
Riella menatap kepergian mobil Kenzo dari jendela kamar utama. Ia tahu Kenzo akan pergi ke kantor pagi ini, dan ia sengaja tidak menyapa ataupun menyiapkan pakaian Kenzo. Hubungannya dengan Kenzo semakin hari semakin renggang, Kenzo semakin tidak bisa untuk diajak bicara.
Usia kandungan Riella kini sudah hampir 16 minggu, tendangannya belum terasa. Hanya saja, Riella sudah bisa merasakan getaran dari dalam perutnya dan selama itu Kenzo belum pernah menyentuh ataupun menyapa calon anaknya.
Pagi ini, karena rasa penasaran yang begitu tinggi, akhirnya Riella berusaha mencari tahu apa yang disembunyikan oleh Kenzo. Selama ini ia memang tidak pernah masuk ke ruang kerja Kenzo, saat suaminya itu pergi, karena ia tahu itu adalah privasi suaminya. Tapi entah kenapa pagi ini dia begitu penasaran dengan apa yang disembunyikan Kenzo selama ini.
“Maafkan, aku Ken!” ujarnya lirih sambil memutar pelan pegangan pintu ruang kerja. Sepertinya alam semesta turut mendukung niatnya pagi ini. Kenzo lupa untuk mengunci ruang kerjanya. Tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu terkunci rapat.
Saat berada di dalam ruang kerja Kenzo, Riella mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan yang beberapa bulan ini tidak ia kunjungi, menatap betapa rapinya ruang kerja Kenzo. Ia jadi was-was jika Kenzo akan mengetahui apa yang ia lakukan pagi ini.
Riella mendekat ke almari buku, membuka satu persatu laci yang ada di sana. Selepas itu Riella hanya mampu mengerutkan dahinya, merasa mustahil jika Kenzo menyembunyikan sesuatu darinya lantaran Kenzo selalu cerita apa yang dia alaminya. Wajahnya nampak kecewa saat tidak mendapatkan petunjuk apapun.
“Lalu kenapa Ken? Apa salahku selama ini padamu? Apa kamu mencoba mempermainkan perasaanku?” ucap Riella sambil duduk di kursi kerja Kenzo. Riella menyandar punggungnya di sandaran kursi, tangannya mengusap lembut perutnya yang mulai membesar.
Sejenak Riella memejamkan matanya, menghirup aroma parfum Kenzo yang masih tertinggal di ruangan itu, mungkin calon anaknya tengah merindukan belaian papinya, Tampak sekali jika Riella langsung terlelap dalam posisi duduk, bersandar di kursi Kenzo.
Riella lupa dia tengah berada di mana, ia terhanyut dalam buaian mimpi indah. Namun, hanya sebentar saja Riella tidur di sana, karena merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya saat ini. Ia langsung membuka matanya, seperti orang yang tersentak karena menyadari sesuatu.
“Syukurlah Kenzo belum pulang!” ujarnya sedikit panik, sambil menatap ke arah pintu ruangan. Riella beranjak dari tempat duduknya, hendak meninggalkan ruang kerja Kenzo. Karena pinggangnya sudah terasa pegal.
Namun, saat ia berdiri, ia menatap amplop yang terselip di buku tebal yang ada di atas meja. Ia berpikir sejenak untuk mengambil atau mengabaikan amplop itu, sebelum akhirnya, Riella menarik amplop tersebut karena rasa penasaran yang begitu tinggi.
Kerutan di dahi Riella semakin banyak saat ia membaca isi amplop di tangannya. Di sana dijelaskan jika Kenzo menderita motilitas sper*ma. Namun, itu sudah dua bulan yang lalu, tumpukan surat di bawahnya menerangkan jika sebenarnya air mani Kenzo tidak memproduksi sel sper*ma, dan berarti sejak mereka menikah itulah yang menyebabkan Kenzo tidak meminta haknya. Mungkin itu pula yang membuat Kenzo mau menerima dia apa adanya?
Berbagai spekulasi muncul di kepala Riella. Ia terus menggelengkan kepalanya, berusaha untuk tidak percaya dengan apa yang baca saat ini, tapi melihat stempel rumah sakit Singapura dan nama Kenzo di sana itu adalah kebenaran yang harus ia terima.
Riella kembali menjatuhkan tubuhnya di kursi. Mengatur nafasnya yang terasa sesak. Lelaki yang selama ini ia percaya berbagi setiap suka dan duka, ternyata menyimpan rahasia sebesar ini darinya. Kenzo tidak mempercayainya.
"Mungkinkah kamu mengira dia bukan anakmu Ken?" setetes air mata mulai turun dari kelopak mata Riella, ia memijit kepalanya yang terasa pusing, setelah menyadari kemungkinan yang terjadi.
“Astaga, Ken! Seperti itukah? Kenapa kamu tidak mengatakan langsung padaku?” lanjutnya bermonolog. Riella lalu berjalan ke kamar, hendak menghubungi Kenzo.
Satu panggilannya tidak dijawab oleh Kenzo. Membuat perasaan hatinya semakin kacau, ia hanya ingin menanyakan kebenaran tentang kondisi Kenzo, dan akan merasa jika Kenzo menjawabnya jujur. Ia lalu kembali menghubungi Kenzo. Namun, kali ini ponsel Kenzo justru tidak aktiv. Riella semakin dibuat bingung dengan sikap Kenzo saat ini.
Terbesit niat Riella untuk pergi ke kantor Kenzo. Tapi ia takut jika Kenzo akan mengabaikannya, dia juga tidak mau membahas masalah keluarganya di kantor. Jadi, lebih baik ia menunggu Kenzo siapa tahu Kenzo akan pulang untuk makan siang.
Seharian ini perasaan Riella tidak nyaman, waktu seolah berhenti berputar, ia tidak sabar untuk menanti kepulangan Kenzo dan menanyakan tentang isi surat itu. Rasa cemas Riella semakin menggebu, saat ia menyadari jika jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Mendengar suara pintu rumahnya diketuk Riella segera membuka pintunya.
“Kamu nggak apa-apa, kan Riella?” tanya Nindi yang berada di depan pintu, sebenarnya dia datang atas permintaan Kenzo yang meneleponnya.
“Emh... Nggak papa, Ma.” Riella menjelaskan sambil mengambil bayi Aslan dari tangan Nindi. Anak lelakinya itu sekarang sudah pintar, ia sudah bisa tengkurap dan membalikkan tubuhnya ke sana kemari. Dan Riella harus ekstra menjaga Aslan.
“Tapi wajahmu pucat, Riella?! Apa biarkan dulu Aslan ikut dengan Mama?” tawar Nindi yang ingin membawa Aslan pulang ke rumah.
“Nggak perlu, Ma. Mungkin karena Riella kurang istirahat.” Riella menjelaskan sambil membawa Aslan masuk ke dalam rumah.
“Ya sudah, Mama pulang dulu ya, jaga dirimu baik-baik, jika ada apa-apa hubungi Mama!” pesan Nindi sebelum ia beranjak dari teras rumah Riella. Namun, baru tiga langkah suara Riella menghentikannya.
“Ma, apa Mama tahu jika ....” Riella tampak ragu untuk menanyakan tentang suaminya. Ia takut jika nantinya akan menjadi beban untuk Nindi. Dan sebenarnya Kenzo juga menyembunyikan ini dari Nindi.
“Tahu apa, Sayang?” tanya Nindi penasaran karena dia tidak mendengar Riella meneruskan ucapannya. Matanya sudah menatap lekat ke arah Riella karena takut sesuatu terjadi pada calon cucunya.
“Nggak, papa, Ma. Lupakan saja!” sahut Riella yang akhirnya membatalkan niatnya untuk mengatakan pada Nindi. Ia lalu membiarkan Nindi untuk pergi dari rumahnya menyisakan berbagai pertanyaan yang ada di pikirannya.
...----------------...
#Note :
Reader tercinta ... yang punya aplikasi kuning berlogo N tengokin karya Ella ya, ketik saja My Second Husband (free) oke terima kasih, jangan lupa like, komentar dan vote😉 untuk dukung Kenzo dan Riella.