
Rangkingnya turun nih😭. Boleh minta bantuan buat vote lagi🙏 sampai hari Minggu saja votenya gencarin. Setelah itu boleh vakum vote, sampai Ella minta vote lagi. Terima kasih😆
😣
😉
😆
🤣
Masih berada di ruang perawatan yang Kenzo tempati. Riella terus memperhatikan dokter muda laki-laki sebayanya. Tengah memeriksa kondisi Kenzo. Tangannya ditekuk di depan dada, wajahnya sudah siap memberikan komentar pada lelaki di sebrang tempatnya saat ini.
“Sudah berapa lama kamu jadi dokter?” tanya Riella, menyipitkan matanya. Dokter penyakit dalam yang tampan dan masih muda itu hanya tersenyum tipis. Melirik ke arah Riella, lalu merembet ke arah wajah Kenzo yang tengah setengah berbaring di bed rumah sakit.
“Baru 2 tahun,” jawab dokter muda di depan Riella, ia masih memeriksa tubuh dan organ dalam Kenzo lainnya.
“Hah! Serius kamu? Jangan-jangn kamu jadikan suaminya saya sebagai bahan percobaan?” tuduh Riella memutari tempat tidur yang dipakai Kenzo. Lalu berdiri di depan dokter muda bernama Lutfi.
Lelaki di depannya semakin tersenyum lebar, menyadari tingkah seorang istri yang begitu over protektif dengan suaminya. Biasanya kan, seorang suami yang bersikap tidak wajar saat istrinya sedang sakit.
“Benar kan, kamu mau melakukan malapraktik dengan tubuh suamiku! Dari tadi meriksa gak kelar- kelar! Aku juga dokter jadi aku paham prosedur pemeriksaan!”
“Riella sudah ... sudah, jangan diperpanjang lagi! Biarkan dokter memeriksaku!” peringat Kenzo meraih tangan Riella untuk ia genggam.
“Sabar ya, Pak! Terkadang wanita bisa jadi cerewet ketika sedang panik. Bapak nggak tahu setiap hari istri Bapak selalu menangis di pojokan kantin.”
Riella membelalakkan matanya saat mendengar dokter di sampingnya berceloteh. Ia tidak tahu kenapa dokter lelaki itu bisa tahu detail apa yang ia lakukan.
“Dokter ... apa yang Anda ucapkan itu tidak benar! Dan kamu Ken, jangan percaya dengan dokter muda ini. Mungkin karena saking pintarnya dia jadi berhalu!” sahut Riella saat Lutfi menceritakan kebiasaan Riella saat menunggu Kenzo tersadar.
Terlihat jelas Kenzo memperlihatkan deretan gigi putihnya, menatap wajah Riella, lalu mengenggam erat lagi tangan Riella, yang masih terpaut dengannya.
“Sudah selesai?” tanya Kenzo yang diangguki Lutfi. Ia lalu mengikatkan bajunya rumah sakit yang tadi di buka Lutfi.
“Terima kasih silakan keluar!” perintah Kenzo mengusir Lutfi.
“Ya, silakan nanti Nona datang ke ruangan saya. Ada hal penting yang harus saya sampaikan.” Lufti segera berlalu setelah mendapat jawaban anggukan kepala dari Riella. Ia meninggalkan sepasang manusia yang tengah menyalurkan sorot mata kerinduan.
Riella bernafas lega, sambil menatap wajah Kenzo.
“Ponsel baruku hilang lagi, aku tidak punya foto kita berdua.” Kenzo berucap setelah sekian menit mereka hanya diam.
“Jadi kamu lebih memikirkan ponselmu dari pada perasaanku!” protes Riella, setelah mendengar ucapan Kenzo.
Kenzo tergelak mendengar ucapan Riella. “Aku mendengar tangisanmu, tapi sayangnya hanya mendengar. Dan itulah yang membuatku ingin kembali,” kata Kenzo lalu menarik tangan Riella mendekat dengan bibirnya, mencium tangan Riella lembut.
“Hmmm ... aku memang menangis. Tapi, aku tidak menangisimu, aku hanya ... aku-”
“Stt ... apapun alasannya, aku tidak mengapa? Tangisanmu yang membuatku kembali bertemu dengan orang yang aku cintai. Mama, papa, kamu dan anak-anak.” Kenzo memotong ucapan Riella, tidak ingin mendengar kata yang menyakiti hatinya.
Riella mengangguk, lalu memeluk tubuh Kenzo yang setengah terbaring. “Terima kasih, sudah kembali. Jangan seperti ini lagi, Ken!” Riella mengeratkan pelukannya, “Aku masih butuh kamu, untuk melupakannya.” Kenzo yang mendengar itu, mengusap rambut Riella yang panjang.
“Maaf ... sudah membuatmu khawatir,” ucap Kenzo.
“Itu tidak akan pernah terjadi,” ucap Kenzo lalu mengurai pelukannya, mengangkat dagu Riella menghadap ke arahnya. Menatap manik mata Riella, yang juga menatap matanya, “aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali kamu yang memintaku untuk menjauh.” Kenzo mengecup singkat bibir Riella yang mengerucut.
“Dulu sudah pernah aku lakukan. Itu sungguh berat. Tapi aku bersyukur aku bisa melewati ujian itu. Aku sungguh mencintamu, karena cinta itulah yang bisa membuatku bertahan.” Kenzo kembali mencium bibir Riella. Namun, kali ini lebih lama, mereka menikmatinya setiap sentuhan bibir pucat yang saling mereka berikan, saling mencumbu meluapkan rasa rindu yang tengah mereka rasakan.
Seketika mereka berdua melepas ciumannya saat mendengar pintu terbuka lebar. Tapi tidak dengan pelukan Kenzo, tangannya masih berada di pinggang Riella. Sedangkan Riella sibuk mengusap bibir pucat yang terkena saliva suaminya. Saat menyadari Nindi berjalan mendekat ke arah bed Kenzo dengan wajah tersenyum lebar.
“Mam ... ma ...” panggil Riella gugup, malu karena ketahuan tengah melakukan ciuman panas dengan Kenzo.
“Nggak papa, sudah biasa. Mama paham kok, kalian masih muda jadi wajar,” jelas Nindi mengusap pundak anak lelakinya.
“Papa mana, Ma?” tanya Riella, saat tidak mendapati papa mertuanya.
“Papa kembali ke hotel. Setelah kita tahu Kenzo sudah sadar, akhirnya dia bisa bernafas lega.”
“Papa sudah tahu ya, Ma?” tanya Riella memastikan.
“Tahu dong, kan tadi papa di sini saat Kenzo sadar.” Nindi menjelaskan sambil mengusap rambut anaknya.
“Hmm ....” Riella menatap bergantian wajah mertua dan Kenzo.
“Iya, setelah kamu kembali ke hotel, tidak lama kemudian Kenzo terbangun. Dia mencarimu, tapi mama bilang padanya, untuk mengizinkanmu beristirahat dulu.” Nindi lalu menatap Riella.
Sedangkan Riella menatap tajam ke arah Kenzo, bisa ia lihat wajah Kenzo yang tengah menahan tawanya.
“Jadi ....” Riella menautkan kedua alisnya meminta jawaban dari Kenzo.
Kenzo mengangguk, “aku bisa merasakan sentuhan lembut dari perawatan istriku!” jelas Kenzo sambil tersenyum manis.
“Nyebelin, sukanya ngerjain.” Riella lalu turun dari ranjang, kesal dengan sikap Kenzo.
“Hey mau ke mana?”
“Hey? Bisa nggak panggilnya lebih keren dikit!” Riella membalikan tubuhnya lagi menghadap Kenzo, “dah aku pergi saja,” lanjutnya melanjutkan langkah kakinya.
“Mau ke mana?” tanya Kenzo sedikit berteriak, karena Riella sudah berada di balik daun pintu.
“Ketemu dokter,” sahut Riella singkat, lalu segera menutup pintunya rapat, meninggalkan ibu dan anak itu melepaskan rasa rindu, meski ia tahu Nindi pasti sudah puas menemani Kenzo. Tapi, masih ada hal penting lagi yang harus ia selesaikan. Mengetahui kondisi Kenzo saat ini, untuk melakukan perawatan selanjutnya.
Riella mengetuk pintu dokter Lutfi yang tidak jauh dari ruangan Kenzo, ia segera mendorong pintu setelah mendengar sahutan dari dalam ruangan.
“Selamat malam, teman lamaku ...” sapa Lutfi yang kini duduk di kursi kebesarannya. Riella hanya mengerutkan dahinya mengingat siapa lelaki di depannya ini. Sebelum akhirnya ia menatap tajam ke arah Lutfi yang tengah tersenyum mengejek ke arahnya.
🚑
🚑
🚑
Next ya, kita bakalan tahu kondisi Kenzo setelah ini, buruan vote biar aku cepet update.😆😆😆🙏 tinggalkan like dan komentar juga ya😜