
Selamat Membaca!
🌹
Sudah satu minggu berlalu, sejak Riella membaca tulisan Kenzo di notebook itu. Riella selalu menunggu kedatangan Kenzo. Dia begitu tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya. Menunggu pria itu datang, yang katanya akan menandatangani surat perceraian. Riella hanya tersenyum tipis saat membuka dan melihat kembali kata cerai yang dituliskan suaminya.
Ingin sekali dia meminjam tipex Naura dan menutupinya dengan cairan putih itu. Tapi tidak! Niatnya itu ia lenyapkan. Dia justru ingin menjadikan tulisan itu kenangan. Jika, mereka pernah berada di titik saat ini. Titik di mana, hubungan keduanya di ambang kehancuran dan semua itu karena egonya.
Sore ini, Riella tengah berada di kursi taman depan rumahnya. Memandang hamparan rumput hijau dihalaman rumah Erik. Pria itu tidak mengizinkannya keluar rumah. Dia khawatir dengan kondisi Riella, karena kecelakaan itu, masih menyisakan rasa traumatic di hati Riella.
Entah apa yang dipikirkan Riella? Wanita itu hanya diam tak bergeming menatap ke arah langit bewarna jingga, dengan cahaya yang tersamarkan oleh dedaunan dari pohon besar di taman rumahnya. Dia berlama-lama menatap cahaya itu, seolah ada hal lebih menarik dari cahaya warna cahaya matahari sore.
“Masuk, La! Bentar lagi adzan maghrib.” Erik berteriak saat mendapati Riella masih berada di bangku taman. Pria itu hendak masuk ke rumah setelah selesai memberi makan ikan di kolam.
“Sebentar, Pa,” sahut Riella singkat. Dia tengah merasakan rindu pada peri kecilnya. Seharusnya bulan ini, dia dan Kenzo tengah diselimuti kebahagian, karena kehadiran bayi mereka. Tapi yang terjadi, dia hanya bisa menerima takdir hidupnya yaitu kehilangan Zea dan kini dia hampir kehilangan Kenzo.
Riella meraba perutnya yang datar, yang tersisa hanyalah bekas jahitan berbentuk horisontal sepanjang 13 cm yang masih terasa nyeri bila disentuh. Bekas itu akan selalu Riella ingat, jika dia pernah merasakan melahirkan, dia merindukan gerakan Zea di dalam perutnya, gerakan yang pernah menghiburnya dulu saat dia terluka karena sikap Kenzo.
Riella kesusahan menelan salivanya saat mengingat tendangan anggota tubuh Zea kala itu. Tanpa ia sadari dan tanpa bisa dia tahan lagi, air mata itu mengalir ke pipinya. Seolah tanda bukti bahwa dia tengah merindukan putri kecilnya. Dia ingin sekali berteriak melepaskan sesak yang dirasanya saat ini.
“Riella ayo masuk! Nggak dengar itu suara adzan!” Erik berteriak lagi. Saat ini dia sudah bediri di depan pintu utama rumahnya.
Riella buru-buru mengusap air matanya. Lalu menoleh ke arah Erik, memberikan senyuman palsu yang biasa ia ukir. Dia segera berdiri, menghampiri Erik yang tengah berdiri menunggunya. Tangan kanannya meraih pinggang pria tampan itu. Berusaha mengobati rasa rindunya pada Zea.
“Pa.” Riella menatap Erik saat sudah berada di sampingnya.
“Hmmm.” Erik hanya berdehem sebagai jawaban.
“Papa itu cinta pertama Riella,” ungkap Riella sambil menatap lekat wajah Erik. Dia membenarkan perkataanya itu, pria itulah yang pertama kali mengisi hatinya, pria yang menjadi takaran sosok pendampingnya kelak.
“Tapi kamu bukan cinta pertama Papa! Apa kamu mau jadi yang kesekian kalinya?” goda Erik. Riella yang mendengar pun justru semakin mengeratkan pelukannya.
“Tangis pertamamu itu adalah nyanyian paling merdu yang pernah Papa dengar sepanjang sejarah. Meski setelah itu ... Papa harus melewati masa terberat di hidup Papa.” Erik menghentikan ucapannya. Lalu menatap wajah putrinya. “Tapi, dengan mendengar suara Kalun dan kamu, itu sudah cukup menguatkan Papa saat itu,” ucap Erik sambil menyengir. Dia tidak tahu kenapa putri pertamanya ini, berubah menjadi sangat manja dengannya.
Riella mengangguk paham, dia lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Dengan tangan masih bergelayut manja di pinggang Erik.
“Apa kamu tidak ingin datang ke Banjarmasin untuk menemui pria itu?” tanya Erik, menatap wajah Riella dari samping.
“Entahlah ... Riella sendiri juga bingung harus melakukan apa.” Riella lalu menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruang keluarga. Dia bergantian memeluk Ella mencoba mencari kenyamanan dari pelukan mamanya.
“Sholat dulu, Kak. Minta petunjuk pada Sang Khalik, sholat saja enggak pernah kamu ini!” Erik berusaha mengingatkan putrinya. Secara tidak langsung dia mencoba merayu Riella untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
“Astagfirullah!” Erik mengusap dadanya saat mendengar jawaban cepat dari bibir Riella.
“Riella lagi ada tamu, Pa. Jadi, tidak boleh sholat. Iya nanti Riella sholat kalau sudah selesai haid nya.” Riella menjelaskan pada Erik tentang kondisi tubuhnya saat ini. Membuat pria itu mengangguk paham.
“Bagus itu! Memang awalnya harus kamu paksakan sholat lima waktu, supaya meningkat menjadi rutinitasmu. Setelah kamu melewati itu, perlahan ... jika kamu meninggalkannya, kamu akan merasa ada yang kurang dari dirimu! Bukan lagi paksa'an.”
“Papa ngomong apa sih, Ma?” Riella mengangkat kedua bahunya, sambil tersenyum ke arah Ella. Dia pura-pura tidak paham dengan nasihat yang baru saja Erik ucapkan.
Erik yang mendengar respon Riella, hanya mengabaikan mereka berdua, dia berjalan munuju mushola kecil yang ada di rumahnya, meninggalkan dua wanita yang kini tengah berhalangan.
“Ma, apa yang harus Riella lakukan setelah ini?” tanya Riella, tangannya merapikan dress Ella yang kusut. Lalu meletakan kepalanya di paha wanita yang sudah melahirkannya.
“Mama tanya dulu deh sama kamu, Kak?” Ella mencoba mengintip raut muka Riella. “Kamu cinta nggak sama Kenzo? Dia berarti nggak di hidupmu? Nggak usah kamu ucapkan, kamu cukup menjawab dalam hatimu saja!” tanya Ella memastikan perasaan putrinya. Mata hatinya bisa melihat, Riella tengah diam memikirkan pertanyaanya meski dia sudah tahu persis dengan jawaban putrinya.
“Saran Mama, jika jawaban kamu itu ‘ya’ lebih baik kamu pertahanin rumah tanggamu. Tapi jika ‘tidak’ lebih baik kamu membiarkan Kenzo dimiliki orang lain.” Ella berusaha bicara baik-baik dengan putrinya. Supaya Riella sadar dan membuka hatinya untuk Kenzo.
Bisa kah aku rela Kenzo mempunyai wanita lain? Riella menggeleng kecil sebagai jawaban dari pertanyaan dalam hatinya. Dia tidak rela jika Kenzo menjadi milik wanita lain di luar sana. Apalagi membayangkan Kenzo berhubungan intim dengan wanita lain.
“Kamu tahu, kan? Sebesar apa Kenzo itu mencintaimu. Tapi, jika kamu tidak mencintainya, lebih baik kamu melepasnya! Biarkan dia melupakanmu dan mendapatkan cinta yang lain. Hidup dengan orang yang mencintainya.” Ella bicara panjang lebar berusaha lagi membuka mata hati putrinya.
Riella yang mendengar nasehat Ella pun segera beranjak dari posisinya saat ini. Dia berlari kecil menuju anak tangga. Keputusannya sudah bulat, dia ingin menemui Kenzo. Dan memperbaiki semuanya.
“Mau kemana, Kak?” teriak Ella yang mendapati tingkah Riella.
“Berkemas. Besok pagi Riella akan berangkat ke Banjarmasin.” Riella berteriak, menjawab pertanyaan Ella, saat dia sudah berada di tangga paling ujung rumahnya.
Ella yang mendengar jawaban Riella, hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia tidak sabar untuk memberitahu Nindi. Tapi, ia harus meredamnya dulu, biarlah kedatangan Riella menjadi kejutan untuk mereka semua.
Malam ini Riella begitu bersemangat menyusun perlengkapan yang akan dibawa untuk menemui Kenzo. Dia ingin tidur lebih awal, tidak ingin melewatkan jadwal penerbangan pertama pesawat komersil yang terbang menuju Banjarmasin.
Tidak lupa Riella memasukkan notebook-nya. Dia ingin meminta penjelasan atas apa yang sudah ditulis Kenzo di kertas itu.
Benar nasehat Aluna sendal teklek kecemplung kalen, dari pada golek mending balen. Entah artinya apa dia sebenarnya juga tidak tahu, yang dia pahami hanya satu kata yaitu Balen yang artinya kembali. Dia ingin kembali pada Kenzo. Memperbaiki semuanya.
Riella menghembuskan nafas lega sebelum dia memejamkan matanya.
...----------------...
Jangan lupa untuk menekan like dan votenya. Aku up 2 loh ini.😉