The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Ingin Kumiliki



Kenzo melajukan mobilnya pelan menuju rumah. Tidak ada tujuan lain selain pulang ke rumah untuk saat ini.


Saat berada di dalam mobil, Riella hanya menatap jalanan, tanpa menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya. Samar-samar telinganya mendengarkan Kenzo berdendang tidak jelas, layaknya orang yang tengah berkumur. Kenzo masih malu-malu menyuarakan suaranya.


Hingga Riella yang merasa berisik dengan suara Kenzo, memilih menyalakan pioneer yang ada di mobilnya. Mengeraskan volume-nya biar Kenzo paham, jika dia terganggu dengan suara nyanyian Kenzo yang tidak jelas tersebut.


Seketika, suara merdu dari Ruth Sahanaya mengalun lembut, mengiringi perjalanan mereka siang ini.


“Lagu ini ... aku banget perasaan!” Kenzo mulai mengomentari setelah mendengar suara merdu dari pengembang lawas tersebut.


Sedangkan Riella masih diam, tidak ingin menanggapi ucapan suaminya. Hingga suara itu membuatnya menoleh ke arah Kenzo.


“Ingin kumiliki, dengan sepenuh hati. Walau kuharus setengah terluka mengharap cintamu.” Kenzo bernyanyi keras menyaingi penyanyi aslinya. Beruntung mobil mereka tengah melaju jadi orang-orang tidak mendengarnya.


Sedangkan Riella, kesulitan untuk menutup binirnya kembali, saat telinganya mendengar suara merdu dari suaminya. Tidak dipungkiri suara Kenzo bisa mengimbangi suara wanita aslinya. Dia seperti penyanyi versi pria yang menyanyikan lagu Ingin Kumiliki itu.


Riella masih memperhatikan Kenzo, yang seperti sepenuh hati mengikuti suara dari mbak Uthe. Dia merasa tersinggung, sepertinya lagu itu Kenzo nyayikan untuknya.


“Bila aku tak tahu … bagaimana ... kau mencintai diriku.” Lagu itu pun berakhir diiringi mobil Kenzo yang berhenti di tepi jalan. Riella diam menatap sekeliling yang tampak sepi.


“Kenapa?” Riella menatap curiga ke arah Kenzo. Dia khawatir ban mobil bocor ataupun mobilnya mogok.


“Aku menginginkan sesuatu.” Tubuh Kenzo sudah condong menyamping, meninggalkan kakinya yang masih di atas pedal rem dan gasnya. Saat ini dia tengah menginginkan buah di depannya yang sudah berubah menjadi warna coklat, dan itu menggoda lidahnya.


“Apa?” Riella panik, tidak mungkin juga di tengah siang bolong seperti ini, mereka akan bercumbu di dalam mobil. Pikiran Riella sudah mengarah ke adegan dewasa mengingat saat ucapan Kenzo tadi yang ingin ....


“Sini!” perintah Kenzo meminta Riella untuk mendekat ke arahnya. Riella masih mencerna, dan berpikir positif tentang keinginan Kenzo.


Riella pelan-pelan ikut mencondongkan tubuhnya sejajar dengan Kenzo. Sambil mengatur debaran jantungnya yang berdebar begitu cepat.


Heh, ini pasti gegara anaknya di perutku itulah kenapa jantungku bertalu-talu. Riella membisikkan itu pada hatinya. Dia lalu mengikuti arah pandang Kenzo, semakin mengikis jarak antara dia dan suaminya.


Kenzo tersenyum tipis, melihat wajah Riella yang sedikit berubah. Dengan cepat Kenzo menunjuk ke arah buah yang begitu menggoda menurutnya. Buah warna coklat di antara dedaunan warna hijau.


“Aku ambil itu dulu ya,” ujarnya sambil menekan tombol unlock dalam mobil. Dia langsung keluar, berjalan menuju pohon yang ada di tanah kebun orang. Niatnya tidak ingin membawa Riella untuk turun, karena khawatir digigit nyamuk. Tapi yang ada istrinya itu justru mengikutinya.


“Aneh-aneh dech, beli saja di supermarket.” kata Riella sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Dia merasakan cahaya matahari menyilaukan matanya saat ini. Kulitnya pun terasa hangat karena terkena sinar matahari.


“Kamu di mobil saja, ngapain ikut turun? Panas! Aku cuma mau ambil beberapa saja.” Teriakan Kenzo terdengar saat menyadari istrinya ikut turun.


Riella mengerutkan dahinya dalam, dia menatap Kenzo dengan wajah masam. Namun, setelah menyadari sesuatu dia tertawa lebar, sambil memegang perutnya. “Sepertinya sumpah serapahku manjur deh, Ken!” kata Riella sedikit berteriak, karena Kenzo sudah berada di atas pohon.


“Kenapa memangnya?” tanya Kenzo mengigit kulit buah Matoa.


“Iya, kamu sedang ngidam makanya ngebet banget mau ngambil buah itu?” jemari Riella menunjuk ke arah buah warna coklat yang ada di tangan Kenzo.


“Benarkah ini ngidam? Kalau begitu akan ngidam tiap hari, buah ini bagus kok untuk kesehatan karena banyak mengandung anti-oksidan nya.” Balas Kenzo, dia tidak peduli jika setiap hari mengidam-idamkan buah yang ada di tangannya.


“Makan saja petai, itu juga banyak anti-oksidannya,” timpal Riella , dia tahu suaminya itu tidak tahan dengan aroma petai.


Masih berada di atas pohon Kenzo tertawa kecil. “Jangan coba-coba memakan itu di depanku, ya!” Kenzo memperingati istrinya.


“Ken tapi aku pengin. Beli yuk! Sambal petai campur teri enak, Ken!” Riella memamerkan deretan giginya, mendongak menatap ke arah Kenzo, ingin mengerjai suaminya.


“Makan ini saya.” Kenzo mengupas matoa di tangannya lalu menyuapkan ke mulut Riella. Riella yang berada di bawah pun menerima dengan senang hati.


“Iya. Enak ternyata,” puji Riella.


“Nih, ambil sendiri.” Kenzo berharap jika Riella mau mengambil sendiri dari bibirnya dia pun meletakkan buah matoa itu ke bibirnya.


“No, ayo pulang! Aku kangen Aslan.” Riella berlalu meninggalkan Kenzo yang menunggunya sambil memejamkan mata.


“Nggak Aslan biarkan dengan mama dulu, aku mau ….” Kenzo menyamarkan suaranya, tidak ingin orang lain mendengar saat dia mengucapkan keinginanya. Tapi saat dia membuka mata dia hanya bisa mendengus kesal.


Riella menunggu Kenzo di samping mobil, suaminya itu kembali mengambil matoa di atas pohon. Dia buru-buru meraih ponselnya saat merasakan ponselnya bergetar. Dia segera mengangkat panggilan tersebut.


“Hai … kamu sudah sampai mana?”


“Hotel Astron.” Wanita di ujung panggilan menjawab pertanyaan Riella .


“Aku jemput sekarang ya, kamu menginap di rumahku saja!”


“Ok aku juga merindukanmu, banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu!”


Mendengar itu Riella segera menutup panggilannya. “Ken!”


“Ayo kita jemput Eva dia sudah di sini!” teriak Riella , karena jarak mereka yang masih terlalu jauh.


Kenzo yang tidak begitu jelas dengan ucapan Riella, segera turun dan mendekat ke arahnya.


“Ada apa?”


“Eva sudah berada di hotel. Kita jemput dia ya!” minta Riella.


“Buat?”


“Kita bawa dia ke rumah aku kangen.” Riella menjawab dengan antusias.


“Dia tidur di rumah kita?” Kenzo bertanya curiga.


Sedangkan Riella mengangguk sebagai jawaban. Dia tidak paham tentang keinginan Kenzo yang ingin menghabiskan waktu bersama.


“Tapi dia nggak akan menganggu acara malam kita, kan?” selidik Kenzo menatap istrinya.


Riella yang mendengar suara Kenzo mengalungkan tangannya ke lengan Kenzo. Lalu tanpa malunya mencium pipi Kenzo. Mengabaikan jika mereka tengah di pinngir jalan.


“Apa ciuman ini termasuk ngidam juga? Jika iya, kamu ngidam itu terus saja!” Kenzo berucap sambil memegang pipinya yang menghangat.


“Dasar! Bukannya tiap hari kamu nyosor terus!” Cibir Riella segera melepas tanganya dari lengan Kenzo, dia masuk ke mobil, meninggalkan suaminya yang tengah menikmati sisa kecupannya.


Kenzo lalu mengikuti Riella, dan melajukan mobilnya menuju hotel di mana Eva berada.


“Ingat ya. Eva boleh menginap, tapi dia tidak bisa tidur di tempat kita, kalau dia suruh dia tidur di rumah mama saja.”


“Aku ikut tidur dengan Eva boleh nggak?” tanya Riella.


“Nggak!” Kenzo menjawab keras. “Kamu harus tetap tidur di rumah.” Dan akhirnya Riella menghormati keputusan suaminya. Dia paham memasukan wanita lain ke dalam rumahnya bisa memancing pengkhianatan, sekalipun itu sahabatnya sendiri. Perkara yang sudah ia alami dijadikan pelajaran, supaya pengkhianatan itu tidak terulang kembali. Hidupnya kini hanya bisa menjaga supaya rumah tangga yang sudah ia tata tetap utuh.