tajam. Apalagi besok saat Riella benar-benar pergi darinya.
Kenzo membolak-balikkan tubuhnya, bingung karena matanya tidak kunjung tertutup rapat. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata, tapi dia berusaha keras untuk tidak menjatuhkan air bening tersebut. Dia kembali duduk di tepian ranjang, kedua kakinya menyentuh dinginnya lantai, Kenzo menunduk, dalam hatinya berdoa, berharap Riella tidak pergi darinya. Keinginanya hanya satu saat ini menghabiskan sisa nafasnya ini dengan Riella. Wanita yang ia cintai.
Selang beberapa menit kemudian, pintu kamarnya terbuka, Kenzo menoleh ke arah Riella yang berjalan masuk kamar. Dia memaksakan senyumnya, ke arah Riella.
“Kamu belum tidur?” tanya Riella, berjalan ke arah lemari baju, dia hendak menganti bajunya karena terkena asap api unggun.
“Belum. Aku kesulitan untuk memejamkan mata,” jawab Kenzo, mengalihkan tatapannya ke arah bantal. Tanpa menyahut lagi, Riella berjalan ke arah kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Saat Riella sudah selesai dan kembali masuk ke kamar, dia melihat Kenzo yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang, posisinya menyamping menghadap ke arah kedatangannya. Tangan kekarnya terulur, menepuk ruang kosong di sampingnya.
“Tidurlah di sini!” perintah Kenzo masih dengan senyuman terpaksa. Riella menurut dia merebahkan tubuhnya di samping Kenzo, membalas posisi tidur Kenzo saat ini. Tidur saling berhadapan dengan jarak yang lumayan jauh.
“Pejamkan matamu, kata orang tidak baik orang hamil tidur terlalu larut malam,” kata Kenzo menatap wanita yang semakin terlihat cantik. Wanita yang saat ini mengandung bayinya, wanita yang sempat ia ragukan kesetiaanya. Dia hanya berharap matahari tidak segera datang, dan ia masih bisa berlama-lama dengan Riella.
Perlahan, iris mata Riella tertutup kelopak matanya, dia terlelap dengan posisi menghadap Kenzo. Kenzo pun menarik selimut untuk menutupi tubuh Riella. Kenzo terus berlama-lama menatap wajah Riella di tengah minimnya pencahayaan. Bibirnya tersenyum tapi lelehan air mata itu turun membasahi bantal yang ia pakai.
“Aku mencintaimu, Nee. Sangat mencintaimu, sampai aku takut. Takut kamu pergi, takut kamu menghilang, aku takut kamu benciku, aku takut kamu tidak mau menerima kekuranganku … aku tidak berani membayangkan bagaimana jadinya besok setelah kamu tidak ada di sini. Maafkan aku, Nee. Maaf karena sudah menyakitimu, menahanmu untuk berada di sisiku, padahal aku tahu kamu tidak mencintaiku. Tapi dengan kamu berada di sampingku aku merasa hidupku sudah sempurna … terima kasih sudah menemaniku.” Kenzo berucap lirih. Setelahnya, dia mengecup dahi Riella, mendoakan semoga mimpi indah menghampiri istrinya.
Perlahan rasa kantuk itu datang, Kenzo memejamkan mata, tepat saat waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Dia terlelap menghadap ke arah tubuh Riella. Dia sudah terbiasa tidur tanpa memeluk Riella. Dingin, itu pasti, dia bisa merasakan itu saat ini. Dan mulai besok dia akan merasakan lebih dingin lagi.
Sengatan sinar matahari pagi menusuk pipi Kenzo, dia paham kebiasaan Riella setelah bangun tidur, dia akan membuka gorden kamarnya, lalu mematikan pendingin ruangan. Tangan Kenzo meraba ruang yang ditempati Riella semalam, dia terperanjat saat mendapati ruang itu kosong. Dia segera beranjak dari tempatnya tidur, untuk mencari keberadaan Riella.
Tiba diluar kamar, langkah kakinya terasa berat saat melihat beberapa koper sudah berjajar rapi di ruang keluarga. Kenzo kesusahan menarik nafas, tapi dia berusaha tersenyum, ke arah semua orang.
“Bukannya penerbangannya masih siang nanti ya, Ma?” tanya Kenzo pada Ella, hanya wanita itu yang bisa dengan ramah menjawab pertanyaanya saat ini.
Ella tersenyum ke arahnya, “Kita lebih awal pulang ke Jakarta karena Kalun nanti sore mau bertolak ke Bali, jadi biar tidak terlalu mepet waktunya, kita memajukan jadwal penerbangan.” Ella menjelaskan pada menantunya, “kamu kalau rindu Riella, jemput saja! Mana mungkin dia bisa berjauhan denganmu saat dia hamil.” Ella yang belum tahu apa-apa hanya bisa mendukung hubungan mereka. Kenzo mengangguk, sambil tersenyum tipis.
Senyum Kenzo luntur saat melihat Riella berjalan dengan menarik koper di tangannya, menggabungkan kopernya dengan koper Maura dan Naura.
“Apa kamu tidak akan merindukan Aslan nanti saat berada di sana?” Kenzo sebisa mungkin menahan kepergian Riella.
“Kangen sih, pasti. Tapi mau bagaimana lagi, aku juga tidak bisa membawanya.”
“Bisa aku bicara sebentar denganmu?” minta Kenzo memohon.
“Kita hanya punya waktu lima menit, karena jam 8 kita sudah harus berangkat ke bandara,” jelas Riella.
“Ya.” Kenzo menyahut cepat, demi mempersingkat waktu, dia menggandeng tangan Riella masuk ke dalam kamar.
Tiba di kamar tanpa aba-aba, Kenzo berbalik menghadap Riella, tangannya dengan cekatan, menangkup wajah istrinya. Dia menempelkan bibirnya ke bibir Riella, memainkannya lembut, menikmatinya dengan baik supaya dia tidak akan melupakan ini. Ciuman perpisahan yang tidak pernah ia pikirkan. Kenzo melakukannya sangat lama dan lembut. Sudah lama dia tidak menikmati bibir istrinya. Tidak dipungkiri jika dia bisa merasakan, jika Riella membalas ciumannya itu. Kenzo meneteskan air mata, karena tidak bisa menahannya, dia seperti kehilangan separuh nyawanya saat ini.
“Aku hanya berharap yang terbaik untuk hubungan kita. Apapun itu, semoga ada yang bisa merubah keputusanmu. Aku mencintaimu Riella, tapi jika kamu memilih untuk pergi, aku akan membiasakan diri untuk itu. Aku tidak akan menahanmu di sini.” Mata berair Kenzo menatap ke arah wajah Riella. Bibirnya melebar, menampilkan senyum palsunya.
Air mata yang sudah ditahan Riella akhirnya ikut pecah, “aku pergi … jaga dirimu baik-baik! Terima kasih untuk semuanya. Pengalaman yang tidak akan ku lupakan.”
Kenzo mengangguk, lalu mundur menjauh dari Riella. “Pergilah!” ujarnya lembut, mempersilakan Riella untuk pergi, “Maaf tidak bisa mengantarmu ke bandara.”
Riella mengangguk sambil mengusap air matanya, Dia menatap langit-langit kamar sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamar Kenzo. Berharap semoga dia tidak merindukan kamar ini. Dia lalu keluar kamar yang sudah memberinya kenyamanan selama kurang lebih satu tahun setengah tahun ini.
...----------------...
Jangan lupa untuk like, vote, hadiah dan komentar positif ya😣