The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Wǒ ài nǐ



Part ini sudah di revisi, jadi jangan protes kalau merasa ada yang hilang, terima kasih.


♥️


Saat tiba di kamar hotel, Kenzo yang menggandeng tangan Riella segera menutup pintunya dengan kasar. Ia lalu menyandarkan tubuh Riella di daun pintu, menghimpit dengan tubuhnya yang tegap. Menahan kedua tangan Riella dengan satu tangannya. Matanya yang berselimut gairah mengunci pandangan mata Riella.


Mungkin ini penyebab Kenzo meminta Riella untuk segera kembali ke hotel. Karena dia tidak kuat menahan gairah, saat melihat wanita setengah ber*telanjang di pantai tadi. Beruntung Kenzo sudah beristri, kalau belum pasti dia harus mandi air es.


Kenzo mendaratkan bibirnya di dahi Riella, ia mencium lembut dan lama di sana, menggesek-nggesekkan bibirnya dengan lembut di dahi Riella. Setelah merasa puas ia mulai menurunkan ciumannya, menuruni hidung panjang Riella yang mengalahkan panjang hidungnya. Riella yang tadi berusaha melawan, akhirnya tumbang juga saat merasakan sentuhan Kenzo.


"Stop aku mau mandi dulu," cegah Riella ketika bibir Kenzo mulai menyelami lehernya. Kenzo tersenyum lalu membiarkan Riella pergi.


Setelah melihat Riella selesai mandi Kenzo langsung mengangkat tubuh Riella. Ia merebahkan tubuh istrinya di ranjang.


“Bee ..., Pelan-pelan! Aku tidak akan ke mana!” peringat Riella karena Kenzo membuat pinggangnya nyeri.


“Wǒ ài nǐ,” ucap Kenzo seraya menelusuri lekuk wajah Riella dengan jemarinya.


“Wǒ yě ài nǐ,” jawab Riella. Seketika terlihat senyum Kenzo terpancar bahagia. “Tapi bo'ong!” lanjut Riella lalu terbahak di bawah Kenzo. Tidak melihat pandangan mata Kenzo yang penuh kesal menatap ke arahnya.


“Ok aku tidak akan mengampunimu sore ini!” menarik kasar handuk Riella, hingga tampak semua benda favoritnya.


“Ok, siapa takut!” tantang Riella menggoda Kenzo dengan kedipan matanya.


Mendengar jawaban itu. Kenzo semakin tertantang untuk melakukan hal yang belum pernah ia lakukan. Ia mulai melepas satu persatu kain yang menutupi tubuh Riella. Kaki Riella yang tadi menggantung, kini ia angkat dan ia tekuk di tepi ranjang, lalu berjongkok mengamati dari dekat surga dunia yang semalam telah memanjakan miliknya.


“Bee ... sekarang atau tidak sama sekali!” peringat Riella yang sudah berselimut gairah. Kenzo hanya tersenyum menang menatap wajah Riella yang memerah karena tidak kuat menahan gairah.


“Sabar Nee ...” sahut Kenzo, “katakan dulu apa yang kamu inginkan! Aku akan melakukannya jika kamu meminta dengan baik padaku!” jawab Kenzo sambil bermain-main di dada Riella, mencubit lembut apa yang menonjol di dada Riella.


Riella semakin frustasi, ia kesal dengan permainan Kenzo yang tidak fair. Bagian bawahnya sudah penuh dengan cairan, dan Kenzo tidak segera memasukkan mobilnya ke garasi. Namun, Riella sedikit teralihkan saat mendengar dering ponsel pintarnya bersuara. Ia segera meraih dan mengangkat teleponnya.


“Tunggu aku angkat telepon dulu!” minta Riella sambil menempelkan telepon ke telinganya.


“Ya ... Ada apa, Va?” Tanya Riella, tapi seketika matanya membulat sempurna, ketika melihat Kenzo mulai mengurut pusakanya yang mengeras. Riella menggelengkan kepalanya meminta Kenzo untuk tidak melakukan sekarang, tapi Kenzo tidak begitu peduli dengan peringatan yang dia berikan. Dia justru semakin tertantang dengan situasi seperti ini.


“Aku balik dulu ke Jakarta.” Pamit Eva ada di ujung telepon.


“Bee ... no!” peringat Riella ketika Kenzo berniat menceburkan diri masuk pintu surga miliknya.


"Riella ...." terdengar suara panggilan dari telepon yang masih tersambung.


Tapi desahan dari bibir Riella meluncur sempurna, saat Kenzo berhasil memasuki Riella. Membuat wanita di ujung telepon memaki Riella sekeras-kerasnya, karena tidak mengatakan apa yang sedang mereka lakukan.


“Maaf Kenzho nhakhal sekhali, khamuu mauu bicharaa aphaa?” tanya Riella dengan sedikit menahan suara desahan, suaranya terdengar jelas seiring gerakan yang diberikan suaminya.


“Permainan menyenangkan,” bisik Kenzo, di samping telinga Riella.


“Gila kalian berdua,” terdengar suara makian dari Eva, lalu selanjutnya hanya sunyi, tidak ada lagi suara Eva terdengar dari ponsel Riella.


Goyangan sqiusy yang seirama dengan hentakkan Kenzo, membuatnya semakin terbakar gairah. Seperti tidak puas jika hanya separuhnya saja yang masuk, ia ingin lebih dalam lagi menenggelamkan miliknya di tubuh Riella. Hingga cengkraman yang diberikan Riella semakin erat dan kuat, ia menyerah dan menuangkan cairan protein tinggi itu ke rahim Riella. Sambil mengatur nafas. Kenzo menggerakkan pelan bagian bawah yang belum sepenuhnya tertidur.


“Sudah Bee ... pergi dari atasku!” usir Riella, karena merasa sesak ketika tubuh Kenzo masih nyaman di atasnya. Dengan jahil karena rasa gemas yang tidak bisa ia bendung, Kenzo menggigit biji kacang yang tepat berada di mulutnya. Membuat Riella menjerit sempurna, karena ia benar-benar merasakan kesakitan.


“Sakit Bee ...” peringat Riella sambil mencubit pinggang Kenzo.


“Tangan kamu tidak punya akhlak ya? Besok sekolahin gih biar lebih hormat dengan suamimu!” peringat Kenzo saat merasakan sakitnya cubitan Riella.


“Kamu sendiri yang salah, sudah sana pergi dari atasku!” ulang Riella mengusir suaminya.


“Sebentar ... sepertinya dia belum puas!” kata Kenzo, kembali ingin bermain dengan gawang Riella.


“Aaa udah Ken! Aku lelah!” keluh Riella berusaha mendorong tubuh Kenzo.


“Tiga menit, rapatkan kakimu sebentar, Nee!” Kenzo mengejar pelepasan keduanya hingga ia benar-benar merasa puas.


“Thank you! Aku akan selalu mencintaimu, Nee.”


“Hmm ... tidurlah!” perintah Riella yang masih setengah sadar, terdengar jelas suara seraknya.


Kenzo lalu meletakkan kepala Riella di lengannya, memeluk Riella seolah memberikan perlindungan dari masalah yang akan datang.


“Bee ....”


“Yah ...” sahut Kenzo.


“Kamu hebat!” puji Riella memberikan satu jarinya dengan mata yang masih terpejam.


“Kau mau lagi, Nee.” tawar Kenzo.


“Nggak. Sudah cukup!”


“Ya sudah tidurlah jangan berbicara yang bisa memancingku!” Riella lalu mengangguk lemah, menyetujui ucapan Kenzo.


Selang beberapa menit setelah kegiatan panasnya, mata mereka sudah terpejam, tapi tidak dengan pikirannya. Apalagi Riella yang memikirkan satu hal penting dalam dirinya.


“Bee ..., bagaimana jika aku hamil?” tanya Riella tiba-tiba, dengan mata terbuka lebar menoleh ke arah Kenzo. Namun, Kenzo masih memejamkan matanya, tidak ingin menyahut ucapan istrinya.


“Bee ...” panggil Riella lagi sambil menggoyangkan tubuh Kenzo. Kenzo pun tak bergerak ia justru pura-pura mendengkur dengar suara keras.


“Dasar mulut tak ada akhlak!” cibir Riella ketika mendengar dengkuran Kenzo yang semakin keras. Ia lalu memejamkan matanya, menyusul Kenzo yang pura-pura terlelap.


"Maaf Nee ... aku akan jujur, setelah theraphy ku selesai. Wǒ ài nǐ."


♥️


Vote ya.😣🙏🙏🙏