
Acara akad sudah berlalu, mereka berdua diminta kembali ke kamar untuk mengganti bajunya, karena setelah ini mereka harus menjamu tamu undangan yang hadir.
Kenzo lebih dulu siap dari Riella. Saat ini ia tengah menunggu Riella di depan kamarnya, meski mereka masuk rumah bersama, tapi keduanya mengganti baju di ruang yang berbeda, karena Kenzo dibantu oleh petugas make up artis pria. Setelah lama menunggu, pintu kamar Riella terbuka lebar, Riella berdiri di belakang wanita yang tadi membantunya mengganti baju.
Kenzo yang melihat Riella mengenakan baju warna putih dengan sedikit punggung yang terbuka, matanya enggan berkedip barang sekalipun. Ia tersenyum ramah ke arah istri barunya. Mengulurkan tangan supaya Riella segera meraihnya.
“Kamu cantik setiap hari, tapi hari ini kau lebih istimewa dari biasanya,” puji Kenzo, saat Riella mengalungkan tangan di lengannya.
“Terima kasih. Kamu juga tampan.” Tentu kalimat akhir itu hanya mampu Riella ucapkan dalam hati, ia tidak berani memuji Kenzo secara terang-terangan, hanya ucapan terima kasih itulah yang sampai di telinga Kenzo.
Mereka berdua kembali ke taman, sambutan meriah dan tebaran bunga menghambur ketika mereka berdua berjalan ke arah pelaminan. Mata Riella terus memindai para tamu undangan yang hadir, mengabsen dan mengingat siapa saja yang hadir di sana. Dia menampilkan senyumnan manis ketika melihat sahabat terbaiknya duduk di kursi paling depan. Dengan tangan yang masih memegang erat lengan Kenzo, Riella terus berjalan menuju kursi, menampilkan rasa kebahagia yang sengaja ia rekayasa.
Mereka kini sudah berada di kursi pelaminan, duduk berdampingan, sambil berpegangan tangan. Layaknya pasangan pengantin baru pada umumnya. Tidak ada acara spesial di pernikahan mereka berdua, cake pernikahan pun tidak dihadirkan di tengah pesta sederhana tersebut. Riella menatap ke arah Eva yang berjalan mendatangi tempat duduknya, dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
“Selamat menempuh hidup baru, Riella,” kata Eva diiringi pelukan hangat ke tubuh sahabatnya, “semoga Allah menyempurnakan kebahagiaan kalian dan menyempurnakan ibadah kalian ke depannya, aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, La, meski akan ada kesukaran di depan sana, tapi ingat pesanku. Pasti akan ada jalan keluarnya dan kamu harus tetap bahagia!” kata Eva segera mengurai pelukannya, lalu beralih mengulurkan tangannya ke arah Kenzo, “jaga sahabatku baik-baik, Bung! Jangan kau sakiti dia!”
Kenzo menerima uluran tangan Eva, lalu menganggukan kepalanya.
“Asataga, Pam. Mana calonmu?” ledek Riella ketika melihat Pampam yang hanya datang sendirian, dengan kemeja putih dan celana kain bewarna hitam di tubuhnya.
“Masih dipinjam orang, bentar lagi juga dapat.” Pamuji menjawab, sambil menjabat tangan Riella. "Happy wedding day. Semoga hari ini menjadi awal dari hidup baru dan bahagia bersama dengan pasanganmu."
“Terima kasih. Oh, ya, aku kenalin mau nggak?” tawar Riella menarik tangan Eva yang masih berada di depan suaminya.
“Ini sahabatku, namanya Silvana sepertinya kalian cocok karena masih sama-sama jomblo.”
Mereka berdua saling mengenalkan diri, setelahnya Eva segera berlalu meninggalkan Riella. Dia tidak begitu merespon dengan hal-hal seperti itu karena Eva lebih memilih mencari sendiri tambatan hatinya.
“Hah, aku nggak mau kalau itu pilihanmu. Pasti ujung-ujungnya kaya kemarin, selingkuh!” kata Pamuji diakhiri kata penegasan diujung kalimatnya.
“Jaga dia Kak, kasian dari dulu selalu apes masalah cinta,” lanjut Pamuji berpesa pada Kenzo.
“Insya Allah, Dek.”
“Hah? Kok dek? Kita seumuran!”
“Bukannya kamu tadi manggilku Kakak, ya?” jawab Kenzo tak kalah terkejut.
“Itu tuh kalau suka pegang-pegang perempuan tapi gak buruan dihalalin, otaknya mulai konslet,” cibir Riella yang langsung mendapat tatapan tajam dari Pamuji.
Dengan agresif tangan Kenzo meraih pinggang Riella untuk mendekat, dan menempel ke tubuhnya.
“Maafkan istri saya, dia hanya bercanda nggak perlu diambil hati.” Kenzo tersenyum lebar ke arah Pamuji, yang hendak membalas ucapan Riella.
Pamuji mendekat ke arah telinga Kenzo, “hati-hati dia bisa berubah menjadi singa betina yang mencari mangsa karena kelaparan.”
Kenzo terkekeh setelah mendengar penuturan Pamuji, membuat Riella segera menjauh dari tubuh suaminya, karena mendengar tawa sumbang dari keduanya yang terlihat tengah membicarakannya.
Setelah itu terdengar suara MC yang meminta mempelai untuk melakukan acara inti, acara yang ditunggu-tunggu tamu undangan, terutama mereka yang masih betah melajang. Riella dan Kenzo mengambil bunga, yang diserahkan MC lalu bersiap melemparnya ke arah tamu.
“Hitungan 1 segera lepaskan ya!” kata MC memberi petunjuk.
Keduanya tampak kompak, memegang bunga yang mereka genggam bersama. Hingga hitungan berakhir keduanya melempar dan melepaskan bunga itu bersama, dan tamu yang hadir langsung berebut untuk mengambilnya. Kenzo bisa melihat senyum Riella saat ini, bisa tertawa lepas melihat rekannya berebut bunga.
“Wah sepertinya seru nih kalau pengantin baru suruh ciuman.” Kata Samuel yang berhasil mendapatkan bunga dari mempelai, sebagai permintaan. Wajah Riella dan Kenzo menampilkan wajah datar, menyampaikan jika mereka berdua enggan untuk melakukannya di depan umum. Tapi sorakan- sorakkan dari tamu lainnya kembali terdengar, lebih antusias dari yang diminta Samuel, meminta mempelai untuk segera melakukan perintahnya.
“Apa kamu mau aku cium?” tanya Kenzo lirih tidak menatap Riella.
“Bolehlah, demi mereka, tapi jangan menyentuh bibirku.” Riella menjawab tidak kalah pelan.
Kenzo yang sudah mendapat izin dari Riella, kini menghadapkan tubuhnya di depan Riella.
Cium cium cium cium ....
Suara sorakkan masih berkumandang, tapi Kenzo justru masih menikmati dan mengontrol debaran jantungnya yang melompat-lompat tak berarah, hingga akhirnya dia meraih pipi Riella dengan kedua tangannya, lalu menempelkan bibirnya ke kening Riella, cukup lama Kenzo melakukan hal itu, hingga tidak ada suara tamu yang terdengar, seperti hanya mereka berdua, sangat hening.
"Lips dong apaan kaya ABG saja, ciuman kaya gitu," Sorak salah satu tamu wanita yang hadir, hingga mampu membuat kegaduhan lagi dari tamu lain yang juga hadir di sana.
Berbeda dengan kedua mempelai yang hanya bertukar pandangan. Suara tamu masih terdengar ramai. Hingga membuat Kenzo terbujuk untuk segera melakukannya.
“Maaf.” Kata Kenzo disusul bibirnya yang mendarat di bibir Riella, ia mulai mendaratkan ciuman lembut di bibir istrinya. Menikmati manisnya bibir Riella yang baru pertama kali ia rasakan. Terus mencium menjelajahi setiap sudut bibir Riella, hingga membuat Riella memejamkan matanya, turut merasakan apa yang Kenzo berikan, mengizinkan Kenzo untuk lebih dalam lagi melakukan hal itu.
“Sudah, sudah lanjut di kamar. Keterusan, kan!” mendengar suara dari Pamuji. Kenzo segera melepaskan ciumannya, menatap bibir Riella yang sudah tidak rapi lagi karena ulahnya. Sedangkan Riella dengan wajah merah, semerah rajungan yang baru matang berusaha menyembunyikannya dari para tamu yang hadir. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Riella segera berlalu dari tempat pelaminan.
“Mau ke mana?” tanya Kenzo ketika melihat Riella pergi.
“Kamar.” Singkat Riella tanpa menoleh ke arah Kenzo.
“Ya, istirahatlah. Aku akan menyusul nanti.”
Tanpa menoleh ke arah Kenzo, Riella berjalan cepat menuju rumah utama, menghindari lelaki yang sejak tadi mengawasinya tajam. Riella mulai setengah berlari saat mengetahui jika lelaki itu mengikutinya.
Namun, sayang langkahnya bisa di hentikan oleh Emil, lelaki itu menarik pergelangan tangannya dengan kasar. Membawa Riella ke arah tempat yang lebih sepi, yang tidak terlihat tamu undangan.
“Aku nggak semudah ini melepasmu!” kata Emil menghempaskan kasar tangan Riella, ketika mereka berdua berada di dekat gudang penyimpanan barang.
Riella hanya mampu tersenyum mengejek ke arah Emil, “Aku mau menikah atau tidak, tetap akan pergi darimu! Terima kasih sudah hadir, dan memperlihatkan keberanianmu di sini.” Tepukkan kecil mengiringi ucapan Riella, “Terima kasih, atas pelajaran pengkhianatan yang kamu berikan.”
“Nggak akan! Aku nggak akan membiarkanmu melakukan itu dengannya, karena sampai kapan pun kamu hanya untukku. Milikku Riella!” ucap Emil dengan tatapan mengintimidasi ke arah Riella.
“Apa hak mu melarangku! Setelah apa yang kamu lakukan padaku! Bukannya kamu sendiri yang memilih Chika!”
“Aku ... Aku khilaf!” sahut Emil yang tidak mampu mancari alasan lain.
“Ya, terserah. Yang penting aku sekarang sudah bahagia dengan kehidupan baruku, jadi jangan mencoba untuk mengusik hidup kami!” peringat Riella dengan emosi yang terlihat jelas dari matanya.
“Wohoo, benarkah seperti itu? Aku rasa kamu tidak akan bahagia, Sayang. Kamu terpaksa, kan?” ujar Emil mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi dengan wajah Riella. Ia mengamati bibir merah merona milik Riella. Dengan gerakan cepat, Emil meraih tengkuk Riella, mendorongnya maju hingga bibir Riella menempel lembut di bibirnya. Ia dengan rakus menciumi bibir yang baru saja di cium Kenzo, seperti menghilangkan jejak Kenzo dari bibir Riella.
Tangan Riella yang memberontak pun akhirnya tertangkap oleh Emil, pukulannya tertahan karena ia sama sekali tidak bisa bergerak. Kepala Riella terus memberontak menghindari bibir Emil yang berusaha melakukannya lebih dalam lagi.
🚑
🚑
🚑
🚑
Next?