
Selamat Membaca!
🌹
Pagi ini Riella benar-benar membulatkan tekadnya untuk mendatangi Kenzo. Dia sengaja mengambil jadwal penerbangan pertama. Supaya bisa ketemu Kenzo di rumah bukan di kantornya.
Dari awal, Riella memang tidak menghubungi siapapun yang ada di Banjarmasin. Dia ingin memberikan kejutan pada Kenzo, dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Berharap suaminya itu akan terkejut saat melihatnya di rumah.
Setelah pesawat komersil yang dia tumpangi berhenti sempurna. Riella mulai berjalan memasuki gedung terminal bandara Syamsudin Noor. Bibirnya tersenyum lebar saat teringat tingkah laku Kenzo waktu itu. Dia lalu berjalan keluar terminal untuk mencari agen travel yang bersedia mengantarnya ke rumah Kenzo.
“Ke alamat ini bisa kan, Pak?” tanya Riella sambil menyerahkan secarik kertas ke tangan sang sopir. Sopir setengah baya itu mengangguk, dan membuka pintu untuk Riella, mempersilakannya untuk masuk ke dalam mobil.
Sopir itu bergegas melajukan mobilnya, usai memasukkan barang-barang Riella ke dalam bagasi. Dia terus menatap wajah Riella yang tanpa riasan dari spion kecil yang ada di depannya.
Riella memejamkan mata erat saat mobil yang ia tumpangi melewati jalan keramat yang hampir merenggut nyawanya. Tempat yang sama saat Kenzo kecelakaan bersama Khalisa. Beruntung nasibnya sama seperti Kenzo bukan Khalisa. Dia sadar mungkin Allah masih memberinya kesempatan kedua untuk dia memperbaiki semuanya dan memulai lagi dari awal.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dia tumpangi sudah berada di depan pagar tinggi pekarangan rumah Kenzo. Pagar kayu ulin yang diplitur warna kayu sengaja menutupi kondisi di seberang pagar sana.
“Terima kasih, Pak! Sudah ambil saja kembaliannya,” kata Riella saat sopir tersebut mencari uang kembalian untuknya.
“Terima kasih banyak ya, Kak.” Sopir itu tersenyum ramah ke arah Riella yang sudah menjauh dari mobilnya.
Sebelum Riella membuka gerbang kayu tersebut, dia mendongak, memperhatikan tinggi pagar tersebut.
“Aku kembali, Ken! Membawa sejuta cinta untukmu!” lirihnya lalu mendorong pelan gerbang di depannya.
Riella terkejut saat melihat banyaknya orang yang berada di pekarangan rumah Kenzo. Mereka berjajar seperti menyambut tamu agung. Dia bertanya dalam hati. Apakah mamanya memberitahu mereka jika ia akan datang? Jika benar begitu dia akan sangat malu dengan kondisinya seperti ini.
Saat ini Riella hanya mengenakan pakaian biasa. Celana kain pas body dan kaos mini yang lapisi jaket parka. Semakin dia melangkahkan kakinya, dia bisa melihat tatapan semua orang tertuju ke arahnya. Mereka semua terlihat cantik, seperti menghadiri acara pesta. Riella sengaja meninggalkan kopernya di pos satpam dia malu karena tatapan tidak putus dari dirinya.
Riella berjalan masuk ke dalam lagi, menuju bangunan rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya dengan Kenzo. Dia berjalan pelan, dan berusaha mengabaikan tatapan semua orang yang semakin aneh menatap ke arahnya. Ada tatapan kerinduan dan kasihan dari beberapa orang yang dia kenal.
“Ada acara ya? Acara apa sih, Kak?” Riella yang tidak sabaran mencoba bertanya pada wanita yang dia kenali. Wanita itu hanya menggeleng dan tersenyum ramah ke arah Riella. Meminta Riella untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Wanita itu tidak bicara tapi tangannya menunjuk ke arah dalam rumahnya. Seolah meminta Riella untuk melihatnya sendiri.
Saat Riella melanjutkan langkahnya. Jantungnya berdebar tak karuan. Bibirnya masih mengukir senyuman indah yang selalu ia pancarkan. Namun, saat dia menapaki anak tangga pertama teras rumahnya. Jantung Riella seolah berhenti saat itu juga. Dia ragu untuk melanjutkan langkahnya lagi.
Saya terima nikah dan kawinnya Lintang binti Samadi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar. Tunai!
Suara Kenzo terdengar jelas dan lantang. Bahkan, dia bisa mengucapkannya dengan satu tarikan nafas. Tubuh Riella yang hendak menapaki anak tangga berikutnya pun terhenti, dia merasakan nyeri yang begitu menyiksa uluh hatinya saat ini.
SAH!
Satu kata yang semakin membuat dada Riella semakin sesak. Saat ini dia resmi dimadu oleh suaminya. Bahkan Kenzo tidak pernah membahas ini sebelumnya.
“Alhamdulillah,” ucap penghulu yang ada di depan Kenzo. Riella berusaha keras untuk melangkah lagi. Dia ingin menyaksikan lebih dekat lagi, apakah itu benar suaminya atau bukan.
Ingin sekali dia berteriak dan menjawab tidak sah atas pernikahan suaminya. Tapi, dia tidak mampu, karena matanya bisa melihat dengan jelas senyum indah di bibir Kenzo saat pria itu menyematkan cincin di jemari Lintang.
Benarkah ini ya Allah? Dia bukan milikku sepenuhnya lagi? Kenzo menduakanku? Batinnya terus bertanya. Tidak perlu bertanya lagi bagaimana kondisinya. Karena air matanya kini sudah meluber kemana-mana.
“Kamu jahat, Ken!” teriak Riella yang membuat semua orang menoleh ke arahnya. Termasuk Kenzo yang terkejut melihat kehadiran Riella ada di rumahnya.
Kenzo berdiri mendekat ke arah Riella, dengan wajah datar dia membawa Riella masuk ke dalam kamar utama. Berbeda dengan Riella yang sudah berlinangan air mata. Apalagi saat melihat dekorasi epik kamar pengantin yang selama ini menjadi tempatnya bercinta dengan Kenzo. Seolah Kenzo benar-benar menginginkan pernikahan ini terjadi.
“La … maafkan aku.” Kenzo mendudukan Riella di tepi ranjang. Sedangkan dia duduk bersimpuh di depan lutut Riella. “Maafkan aku yang tidak meminta izin dulu padamu,” ucap Kenzo dengan suara serak. Riella masih menangis, dia tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan Kenzo saat ini.
“Mama meminta aku menikahi Lintang, La. Dia ingin aku segera memiliki keturunan.” Kenzo menangis di depan lutut Riella.
Dan saat itu juga ucapan Kenzo membuatnya sadar, jika dia sudah gagal memenuhi permintaan mertuanya. Zea sudah pergi itu karena egonya.
“Maafkan aku. Tapi percayalah hatiku hanya milikmu, La. Aku tidak mencintainya.” Kenzo berusaha jujur pada Riella tentang perasaanya. Dia tidak mencintai Lintang, sama sekali tidak. Dia hanya terpaksa menikahi Lintang.
“Aku sudah terlambat, Ken!” kata Riella sambil mengusap derai air matanya. Dia berusaha keras untuk mengeringkan air mata itu, supaya tidak terlihat lemah di depan Kenzo.
“Aku datang hanya ingin meminta maaf. Aku pikir … kita bisa memulainya dari awal. Tapi, ternyata itu hanya ada dalam angan ku saja.” Riella mencoba berdiri dari tempat duduknya. “Maaf aku tidak bisa berbagi dengannya. Jadi, aku lebih memilih mundur dari pernikahan ini, Doni akan datang ke sini meminta tanda tangan surat perceraian kita. Semoga kamu bahagia dengannya, mempunyai anak yang lucu-lucu. Aku akan berdoa untuk kalian berdua. Semoga kebahagian melingkupimu. Terima kasih atas semua yang sudah kamu berikan padaku!” Riella lalu berlari keluar dari kamar utama dia ingin meredakan sesak di dadanya.
Riella berlari sekuat yang dia mampu. Mengabaikan suara siapapun yang berteriak memanggilnya. Tidak peduli bahu siapa yang di tabrak. Dia hanya ingin pergi dari rumah Kenzo dan menangis sekeras kerasnya saat ini, meluapkan rasa sakit yang tengah dia rasakan.
Riella sadar. Dia tidak berhak menyalahkan Kenzo. Jika pria itu mengambil jalan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Bukan salah Kenzo juga dia menikah lagi, karena dari awal mereka menikah, hubungan mereka tidak pernah baik-baik saja. Riella mengambil lagi kopernya, menariknya keluar dari pekarangan rumah Kenzo.
“Riella!” terdengar suara pria memanggil namanya. Jelas sekali, suara ini bukanlah suara Kenzo. Pria yang dia cintai. Tapi, dia terlambat. Saat dia sadar jika mencintainya, pria itu justru pergi darinya.
...----------------...
Tak bisa berkata-kata pokoknya like dan vote ya😉👍