The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Obat Anti-depresan



Terima kasih yang sudah memberikan votenya, kalian luar biasyah 👍👍👍 ... Ella bingung mau nulis rayuan gimana lagi, buat silent readers yang belum vote🤣🤣🤣🤣. Semoga tergugah hatinya, malak mode on🤭🤭 5 hari lagi stop vote. Jadi berikan terbaik untuk sekarang🤭🤭🤭😜


♥️


♥️


Setelah kepergian Riella, Nindi beralih duduk di tepi bed yang di tempati Kenzo. Ia tersenyum tipis saat mendapati Kenzo juga tengah menatapnya dengan perasaan khawatir. Ia mengusap lengan Kenzo menenangkannya.


“Semua akan baik-baik saja. Mama sudah bicara dengan dokter. Dia tidak akan mengatakannya pada Riella.” Nindi menjelaskan pada Kenzo. Mengerti dengan rasa khawatir yang tengah menyerang Kenzo.


“Tapi cepat atau lambat dia pasti juga akan tahu. Kenzo akan menyiapkan hati Kenzo dulu sebelum Riella mengetahuinya.” Kenzo mengambil bantal, meletakkan dibelakang punggungnya untuk bersandar.


Nindi kembali menatap Kenzo, lalu meraih satu tangan anaknya. “Seharusnya, kamu bisa mengatakan semuanya dari sekarang. Tidak baik, jika suami istri menyimpan rahasia. Apapun kondisimu mama akan tetap berada di sampingmu, kalaupun Riella akan pergi meninggalkanmu!”


Kenzo lalu tertawa tanpa suara menatap ke arah Nindi, wanita yang menjadi cinta pertama, yang akan ia bahagiakan di sisa hidupnya saat ini. “Penyakit Kenzo tidak separah itu, Ma. Dokter Lukas bilang semuanya akan kembali normal setelah aku menjalani teraphy sialan itu!”


“Iya, Mama paham. Dan seharusnya kamu tidak perlu khawatir untuk mengatakan itu pada Riella, nyatanya kamu selama ini berhubungan baik dengan Riella, kan?” Nindi menjauh dari tubuh Kenzo, memikirkan lagi apa yang dialami anak laki-laki nya saat ini. Semua itu adalah imbas dari kecelakaan naas sebelas tahun yang lalu.


Obat anti-depresan yang dikonsumsi Kenzo secara berlebihan, berakibat pada fertilitas nya. Awal mula Kenzo tampak biasa saja. Namun, setelah Kenzo dituduh menghamili wanita bernama Eritha, beberapa tahun yang lalu. Akhirnya Kenzo melakukan tes sper*ma dan hasilnya cukup membuat Kenzo terkejut, karena bentuk dan jumlah sper*ma yang dimiliki Kenzo jauh di bawah standar normal. Bahkan, ada bentuknya yang tidak memiliki ekor. Itulah kenapa dia selalu mondar mandir ke Indonesia - Singapura untuk melakukan teraphy. Bukan karena tidak ada dokter terbaik di Indonesia. Tapi kerena Kenzo ingin merahasiakan dulu dari semua orang yang ia kenal.


“Kamu membatalkan teraphy kemarin, Ken?” tanya Nindi, membuyarkan lamunan Kenzo yang tengah memikirkan kondisi tubuhnya.


“Iya, Ma. Saat itu Ken, panik. Tidak tahu harus bagaimana lagi,” jawab Kenzo mengingat alasan ia kembali lebih cepat dari jadwal yang sudah ia susun.


Nindi menghembuskan nafasnya, merasa lelah dengan apa yang dialami anak lelakinya ini sepertinya tidak ada habisnya, cobaan terus datang, semenjak kecelakaan itu.


“Mama akan cari cara, supaya kamu punya keluarga bahagia, dan lengkap. Tanpa kamu berpikir berat lagi.” Nindi mendekat ke arah Kenzo. Mengambilkan makan malam Kenzo yang sudah diantar petugas sejak tiga puluh menit yang lalu.


“Mama jangan terlalu memikirkan tentang Kenzo, tapi Mama juga perlu memikirkan kebahagian Mama,” kata Kenzo lalu menolak suapan yang disodorkan Nindi, “aku mau disuap Riella. Biar nanti dia yang menyuapku!” lanjut Kenzo tersenyum jahil ketika mengatakan itu. Lalu kembali menampakan wajah serius saat mamanya mendelik ke arahnya.


“Kurang puas kamu ngerjain istrimu?” tanya Nindi menatap makanan di tangannya. Merapikan nasi lembek yang tadi sudah ia campur aduk.


Kenzo terkekeh setelah mendengar ucapan Nindi, ia membayangkan wajah Riella yang menggemaskan ketika kesusahan mengganti bajunya. Dan dia harus tersenyum dalam hati, menahan rasa geli saat menerima gesekan tangan Riella yang menyentuh anu nya.


“Bagaimana dengan hasil tes kemarin?” tanya Nindi kembali membahas tentang kondisi kesehatan Kenzo.


“Entahlah, Kenzo belum sempat mengambilnya. Teraphy kemarin kan, juga gagal. Semoga pengorbanan waktu Kenzo selama ini tidak sia-sia.” Kenzo lalu merebahkan tubuhnya.


“Amin,” sahut Nindi, mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Aku sudah bosan di sini, Ma. Aku sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah." Kenzo menarik selimut yang ada di kakinya untuk menutupi tubuhnya.


***


Di waktu yang sama, Riella menatap tajam ke arah lelaki di depannya. Meminta lelaki itu untuk menjelaskan tentang kondisi suaminya.


“Hahaha ... Sabar atuh Neng geulis ....” sahut Lutfi meminta Riella untuk bersabar.


“Ngapain juga kamu di sini! Bukanya kamu harusnya di Bandung ya?” tanya Riella yang beralih profesi menjadi reporter dadakan.


“Si Akang mah kasep pisan? Tapi tetep Akang Lutfi yang lebih tampan!” ujar Lutfi memuji ketampanan Kenzo.


Riella semakin emosi ketika mendengar suara Lutfi. Ia lalu menggebrak meja yang menjadi pembatas jarak mereka.


“Cepet katakan Lutfiana!” bentak Riella, yang mengagetkan Lutfi.


“Heh ... Lutfiando ya!” protes Lutfi mengoreksi nama yang diucapkan Riella. Perempuan di depannya ini memang tidak berubah. Masih saja menjadi singa lapar hendak menyerang mangsa.


Lutfiando Pradana, lelaki yang suka menangis di kelas karena sering mengompol dan menjadi bulan-bulanan rekan sekelasnya, dan hanya Riella lah yang mau bersahabat karib dengannya waktu mereka sekolah dasar. Sampai mereka dipisahkan oleh jarak, karena kepindahan orang tua Lutfi ke Bandung. Tapi wajah Lutfi saat ini berubah total, dia bahkan tidak mengenalinya.


“Tidak ada hal serius mengenai kondisi suamimu, semua sudah normal!” jelas Lutfi singkat.


“Kapan dia boleh pulang?” tanya Riella. Namun, tidak mendapatkan jawaban dari Lutfi.


“Nanti malam aku akan membawanya pulang ke Jakarta. Aku akan melakukan medical chek up sendiri di rumah sakitku.”


“Eee ... tunggu, tidak semudah itu, La.” Lutfi menahan tangan Riella yang hendak berdiri, “duduk dulu! Suami mu masih perlu perawatan. Tunggu dia benar-benar pulih.” Penolakan Lutfi membuat Riella semakin curiga dengan kondisi Kenzo.


“Bukannya kamu bilang tidak ada masalah? Harusnya baik-baik saja dong?” tanya Riella menatap kesal lelaki di depannya.


“Ya, kasih waktu dia tiga hari lagi. Biar dia dirawat di sini dulu,” jelas Lutfi sambil melepaskan tangan Riella.


“Ya baiklah!" Riella mengangguk, "Tiga hari, setelah itu aku akan membawanya pulang ke rumah!” Riella menjelaskan lalu segera meninggalkan ruangan Lutfi. Ia berjalan pelan menuju ruangan Kenzo. Saat tiba di depan pintu, ia segera mendorong pintu ruangan Kenzo. Membuat kedua orang yang tengah bercengkrama di atas bed, beralih menatap ke arahnya.


Terlihat Nindi dan Kenzo saling tatap, setelah menyadari Riella sudah tiba. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi membuat Riella penasaran dan mendekat ke arah mereka berdua.


“Riella, Ken nggak mau makan, katanya perutnya sakit!”


“Hah? Benar Ken?" Riella mulai panik mendekat ke tempat tidur Kenzo, "mana yang sakit, coba aku periksa?” tanya Riella semakin khawatir, mulai membuka pakaian Kenzo, lalu mengetuk empat kali perut Kenzo.


“Kenapa? Nggak kembung kok, makan ya ... sedikit saja, jangan sampai perutmu kosong,” kata Riella mengambil makan malam yang sudah disediakan pihka rumah sakit. Memaksa Kenzo untuk memakan makan malamnya. Riella dengan telaten menyuapi Kenzo. Setiap suapan yang Riella berikan, Kenzo tersenyum menang ke arah mamanya yang masih berdiri dibelakang tubuh Riella.


♥️


♥️


INGAT YA LIKE, KOMENTAR DAN VOTE, JANGAN JADI SIDERS