
Tiba di dalam kamar mandi Riella mengeluarkan isi dalam perutnya, karena merasa tidak nyaman setelah mencium aroma dari mandai yang dibawa Lintang. Ia terus bersuara membuat Kenzo yang tengah menikmati makanan di meja makan, tertarik untuk segera mendatanginya.
Kenzo yang berdiri di belakang tubuh Riella membantu Riella mengusap punggung istrinya. Terus mengusap hingga tidak terdengar lagi suara Riella yang mengeluarkan isi perutnya.
“Kamu sakit? Wajahmu pucat, kita pulang saja, ya?” tanya Kenzo panik, saat mendapati Riella lemas dengan wajah memucat. Riella tidak mampu menjawab pertanyaan Kenzo, karena ia kembali mengeluarkan isi perutnya.
Setelah merasa tidak lagi mengeluarkan isi perutnya, ia berbalik, menghadap Kenzo, dengan tubuh tidak bertenaga dan wajah yang sudah berubah seperti mayat berdiri.
“Aku nggak papa, aku cuma tidak menyukai aroma makanan apa itu tadi namanya ….” Riella menunjuk ke arah meja makan.
“Kita pulang, biar kita lanjutkan makan di rumah,” ajak Kenzo menahan pundak Riella yang tampak lesu.
Riella mengangguk, menyetujui permintaan Kenzo, ia berusaha keluar dari kamar mandi, dengan kaki yang lemas seperti kehilangan tulang. Kenzo yang paham dengan kondisi Riella, ia segera mengangkat tubuh Riella, membawanya keluar dari kamar mandi dan masuk ke mobil. Saat ia hendak menutup pintu mobil, terdengar suara Lintang memanggil namanya.
“Kak Ken, ini dibawa saja mandai nya.” Lintang menyerahkan box kecil ke tangan Kenzo. Namun, Kenzo kembali menyerahkan box makan itu ke Lintang.
“Biar di sini saja, istri kakak tidak menyukai aromanya, lain kali kakak bisa mengulanginya lagi, memakan mandai nya,” kata Kenzo menolak pemberian Lintang.
“Baiklah,” kata Lintang terlihat wajah kecewa saat mendengar penolakan Kenzo.
Kenzo lalu masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya meninggalkan area panti, jarak rumah dan panti tidak terlalu jauh hanya 50 meter, tapi Kenzo lebih memilih membawa pulang mobilnya, dari pada harus membuat Riella berjalan lebih lama lagi.
Tiba di rumah, Kenzo yang ingin kembali membantu Riella ia urungkan karena Riella sudah lebih turun dari mobil. Ia mengekor di belakang tubuh Riella takut jika istrinya terjatuh.
“Apa perlu aku panggilkan dokter? Wajahmu pucat sekali,” tawar Kenzo mengikuti kaki Riella yang berjalan masuk ke dalam kamar.
“Nggak perlu, aku hanya mual biasa. Aku istirahat nanti juga sudah kembali pulih. Nggak usah terlalu pedulikan aku, aku bisa jaga diriku baik-baik.” Riella berjalan ke arah koper, mengambil baju untuk mengganti pakaian.
“Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku suamimu, sudah kewajibanku untuk menjagamu.” Kenzo yang merasa diabaikan mulai angkat suara.
Riella menghentikan langkahnya, memejamkan mata sambil menarik nafasnya dalam, setelah itu berbalik menghadap Kenzo, “please Ken, bersikaplah seperti dulu. Aku benci dengan status kita saat ini! Kamu yang selalu mengatakan tentang kewajibanmu sebagai suami. Aku merasa tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu! Aku merasa gagal Ken, aku belum bisa menjadi yang baik untukmu. Jangankan untuk melayanimu, menyambutmu pulang seperti Lintang saja aku belum mampu. Karena kamu tahu sendiri bagaimana hatiku.” Riella mengatakan dengan nada marah, seperti seorang istri yang tengah cemburu karena suaminya jalan dengan wanita lain.
“La … semua akan mengilang seiring berjalannya waktu. Buang dia dalam hatimu, tulislah cerita baru untuk kisah kita.”
Riella kembali membalikkan tubuhnya, berjalan menuju ranjang, niatnya untuk mengganti baju ia urungkan. Ia tidak ingin menyahut apa yang diucapkan Kenzo, memilih merebahkan tubuhnya, dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal, “aku ingin istirahat, jangan mengangguku!” kata Riella sambil memejamkan matanya rapat.
Kenzo yang mendengar ucapan Riella berjalan ke arah kursi, menjatuhkan tubuhnya di sana. Matanya terus mengamati Riella yang ia tahu tengah kesusahan menutup mata. Karena tubuhnya terus berguling ke kanan dan ke kiri.
“Kalau nggak bisa tidur, keluarlah kita makan siang bersama. Aku tadi membeli makan siang untukmu,” kata Kenzo yang masih memperhatikan Riella.
“Aku nggak lapar. Makanlah sendiri!” sahut Riella tanpa membuka matanya, hanya tubuhnya saja yang bergerak kembali membelakangi posisi Kenzo duduk.
Kenzo yang sudah kesal dengan Riella, segera bangkit dari duduknya, “aku akan kembali ke kantor. Jika aku tidak segera kembali, cepatlah tidur jangan menungguku!” pesan Kenzo tanpa menjawab sahutan dari Riella ia segera pergi dari kamar, meninggalkan makan siang yang tadi sudah ia beli dan meletakkannya di meja makan. Berharap Riella akan segera memakannya.
Setelah kepergian Kenzo, Riella mendudukan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di kepala ranjang. Ia memijit kepalanya yang berdenyut nyeri memikirkan masalahnya dengan Kenzo. Ia lalu meraih ponselnya. Kembali membuka geleri foto yang sudah lama tidak ia buka. Galeri foto yang menggunakan password dan hanya dia yang bisa membukanya, bahkan Emil pun tidak tahu mengenai foto-foto itu. Seperti mengingat luka lama yang kembali hadir, ia menitihkan air matanya saat menatap galeri foto yang ditampilkan di layar.
Riella lalu melempar ponselnya kesembarang arah merasa kesal dengan apa yang ia lihat saat ini. Dua kali ia jatuh cinta dua kali pula dia dikecewakan. Itu sulit untuknya membuka lagi hatinya lagi, apalagi dengan orang yang sama.
Saat Riella tengah tenggelam dalam pikiran masa lalunya, ponselnya berdering nyaring memenuhi ruangan. Ia segera mengangkatnya ketika membaca nama penelepon.
“Gila kamu ya, pergi tanpa pamit. Sudah lupa mentang-mentang punya suami!” Eva mengoceh saat Riella menekan tombol hijau, memperlihatkan wajahnya.
“Maaf. Aku pergi mendadak kemarin, jangan khawatir aku tidak lama berada di sini. Kita akan segera bertemu.” Riella menampilkan wajah datar ke arah Eva, supaya sahabatnya itu tahu dia baik-baik saja.
“Aku justru berharap kamu betah berada di tempat suamimu. Supaya kamu bisa segera melupakan dua manusia lucknut itu.”
“Sulit Va.” Riella menunduk tidak ingin menunjukkan ekspresi wajahnya pada Eva.
“Move on, La. Ada Kenzo yang menyayangimu. Jangan menyia-nyiakan dia. Sebelum kamu menyesal nantinya.”
“Entahlah, Va. Aku semakin bingung.”
“Coba kalian itu duduk berdua, bicara dari hati ke hati, selesaikan masa lalu kalian yang belum tuntas itu. Siapa tahu bisa memperjelas semua. Dan kamu bisa memulai semuanya dari awal.”
Riella yang mendengar ucapan Eva, memijit kepalanya yang kembali terasa berdenyut.
“Yah, nanti akan ku coba. Sudah ya aku tutup teleponnya, aku lelah.”
“Ya, jaga dirimu di sana. Jangan merencanakan hal buruk yang akan merugikan dirimu sendiri.” Eva mengakhiri ucapannya dengan kekehan kecil, mengingat kelakuan Riella yang akan menyuntikkan cairan pelupa ingatan.
“Ya, bawel!”
“Bye, besok aku telepon lagi. Jaga dirimu,"
“Bye ….”
Setelah menutup teleponnya, Riella memikirkan perkataan Eva. Memang benar sejak mereka bertemu lagi, ia tidak pernah membicarakan kenapa dulu Kenzo tidak datang ke Korea. Ia berniat untuk membicarakannya dengan Kenzo nanti malam, semoga dengan bicara baik-baik dengan Kenzo ia bisa membuka hatinya lagi untuk Kenzo.
🚑
🚑
🚑
🚑
Like, komentar dan masukkan ke daftar favorit.