The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Kabar Bahagia



Tiba di rumah kedua orang tuanya, Riella segera turun dari taxi online yang mengantarnya pulang. Matanya menangkap Erik yang tengah berdiri di taman, menatap dedaunan yang jatuh mengotori halaman rumahnya yang luas.


“Papa nggak masuk? Mau hujan loh!” tanya Riella yang sudah lima langkah dari posisi Erik berdiri.


Erik yang mendengar suara Riella segera menoleh ke arah sumber suara, lalu memberikan senyuman manis ke arah anaknya. “Sudah pulang? Mobilmu ke mana?” tanyanya ketika tidak melihat mobil merah milik Riella.


“Ada di rumah sakit. Papa kenapa, mama mana? Tumben nggak berduaan?” Riella membrondongi Erik dengan banyak pertanyaan, mencoba mengalihkan topik pembicaraanya.


“Mama di rumah sakit, menunggu kakak iparmu,” jelas Erik lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Dia lalu meraih tangan Riella, menuntunnya ke dalam rumah.


“Ada yang ingin papa bicarakan denganmu,” minta Erik seraya mendaratkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, yang nampak sepi karena memang tidak ada orang selain dia dan Riella.


“Kenapa, Pa?”


Erik menatap Riella intens, lalu segera memulai percakapan setelah melihat anaknya sedikit tenang. “Apa kamu kesusahan mengurus rumah sakit? Jika iya, papa akan mengirim orang untuk membantumu, sepertinya kamu belum bisa mengatur waktu, jadi untuk berkumpul dengan papa saja sepertinya susah.” Erik tersenyum tipis setelah ucapan terakhirnya, ia menunduk menatap jemarinya, sambil menekan jemarinya hingga mengeluarkan bunyi khas dari sepuluh jarinya.


Riella membuang nafas panjang, “semua baik-baik saja, Pa. Hanya saja, pasti aku akan menghabiskan waktu lebih lama lagi di rumah sakit.” Riella menatap perubahan ekpresi lelaki pertama yang membuatnya jatuh cintai.


“Bukan dengan kekasihmu, kan?” celetuk Erik dengan tawa khasnya, supaya Riella menganggapnya hanya candaan.


“Ih, Papa … nggaklah!” Riella membuang wajahnya dari pandangan mata Erik, sambil menenangkan degub jantungnya yang semakin berdetak cepat, melebihi dari sepuluh menit yang lalu.


“Jika kamu sudah siap menikah, bawa dia ke rumah! Jangan lagi menyembunyikannya. Bagaimanapun papa yang sudah membesarkanmu, papa khawatir kamu akan terjerumus ke dalam hal-hal buruk di luar sana, yang seharusnya tidak kamu lakukan.”


“Pa ….” Riella tidak sanggup melanjutkan ucapannya tenggorokanya merespon dengan cepat ketika matanya menangkap tangan Erik yang melepas kaca mata sambil mengusap pangkal hidungnya.


Erik kembali menatap Riella, “Meski papa belum rela melepaskanmu, tapi papa yakin di tangan suamimu dia bisa menggantikan papa untuk membawamu ke kehidupan yang lebih baik.” Dengan lembut Erik mengatakan itu pada Riella, mungkin perkataanya bisa menusuk tepat di hati Riella paling dalam, membuat Riella tanpa sadar menitihkan air mata.


“Jangan menangis di depan papa. Kalau kamu belum siap papa akan menunggu hingga kamu siap untuk menikah.” Erik kembali menarik nafas dalam. “Tapi hari ini kamu masih menjadi tanggung jawab papa, jadi menurutlah dengan kami. Apa yang kami katakan, itu hanya untuk mengarahkanmu, supaya kami tidak salah mendidikmu, tanggung jawab papa paling besar di sini, Nak.”


Suasana terasa hening setelah Erik mengatakan itu, terdengar samar suara angin yang menyambut kedatangan hujan.


“Baiklah, akan Riella bicarakan dengan kak Emil.”


“Emil?” tanya Erik, terkejut ketika nama dari sahabat anak lelakinya itu disebut.


“Iya, maaf, Pa. Tapi memang itu kenyataanya, Riella jatuh cinta dengannya,” ujar Riella sedikit takut jika Erik tidak mengizinkannya dengan Emil.


Erik diam sejenak, belum ingin merespon ucapan Riella, kembali ia mengenakan kaca matanya setelah dirasa air matanya sudah tidak turun lagi. Tawanya pecah membuat Riella menatap ke arahnya.


“Ya, papa paham. Kamu pasti seperti mamamu yang jatuh cinta pada sahabat kakaknya. Jika mamamu tahu, pasti ia akan menertawakanmu. Karena kelakuanmu persis dengannya.” Kembali suara tawa itu memenuhi obrolan mereka sebelum seseorang menghentikan tawa keduanya.


“Apa maksudmu Pa!” sahut Ella yang baru saja tiba dengan Nara dan Rara yang mengekor di belakang tubuhnya.


Erik yang mendengar suara Ella segera menoleh ke arah belakang punggungnya, tersenyum ramah menyambut kedatangan istrinya.


“Sudah pulang kamu, Ma?” sapanya ramah, dengan tangan yang meminta Ella untuk mendekat.


“Nggak lihat aku di sini?” ucap Ella sambil menjatuhkan tubuhnya di samping Erik.


“Syukurlah jika sudah tiba, aku hanya khawatir di luar sana sepertinya cuaca sedang buruk.” Erik mengusap lembut punggung Ella, jarinya merangkak naik, manarik ikat rambut istrinya, supaya lehernya tertutup rambut yang sebagian sudah bewarna putih.


“Sebenarnya aku baru mau menyusulmu, tapi melihat Riella kembali, jadi lebih baik aku di rumah,” lanjutnya lalu beralih menatap Riella yang sudah kembali berwajah riang, dengan kedua adiknya.


“Gimana keadaan Luna?” tanya Erik.


“Syukurlah.”


Mendengar perbincangan kedua orang tuanya yang tampaknya sudah beralih topik, Riella segera pamit ke kamar untuk membersihkan diri. Saat berjalan ke arah kamar, otaknya terus berpikir untuk meluluhkan hati kakak lelakinya. Pikiran kotor menyerbu ke otaknya, hingga membuatnya memikirkan untuk berpura-pura hamil, supaya Kalun mengizinkan Emil menikahinya. Dia akan membicarakan ini dengan Emil, dia perlu perencanaan yang matang lebih dulu sebelum mengelabuhi kakaknya yang keras kepala itu, apalagi setelah kejadian tadi pagi, pasti Kalun semakin sulit untuk di bujuk. Dan akan semakin gencar untuk menjauhkannya dengan Emil.


Suara nasihat Erik tergiang di telinganya. Semakin membuatnya merasa bersalah, tapi dia juga bahagia, ternyata papanya tidak melarang hubungannya dengan Emil. Sekarang beban Riella sedikit berkurang, dia tinggal meyakinkan Kalun, untuk mengizinkan Emil menikahinya.


Tiba di kamar Riella meraih ponselnya, untuk mengabarkan berita bahagia itu pada kekasihnya.


“Lagi di mana?” tanya Riella ketika mendengar suara Emil. Riella mendengar jawaban dari ujung telepon, jika Emil dalam perjalanan mengantarkan Chika pulang ke rumah.


“Ya, sudah nanti setelah kamu sampai rumah saja. Kamu telepon balik ya, aku punya kabar bahagia untukmu.” Riella langsung menutup ponselnya, setelah mendengar sahutan dari ujung telepon. Dia lalu melemparkan ponselnya ke atas ranjang, meninggalkan kenyamanan untuk membersihkan tubuhnya.


Belum satu jam jarak ia menelepon Emil, ponselnya berdering nyaring. Dia yang hendak turun ke lantai satu terpaksa harus tertahan karena menjawab panggilan telepon Emil. Dia segera menggeser logo bewarna hijau yang ada di layar ponsel. Setelahnya, tampak wajah Emil memenuhi layar 6 inc ponselnya.


“Kabar apa?” terdengar suara pertama dari penelepon. Riella hanya memperlihatkan giginya, tersenyum tanpa suara.


“Tebak saja!” perintahnya menatap layar ponsel.


“Kamu hamil?”


Riella melotot sempurna, sambil menggelengkan kepalanya cepat.


“Terus?” tanya Emil lagi sambil tertawa saat melihat bibir Riella yang manyun.


“Tebak saja terus!”


“Pas. Aku nyerah! Otakku di bawah standar, Sayang!”


“Dasar lelaki aneh!”


“Katakan!” perintah Emil sambil menatap wajah Riella.


“Papa memintamu untuk segera datang ke rumah, jika kamu benar-benar serius menikahiku, segera datanglah!” Riella menjelaskan sambil menatap wajah Emil, memperhatikan apakah raut wajah Emil berubah sedih atau bahagia. Dia hanya menangkap senyum bahagia di sana, ia sedikit lega ketika melihat ekspresi Emil ia yakin jika kekasihnya akan bertanggungjawab dengan apa yang sudah mereka lakukan.


“Baiklah, secepatnya aku akan melamarmu, tapi bagaimana dengan Kalun?” Riella lalu menjelaskan rencana yang sudah ia pikirkan tadi di kamar mandi dan dengan cepat Emil menyetujui rencana Riella, bersiap untuk membantunya.


“Berarti tidak lama lagi, statusmu akan berubah menjadi tunanganku, benar kan?” tanya Emil memastikan.


“Kenapa tidak langsung menikah saja, bukannya itu lebih baik?” tawar Riella.


“Iya, tapi aku tidak mau pernikahan yang biasa. Aku perlu menyiapkan semuanya untuk wanita yang aku cintai.” Emil terdengar sungguh-sungguh saat mengatakan hal itu pada Riella. Membuat Riella semakin tersenyum lebar ke arahnya, karena ternyata lelakinya menginginkan pernikahan terbaik untuknya.


“Iya. Baiknya aku sebagai pihak wanita hanya bisa menurut apa kata calon suamiku,” sahut Riella pasrah, lalu segera berjalan ke arah pintu. Karena mendengar ketukkan pintu. Dia lalu meminta Emil untuk mengakhiri panggilan karena Erik memintanya untuk turun dan makan malam bersama.


“Bye aku tutup teleponnya.” Tanpa mendengar sahutan Emil Riella langsung memutuskan panggilnnya, karena lelaki itu tidak ingin menutup panggilan videonya.


🚑


🚑


🚑


Terima kasih buat vote dan like serta komentar positifnya. Aku tunggu dukungan selanjutnya ya🤭😝🙏