
Riella Pov.
Semua seperti mimpi buruk, tapi ini bukan mimpi. Semua kejadian yang kualami malam itu nyata. Malam yang sudah kurencanakan, untuk mengatakan perasaanku pada Kenzo, semua sirna. Sebelum diriku menyampaikan padanya.
Seolah semua kembali ke awal, emosi menyelimuti diriku karena mendengar obrolan wanita di dalam toilet. Dan itu membuatku murka pada Kenzo. Kelakuannya terlihat seperti pria yang jijik denganku. Bukan pria yang mencintaiku apa adanya.
Sejenak aku menyesal, kerena sudah jatuh hati padanya lagi. Jatuh cinta kedua kali pada orang yang sama. Tapi, lagi-lagi diriku harus menelan perasaan kecewa. Karena perasaan yang aku pikir tulus, ternyata tidak. Kenzo seperti menjadikanku pajangan saja. Aku bahkan sempat berpikir, jika Kenzo hanya sebatas obsesi untuk memiliku saja.
Malam itu aku sangat emosi. Sampai kata-kata yang seharusnya tidak boleh aku ucapkan, keluar dari bibir tipisku. Aku menyesalinya, sunnguh! Seharusnya aku tidak melakukan itu, pergi bukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Aku melupakan pesan dari mama.
Saat aku menyeret koper hendak pergi keluar rumah, ada perasaan berat dari dalam hati, karena membuat Kenzo terluka. Apalagi dengan perkataan terakhir yang kuucapkan padanya. Aku hanya bisa mengucapkan kata maaf dalam hati, maaf atas ucapanku yang menorehkan luka di hatinya.
Sebelum aku benar-benar keluar, aku menoleh sejenak ke arah Kenzo. Bisa kulihat dengan jelas wajah Kenzo yang tampak kacau. Dan itu membuat konsentrasiku buyar saat mengemudikan mobil menuju bandara. Aku hanya berharap semoga bisa selamat sampai tujuan. Dan segera bertemu keluarga besar di Jakarta.
Tapi, kenyataanya tidak semudah itu, suara-suara yang tadi kuucapkan seolah berputar mengiringi laju mobil yang aku kemudikan. Sampai akhirnya, sorot lampu terang benderang itu menghantam bagian depan mobil yang aku kendalikan.
Setelah itu, hanya kegelapan yang bisa aku rasakan, tubuh ini sulit untuk bergerak. Sampai aku berpikir jika aku sudah berpindah ke alam lain. Aku hanya berdoa semoga Allah masih memberikanku waktu untuk bertemu dengan Kenzo. Setidaknya mengatakan jika aku tidak sungguh-sungguh mengatakan ucapanku tadi. Dan meminta maaf padanya.
Aku juga ingin mengatakan, jika aku mencintainya. Dari hari itu sampai detik ini, detik yang aku rasa rohku ini masih berada tubuhku.
Sampai aku mendengar suara itu, suara pria yang memanggil namaku. Tapi, jangankan menyahut ucapannya. Sekuat apapun aku berusaha untuk mengeluarkan suara, tetap saja tidak ada yang mampu dia dengar. Pikiranku sudah kacau, saat merasakan cairan hangat yang keluar dari dalam diriku. Hindung ku bisa mencium aroma amis yang memenuhi ruangan mobil.
“Riella! Kakak ipar! Kau dengar aku? Jawab?!” ucapnya. Aku ingin berteriak. Tapi, tidak bisa. Sampai pria itu mengangkat tubuhku. Mata jernih ini masih bisa melihat samar wajahnya yang begitu panik.
Aku hanya bisa berdoa supaya Allah memberikanku kekuatan agar aku bisa mengucapkan pesan padanya. Aku mengingat Kenzo yang begitu menginginkan anak ini, dari keperluan bayinya semua sudah disiapkan olehnya. Bahkan dia sudah membeli buku-buku dongeng anak, bersiap untuk bercerita setiap malam datang.
Aku tidak akan tega menghilangkan bayi ini. Hanya satu yang ada di pikiranku saat itu. Aku ingin anak ini tumbuh bersama papinya. Aku ikhlas jika harus pergi membawa cintaku ke alam yang tidak bisa mereka temui. Asal meninggalkannya bersama Kenzo. Pria yang aku cintai.
Andai aku bisa menjawab pertanyaan dokter. Aku ingin berteriak memohon, selamatkan bayi ini saja. Aku tidak ingin Kenzo menyelamatkan diriku yang tidak pernah menganggapnya ada.
“Dia sudah tidak bernyawa lagi.” telingaku bisa mendengar samar suara dokter laki-laki yang berdiri di sampingku. Aku bisa merasakan jika butiran bening mengalir di sudut mataku. Aku hanya bisa mengucapkan kata maaf yang tidak mampu didengar oleh Kenzo saat ini.
“Maafkan aku … maafkan aku, Ken!” hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan, tapi tertahan di dalam mulutku.
Saat Kenzo mendatangi ruangan yang aku tempati. Aku selalu bisa merasakan tanganku basah karena air matanya. Ingin sekali aku mengatakan padanya, jika dia tidak salah, aku yang salah di sini. Tapi, seolah Tuhan sedang menghukumku. Allah menghukum ku dengan cara unik, aku bisa merasakan dia bersedih, suara tangisnya yang memilukan batinku terdengar dengan jelas. Semua bisa aku rasakan, tapi aku tidak bisa menenangkan Kenzo, bahkan sekedar menyentuh ujung kukunya saja, tangan ini tidak mampu.
Saat itu aku bisa mendengar dia berteriak histeris, kala dua orang perawat mengusirnya dari ruangan. Entah kenapa, hari itu perasaan tidak nyaman menyerangku. Mungkin karena aku kehilangan sesuatu yang sudah berada di dalam diriku selama tujuh bulan.
Setelah tubuh ini merasa tenang, dan semuanya stabil. Tapi, justru mata ini sulit untuk terbuka. Setiap hari aku bisa merasakan Kenzo datang menemui ku, mendengar suaranya yang mengucapkan kerinduan.
**
Hari demi hari sudah kulalui sampai tepat dihari ke empat puluh aku di rumah sakit. Tapi, aku belum juga mengatakan sepatah kata pun pada Kenzo. Dalam hatiku terus berdoa supaya aku bisa bangun lagi, dan bertatap muka denganya, mengatakan jika aku mencintainya. Tapi, semua hanya ada dalam anganku.
Dan hari ini, seolah diriku kehilangan semangat hidup. Saat mendengar ucapan yang keluar dari bibir Kenzo.
“Aku mencintaimu, La.” Aku ingin sekali menjawab, aku sudah tahu. Tapi, apa daya bibir dan mata ini tidak bisa bekerja dengan baik. Allah masih menghukumku atas perbuatan ku sebelumnya.
“Tapi, sekarang aku paham. Kalau selama ini, kamu terpaksa berada di sampingku. Andai aku dulu tidak menikahimu, mungkin jalan hidupmu tidak serumit ini.” Suaranya seperti menyerah dan ingin melepasku. Entah apa yang ada di pikirannya, mungkinkah dia bodoh? Atau dia hanya mau denganku saat aku sehat saja? Jika benar aku akan menghukumnya nanti saat aku bangun. Tapi kapan? entahlah!
“Pergilah, aku membebaskanmu. Aku ingin kamu bahagia, meraih cinta sejatimu, meraih mimpi-mimpimu yang belum pernah kamu dapatkan. Maaf, La. Maafkan aku selama menjadi suamimu, aku belum bisa membuatmu bahagia. Sekali lagi aku minta maaf,” ucapnya. Aku bisa merasakan kecupan hangat dia berikan di dahiku. Bahkan, dia seolah sengaja meneteskan air matanya tepat di pipiku ini.
Andai saat ini aku bisa menahannya, andai aku bisa berteriak untuk memintanya jangan pergi. Bisakah aku melakukannya? Aku benci dengan diriku karena tidak bisa melakukan semua itu. Semuanya sudah terlambat. Dia pergi. Dia menyerah karena sudah lelah. Aku hanya bisa berdoa semoga Allah segera mengizinkanku untuk bertemu dengannya suatu hari nanti.
...----------------...
😅😅 Telat update. Dukung terus mereka ya, tinggal beberapa part lagi👍. Habis ini kembali ke POV author.