
Selamat Membaca!
🌹
“Riella!”
Nindi yang baru masuk ke rumah Kenzo nampak terkejut dengan kedatangan menantunya. Dia mendekat ke arah Riella sambil mencubit kecil lengannya. Memastikan jika ini bukanlah bunga tidurnya.
“Pagi, Ma,” jawab Riella sambil mencium sopan tangan kanan Nindi. Lalu meluapkan kerinduannya dengan memeluk tubuh mertuanya. “Kenzo di mana, Ma?” imbuhnya bertanya. Rasa kerinduannya sudah tak terbendung. Dia ingin segera bertemu Kenzo, memeluk pria itu dan mengucapkan kata maaf.
“Kenzo ada di taman dekat panti, dia sedang jalan-jalan dengan Aslan.” Nindi menjawab sambil memperhatikan badan Riella yang tampak kurus.
“Bagaimana kabarmu?" tanya Nindi, lalu membawa Riella ke kursi tamu. "Temuilah Kenzo! Pasti dia akan sangat senang saat melihatmu datang!” perintahnya sambil tersenyum ramah ke arah sang menantu.
Nindi bersyukur Riella mau datang lagi ke rumah ini, meski dia tidak tahu apa maksud dan tujuannya. Dia tahu Kenzo sakit saat harus melepas Riella. Dan hanya wanita di depannya inilah yang bisa merubah semua luka Kenzo menjadi tawa.
Riella mengangguk, lalu segera berlari ke arah taman yang ada di dekat panti. Dia tidak sabar ingin bertemu Kenzo. Memaki kebodohan Kenzo yang sudah meninggalkannya saat dia terbaring lemah. Harusnya dia bertahan dan menguatkannya.
Riella begitu bersemangat menemui Kenzo. Dia berlari kecil ke arah taman yang ditunjukkan Nindi padanya. Jaraknya memang lumayan jauh, hampir 150 meter dari rumah yang biasa tempati. Dia ingin segera mendekap tubuh Kenzo, menghirup dalam aroma parfum yang sudah lama tidak di radar penciumannya. Masa bodoh dengan gender-nya, dia ingin mengungkapkan rasa cinta yang sudah tumbuh di hatinya saat ini.
Namun, saat dia tiba di sana, tepatnya di belakang kursi taman. Dia hanya bisa menatap dalam diam ke arah mereka. Seolah dia punya rem cakram untuk menghentikan laju kakinya. Mata Riella bisa menatap sendu, bagaimana keduanya mengajari Aslan berjalan.
Tiga bibir berbeda generasi itu terbahak, seolah tengah merasakan kebahagian yang luar biasa saat ini. Riella hanya bisa memperhatikan mereka dari jarak lumayan dekat.
“Iya ... pernikahannya besok pagi, kita harus mempersiapkan semuanya dengan baik.”
Riella bisa mendengar suara yang keluar dari bibir Kenzo. Pria itu tengah menjawab pertanyaan sang wanita. Wanita yang selama ini Kenzo anggap sebagai adik angkatnya.
Benarkah mimpi itu? Mereka akan menikah? Jika benar seperti itu, berarti kedataganku adalah kesalahan besar? Tanya Riella dalam hati, mencoba mencari jawaban dari dalam hatinya sendiri. Jika benar besok pagi mereka akan melakukan pernikahan. Dia tidak akan berlama-lama di sini. Dia yakin, tidak akan kuat melihat Kenzo menikah dengan Lintang.
Belum sempat Riella bertatap muka dengan Kenzo, dia segera berlari menjauh dari mereka. Dia tidak ingin melihat mimpinya semalam benar-benar terjadi. Dia tidak akan rela untuk menyaksikan pernikahan mereka.
“Kamu mau kemana, La?” teriak Nindi saat melihat Riella berlari menjauh dari taman. Dia ingin mengejar, tapi percuma karena Riella sepertinya tengah emosi.
Riella masih terus berlari, tidak ingin berbicara pada siapapun saat ini. Dia tidak pernah berharap salah satu mimpi buruknya benar-benar terjadi dalam hidupnya. Siapapun tidak ingin terjadi dan siapapun tidak ingin cintanya terbagi.
Riella kembali ke bandara, memesan tiket penerbangan ke Jakarta saat itu juga. Sayangnya, dia mendapat jadwal tiket pukul 10 pagi, dan itu artinya dia harus menunggu 15 menit lagi untuk bisa pergi dari kota Banjarmasin. Dia hanya berharap, Kenzo tidak menyadari kedatangannya. Biarlah dia menyimpan cintanya dalam hati saja, karena dia sudah terlambat untuk menyadari semuanya.
Jika dulu Kenzo pergi meninggalkannya karena kecelakaan dan harus dirawat keluar negeri. Sekarang biarlah dia yang berkorban untuk Kenzo. Merelakan Kenzo untuk orang lain, meski hatinya juga terluka.
Panggilan penumpang untuk masuk ke badan pesawat terdengar nyaring di telinga Riella. Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya dia menginjakkan kaki di sini. Setelah ini, dia akan terbang bebas kemanapun dia mau tanpa ada Kenzo lagi di sampingnya.
Mungkin meraih cita-citanya adalah solusi yang tepat untuk melupakan Kenzo, bertemu dengan orang-orang baru. Siapa tahu Tuhan menyiapkan jodoh yang lebih baik lagi untuknya.
“Selamat tinggal, Ken. semoga kamu selalu bahagia dengan pilihanmu saat ini,” ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan kursi ruang tunggu. Dia menoleh ke arah pintu yang menjadi penghubung ruang tunggu. Hati kecil berharap ada Kenzo yang mencegahnya pergi. Tapi tidak, itu tidak akan terjadi. Kenzo sudah bahagia dengan pilihannya.
Riella masuk ke pesawat warna biru putih bertuliskan negara Indonesia. Pramugari yang berdiri di dekat pintu segera menunjukkan di mana tempat duduknya. Kali ini Riella memesan tiket kelas bisnis. Bisa dibilang, kursi yang ia duduki adalah harga tiket termahal dari tiket penumpang lainnya. Dia ingin menangis, tanpa ada orang tahu apa yang sedang ia lakukan.
Bunyi peringatan pemakaian seatbelt pun terdengar. Menandakan pesawat sebentar lagi akan take off. Riella hanya bisa memejamkan matanya erat, saat pesawat mulai berjalan menuju runway. Guncangan kecil pun tak dapat ia rasakan saat pesawat besar itu mengambil take off .
“I love you Kenzo. Tidak perlu menunggu pesawat terbang tinggi, karena dari titik ini ... aku sudah bisa merasakan cinta ini bersemi untukmu,” gumamnya. Lalu menoleh ke arah samping, bayangan saat saat melakukan perjalanan dengan Kenzo terlintas. Biasanya jemari mereka saling bertautan, berpegangan erat mencari kenyamanan saat pesawat hendak landing maupun take off. Dia paham, kecelakaan pesawat itu masih meninggalkan trauma di batin Kenzo.
Riella lalu diam menatap ke arah jendela, melihat badan pesawat perlahan mulai menjauh dari daratan. Dia sekarang bisa melihat gumpalan awan putib yang menyerupai kapas, menghiasi birunya langit pagi ini. Sangat indah, membuat Riella mengingat sesuatu dengan janjinya. Riella mencari sesuatu di dalam tasnya. Ya? dia mencari alat tulis. Memang sedikit lebay tingkahnya. Dia sendiri bingung dengan tingkahnya yang terlalu dramatis. Dia menuliskan sebuah kalimat. Lalu menyelipkan di jendela, segera dia membidiknya dengan kamera ponsel. Tiga kali dia menyentuh tombol oke, sampai dia berhenti saat mendengar suara menyebalkan.
“Maaf Ibu, harap ponselnya dimatikan. Karena menganggu sinyal navigasi!” peringat pramugari yang melintas di samping kursi Riella.
“Santai saja, Kak. Ini sudah dalam mode pesawat kok!” Riella menjawab sama ketusnya dengan pramugari di sampingnya. Setelah itu mengabaikan tatapan pramugari tersebut. Memilih melihat hasil bidikan dari kamera ponselnya. Dia tersenyum manis saat melihat hasil bidikannya itu.
“Maafkan aku terlambat menyadarinya, Ken. Dan akupun terlambat untuk memulainya lagi. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu.” Riella memasukkan kertas itu ke dalam tas. Dia sudah menepati janjinya, meski saat ini keadaannya berbeda. Kenzo tidak lagi berada di sampingnya.
Riella berusaha memejamkan matanya, membuang rasa kecewa yang saat ini dia rasakan. Dia paham ini bukan sepenuhnya salah Kenzo. Dia sadar, kalau dia juga bersalah, dia dulu yang tidak menganggapnya ada di hatinya. Tapi, rupanya ... hanya dia yang terlambat menyadari perasaanya.
...----------------...
Like dan vote ya 🌹
Tembus 500 komen aku up lagi hari ini.🤣🤣🤣